Resensi : Orange Girl – Jostein Gaarder
Batam Pos, —, 2006
Hidup Adalah Dongeng

Judul buku : Gadis Jeruk
Judul Asli : Orange Girl
Penulis : Jostein Gaarder
Penerbit : Mizan
Tahun : 2005
Apa yang akan muncul di benak seorang remaja berusia lima belas tahun ketika mendapati ayahnya yang telah meninggal sebelas tahun yang lalu, menulis sebuah surat panjang yang ditujukan untuknya? Dalam surat panjang tersebut sang ayah menceritakan kisah cintanya dengan seorang gadis misterius yang disebutnya Gadis jeruk. Siapa sebenarnya si Gadis Jeruk itu? Mengapa pula ayahnya bersusah payah menulis surat tersebut di akhir masa hidupnya?
Jostein Gaarder, penulis buku best seller Sophie’s World (Dunia Sophie) kembali mengajak pembaca-pembacanya untuk menemukan makna kehidupan lewat novel terbarunya, Gadis Jeruk. Sebagaimana ciri khas novel-novel Gaarder, yang selalu bermain dengan naskah surat, catatan panjang, atau cerita di dalam cerita, Gadis Jeruk pun demikian. Seluruh cerita buku ini dibawakan oleh seorang anak laki-laki, Georg Roed yang berusia lima belas tahun yang mendapati bahwa ayahnya yang telah meninggal sebelas tahun lalu menuliskan sebuah surat panjang untuknya tentang kisah masa mudanya. Surat tersebut dituliskan pada saat akhir kehidupan sang ayah dengan harapan akan dibacanya ketika Georg telah dewasa. Lewat surat panjang tersebut sang ayah juga ingin mengajukan sebuah pertanyaan penting yang harus dijawab oleh Georg. Melalui surat ayahnya, terjadilah interaksi antara masa lalu sang ayah dengan sang anak.
Dikisahkan, suatu ketika sang ayah, Jan Olav bertemu dengan seorang gadis yang begitu menarik perhatian di sebuah trem sedang berdiri merangkul sebuah kantong kertas besar penuh berisi dengan jeruk. Dia mengira si gadis akan menjatuhkan kantong jeruk itu karena trem melaju sangat kencang. Dengan maksud untuk menyelamatkan gadis itu dan jeruk-jeruknya, dia malah melakukan kesalahan yang fatal sehingga ia malah menumpahkan kantong jeruk tersebut sehingga puluhan jeruk berjatuhan memenuhi lorong trem yang penuh sesak dengan penumpang. Dari sini lah cerita sang ayah bermula. Dia menyadari kesalahannya dan ingin meminta maaf, tetapi Si Gadis Jeruk tersebut terlanjur turun dari trem sementara sang ayah masih dalam keadaan kebingungan. Dia lalu berusaha melacak keberadaan gadis jeruk yang begitu misterius, mulai dari sudut-sudut kota, kafe, pasar buah sampai ke Spanyol, tempat jeruk-jeruk itu tumbuh.
Lewat pertemuan-pertemuan yang sepertinya kebetulan dan tanpa kata-kata, sang ayah mulai jatuh cinta kepada gadis jeruk. Pada suatu pertemuan pada malam Natal, barulah sang ayah bisa bercakap-cakap agak panjang dengannya. Dan saat itu gadis jeruk mensyaratkan agar ia sanggup bersabar untuk menunggu selama 6 bulan untuk bertemu lagi, jika ia ingin terus bersamanya selama 6 bulan berikutnya dan selamanya. Menunggu 6 bulan itu adalah aturan yang harus dipenuhi agar mereka bisa bersama. ‘Merindu’, itulah yang dirasakan sang ayah. “Dalam hidup, kita kadang-kadang perlu untuk sedikit merindu”, demikian kata Gadis Jeruk.
Rentang waktu penantian dan pencarian sang ayah untuk bertemu Gadis Jeruk inilah yang dikisahkan pada setengah bagian awal buku ini. Penuh perjuangan dan pengorbanan yang terkesan dramatis. Hingga akhirnya sang ayah dapat bertemu kembali dengan gadis jeruk dan hidup bahagia bersama. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Sang ayah terserang penyakit, dirawat di rumah sakit dan akhirnya meninggal. Dalam masa-masa terakhir inilah sang ayah menyempatkan diri menuliskan kisahnya dalam sebuah surat panjang yang diletakkannya di dalam pelapis kereta dorong Georg dengan harapan agar kelak dapat dibaca ketika Georg telah dewasa, pada waktu yang tepat bagi Georg untuk memahaminya.
Kehidupan yang kita jalani, hanyalah sebuah dongeng. Dan dalam dongeng terdapat aturan-aturan yang harus ditaati agar semua berjalan sebagaimana mestinya. Sebagaimana Cinderella yang harus pulang meninggalkan istana dan pangerannya sebelum jam 12 tengah malam, maka kita juga punya rentang waktu tersendiri untuk menyelesaikan dongeng hidup kita. Kita mengetahui bahwa suatu saat nanti kita pasti akan meninggalkan dan kehilangan segalanya karena telah habis masa kita di dunia ini.
Setiap awal akan menciptakan akhir. Setiap pertemuan akan menciptakan perpisahan. Siapkah kita menghadapi akhir dan perpisahan, meninggalkan segala yang kita cintai di dunia ini. Segala yang indah dan menyenangkan yang kita dapatkan suatu saat akan kita tinggalkan dan kita tidak punya waktu lagi untuk memilih.
Kisah Gadis Jeruk yang dituliskan sang ayah kepada Georg, hanyalah awalan atau pengantar untuk mengajukan sebuah pertanyaan mendasar tentang kehidupan. Ditulisnya : Bayangkan kamu berada di awal dongeng ini, suatu waktu miliaran tahun yang lalu ketika segala sesuatu diciptakan. Dan kamu boleh memilih apakah kamu ingin dilahirkan untuk hidup di suatu tempat di planet ini. Kamu tidak tahu kapan kamu akan dilahirkan, tidak juga berapa lama kamu akan hidup, tapi itu takkan lebih dari beberapa tahun. Yang kamu ketahui hanyalah bahwa, jika kamu memilih untuk hadir pada tempat tertentu di dunia ini, kamu juga harus meninggalkannya lagi suatu hari dan pergi meninggalkan segalanya. Ini mungkin akan menimbulkan duka yang dalam pada dirimu karena banyak orang berpikir bahwa kehidupan di dalam dongengan besar ini begitu indah sehingga sekadar memikirkan bahwa ini akan berakhir saja pun bisa membuat mereka mengucurkan air mata. Segalanya begitu menyenangkan di sini sehingga sangat pedih untuk membayangkan bahwa suatu ketika hari-hari tiada akan ada lagi. (hal. 202)
Membaca buku ini, kita akan dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan mendalam yang erat kaitannya dengan hal-hal yang kita alami sehari-hari. Sejauh mana kesabaran kita untuk tetap merindu, sejauh mana penghargaan dan perhatian kita terhadap momen-momen yang terjadi dalam kehidupan kita sekecil apapun itu, sejauh mana kita menghargai entitas-entitas kecil yang terserak di planet kita ini yang merupakan sebuah mukjizat yang tidak terukur keindahannya, dan sejauh mana kita memiliki keberanian untuk memulai sebuah narasi besar, dongeng kehidupan kita sendiri, apapun konsekuensi yang mungkin terjadi.
(Adi Toha, Penikmat Buku dan Sastra, tinggal di Jatinangor)




