<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>J A L A I N D R A</title>
	<atom:link href="http://jalaindra.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jalaindra.wordpress.com</link>
	<description>jejaring peristiwa - jejaring kata - jejaring imagi - jejaring diri</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 11:31:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jalaindra.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/55fb57c1058a8d11d26b7b5586e5f294?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>J A L A I N D R A</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jalaindra.wordpress.com/osd.xml" title="J A L A I N D R A" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jalaindra.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>REVIEW VALHARALD 7 : Truly Rudiono</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2011/02/26/review-valharald-6-truly-rudiono/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2011/02/26/review-valharald-6-truly-rudiono/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Feb 2011 06:39:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Review Valharald]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=822</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Truly Rudiono Menulis sebuah cerita memang tidak mudah, apalagi jika itu sebuah cerita fantasi. Tidak saja dibutuhkan kreatifitas namun rambu-rambu seperti nalar, kepribadian tokoh yang konsisten serta arah yang jelas cerita itu mau dibawa kemana harus mendapat perhatian dari sang penulis. Belum lagi semangat sang penulis yang harus tetap dijaga sehingga buku itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&amp;blog=187870&amp;post=822&amp;subd=jalaindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Oleh : <a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150142319872279&amp;id=688213842&amp;ref=mf">Truly Rudiono</a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jalaindra.files.wordpress.com/2011/02/29261_1462479922731_1255461224_31284538_1153756_a.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-797" title="Cover Valharald" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2011/02/29261_1462479922731_1255461224_31284538_1153756_a.jpg" alt="" width="150" height="210" /></a>Menulis sebuah cerita memang tidak mudah, apalagi jika itu sebuah cerita fantasi. Tidak saja dibutuhkan kreatifitas namun rambu-rambu seperti nalar, kepribadian tokoh yang konsisten serta arah yang jelas cerita itu mau dibawa kemana harus mendapat perhatian dari sang penulis. Belum lagi semangat sang penulis yang harus tetap dijaga sehingga buku itu bisa selesai, dan jika diniatkan menjadi beberapa bagian, setiap bagian bisa selesai, syukur jika jarangnya  tak terlalu lama.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat menulis  sebuah cerita fantasi,  kadang  sang penulis harus menciptakan sebuah dunia baru, dunia dengan situasi dan kondisi yang berbeda dengan yang selama ini ada. Misalnya penulis menciptakan seluruh daun di dunianya  bukan berwarna hijau namun biru. Untuk itu Ia perlu memberikan penjelasan mengapa bisa biru. Anggaplah karena disana tanahnya mengandung sesuatu zat   sehingga jika zat yang diserap tumbuhan lalu terkena sinar matahari akan menjadi biru. Selama cerita berlangsung sang penulis harus konsisten menyebut warna daun yang umum disana adalah warna biru. Sehingga jika ingin menciptakan unsur kejutan, cukup dengan  mendadak warna daun berubah menjadi ungu, orange bahkan hijau.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain menciptakan sebuah dunia baru untuk wadah cerita, tokoh juga harus diceritakan secara konsisten dari awal hingga akhir. Misalnya sang tokoh sangat membenci pencuri apapun alasannya mencuri. Maka ia tidak akan berteman seorang mencuri. Namun mendadak di tengah cerita disebutkan ia berkawan akrab dengan seorang pencuri. Jika ia tidak tahu kawan akrabnya itu seorang pencuri, bisa dimaklumi , tapi jika ia bertemu justru saat kawannya sedang melakukan aksi , maka ceritanya akan menjadi aneh.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-822"></span>Membangun karakter tokoh bukannya hal  mudah. Apalagi jika dalam cerita itu tokohnya tidak hanya satu. Maka bisa ditebak bagaimana kerja keras seorang Adi Toha untuk menciptakan  lebih dari SEBELAS tokoh  dalam Valhard. Setiap tokoh yang ada memiliki karakter yang berbeda, juga dengan penampilan fisik yang berbeda.  Menjaga para tokoh untuk tetap konsisten dari awal hingga akhir cerita menunjukkan kemampuan sang penulis yang mumpuni.</p>
<p style="text-align:justify;">Buku ini berkisah mengenai gonjang-ganjing yang akan terjadi di tanah VarchLand jika tidak dicegah sesegera mungkin.  Seperti juga buku fantasi umumnya, kejahatan digambarkan akan mengganggu kebaikan, maka dalam buku ini dikisahkan akan ada sebuah kekuatan hitam  dalam wujud Bangsa Vomorion yang akan menghancurkan VarchLand. Mereka ingin membalas dendam atas kekalahan mereka beberapa ratus tahun yang lalu.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk itu mencegah kekuatan hitam merajela    Valharld  Cadwaladir,   petinggi istana mengembara ke pelosok negeri untuk menemukan 12 orang   yang ditandai dengan sebuah kunci berbentuk segitiga yang sama besar bentuknya. Mereka bukan orang sembarangan, mereka adalah  12 Ksatria Talismandala pemegang kunci rahasia.   Kedua belas kunci tersebut harus disatukan untuk membuka sebuah ruang rahasia dimana senjata-senjata rahasia milik  pendahulu mereka disimpan.  Kunci-kunci tersebut diwariskan turun-temurun kepada orang-orang yang tepat untuk memilikinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua belas Ksatria Talismandala tidak saja akan menemukan senjata-senjata rahasia dalam ruangan rahasia tersebut, mereka juga akan menemukan  Mahkota Liafala yang merupakan mahkota tertinggi negeri VarchLand. Siapa pun memakainya dianggap  pantas menjadi raja.</p>
<p style="text-align:justify;">Valharld  Cadwaladir yang sangat mencintai negerinya  berusaha menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh, tak perduli betapa sulitnya  tugas itu. Apalagi  karena janjinya pada Sang Raja Hallvard. “Berjanjilah padaku, Valharald. Jika aku meninggal nanti, berjanjilah kau tidak akan membiarkan negeri ini hancur. Jangan biarkan ruhku melihat dari atas langit sana negeri ini hancur” desak sang raja sambil mencengkeram bahu Valharld  Cadwaladir.</p>
<p style="text-align:justify;">Sepanjang perjalanan, banyak ditemui hal-hal yang  menakjubkan. Mencari 12 orang bukanlah hal yang mudah. Namun  membuat mereka  mau ikut dan membuat  keluarganya mau merelakan mereka pergi , jauh  lebih sulit lagi.  Disini kejutan-kejutan manis bermunculan , tapi ada beberapa keganjilan yang membuat saya jadi berpikir memang sudah seharusnya begitu. Kejutan yang diawalnya menengangkan jadi berkurang gregetnya.  Kisah mengenai bayi yang dibelah dua yang sudah melegenda juga ada dalam buku ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekilas, saya sempat menduga buku ini mirip dengan salah satu film yang berkisah mengenai sekian belas ksatria dengan tugas menumpas kejahatan yang terjadi di suatu daerah. Salah satu dari ksatria itu berasal dari Negeri Arab.  Adi Toha memberikan kejutan yang lebih menggemparkan! Tidak ada kstaria dari Negeri Arab, namun kemampuannya tidak diragukan lagi, mereka justru berasal dari kaum yang selama ini dianggap lemah dan harus dilindungi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari hanya 12 orang yang dianggap mau membantu, Valharld  Cadwaladir justru mendapat bantuan dari banyak pihak. Memang 12 ksatria itu adalah kuncinya. Tapi tanpa ada dukungan dari banyak pihak bagaimana mungkin mereka bisa mengalahkan kejahatan.  Secara logika,  mana mungkin hanya  12 orang yang bertempur menyelamatkan negeri.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti penulis cerita fantasi yang lain, Adi Toga juga menciptakan nama tokoh dengan  apiknya.  Kita akan bertemu antara lain dengan Cuchulainn, Urais d’ Eoghan, Fionn d’ Arthfael, Owain, Gavin, Einar Sang Pangeran Vincha, Eira dan Gwyneira, Ingemar, Ingolf dan lainnya. Dari dulu saya selalu penasaran bagaimana nama-nama itu bisa bermunculan dengan  peranannya masing-masing tanpa tertukar.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai ganti ilustrasi, diambil kalimat yang dianggap paling menarik lalu dicetak ulang dengan format yang  berbeda dengan aslinya. Dengan membacanya kita bisa mengenai garis besar cerita yang sedang berlangsung di halaman tersebut. Sekilas mengingatkan saya pada sebuah majalah remaja yang seluruh isinya adalah cerpen. Ini yang membuat saya terpaksa menurunkan bintang yang semula saya berikan. Kesan yang semula ditampilkan mendadak berubah menjadi menye-menye buat saya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari sekian banyak bab, sungguh sayang adegan serunya hanya sedikit, maksud saya adegan pertempuran bersama kedua belas ksatria itu. Memang beberapa ksatria dibuatkan sebuah bab yang penuh dengan adegan seru . Tapi justru bab yang menceritakan usaha Valharld  Cadwaladir menemukan mereka malah lebih banyak jumlahnya dari pada bab perihal bagaimana mereka bahu membahu bertempur melawan musuh.  Atau mungkin buku ini hanya sebagai pembuka saja? Urusan bertempur bersama memang sengaja disiapkan di buku selanjutnya.  Saya jadi penasaran apakah buku ini dibuat dengan akhir yang sengaja dibuat menggantung  karena penulis menunggu bagaimana tanggapan pasar atau penulis sedang meracik kisah selanjutnya tanpa perduli bagaimana tanggapan pasar di buku pertama.</p>
<p style="text-align:justify;">Mari berharap  kejutan masih berlanjut. Kita akan lebih sering  disuguhi adegan pertempuran dengan melibatkan banyak Orcus, Ogre serta Chimera. Untuk mengetahui makhluk apakah itu, anda harus membaca buku ini. Termasuk mantera  Ye imperus graute creare!Ye imperus povoire creare! Ye Draach sauveoure</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jalaindra.wordpress.com/822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jalaindra.wordpress.com/822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jalaindra.wordpress.com/822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jalaindra.wordpress.com/822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/822/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/822/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/822/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&amp;blog=187870&amp;post=822&amp;subd=jalaindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2011/02/26/review-valharald-6-truly-rudiono/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2011/02/29261_1462479922731_1255461224_31284538_1153756_a.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Cover Valharald</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>REVIEW VALHARALD 6 : Luz Balthasaar @ Fikfanindo</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2011/02/26/review-valharald-6-luz-balthasaar-fikfanindo/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2011/02/26/review-valharald-6-luz-balthasaar-fikfanindo/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Feb 2011 06:34:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Review Valharald]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=819</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Luz Balthasaar Valharald. Kalau mendengar itu, apa yang pertama-tama terbayang di kepala anda? Nggak ada? Bingung? ngawang-ngawang? Iyah, sama. Oleh karena itu aku ngeriset dikit untuk menemukan apa itu Valharald dengan memakai metode guru Pendidikan Kewarganegaraan waktu mendefinisikan bahwa &#8220;demokrasi terdiri dari kata demos dan kratein.&#8221; Valharald terdiri dari kata &#8220;Valhalla&#8221; dan &#8220;Harald&#8220;. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&amp;blog=187870&amp;post=819&amp;subd=jalaindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Oleh : <a href="http://fikfanindo.blogspot.com/2010/10/valharald-kesatria-talismandala-dan.html">Luz Balthasaar</a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jalaindra.files.wordpress.com/2011/02/29261_1462479922731_1255461224_31284538_1153756_a.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-797" title="Cover Valharald" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2011/02/29261_1462479922731_1255461224_31284538_1153756_a.jpg" alt="" width="150" height="210" /></a>Valharald. Kalau mendengar itu, apa yang pertama-tama terbayang di kepala anda?  Nggak ada? Bingung? ngawang-ngawang? Iyah, sama. Oleh karena itu aku  ngeriset dikit untuk menemukan apa itu Valharald dengan memakai metode  guru Pendidikan Kewarganegaraan waktu mendefinisikan bahwa &#8220;demokrasi  terdiri dari kata demos dan kratein.&#8221;</p>
<p>Valharald terdiri dari kata &#8220;<strong>Valhalla</strong>&#8221; dan &#8220;<strong>Harald</strong>&#8220;. Jika diterjemahkan dengan sangat, sangat, sangat bebas, kedua kata ini masing-masing berarti &#8220;<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Valhalla">Pub Surgawi</a>&#8221; dan &#8220;<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Harald_V_of_Norway">Gembong Viking</a>.&#8221; Lengkapnya, silakan agar tautan-tautan yang kukasih diklik saja.</p>
<div style="text-align:justify;"><a name="more"></a><br />
Dari definisi kedua kata dimaksud, kita bisa menyimpulkan bahwa  Valharald = Pub Surgawi + Gembong Viking. Dan apa yang terjadi kalau  Gembong Viking ketemu Pub? Mabuk. So, Valharald kiranya dapat  diterjemahkan sebagai &#8220;Gembong Viking Mabuk.&#8221;</p>
<p>SWT. <em>Translation cacad alert. Don&#8217;t try this at home, Kids</em>. Kalau ada penerjemah sungguhan yang barangkali ngebaca tulisan ini, mohon agar terjemahanku diedit, <em>thanks</em>.</p>
<p>Tapi aku yakin bahwa Valharald memang <em>portmanteau </em>antara Valhalla  dan Harald, yang kedengaran keren sebagai judul, dan membuatku langsung  ngebayangin epik bersetting daerah Eropa Utara/bertema Viking macam <a href="http://www.goodreads.com/book/show/100476.The_Sea_of_Trolls"><strong>The Sea of Trolls</strong></a> karya <strong>Nancy Farmer</strong>. Tapi ngelihat covernya kok&#8230; ga cucok? Mana lautnya, mana <em>drakkar</em>-nya, mana <em>berserker</em>-nya&#8230;?</p>
<p><span id="more-819"></span>Yang ada malah ksatria <em>medieval </em>dan putri  yang natap ke kota di background, lengkap dengan elang-elang  beterbangan. Belum lagi di bawah putri itu ada dua orang. Satunya putri  lain dan satunya lagi&#8230; OMG!! It&#8217;s <strong>JERAGORN!!!</strong><em> </em></p>
<p><em>Yes, that particular guy looks like an unholy mutant fusion of </em><strong><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Jesus">J*s*s</a></strong><em> and </em><strong><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Aragorn">Aragorn</a></strong><em>.</em><em> Click the cover picture to enlarge it, and you&#8217;ll understand what I mean.</em></p>
<p>Ahem.</p>
<p>Jika aku menyingkirkan baik Jeragorn maupun harapanku akan sebuah novel  viking, cover ini benernya nggak jelek. Aku suka kota dan elangnya. Nah,  andai saja kutipan kecil (plus endorsemen geje) dan stempel merah itu  nggak ada, aku yakin aku akan lebih suka. Kenapa? Bunyi kutipan yang  dipilih itu, berikut stempelnya, menurutku nggak banget. Servis buat  pembaca:</p>
<p>Bunyi kutipan plus endorsemen:</p>
<p>&#8220;Jika saatnya telah tiba, kita  akan berikan mereka pertempuran yang sesungguhnya. Dan, bila pun harus  memberikan nyawa kepada mereka, jangan biarkan mereka menerimanya dengan  sangat mudah. Dasar makhluk-makhluk keparat!&#8221;</p></div>
<div style="text-align:justify;">
&#8220;Sebuah dongeng yang akan mengajarkan anda apa arti keberanian sesungguhnya!&#8221;</div>
<div style="text-align:justify;">
dan bunyi stempel;</p>
<p>Sebuah NOVEL yang akan membuatmu GEMETAR!<em> </em></p>
<p><em>What the Bleep, Dude?</em></div>
<div style="text-align:justify;">
Aku udah sering ngasih komentar soal endorsemen dan stempel di buku. Dan  capek deh rasanya ngulang-ngulangin terus. Jadi aku akan kutip sahaja  apa yang pernah dikatakan Om Soto(y) di repiu buku lain yang diterbitkan  oleh penerbit yang sama: jangan <em>overpromise </em>kalau nantinya malah <em>underdeliver</em>.</div>
<div style="text-align:justify;">
Akan tetapi, sebagai pembelaan kepada <strong>Gobaqsodor</strong>, yang ngedesain <em>cover</em>, ijinkan aku berkontemplasi sedikit. Gunanya gambar di <em>cover </em>itu apa? Menarik pembeli. Itu sebabnya di <em>cover-cover</em> yang bagus, tulisan judul selalu dibuat sedemikian rupa hingga menjadi kesatuan dengan gambar. Menonjolkan kekerenan <em>cover</em> dengan menaruh sesedikit mungkin kata adalah tindakan yang jauh lebih efektif daripada menaruh berbagai tulisan. Pasalnya, <em>in most humans, visual cues come first</em>. Itu alasannya waktu kecil banyak dari kita lebih suka baca komik daripada baca novel.</div>
<div style="text-align:justify;">
Apabila kita memakai penalaran terbalik, bisa jadi alasan penerbit menaruh banyak tulisan itu adalah karena dia nggak yakin <em>visual cue</em>-nya cukup menjual. Apabila aku diijinkan memakai parafrase yang lebih sadis, aku akan menuduh bahwa penerbit ini ga pede.</div>
<div style="text-align:justify;">
Oke. Lanjut.</div>
<div style="text-align:justify;">
Balik ke belakang. Ada sinopsis tentang <strong>VarchLand </strong>yang damai mendadak terancam oleh serangan bangsa <strong>Vomorian</strong>.  Sialnya, semua senjata di negeri itu disembunyikan di dalam ruang  rahasia yang juga disegel dengan sangat rahasia, dan kuncinya  dibagi-bagi ke 12 orang. Orang yang memegang kunci itu disebut <strong>Ksatria Talismandala.</strong></div>
<div style="text-align:justify;">
Begitu baca ini aku langsung merumuskan <strong>Dalil Klise Fiksi Fantasi #6, </strong>a.k.a<strong> Postulat Lumpur Birokrasi Nusantara</strong>: Segala prosedur harus dibuat serumit mungkin, nggak peduli rakyat bakalan modar kalau prosedur itu tahu-tahunya macet.</p>
<p>Ini menuntun kita pada pertanyaan: kenapa sih kunci itu nggak bisa kunci  biasa aja? Kenapa harus dibikin prosedur agar kunci itu dibagi-bagi ke  12 orang? Pake diwarisin secara turun-temurun pulak! Apalagi kayaknya  perpindahan kepemilikan kunci itu nggak dicatat sama <strong>Valharald </strong>maupun <strong>Raja Hallvard</strong>. Bukankah ini justru menyusahkan jika sewaktu-waktu kunci itu diperlukan?</p>
<p>Gosh. Administrasi birokrasi Indonesia sudah mengekspor praktek-praktek mereka ke VarchLand rupanya.</p>
<p>Maksudku gini. Lihat nggak di gedung-gedung yang desain ketahanan  bencananya bener? Kapak, selang, dan APAR (Alat Pemadam Api Ringan)  selalu tersedia dekat-dekat andai terjadi kebakaran. Sama halnya dengan  kasus senjata yang disegel ini. Kalau ada bahaya mengancam, seharusnya  kunci itu diletakkan dekat-dekat, supaya prajurit bisa langsung ambil  senjata dan berantem.</p>
<p>Tindakan ngebagi kunci jadi 12 dan membiarkannya berpindah kepemilikan  macam ini sama aja bikin gedung, tapi nitipin kapak, selang, dan  APAR-nya sama dua belas mobil dinas pejabat yang sibuk mondar-mandir  sana-sini. Pas kebakaran, yang terjadi adalah, &#8220;Dul, Dul, itu si Toing  sopirnya Pak Fuad ke mana ya? APAR-nya di doi tuh. SMS-in doi dong biar  datang. Pantat ane udah kebakar nih! GYAAAA~!&#8221;</p>
<p><em>You get the point</em>. Premis ini nggak <em>believable </em>buatku. Tapi dalam rangka membela pengarang, kalau nggak gini, nggak akan ada cerita.</p>
<p>Sekalipun premisnya aneh, aku bisa bisa menerima  kalau ceritanya ternyata menarik. Jadi mari kita lihat, apakah ceritanya  &#8220;sangat seru dan menarik&#8221; seperti klaim endorsemen di akhir sinopsis  cover belakangnya? Hmmm&#8230; secara struktur, ya. Cerita ini punya  struktur yang menarik karena tidak biasa. Dimana tidak biasanya?  Alih-alih memakai alur maju, pengarang memutuskan untuk menceritakan  riwayat para Ksatria Talismandala serta perjalanan mereka satu persatu,  sampai akhirnya mereka semua ketemu di tempat di mana seharusnya mereka  membuka kunci.</p>
<p>Sang pengarang memulai cerita pada satu bab, yang  diberi judul sesuai dengan nama karakter yang diceritakan pada bab itu.  Bab 1, misalnya. Judulnya &#8220;Valharald Cadwaladir,&#8221; menceritakan tentang  petualangan sang <em>title character </em><strong>Valharald Cadwaladir</strong>, yang sibuk mencari dua belas Ksatria Talismandala.</p>
<p>Setelah dia, giliran <strong>Cuchulainn</strong>, seorang pemuda liar yang kisah hidupnya ternyata nggak ada nyambung-nyambungnya sama kisah <em>namesake</em>-nya, yaitu <strong><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Cuchulainn">Cu Chulainn</a></strong>, (bacanya &#8220;ku-hu-lan,&#8221; BTW,) pahlawan Keltik yang diceritakan di dalam kisah epik <strong><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/T%C3%A1in_B%C3%B3_C%C3%BAailnge">Tain Bo Cualinge</a></strong> (&#8220;toyn bo ku-linya&#8221;).</p>
<p>Setelah mereka berdua, giliran <strong>Fionn d&#8217;Arthfael</strong> dan <strong>Urias d&#8217;Eoghain</strong>. Lalu <strong>Gwyneira</strong> dan <strong>Eira Olwydd</strong>&#8230; terus&#8230; sampai ksatria terakhir, <strong>Gavin Mor</strong>.</p>
<p>Sedikit catatan, meskipun banyak nama mencomot  dari mitologi Keltik, cerita ini sama sekali nggak ada budaya Keltiknya.  Cuma cerita tipikal <em>hack and slash</em> medieval tanpa spesifikasi  geografi yang jelas. Buktinya, artikel &#8220;d&#8217;&#8221; dalam tata nama ini bukannya  berasal dari budaya Keltik, tapi Perancis. Bahkan Keltiknya sendiri  nggak jelas Keltik mana, seperti yang dibilang seorang teman. Nama Fionn  adalah Keltik-Irlandia, sementara nama <strong>Cymrodor </strong>adalah  Keltik-Welsh. Aku merasakan kecewa yang sama dengan ketika ngebaca nama  Valharald dan mengharapkan ada sedikit urusan pervikingan. Tapi baiklah,  dikesampingkan saja. Toh nggak ada yang salah dengan mencomot nama dari  mitos. Lanjut.</p>
<p>Begitu riwayat Mr. Gav selesai, cerita sudah  sampai bab 8 dari 10 bab yang ada di buku. Maka dalam dua bab sisanya  diceritakanlah para karakter itu ketemu di <strong>Vincha</strong>, ikut perang  gede, dan&#8230; kelar. Dengan potensi sekuel, tentunya. Para pemampir setia  blog ini pasti sudah mafhum bahwa dalam slangku, &#8220;potensi sekuel&#8221;  adalah bahasa halus untuk &#8220;penyakit ending gantung, gilak!&#8221;<em> </em></p>
<p><em>Again, Dude, What the Bleep?</em></p>
<p>Struktur seperti ini menimbulkan banyak protes  dari beberapa orang yang kukenal. Salah satunya adalah The Great Om  Soto(y) himself, yang bilang bahwa buku ini cerita pengenalan  karakternya kebanyakan. Gara-gara cerita pengenalan karakter ini, alur  Valharald baru maju setelah 8/10 bab. Protes semacam ini bisa  kumengerti. Tapi aku juga bisa mengerti alur pikiran pengarang untuk  memperkenalkan karakternya dan memajukan cerita lewat riwayat para  karakter.</p>
<p>Pemakaian alur seperti ini di dalam novel  bukannya yang pertama kali. Beberapa orang di antara anda barangkali  pernah membaca novel kolaborasi berjudul <a href="http://www.goodreads.com/book/show/1516366.Puing"><strong>Puing</strong></a>, yang salah satu penulisnya adalah <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bondan_Winarno"><strong>Bondan Winarno</strong></a> sang pemilik <strong>Kopitiam Oey</strong> itu. (<em>The novel itself is interesting, although it wasn&#8217;t that good. But that&#8217;s not the point anyway</em>.)</p>
<p>Yang ingin kubilang adalah bahwa mengungkap  cerita suatu novel melalui riwayat karakter bukan haram. Bahkan, itu  bisa berhasil. Dalam kasus Puing, novel ini berhasil memajukan alur  melalui cerita para karakternya. Mengapa? Barangkali karena variasi.  Setiap karakter diceritakan oleh pengarang yang berbeda dengan cara dan  gaya yang berbeda. Namun, temanya sama, yaitu tentang  kehidupan-setelah-mati. Baru setelah itu para karakter ini ketemu, maka  dimainkanlah babak gong puncak yang mengakhiri kisah tersebut.</p>
<p>Karena dikerjakan oleh tangan yang berbeda ini,  tiap kali aku mulai membaca bab baru yang bercerita tentang karakter  baru, rasanya segar. Ada karakter yang pecatur, ada yang sutradara, ada  yang dokter, dan perbedaan di antara mereka terasa nyata. Ibaratnya  nonton festival film. Tontonannya banyak, kisahnya banyak, tokohnya ada  banyak dengan karakter yang berbeda. Dan tiap tokoh jelas dimainkan oleh  aktor-aktris yang berbeda pula.</p>
<p>Nah, Valharald kurang lebih menerapkan teknik  cerita yang sama. Bedanya, semua karakter diceritakan dengan cara yang  sama dan gaya yang sama. Variasi penokohannya pun nggak tinggi. Ada yang  anak raja, ada yang anak desa, tapi perbedaan di antara mereka berdua  tipis sekali. Bahkan kedua tokoh utama perempuannya pun, meski  riwayatnya lain, karakternya sama. Mereka ini kayak dibikin dari satu  template hero/heroine tipikal fiksi fantasi yang dilain-lainin dikit.  Memang tiap orang punya riwayat yang berbeda, tapi perbedaan riwayat itu  nggak berimplikasi signifikan ke penokohan mereka.</p>
<p>Sekali lagi memakai perumpamaan festival film,  aku ngerasa kalau film yang ditampilkan itu memang berbeda, dengan  cerita berbeda, tapi semua tokohnya dimainkan oleh artis yang sama,  dengan penjiwaan yang sama, dan sutradara yang sama. Semua tokoh utama  cowok yang masih muda dimainin sama <strong>Christian Bale</strong>. Semua tokoh utama cowok yang agak tua dimainin sama <strong>Sir Ian McKellen</strong>. Semua tokoh utama cewek dimainin sama <strong>Aishwarya Rai</strong>. Semua tokoh sampingan baik yang cowok dimainin sama <strong>Rupert Grint</strong>. Semua tokoh sampingan cewek yang baik dimainkan oleh <strong>Tera Patrick</strong>. Semua tokoh jahat manusia dimainkan oleh <strong>Aming</strong>, dan semua monster dimainkan oleh grafik komputer.</p>
<p>Kisah para tokoh ini memang beda. Tapi penokohannya gitu-gitu aja.</p>
<p>Tambah lagi pertempuran di Vincha yang seharusnya  jadi gong itu pun berakhir antiklimaks plus ga tuntas. Aku merasa  sia-sia setelah selesai baca. Kayak makan masakan <strong>Padang </strong>yang nggak pake cabe. Atau kayak ke <strong>Wakatobi </strong>tapi nggak jajal <em>diving</em>. Atau ibarat lagi jalan-jalan keliling <strong>Eropa</strong>,  tau-tau dipanggil pulang sebelum ngunjungin dua negara. Atau makan  jeruk tapi yang dilahap kulitnya doang. Aku berharap sebuah klimaks  memberi titik, bukannya koma. Perkara apakah setelah titik itu ada  kalimat lain, udah urusan buku kedua.</p>
<p>Untuk gaya bercerita sendiri, aku nggak akan  banyak mengeluh. Jelas, dan emosinya ada. Tapi urusannya beda kalau  digabung dengan masalah karakterisasi <em>copy-paste</em> yang kusebut sebelumnya. Mereka cukup hidup, tapi tidak membuatku cukup peduli.</p>
<p>Dialog mereka sendiri terkadang terjangkit virus K3jU dengan berbagai strainnya.</p>
<p>Strain pertama adalah Strain K4w4n yang sesekali menggangguku. Gejalanya adalah:</p>
<p>&#8220;Benar, Kawanku. Ayah Owain bernama Azkhara&#8230;&#8221;</p></div>
<div style="text-align:justify;"><em> </em></div>
<p style="text-align:justify;">
&#8220;Kita istirahat dahlulu disini, Kawan-kawan!&#8221; kata Fionn, &#8220;bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hei&#8230; hei, tenang saja, Kawan! Ada apa ini?&#8221;</p>
<p>Hei, Kawan, apakah kau tidak tahu, Kawan, bahwa menyebut &#8220;Kawan&#8221; di akhir kalimat seperti ini itu menjengkelkan, kawan?</p>
<p>Strain kedua adalah Strain 3ms1. Gejalanya gini:</p>
<p>&#8220;Sungguh aku menyesal telah membuatmu mengalami semua hal itu, Anakku. Baiklah, malam sudah larut&#8230;&#8221;</p>
<p>Kapan kalimat ini dikatakan? Ketika Eira baru  saja menceritakan kisah sedihnya di depan ayah yang tidak ditemuinya  bertahun-tahun. Rasanya keliru jika seorang ayah, setelah mendengar  anaknya nyaris diperkosa, tiba-tiba mengalihkan pembicaraan dengan gaya  MC <em>trainee </em>mau nutup pesta.</p>
<div style="text-align:justify;">Strain berikutnya adalah strain p3tu4h. Contohnya:</p>
<div>&#8220;Hari ini  kau adalah pemimpin Beelk. Aku menganggapmu sudah dewasa dalam  memutuskan mana yang bisa kau percayai dan mana yang tidak. Kau sudah  bisa melihat mana kebenaran dan mana kepalsuan dan bagaimana kau harus  bersikap terhadap keduanya. Aku tidak ingin kau menyalahkan orang tuamu  yang selama ini membesarkanmu. Aku juga tidak ingin kau menyalahkan  kakekmu. Aku tidak ingin kau menyalahkan siapa-siapa. Semua lingkaran  kejadian ini sudah terjadi. Kau tidak bisa menyangkal bahwa ini tidak  terjadi.&#8221;</p>
<p>Trus ada lagi,</p>
<p>&#8220;Tidak  usah takut, Eira. Kau sekarang sudah aman. Tidak seorang pun yang akan  mencelakaimu lagi. Aku akan mencoba menjadi cahaya bagimu, bukan cahaya  yang sementara. Laki-laki tua yang kau ceritakan itu benar. Kita  bersaudara, meskipun kita terlahir dari orang tua yang berbeda, kita  memiliki tugas yang sama untuk membawa cahaya, menerangi kegelapan.&#8221;<em> </em></p>
<p><em><br />
Blah blah blah blah blah. Oh my crap. </em></div>
<div>
Sebelum aku mulai membaca Valharald pun  sebetulnya sudah ada yang bilang kalau buku ini penuh dengan kata-kata  &#8216;bijak&#8217; dan petuah-petuah. Dan penulisnya sendiri pun mengakui kalau dia  memang mau menyelipkan petuah-petuah. Kebetulan sekali, aku benci  petuah/kuliah. Aku benci kalau baca buku dan si penulis ngasih kuliah  eksplisit tentang sesuatu yang dia tahu, atau tentang sikap, moral, dan  pandangan hidup yang menurutnya ideal.</p>
<p>Sekali lagi nggak masalah kalau penulis mau menyampaikan apa yang dia percaya, tapi ya jangan khotbah/makalah <em>mode on</em>, dong? Integrasikanlah pandangan anda ke dalam tindak-tanduk tokoh atau plot cerita. <em>The story and the characters should not preach the ideal; the story and the characters should live the ideal</em>. Bukankah begitu?</p>
<p>Tapi di sisi lain, petuah-petuah Valharald nggak  semenjengkelkan kuliah di banyak buku lain yang kubaca. (Termasuk di  antara yang menyebalkan ini adalah penjelasan 2 halaman teori <em>chaos </em>di <strong>Jurassic Park</strong> oleh <strong>Ian Malcolm</strong> pas dia sekarat.) Tiap kali muncul panjangnya cuma satu-dua paragraf.  Nggak berhalaman-halaman, dan nggak dikasih bermacam-macam <em>footnote</em>. Nggak separah yang kubayangkan, dan kadarnya masih bisa ketelen, meski nggak nikmat.</div>
</div>
<p style="text-align:justify;">
Bagian terakhir yang mau kukeluhkan dari  Valharald ini adalah sikap yang diambil penulis dalam memperlakukan para  tokohnya. Kurasa penulis disini terlalu maksa. Ini terutama tampak dari  riwayat Eira dan <strong>Raja Heremon</strong>. Eira diculik dari kecil sampai  besar dengan tujuan mau dijadikan budak. Di banyak kisah fantasi, kalau  budaknya cewek, pasti larinya ke budak untuk tujuan yang dalam bahasa <strong>Pos Kota </strong>disebut urusan arus bawah.</p>
<p>Tapi katanya, karena campur tangan Kuasa Yang Lebih Tinggi, selama sekian belas tahun Eira &#8220;tetap mempertahankan kesuciannya.&#8221; <em>It is, of course, probable, but highly unbelievable</em>.  Apalagi untuk orang yang tiap hari lihat berita sedih para TKW. Jadinya  kelihatan banget pengarang itu nggak tega, dan karena nggak tega itu,  bikin alasannya maksa.</p>
<p>Tapi sekali lagi membela pengarang, memang  ngangkat topik arus bawah di dalam sebuah karya itu nggak gampang.  Tendensi pengarang&#8211;terutama pengarang Indonesia&#8211;biasanya dua. Entah  dia ngeles seperti pengarang ini, atau sebaliknya, lebay, dalam arti dia  memunculkan topik itu seseronok mungkin tanpa kegunaan ke plot  keseluruhan, tanpa ngukur kadar yang cocok dengan ceritanya, dan tanpa  eksekusi yang mumpuni.</p>
<p>Jalan manapun akan bikin aku nepok jidat. Tapi  pengarang Valharald tidak mengulang-ulang soal urusan arus bawah ini di  sepanjang cerita dan ngeles <em>every time</em>. Artinya, yang bersangkutan mengerti soal takaran, dan itu sesuatu yang kuhargai.</p>
<p>Berikutnya, cerita Raja Heremon. Dia pacaran sama  cewek, dan selama pacaran itu dia nyamar jadi pengembara. Ketika cewek  itu hamil, dia ngelamar, tapi ditolak sama ortu si cewek karena dia  pengembara miskin. Jadilah dia ninggalin si cewek.</p>
<p>Pada poin ini dia bisa dia ngasih tahu kalau dia  sebenernya raja, dan lamaran itu bakal langsung dioke-in. Tapi alasannya  dia nggak ngasih tahu itu nggak banget deh. I<em>n His Majesty&#8217;s Own Word</em>,  &#8220;&#8230;namun aku takut, jika gadis itu mengetahui siapa sebenarnya aku,  dia malah akan menjauhiku. Dia mencintaiku yang seorang pengembara,  bukan seorang raja.&#8221;<em> </em></p>
<p><em>This guy is either overly melodramatic, or just plain retarded.</em></p>
<p>Kalaupun waktu nyamar jadi pengembara lamaran dia  diterima, pas kawin nanti ujung-ujungnya kan ketahuan juga kalau dia  raja? Kalau gitu, apa bedanya dia ngaku sekarang dan ngaku nanti?</p>
<p>Plus, kalau dia ngaku, katanya ada kemungkinan  tuh cewek pergi pas ketahuan. Tapi kalau dia nggak ngaku, tuh cewek  sudah pasti nggak akan bersama dia. Antara ada kemungkinan dan sama  sekali nggak ada kemungkinan, pilihannya jelas, &#8216;kan?</p>
<p>Lagian, kalau perempuan bersedia mengandung anak  seorang laki-laki&#8211;apalagi laki-laki pengembara miskin&#8211;tanpa paksaan  atau imbalan, bukankah itu artinya dia benar-benar cinta sama laki-laki  itu, terlepas dari profesi si laki-laki?</p>
<p>Dan kalau si laki-laki tiba-tiba bilang bahwa dia  sebenernya lebih kaya daripada kelihatannya, cewek normal bukannya  bakalan ninggalin. Dia malah akan bersyukur karena dia nggak perlu  mencemaskan masa depan finansial anak yang akan ia lahirkan. Bukan aku  bilang perempuan adalah makhluk matre, <em>but normal women do think a lot about the future of their children. </em>Dari  mana logikanya seorang perempuan waras menjauhi laki-laki yang dia  cintai, yang juga mencintai dia, dan bisa memberi dia jaminan finansial?  Dari Hongkongnya Nenek Gue!</p>
<p>Oleh karena daripada itu, aku menyimpulkan kalau  karakter Raja Heremon ini dipaksa bikin keputusan dudud oleh pengarang  demi kelangsungan plot.</p>
<p>Akhirnya, <em>the verdict.</em> <em>Definitely not enjoyable, but not exacty unreadable, either</em>. Buat yang penasaran sama Valharald tapi kantong cekak, disarankan sangat untuk meminjam. <em>Preferably </em>dari  orang yang terlanjur beli tapi ternyata nggak suka buku ini. Kalau  setelah baca sampai tengah Bab 3 anda nggak merasa ada masalah&#8211;atau  bahkan suka&#8211;silakan agar buku tersebut diembat saja. Dengan senang hati  saia akan membantu memanjatkan doa kepada Kuasa Agung manapun yang  mengurusi keperawanan Eira, agar tindakan anda dicatat sebagai amal  karena telah membuat pengarang, pembeli, dan diri anda sendiri  berbahagia. Amin.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/819/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/819/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/819/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/819/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jalaindra.wordpress.com/819/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jalaindra.wordpress.com/819/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jalaindra.wordpress.com/819/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jalaindra.wordpress.com/819/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/819/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/819/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/819/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/819/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/819/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/819/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&amp;blog=187870&amp;post=819&amp;subd=jalaindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2011/02/26/review-valharald-6-luz-balthasaar-fikfanindo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2011/02/29261_1462479922731_1255461224_31284538_1153756_a.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Cover Valharald</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>REVIEW VALHARALD 5 : Andry Chang</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2011/02/26/review-valharald-5-andry-chang/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2011/02/26/review-valharald-5-andry-chang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Feb 2011 06:29:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=816</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Andry Chang Kembali dalam rangkaian marathon antardunia, kali ini Sang Musafir berkunjung ke – sebutlah ini – Dunia Tak Bernama, ke Negeri VarchLand yang indah. Karena media “perpindahan ke dunia lain” ini adalah buku, tentunya “kunci penarik” pertama adalah sampul bukunya. Kesan pertama yang didapat Sang Musafir adalah tokoh utama novel ini adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&amp;blog=187870&amp;post=816&amp;subd=jalaindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Oleh : <a href="http://fantasindo.blogspot.com/2010/10/sang-musafir-dan-valharald.html">Andry Chang</a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jalaindra.files.wordpress.com/2011/02/29261_1462479922731_1255461224_31284538_1153756_a.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-797" title="Cover Valharald" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2011/02/29261_1462479922731_1255461224_31284538_1153756_a.jpg" alt="" width="150" height="210" /></a>Kembali dalam rangkaian marathon antardunia, kali ini Sang Musafir berkunjung ke – sebutlah ini – Dunia Tak Bernama, ke Negeri VarchLand yang indah.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena media “perpindahan ke dunia lain” ini adalah buku, tentunya “kunci penarik” pertama adalah sampul bukunya. Kesan pertama yang didapat Sang Musafir adalah tokoh utama novel ini adalah “a knight in shining armor”, ksatria berzirah besi yang namanya terkesan seperti plesetan dari “Valhalla”.</p>
<p style="text-align:justify;">Tata sampul khas Gobaqsodor yang artistik, “Cinemalicious” dan “real-life images tambal-sulam” memang jadi nilai jual tersendiri, tetapi jangan sampai ini menjadi pisau bermata dua dengan mengurangi “spirit” dari cerita ini sehingga terkesan “menyesatkan” para calon musafir tentang figur Valharald yang adalah judul besar cerita yang pada dasarnya seharusnya ditampilkan di cover. Atau, bila nanti mau membuat cetakan kedua, diusulkan pada cover ditampilkan keduabelas lambang yang mewakili para ksatria dan Mahkota Liafala di tengah-tengahnya – no less, no more.</p>
<p style="text-align:justify;">Satu hal yang membuat “idealistic senses” Sang Musafir “gemetar” adalah endorsement pada cover yang mungkin adalah salah satu trik marketing dengan memberi “janji jaminan mutu” untuk menarik pembaca umum dari kalangan mainstream, sama seperti prinsip: “kecap saya dijamin nomor satu!” Yah, untunglah isinya cukup memberikan kesan bagus, menghibur, exciting dan feel good, walaupun tidak sampai “gemetar”. Mungkin – Sang Musafir setuju dengan istilah reviewer lain – lebih tepatnya “tergetar”.<br />
<span id="more-816"></span><br />
Oke, terlepas dari yang di-endorsed, kita kembali pada prinsip marketing lainnya, “yang penting rasanya, bung!” yang dalam konteks ini adalah CERITAnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tema utama cerita yang di-ekstrak Sang Musafir adalah perang antara kebaikan dan kejahatan, dimana pihak kejahatan dengan jumlah pasukan yang lebih besar hanya bisa diimbangi oleh – tentunya – kekuatan “lebih” yang bernama “pahlawan”.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi, dalam cerita yang satu ini Sang Musafir mengabaikan segala unsur klise dan pakem-pakem Tolkienisme yang rupanya cukup kental terasa – Kenapa? Mungkin karena beliau merasa “senasib” dengan penulis novel ini. Jadi, sekembalinya dari pertempuran hebat di Vincha ada beberapa kesan yang didapatnya sudah cukup untuk membuatnya rela menyisihkan waktu membedah dan membuat review dan fan sketch-nya. Berikut uraiannya.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li style="text-align:justify;">Alur cerita ini melibatkan banyak flashback yang polanya adalah di mana tempat pemilihan, siapa yang terpilih, apa buktinya, kapan ia terpilih, dan mengapa terpilih. Jadi inti plotnya adalah proses pemilihan 12 Ksatria Talismandala dan pertempuran di Vincha sebagai finale-nya – sederhana, standar dan tak ada kejutan yang benar-benar ekstrim.</li>
<li style="text-align:justify;">Setiap calon ksatria punya konflik dan pertarungannya sendiri, dan ini membuat prosesnya jadi lebih menarik ala karya klasik Tiongkok “Tepi Air” (Water Margin). Satu hal, terlalu banyak “kebetulan” yang terjadi di sini. Mungkin bila fungsi “kunci kalung segitiga” lebih diaktifkan sebagai “alat pelacak” untuk mencari saudara-saudaranya dan bereaksi bila dekat, faktor kebetulan itu bisa setidaknya dikurangi.</li>
<li style="text-align:justify;">Pemikiran “purist” Sang Musafir sedikit terusik oleh penggunaan nama Cuchulainn yang ciri-ciri fisiknya hingga rambutnyapun mirip dengan versi asalnya, seorang pahlawan legendaris Irlandia setara Sigurd &amp; Beowulf. http://fireheart-vadis.blogspot.com/2010/07/cuchulainn.html. Ini bisa dimaklumi karena nama-nama seperti Percival, Sigurd, Fafnir dll sering muncul di cerita beda dalam novel-novel dan game-game. Mungkin Adi Toha sangat terinspirasi oleh karakter pemberani legendaris ini dan ingin “menghidupkannya” kembali dalam dunia dan cerita yang berbeda, dan akhirnya kita coba cerna dengan pemikiran “mungkin saja ada 2 orang dan benda yang bernama dan berciri-ciri sama, apalagi di dunia yang beda.”</li>
<li style="text-align:justify;">Nama “Talismandala” sendiri, walaupun menurut Sang Musafir mungkin berasal dari kata “Talisman” dan “Mandala” yang berarti “Ksatria Suci Dewata”, terkesan aneh sendiri di antara sederetan nama-nama bernafaskan high fantasy ala Eropa Abad Pertengahan. Sekali lagi perlu sedikit toleransi dengan menganggap nama ini punya arti mendalam bagi si penulis, yang mengandung unsur “semangat” dan “jiwa” cerita ini. Mungkin terkesan inkonsisten, tapi juga idealisme yang kental.</li>
<li style="text-align:justify;">Ada baiknya selain Zwehly ditambahkan pula beberapa “Pahlawan Kegelapan” dari ras orcus atau semacamnya, jadi walaupun pihak kebaikan harus kalah, setidaknya mereka kalah dengan lebih “terhormat”, bukan semata-mata kalah jumlah saja.</li>
<li style="text-align:justify;">Bumbu-bumbunya yang berunsur diantaranya pengkhianatan, intrik, perpecahan, penderitaan, cinta dan konflik terasa kurang ekstrim dan terkesan “dikurangi kadarnya”. Mungkin karena tekanan budaya Indonesia-kah? Maklumlah, batas antara “ekstrim” dan “wajar” memang setipis kertas, dan itu juga yang jadi dilema setiap penulis novel-novel laga termasuk Sang Musafir sendiri.</li>
<li style="text-align:justify;">Teka-teki Sphinx yang terdapat dalam buku ini adalah hak cipta Sphinx. Harus dimaklumi, memang tidak mudah membuat “riddle” unik yang bisa diingat orang (Contoh: Sphinx dalam “Harry Potter and the Goblet of Fire”), jadi kadang jalan pintasnya adalah “meminjam” dari yang sudah ada. Maklum, Sang Musafir juga kadang suka “meminjam” dengan menyertakan penjelasan yang (harap saja) masuk akal.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dalam petualangannya ini Sang Musafir juga bertemu dengan beberapa tokoh lain yang cukup berkesan baginya:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li style="text-align:justify;">Einar, seorang pangeran yang berusaha menekan ambisinya untuk menyatukan seluruh kerajaan di Dataran Tak Bernama demi tujuan yang lebih mulia.</li>
<li style="text-align:justify;">Eira: Mungkin ia adalah Ksatria Talismandala yang paling misterius. Selamatnya dia selama ini dari “tangan-tangan jahil” mungkin ada hubungannya dengan semacam kekuatan misterius yang mengerikan dalam dirinya, bukan hanya berkat lindungan Yang Kuasa saja. Bila dikembangkan lebih lanjut, Eira bisa digambarkan sebagai gadis yang punya sedikit gangguan mental dan sifat aneh, dan dengan twist yang tidak terduga bisa jadi dialah yang jadi sasaran Zwehly yang sebenarnya.</li>
<li style="text-align:justify;">Nimrodir: Tokoh yang sangat versatile, serba bisa, satu-satunya Ksatria Talismandala generasi pertama yang masih hidup. Bersama Draach si pelindung, dia adalah tokoh terkuat dalam episode ini, tapi diduga dia akan jadi salah satu yang “expendable” – yang akan dimatikan oleh salah satu Ksatria Talismandala yang berkhianat (mirip-mirip “Togira Ikonoka”-nya Eragon di “Brisingr”?)</li>
<li style="text-align:justify;">Cymrodor: Satu lagi tokoh yang terkesan “expendable”, sudah diduga dari awal. Formasi 12 ksatria yang asli terkesan “disayang-sayang”, jadi Cymrodor-lah yang terkesan “dikorbankan”. Andai saja bukan dia, tapi Urias, Fionn atau anggota lain yang tewas dan dia jadi tokoh pengganti yang menjadikan formasi jadi “tidak terlalu sempurna”, itu akan jadi tambahan kejutan yang menambah nilai keasyikan cerita ini.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Di akhir segala akhir, Sang Musafir menutup buku portal Dunia Tak Bernama ini dengan tersenyum, disertai harapan bilamana nanti ia berkunjung kedua kalinya, Sang Musafir akan menemukan legenda yang lebih epik dan berwarna meriah.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kebijaksanaan, keberanian, kesetiaan, ketekunan, kasih sayang, ketabahan, pengampunan, keteguhan, keadilan, belas kasihan, kepercayaan dan kejujuran. Dan semuanya itu bersatu, memancarkan kebaikan demi dunia, demi cinta kasih dan demi kehidupan itu sendiri.”</p>
<p style="text-align:justify;">Daftar 12 Ksatria Talismandala (Berdasarkan Urutan Kemunculannya):</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Valharald Cadwaladir – Kunci Kebijaksanaan (Wisdom)</li>
<li><a href="http://fireheart-vadis.blogspot.com/2010/07/cuchulainn.html">Cuchulainn</a> – Kunci Keberanian (Valor)</li>
<li>Fionn d’Arthfael – Kunci Kesetiaan (Loyalty)</li>
<li>Urias d’Eoghan – Kunci Ketekunan (Diligence)</li>
<li>Gwyneira – Kunci Kasih Sayang (Love)</li>
<li>Eira Olwydd – Kunci Ketabahan (Preserverance)</li>
<li>Owain – Kunci Pengampunan (Mercy)</li>
<li>Tighearnan – Kunci Keteguhan (Righteousness)</li>
<li>Einar – Kunci Keadilan (Justice)</li>
<li>Ingemar – Kunci Belas Kasihan (Compassion)</li>
<li>Ingolf – Kunci Kepercayaan (Faith)</li>
<li>Gavin Mor – Kunci Kejujuran (Honesty)</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jalaindra.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jalaindra.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jalaindra.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jalaindra.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/816/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/816/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/816/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&amp;blog=187870&amp;post=816&amp;subd=jalaindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2011/02/26/review-valharald-5-andry-chang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2011/02/29261_1462479922731_1255461224_31284538_1153756_a.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Cover Valharald</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>REVIEW VALHARALD 4 : Mantoel Toeink</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2011/02/26/review-valharald-4-mantoel-toeink/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2011/02/26/review-valharald-4-mantoel-toeink/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Feb 2011 06:20:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Review Valharald]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=813</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Mantoel Toeink [Distrik 12] Sebelum memulai pembahasan apapun mengenai novel ini, saya harus mengingatkan bahwa saya membaca novel pinjaman, bukan beli sendiri. Karena itulah, mohon dimaafkan apabila ada data buku yang kurang akurat. Untuk bagian kutipan dari dalam novel, kebetulan saya menulis resensi ini saat sang buku belum dikembalikan ke empunya jadi setidaknya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&amp;blog=187870&amp;post=813&amp;subd=jalaindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Oleh : <a href="http://distrik12.blogspot.com/2010/06/resensi-valharald.html">Mantoel Toeink [Distrik 12]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jalaindra.files.wordpress.com/2011/02/29261_1462479922731_1255461224_31284538_1153756_a.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-797" title="Cover Valharald" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2011/02/29261_1462479922731_1255461224_31284538_1153756_a.jpg" alt="" width="150" height="210" /></a>Sebelum memulai pembahasan apapun mengenai novel ini, saya harus mengingatkan bahwa saya membaca novel pinjaman, bukan beli sendiri. Karena itulah, mohon dimaafkan apabila ada data buku yang kurang akurat. Untuk bagian kutipan dari dalam novel, kebetulan saya menulis resensi ini saat sang buku belum dikembalikan ke empunya jadi setidaknya saya benar-benar menyalin dan tidak ada kesalahan yang terlalu fatal kecuali jika saya sedang meleng, kesalahan ketik.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya pertama kali mendengar novel ini di salah satu forum pembicaraan di Goodreads dan setelah ada di tangan saya, baru saya sadar kalau sebenarnya saya sudah pernah melihat novel ini di toko buku yang kerap saya sambangi. Nah, kalau saya pernah melihat dan bisa sampai taraf tidak ingat pada judulnya, biasanya memang ada sesuatu yang “salah”—menurut saya—pada novel tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Heran deh, siapa yang pertama kali mempelopori kewajiban sosok manusia atau sesuatu yang menyerupai manusia harus memenuhi bagian kiri kover depan? Ini novel fiksi fantasi lokal kedua yang saya dapati menaruh sosok di bagian kiri kover depan, tapi saya merasa sebelum ini saya pernah melihat sebuah novel fiksi terjemahan yang meletakkan sosok di bagian sebelah kiri kover (saya tidak ingat). Entah berapa lama lagi trend sosok memenuhi sisi kiri kover depan ini akan berlangsung …</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-813"></span>Terlepas dari keberadaan sosok berbaju zirah di separuh kover depan sebelah kiri, hal lain yang menarik perhatian dari sampul novel ini adalah sosok lain yang mengisi sisa tempat yang tidak dijajah si pria berbaju zirah. Ketiga sosok lain yang tidak berzirah adalah dua orang wanita dan seorang pria, nah, yang menarik perhatian adalah mereka sosok yang lebih berupa foto ketimbang ilustrasi tangan atau komputer. Saya pribadi sejujurnya kurang menyukai kover depan yang diisi dengan foto manusia begitu. Kenapa sih tidak menggunakan ilustrasi? Kalaupun tidak ada tenaga ilustrator, apakah ada yang salah apabila tidak ada sosok manusia sedikit pun di kover depan? Misalnya, hanya judul novel, nama pengarang, endorsement jika ada, lalu sedikit ilustrasi yang tidak usah sosok makhluk hidup. Contohnya seperti The Godfather atau 5 cm. Kedua novel itu minimalis sekali dalam hal kover, kalah jauh dengan, misalnya serial The Secrets of Immortal Nicholas Flamel, tapi minimalis sekalipun tetap membuat buku tersebut nampak mencolok saat disandingkan dengan tumpukan buku lainnya. People do judge the book by its cover, apalagi kalau buku di toko semuanya disegel. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  Berdasarkan pembahasan saya di atas, bisa ditebak bahwa saya akan ragu-ragu sekali mengambil Valharald dari rak buku karena masalah sampul depannya yang tidak sesuai selera. (Untung ada teman yang berbaik hati meminjamkan. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> )</p>
<p style="text-align:justify;">Sinopsis, kira-kira cukup menggambarkan isi buku, menurut saya. Jika diperhatikan lebih lanjut, mungkin beberapa orang akan merasa ada yang aneh pada kalimat kedua sinopsis.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Pada sebuah negeri (VarchLand) yang telah mengalami masa-masa damai selama beratus-ratus tahun, tiba-tiba terancam mengalami kehancuran oleh sebuah kekuatan kegelapan yang datang dari bangsa Vomorian.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kejanggalan tersebut disebabkan oleh kata “pada” dan “tiba-tiba”. Mari saya perlihatkan apabila kedua kata tersebut dilenyapkan.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Sebuah negeri (VarchLand) yang telah mengalami masa-masa damai selama beratus-ratus tahun, terancam mengalami kehancuran oleh sebuah kekuatan kegelapan yang datang dari bangsa Vomorian.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kata “pada” merujuk pada tempat atau lokasi. Betul bahwa “negeri VarchLand” adalah sebuah tempat, tapi dalam konteks kalimat ini, ia berfungsi sebagai sebuah subjek, bukan keterangan tempat. Tambahan kata “pada” sebelum “negeri VarchLand” memberikan kesan bahwa rangkaian kata di depan merupakan suatu keterangan tempat, tapi pada kenyataannya diikuti oleh kata “mengalami” yang merupakan sebuah predikat dan kata kerja aktif dengan ciri didahului sebuah subjek.</p>
<p style="text-align:justify;">Oke, cukup deh ngomong soal tata bahasa. Saya bukan pakarnya berbahasa Indonesia yang baik dan benar jadi rasanya tidak etis kalau saya mengomentari seorang pengarang yang novelnya sudah terbit padahal saya ikut merancang EYD, pengajar bahasa Indonesia, penulis buku tentang tata bahasa, dan menerbitkan buku sendiri belum pernah dilakoni sama sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">Mari menjabarkan isi novel ini ke dalam bentuk poin-poin yang lebih mudah dicerna saja. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Kelebihan:<br />
- Aliran cerita yang enak untuk diikuti<br />
Ada banyak flashback di dalam novel ini tapi saat flashback disisipkan di cerita “masa kini”, alirannya tidak terganggu sama sekali dan porsi setiap flashback saya rasa cukup pas.</p>
<p style="text-align:justify;">- Tata bahasa yang baik<br />
Meskipun hal ini sudah menjadi sebuah kewajiban bagi semua novel yg diterbitkan di seantero nusantara ini, saya masih menemukan ada saja novel yang “kecolongan” dalam hal paling mendasar, yakni tata bahasa. Valharald ini termasuk ke dalam novel yang tata bahasanya tergarap dengan baik (dan benar) dari segi teknis, mulai dari huruf kapital, penggunaan tanda baca, penggunaan kata baku dalam sebuah narasi (yang ini mungkin preferensi pribadi, tapi setahu saya ada aturan seperti itu dalam sebuah karya tulis), semuanya oke, kecuali beberapa salah ketik minor dalam hal huruf kapital. Woot, jangan salah, teknik penulisan mungkin kedengarannya terlalu formal dan tidak keren sama sekali, tapi bagi saya sebuah tata bahasa yang baik berpengaruh kepada kenikmatan membaca.</p>
<p style="text-align:justify;">Kekurangan:<br />
- Layout “ajaib”<br />
Ada sebuah kotak-kotak kecil berisi kutipan kalimat yang terdapat di halaman tersebut. Tidak setiap halaman dihiasi kotak-kotak tersebut, tapi pada awalnya saya melihat, saya merasa sedikit terganggu karena perhatian saya jadi terfokus pada kotak-kotak yang mirip sekali seperti pada artikel di Intisari itu. Untungnya pada akhirnya saya berhasil mengabaikan kotak-kotak tersebut selama membaca sehingga keluhan saya hanya berhenti sampai di sini.</p>
<p style="text-align:justify;">- Salah ketik yang fatal<br />
Kenapa fatal? Karena yang salah diketik adalah nama! Saya kutipkan beberapa kalimat yang saya ingat dan berhasil saya temukan kembali.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>”Itu dia. Ingolf!” seru Ingemar kegirangan.</em><br />
<em>“Hah? Ingolf? Kau yakin?” tanya Ingemar ragu. “Semudah inikah menemukannya?”</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ganti kata “Ingemar” di kalimat kedua dengan “Einar”. (Saat dialog tersebut terjadi, Ingemar tengah bersama-sama dengan Einar.)</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>”Owain, kita akan segera bertemu dengan adikmu di Vincha. Ayah berharap ia baik-baik saja. Ayah yakin jika tidak ada sesuatu hal yang menghambatnya dalam perjalanan, ia telah sampai di Vincha,” kata Azkhara.</em><br />
<em>“Aku harap juga demikian, Ayah,” balas Gwyneira.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Gwyneira adalah adik yang dimaksud oleh Azkhara (boro-boro ada di jarak sepuluh meter dari mereka saat dialog di atas terjadi). Harusnya “Gwyneira” di sana diganti dengan “Owain”.</p>
<p style="text-align:justify;">- Logika yang terasa kurang pas.<br />
Salah satunya adalah mengenai kepergian para Kesatria Talismandala ke medan perang. Ada dua pertanyaan besar yang timbul saat saya mencapai akhir buku ini:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Kesiapan mereka menghadapi sebuah peperangan.<br />
Perang berbeda dengan sebuah pertarungan biasa. Sebuah pertarungan biasanya tidak melibatkan terlalu banyak lawan—kira-kira seimbang dalam hal jumlah antara si penyerang dan yang diserang, sedangkan dalam sebuah peperangan ada sangat banyak jumlah musuh yang datang menghampiri. Pengalaman dalam sebuah pertarungan—entah melawan beruang entah melawan makhluk asing yang makan orang, tapi dalam jumlah lebih sedikit daripada sebuah pasukan perang—seharusnya tidak dianggap sama dengan pengalaman berperang. Tidak diceritakan apakah kalung yang menjadi penanda para Kesatria itu memiliki kekuatan mistis entah apa untuk melindungi penggunanya atau bagaimana sehingga mereka yang tidak memiliki pengalaman menggunakan senjata dan bertarung pun diterjunkan ke dalam peperangan (sekedar informasi, dari dua belas Kesatria, ada satu yang sama sekali tidak dibekali pengetahuan bertarung yang memadai).</p>
<p style="text-align:justify;">2. Apa jadinya bila salah satu Kesatria tewas dalam peperangan?<br />
Kedua belas Kesatria Talismandala diceritakan terjun semua ke dalam peperangan, bahkan ikut berperang langsung, bukan mengomandani. Ada dua orang (wanita) di antara mereka yang memang perannya sebagian besar adalah sebagai tenaga medis, tapi sisanya diterjunkan ke medan perang. Siapa sih yang punya ide menurunkan mereka ke peperangan? Orang itu pasti tidak berpikir apa yang akan terjadi seandainya salah satu Kesatria terbunuh. Repot jadinya kalau salah satu, salah dua, atau bahkan salah enam dari mereka gugur karena terinjak Orcus atau Ogre atau malah tidak sengaja kena bola api Pelindung Draach. Harus ada pengganti mereka yang gugur dalam pertarungan agar “kunci” yang menjadi topik utama sepanjang buku ini tetap berada di tangan yang pantas dan dapat digunakan untuk mengakses ruang rahasia tempat tersimpannya senjata mutakhir untuk melawan musuh mereka. Kenapa kedua belas orang itu tidak diutus saja untuk membuka dan mengambil senjata untuk melawan musuh-musuh mereka? Toh cukup dengan mengutus mereka pergi begitu saja akan ada masalah tersendiri karena musuh (asumsikan mereka punya mata-mata) pasti tidak akan membiarkan mereka tiba di tempat penyimpanan senjata mutakhir itu begitu saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari dua pertanyaan di atas, saya menyimpulkan sendiri bahwa si pengarang terlalu bernafsu menampilkan sebuah peperangan besar yang sangat menentukan di dalam ceritanya. Pola ini mengingatkan saya pada peperangan yang terjadi di Lord of The Ring. Bedanya, jika di LoTR Frodo harus menghancurkan The One Ring untuk mengalahkan Sauron, di Valharald ini kedua belas kunci harus disatukan untuk membuka tempat penyimpanan senjata mutakhir yang pernah digunakan untuk melawan musuh yang sama. Bedanya lagi, Frodo—ditemani Sam—tetap melanjutkan perjalanan untuk menghancurkan cincin sementara urusan perang melawan pasukan Mordor diserahkan kepada Aragorn dkk, di Valharald ini para karakter yang berperan sebagai “Frodo” malah ikut berperang.</p>
<p style="text-align:justify;">*Kasih briefing ke Vomorian*</p>
<p style="text-align:justify;">Oke, Vomorian, lain kali kalian ketemu orang-orang yang namanya Cuchulainn, Fionn, Urias, Gavin, Tighearnan, Gwyneira, Eira, Owain, Einar, Valharald, Ingemar, Ingolf, kalian langsung bunuh mereka dan ambil kalungnya lalu bawa jauh-jauh dari mereka. Mendingan mulai dari Eira dulu karena dia paling lemah, tapi target utamanya Einar atau Fionn karena bau-baunya dia ini bakal sah jadi penguasa VarchLand.</p>
<p style="text-align:justify;">(Malah memihak Vomorian.)</p>
<p style="text-align:justify;">- Karakter yang datar<br />
Bukan datar tanpa emosi, tapi lebih karena mereka sepertinya memiliki sifat yang kira-kira sama. Bahkan Cuchulainn yang diceritakan sebagai “orang liar” yang tinggal di hutan sendirian selama bertahun-tahun pun bisa beradaptasi saat bertemu dengan manusia lainnya (dia hanya tidak bisa beradaptasi dengan menunggang kuda, tapinya). Mereka semua adalah orang-orang berbudi baik yang sepertinya tidak bisa merasa marah pada seorang “pengacau” (ini sebutan dari saya) yang hobinya ninggalin anak asuhnya sebatang kara atau bersikap (sok) misterius kepada mereka. Karakter yang saya suka hanya si kembar Ingemar-Ingolf karena salah satu dari mereka masih sempat ditunjukkan bisa merasa marah. Einar hanya sekilas ditunjukkan besar kepala dan sangat bengal di masa mudanya, tapi sisanya dia adalah seorang raja muda yang baik. Karakter yang potensial saya sukai lagi adalah Gavin, mengingat bagaimana dia telah bertemu dengan seorang “pengacau” (ini juga sebutan yang saya gunakan agar tidak spoiler) lainnya. Sayangnya Gavin sudah dilibas oleh Einar dan Fionn dalam hal porsi cerita.</p>
<p style="text-align:justify;">Out of topic: *uhuk* Meng-handle dua belas orang sekaligus memang susah yah? *uhuk* *lirik draft DNMS* Makanya nggak sekaligus lagi sekarang. *uhuk* Jadinya lebih oke, IMHO. *uhuk uhuk dan sudah saatnya kita kembali ke topik pembicaraan utama setelah promosi draft belum jadi yang nggak tahu malu ini*</p>
<p style="text-align:justify;">Tambahan lagi. Mereka mungkin berusia dua puluhan tahun, tapi saya tetap merasa janggal saat mereka sepertinya tidak merasakan apa-apa saat telah membunuh seseorang. Orang yang mereka bunuh bisa dibilang memang jahat, tapi benarkah kita bisa membunuh orang jahat begitu saja?</p>
<p style="text-align:justify;">- Ketidakkonsistenan karakteristik<br />
Ini terutama terjadi pada karakter bernama Valharald. Diceritakan bahwa Valharald ini adalah penasihat kerajaan yang bijak. Lucunya setelah sekian lama disuguhi kunjungan dan pertemuannya dengan orang-orang terpilih dan orang-orang penting, di bab delapan, bab milik Gavin, beliau yang merupakan karakter paling uzur di antara kedua belas Kesatria, berubah menjadi maling buah plum yang digebukin preman pasar. Jawabannya kepada Gavin yang menolongnya pun tidak bisa dibilang baik atau bijak (dia bisa digebukin preman pasar karena mencuri saja sudah tidak terdengar bijak). Kalau itu bukan Valharald, tapi musuh yang menyamar, kenapa dia menyuruh Gavin ke tempat berkumpulnya Kesatria lainnya dan tidak berniat mencuri kunci atau membunuh Gavin saat itu juga agar kuncinya tidak terkumpul? Dengan pemikiran demikian, saya yakin bahwa orang tua yang ditemui Gavin adalah Valharald. Kalau itu bukan Valharald, maka pertanyaan saya tadi masuk ke dalam kelemahan mengenai tindakan yang tidak logis.</p>
<p style="text-align:justify;">- Plot biasa<br />
Betul. Biasa. Betul sekali. Nobody that becomes somebody to saves everybody. Betul sekali. Dan dilengkapi dengan peperangan. Hmmmmmm. Plot semacam ini mungkin sudah ada dari sejak tahun 70-an di game-game dan sudah lebih tua lagi untuk ukuran sebuah karya sastra. Saya sendiri sebenarnya tidak bisa menebak mengapa seorang pengarang memilih plot seperti ini padahal jika dilihat dari biografinya beliau ini sudah pernah menghasilkan kumpulan cerpen anak yang ceritanya lebih bervariatif. Sungguh sebuah misteri. Hmm.</p>
<p style="text-align:justify;">- Siapa sebenarnya target pembacanya?<br />
Poin plus, menurut salah satu reviewer di Goodreads, novel ini adalah kata-kata mutiara yang lumayan sering diungkapkan para karakternya. Kata-kata mutiara itu, sayangnya, lewat begitu saja bagi saya. Anggapan saya sejauh ini bukan karena kata-kata mutiaranya basi (positive thinking) tapi karena saya sudah pernah mendengar kata-kata serupa di media lain dan di umur kepala dua ini saya sudah tidak terlalu idealis lagi dalam berpikir. Kata-kata mutiara dan moral of the story biasanya sangat pas untuk sebuah cerita anak-anak, makanya saya sempat berpikir bahwa Valharald ini jangan-jangan sebuah novel yang ditujukan untuk anak-anak dan bisa menjadi konsumsi segala usia (karena ini bukan bir atau vodka atau susu bayi, jadi kakek-kakek mau baca paling efek sampingnya hanya bosan bukan yang terkait ginjal, hati, atau lambung). Tapi! Saat saya melihat kembali kovernya, saya kurang yakin anak-anak akan tertarik untuk mengambil buku ini dari rak buku. Ditambah lagi, ternyata di dalam cerita ada hal-hal yang saya rasa kurang cocok untuk anak SD (anak hasil hamil di luar nikah dan ortu sang ibu tidak merestui anaknya menikah dengan orang yang telah menghamili dan beberapa jenis kasus Termehek-mehek TransTV lain, meskipun tidak sebanyak itu jumlahnya). Mohon maaf apabila ternyata pendapat terakhir tentang hal yang pantas dan tidak pantas bagi anak-anak itu salah. Saya kurang mengerti standar mengenai apa yang pantas dan tidak pantas bagi anak-anak sekarang ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/813/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/813/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/813/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/813/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jalaindra.wordpress.com/813/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jalaindra.wordpress.com/813/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jalaindra.wordpress.com/813/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jalaindra.wordpress.com/813/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/813/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/813/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/813/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/813/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/813/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/813/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&amp;blog=187870&amp;post=813&amp;subd=jalaindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2011/02/26/review-valharald-4-mantoel-toeink/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2011/02/29261_1462479922731_1255461224_31284538_1153756_a.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Cover Valharald</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>REVIEW VALHARALD 3 : Rickman Roedavan</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2011/02/26/review-valharald-3-rickman-roedavan/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2011/02/26/review-valharald-3-rickman-roedavan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Feb 2011 06:03:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Review Valharald]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=804</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Rickman Roedavan Sebuah novel yang akan membuatmu gemetar! Yup! Bener banget, novel ini bisa membuat siapa saja yang membacanya gemetar. apalagi kalau bacanya pagi-pagi di tempat sepi pas kebelet pipis. Dijamin gemetar!! Nah, sodara2 sekalian, sebangsa tanah, dan sebangsa air, tanpa berpanjang pendek berluas lebar, marilah kita memulai review salah satu novel fantasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&amp;blog=187870&amp;post=804&amp;subd=jalaindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Oleh : <a href="http://roedavan.blogspot.com/2010/07/review-novel-valharald.html" target="_blank">Rickman Roedavan</a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jalaindra.files.wordpress.com/2011/02/29261_1462479922731_1255461224_31284538_1153756_a.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-797" title="Cover Valharald" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2011/02/29261_1462479922731_1255461224_31284538_1153756_a.jpg" alt="" width="150" height="210" /></a>Sebuah novel yang akan membuatmu gemetar! Yup! Bener banget, novel ini bisa membuat siapa saja yang membacanya gemetar. apalagi kalau bacanya pagi-pagi di tempat sepi pas kebelet pipis. Dijamin gemetar!! Nah, sodara2 sekalian, sebangsa tanah, dan sebangsa air, tanpa berpanjang pendek berluas lebar, marilah kita memulai review salah satu novel fantasi karya anak bangsa yang satu ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Ehm. Judulnya bagus. Valharald. Covernya bagus. Tebal. Dan harganya bagus. 50 ribu. Beli di togamas dapet korting 20%. Kualitas kertasnya bagus. Putiiiiih. Kayak habis disikat sama odol. Isi ceritanya bagus. Ada berantem2nya gitu. Keren. Singkatnya, novel ini bagus. Demikianlah review dari saya. Sekian dan terima kasih.</p>
<p style="text-align:justify;">W*** T** F***!</p>
<p style="text-align:justify;">Review macam apa ini?????? Pasti lo semua mau pada bilang gitu kan? Eh, ini blog, blog gue! Gue mau nulis apa kek, itu terserah gue. Kenapa lo yang sewot?? *tapi jangan gitu amat bos. Yang namanya repiew kan kudu pedes. Sakit kayak ditabok polwan gitu! Propesional dikit kek, bikin review!!*</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-804"></span>Oooh, gitu. Bikin repiew nopel kudu ngenes menyayat perih berlapis lara ya? Ok. Kalau begitu, repiewnya diulang.</p>
<p style="text-align:justify;">Ehm. Judulnya jelek. Valharald, mestinya Valharald &amp; The Sorceres Stone. Covernya jelek. Terlalu tebal. Dan harganya jelek. 50 ribu. Dikorting 20% juga masih mahal. Bagusnya gratisan aja. Kualitas kertasnya jelek. Putih. Harusnya warna warni kayak pelangi. Isi ceritanya jelek. Nggak ada romantis2an sama cium2annya. Jelek. Singkatnya, novel ini jelek. Demikianlah review dari saya. Sekian dan terima kasih.</p>
<p style="text-align:justify;">*dilempar setrikaan sama pengarangnya: syuuuuuung&#8230;. PLETAAK!!!*</p>
<p style="text-align:justify;">Aduuuuh, kenapa sih, begini salah begitu salah? Gue kan bukan reviewer, jadi kagak tahu gimana kuduna ngereview novel?? *kucluk! kucluk!* seekor monyet berhidung belang tiba2 datang, dan dia berkata, &#8220;Bos, lo mau tahu gimana caranya supaya bisa ngereview novel?&#8221; Weits! Ada monyet yang mau ngajarin gue. Yah, secara gue emang telmi, gue ngangguk. &#8220;Hu uh. Gue mau banget, nyet. Gimana caranya?&#8221; Monyet itu memandang gue dengan serius, terus bilang, &#8220;Supaya lo bisa ngereview sebuah novel, syaratnya ada satu!&#8221; katanya mantap. &#8220;Apa tuh?&#8221; kata gue bilang. &#8220;Ya lo mesti baca dulu novelnya lah&#8230;.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Tuiiiiiiiiiiing&#8230;.. BLEDAAAAR!!!</p>
<p style="text-align:justify;">Oalah, ternyata begitu sodara2. Pantesan gue kagak bisa bikin review. Orang gue kagak pernah baca novelnya? wkwkwkwkw.<br />
*dilempar sepatu sama pengarangnya: syuuuuuung&#8230;. Eit! Untungnya gue ngeles!! Hahaha, ga kena!! ga kena&#8230; PLETAAAK!!! Gue dilempar pancii sama tetangga sebelah. Rupanya sepatu yang tadi nyasar, dan nimpuk kepalanya&#8230;.*</p>
<p style="text-align:justify;">Mode serius on:</p>
<p style="text-align:justify;">Oke, now let&#8217;s begin the review!!!!<br />
Eng.. Ing.. Eng&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Kita mulai dari poin plus. Novel ini secara keseluruhan bulat. Dalam artian, memiliki sebuah plot utama yang menjadi benang merah cerita yang kokoh, dan konsisten. Terlihat dari bab pertama, yang langsung memasukan inti dari novel secara keseluruhan sehingga yang baca langsung &#8220;ngeh&#8221; dan langsung paham &#8220;ini novel mau nyeritain apaan sih?&#8221;. Sekedar tips (ini juga gue denger dari temen), novel fantasi yang bagus itu cukup dilihat dari BAB PERTAMA. Kalau bab pertamanya muter2 kayak layangan lele, nggak jelas ceritanya apaan, udah pasti itu novel parah abis! Novel yang bagus adalah novel yang bab pertamanya bagus!! Langsung menghentak, menohok, menonjok, membanting, dan menendang pembacanya!! (Sadis kan?).<br />
Terus dari segi narasi, dan deskripsi untuk seting tempatnya juga bagus. Pemilihan diksi baik dan tidak berlebihan. Khas novel fantasi. Untuk soal dialog pun sangat rapi. Adegan brantemnya juga lumayan, nggak terlalu detail layaknya cerita2 silat, tapi cukup bisa dinikmati. Dan satu hal yang menonjol lainnya, adalah banyaknya kalimat2 &#8220;menggetarkan&#8221; yang disisipkan di seluruh novel dalam bentuk dialog tokoh.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang kita masuk ke poin minus. (ng, kok muke lo semua jadi pada semangat gitu sih?? Ngeri gue lihatnya&#8230;) Plotnya aneh. Kontradiksi dengan poin plus mengenai plot yang bulat. Dikisahkan, ada senjata2 dan baju besi luar biasa milik 12 ksatria talismandala yang disimpan di tempat rahasia. Sampai sini sih ga masalah. Semua senjata itu katanya bisa digunakan untuk melawan kekuatan kegelapan. Ok, I like that part. Terus, ada 12 kunci yang harus digunakan untuk membuka tempat penyimpanan senjata2 itu. Ini juga asyik. Kunci2 itu dikasih/disebar ke keturunan ksatria secara turun temurun. Fine. Dan orang2 itu sudah tersebar entah di mana, bahkan ada beberapa pewaris kunci yang sama sekali ga tahu kalau kalung yang dia pake adalah kunci hebat. Nah loh????? Ini sih sama aja kita bikin nuklir, yang bisa diaktipin sama handphone, terus handphone kita kasih ke keponakan kita yang masih SD. &#8220;De, de&#8230;, simpan baik2 handphone ini ya, jangan dijual apalagi di banting. Handphone ini bisa ngaktipin nuklir loooh!&#8221; DANG!!<br />
Nitip handphone sedahsyat itu kok ke anak SD???</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk senjata hebat sekelas ksatria Talismandala, seharusnya kunci2 itu dikasih ke orang2 yang tepat, dan mereka SEJAK AWAL udah tahu itu kunci buat apaan. Jadi ngejaga kuncinya serius. Lah ini? Masa ada yang ngejaga kunci nggak bisa berantem? Gue lupa namanya siapa. Eria, Erin, atau siapalah. Lupa. Pokoknya aneh banget menurut gue cewek yang itu (atau jangan2 di sekuel keduanya dia adalah seorag penyihir yang sakti). Sayang. Padahal, idenya udah bagus banget, cuman pas bagian logika fantasinya malah jeblok. Terus kalau memang inti ceritanya soal kunci, ngapain orang2nya kudu ikut sagala? Sampe ikut2an perang? Kan cuma butuh kuncinya doang?? Terus yang rada gawat adalah 12 karakter. Waduuuh, beneran dah. Gue sampe pusing nginget2 namanya. Padahal di bab2 awal, gue udah seneng, pas Valharald nyari si Cucu&#8230; (Aduh namanya siapa sih?) ya, pokoknya pas mereka berdua ketemu, dan berantem, waaah, mantep tuh. Kayak model2 game RPG ceritanya. Tapi pas pertengahan malah karakter yang lain, karakter yang lainnya lagi, dan&#8230;.. weeeeh, banyaaak amat cerita orang2nya? Perangnya malah dikit??</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk soal penokohan, pewatakan, dan karakter, gue ga bisa ngomong banyak. Soalnya, ilmu gue belom nyampe sana, wkwkwkwk.<br />
Jadi ga bisa komen macem2 soal itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Anyway busway cutbray, novel ini sebenarnya menarik untuk disimak, apalagi buat mereka yang senang dengan cerita-cerita fantasi ala Lord of The Ring. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, karya ini bisa dijadikan pedoman buat lo-lo semua yang pengin berkecimpung di dunia novel fantasi. Terutama pada bagian : &#8220;membuat karya novel fantasi yang serius&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Siapa yang bilang bikin novel fantasi itu gampang? Gue aja udah bikin 4 naskah jeblok semua! Wkwkwkwkwkw.<br />
Demikianlah review dari saya. Sekian dan terima kasih.</p>
<p style="text-align:justify;">MAJU TERUS PENULIS FANTASI INDONESIA!!</p>
<p style="text-align:justify;">*celingak-celinguk, ada yang nimpuk lagi kah? aman&#8230; aman&#8230;*</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/804/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/804/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/804/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/804/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jalaindra.wordpress.com/804/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jalaindra.wordpress.com/804/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jalaindra.wordpress.com/804/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jalaindra.wordpress.com/804/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/804/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/804/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/804/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/804/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/804/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/804/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&amp;blog=187870&amp;post=804&amp;subd=jalaindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2011/02/26/review-valharald-3-rickman-roedavan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2011/02/29261_1462479922731_1255461224_31284538_1153756_a.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Cover Valharald</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>VALHARALD REVIEW 2 : Rama Prabu</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2011/02/26/valharald-review-2-rama-prabu/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2011/02/26/valharald-review-2-rama-prabu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Feb 2011 05:58:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Review Valharald]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=801</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Rama Prabu Dari awal judul ini bagi saya sulit untuk diucapkan, pun demikian mereka yang mendengar judul itu, saya buktikan beberapa kali ke beberapa orang yang berbeda, hasilnya sama. Entah tujuan apa penulis dan penerbit akhirnya bersepakat dengan penamaan judul itu, padahal hemat sahaya dengan memberikan judul “Ksatria Talismandala” akan lebih mudah diingat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&amp;blog=187870&amp;post=801&amp;subd=jalaindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Oleh : <a href="http://ramaprabu.org/?p=65">Rama Prabu</a></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jalaindra.files.wordpress.com/2011/02/29261_1462479922731_1255461224_31284538_1153756_a.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-797" title="Cover Valharald" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2011/02/29261_1462479922731_1255461224_31284538_1153756_a.jpg" alt="" width="150" height="210" /></a>Dari awal judul ini bagi saya sulit untuk diucapkan, pun demikian mereka yang mendengar judul itu, saya buktikan beberapa kali ke beberapa orang yang berbeda, hasilnya sama. Entah tujuan apa penulis dan penerbit akhirnya bersepakat dengan penamaan judul itu, padahal hemat sahaya dengan memberikan judul “Ksatria Talismandala” akan lebih mudah diingat dan dilafalkan. Novel ini penulisnya mengkategorikan pada novel genre fiksi fantasi, Adi Toha mengakui dalam blognya bahwa insfirasi novelnya berawal dari mimpi dilanjutkan dalam 10 bulan hingga lahirlah Valharald. Sayangnya emboss novel yang akan membauat pembacanya “gemetar” bagi saya novel ini tidak menggetarkan bahkan terbaca sangat menjemukan dan membosankan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kenapa demikian? Ada beberapa catatan seperti: Banyak detail yang diulang-ulang seperti penunjukan perputaran antara hari-ke hari, siang ke malam atau sebaliknya yang disetiap bab terbaca sangat menjemukan, tidak hanya “fajar menjelma semburat jingga di cakrawala”, kenapa penulisnya tidak memepergunakan perumpamaan dan matapora yang berbeda selain surutnya matahari dan suara-suara alam, penulisnya lupa ada rentang waktu dua purnama yang berarti 2 x 14 hari yang diberikan untuk mengumpulkan para ksatria. Saya tak dibuat gemetar dan gelisah dengan waktu yang sebentar itu. Karena penulisnya lebih asik menceritakan latar belakang, pertalian diantaranya dan lekuk-lekuk sebuah negeri yang bersaudara itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-801"></span>Dialog dari beberapa ksatria yang berbeda usia dengan gaya bahasa yang mempersamakan cara bertutur sangat mengganggu, kenapa demikian karena yang dipakai dalam imajinasi penulisnya mereka tetap manusia bisa bahkan ada daripadanya yang berdarah “ningrat” tapi dengan cara berbicara diantara mereka yang tidak ada sekat yang menjadikan dialog ini “wagu” dan dari novel ini saya membaca mereka telah kehilangan tata krama dan sisi kesantunan seorang ksatria.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika Valharald Calwaladir, sosok tua penasehat Raja Hallvard Cledwyn mengemban tugas mengumpulkan ke sebelas pemegang kunci suci lainnya dan menyembunyikan kematian rajanya ini pun menjadi sumir, karena dalam tradisi kerajaan, sosok penasehat justru orang yang tidak banyak terlalu memainkan peran apalagi dalam soal operasi rahasia tingkat tinggi ini. Kemana para panglimanya? Kemana para ksatrianya? Bahkan menjatuhkan kemampuan ketiga putranya untuk menjadi ahli waris kerajaan Varchland walaupun diperkuat oleh keyakinan sang Raja, tapi ini menjadi bumerang pada diri Valharald sebagai penasehat selama ini, singkatnya kemana aja dia selama ini sehingga kerajaan tidak menyiapkan calon pengganti raja apabila raja mangkat? Ini sebuah ketidakhati-hatian dalam mengambil detail.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya berpikir malah novel ini lebih asik kalau lanjutannya adalah Valharaldlah yang ternyata berkhianat dan menginginkan kekuasaan kerajaan tersebut. Imajinasi itu malah lebih menarik menurut saya. Baca saja kesaksian sang Valharald ini “VachLand berada di ambang kehancuran karena ketiga pangeran ingin berebut kekuasaan dan kekuatan kegelapan dari seberang lautan sedang bersiap untuk menguasai negeri ini. Para penduduk negeri ini tidak mampu apa-apa dan mereka terlalu lama terlena dengan kedamaian. Mereka tidak akan mampu bertempur, hanya kita yang mampu menyadarkan mereka bahwa bahaya semakin dekat. Dan kita yang mampu melindungi dan menyelamatkan mereka”, kata-kata ini adalah ketidak bijakan seorang Valharald karena hingga ujung novel ini tak ada proses penyadaran kepada rakyat selain Valharald sibuk mempertemukan Ksatria di Vinca.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan dalih menghidupkan legenda, dengan mengumpulkan keduabelas ksatria Talismandala, penulis menurut saya terlampau meninggalkan detail dan datar dalam membangun kedua belas karakter, satu yang jadi fatal adalah pertanyaan, mana mungkin ksatria yang dipersiapkan melawan musuh yang bangkit kekuatannya hanya terdiri dari anak-anak muda usia belasan dan tanpa kekuatan/kemampuan bela diri serta tak paham teori peperangan baik di darat maupun di laut. Baca saja ini “Ksatria Talismandala adalah impian semua prajurit. Ia adalah simbol keberanian, ketangguhan, dan kebijaksanaan dalam peperangan, ia adalah legenda yang mengilhami seluruh prajurit…” lha kenapa kedua belas ini malah mereka yang tanpa keterangan memiliki kemampuan adiluhing itu? Kecuali satu dua yang memang terdidik dilingkungan kerajaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Penulisnya hanya percaya pada kalung/kunci segi tiga yang mereka bilang sakti itu, hal ini melumpuhkan sisi kemanusiaan yang dalam sebuah peperangan hal ini menjadi sebuah bualan besar. Maka kebualan besar itu memang terjadi dengan ditampilkannya seekor naga yang bisa menyemburkan api dan membantu melawan bangsa Vomorian yang ganas itu. Penulisnya malah menampilkan Eira yang menangis ketika hendak berpisah dengan ayahnya demi tugas suci itu? Tragis…!</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai sebuah kisah perjalanan menemukan ksatria untuk menggenapkan kunci, dari bab ke bab yang dipenuhi cerita pertemuan-demi pertemuan terbaca sangat datar dan tanpa menemukan banyak rintangan yang sulit, ini hanya seperti bermain petak umpet anak-anak kecil, tidak terasa seperti kita memasuki labirin yang rumit dalam pemecahannya. Pembaca akan dibuat bosan dengan penjelasan-penjelasan tentang manfaat dari kalung kunci rahasia itu, oba saja hitung penjelasan serupa ini: “ketika kedua belasnya telah menyatu maka satu rahasia besar akan terungkap. Itulah yang akan menyelamatkan negeri inidari kehancuran”-“ senjata-senjata sakti dan peralatan perang suci mereka tersimpan di suatu tempat agar tidak terjadi peperangan lagi. Tempat ini sangat rahasia, tertutup rapat di dalam tanah dan dikunci dengan khusus yang tersusun dari dua belas bagian. Masing-masing Ksatria memegang setiap bagian kunci tersebut” tapi kenapa yang membagikan kalung itu pada generasi kedua hanya satu orang Ksatria? Ini tidak terjawab hingga akhir.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari keseluruhan bab ini tak ada satu bab pun yang membaca kekuatan lawan, kekuatan yang datang dari balik lautan Zwehly di Vomoria dimana ada ribuan Chimera, Orcus dan Ogre yang tak diterangan bentuk rupanya… Nimrodir pun hanya bisa menjelaskan terbatas, tau-tau kita dibawa ke sebuah pertempuran yang tak jelas. Pertempuran yang tak imbang dan tak ada tanda-tanda bahwa kalung kunci itu akan segera dipergunakan, tak ada keterangan juga di buku ini bahwa ini bersambung dan akan ada kelanjutannya, selain keterangan moderator sidang yang menurut penulisnya akan ada lanjutannya…sungguh novel ini diterbitkan dengan terburu-buru.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai saatnya tiba, kedua belas Ksatria di akhir novel ini mundur dan terus mundur terdesak walau sudah melakukan perlawanan, dan mereka hanya bisa jadi petugas pengurus laiknya petugas palang merah yang hanya bisa merawat korban-korban peperangan, kalau mau lebih gila kenapa penulisnya tidak sekalian saja memunculkan Ksatria yang hanya bisa menuliskan peperangan seperti wartawan di dunia sejatinya tanpa bisa memegang senjata.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak pernah dijelaskan pula hubungan antara kerajaan dan kesukuan yang sisebutkan dalam novel ini, bagaimana hubungan Raja Hallvard Cledwyn dengan Raja Haremon, bagaimana dengan Raja Asgeir ayah Einar penguasa Vincha sebagai basis pertempuran, bagaimana dengan pemimpin Beelk, bagaimana dengan suku Brynmor semua mengambang, apakah daerah-daerah itu dalam kekuasaan VachLan atau hanya hubungan diplomatik biasa saja?</p>
<p style="text-align:justify;">Bandingkan persiapan, kekuatan dan kejelasan peperangan laut yang dilakukan di novel ini dengan peperangan laut di novel Arus Balik Pramoedya Ananta Toer, jelas peperangan yang digambarkan ini terbaca bukan tujuan dan ujung cerita tapi sekadar pelengkap saja. Lantas buat apa ksatria dikumpulkan kalau bukan untuk peperangan? Atau mungkin harus datang ksatria seperti Wiranggaleng untuk memimpinnya bukan seorang si tua Valharald. Kata-kata/dialog yang sengaja dimiringkan apakah itu oleh penulisnya atau penerbit/editor bagi saya tak membawa makna apapun, seperti halnya quote yang bertaburan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Disayangkan, ujung cerita pun mengerucut pada kata-kata “masih banyak pertempuran yang akan mereka lewati. Sebisa mungkin mereka akan memenangkan setiap pertempuran, demi anak-anak mereka, saudara-saudara mereka dan semua orang yang dicintai dan mencintai mereka. Dan demi kehidupan itu sendiri” sesungguhnya ini simpulan atau kata-kata/ujar-ujar siapa? Atau ini tanda dari penulis bahwa buku ini akan bersambung. Sungguh membawa saya pada kebingungan tersendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Kebaikannya, novel ini menyimpan beberapa pesan moral, pesan filosofis seperti “ Gaia adalah Sang Ibu Bumi, Ia lebih tahu perlakuan yang pantas dan terbaik untuk makhluknya”, lalu “Ke mana pun kau pergi, di mana pun kau berada, jangan pernah melupakan tanah dimana tempatmu dilahirkan dan hidup diatasnya” ini mengingatkan kita pada sebuah peribahasa orang-orang Nusantara, lalu dimana sesungguhnya fantasi ini menjejak?.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada lagi “ukuran kedewasaan tidak harus dilihat dari kekuatan fisik dan kepandaian bertarung-ukuran kedewasaan adalah apa yang ada dalam pikiran dan hatimu, apa yang ada dalam dirimu” ini keyakinan penulis dengan menghadirkan bocah-bocah ksatria untuk melawan makhluk raksasa, sebuah ironi dan penulisnya berkhayal pada dunia magic dan sihir secara terang-terangan, ini obsesi yang mungkin terbawa dari perlawanan Harry si bocah penyihir itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata-kata “ hidup memang serangkaian pertaruangan. Setiap saat, setiap hembusan nafas yang kita lakukan, kita tengah bertarung dengan waktu” ini sangat indah dan menyemangati pembaca. “kejadian demi kejadian dalam hidup membawa kita kepada suatu titik. Jika kita melihat ke belakang dan menyadari sepenuhnya bahwa tibanya kita di suatu titik yaitu adalah sebuah keharusan. Kita akan semakian yakin untuk melangkah ke titik-titik selanjutnya”.</p>
<p style="text-align:justify;">“kebahagiaan sejati adalah saat kau memberi, bukan menerima. Maka berikan apa yang kau bisa untuk orang-orang meskipun kau tidak pernah mengenal orang-orang itu”. Dan ada juga kata-kata “jangan pernah menyesali apa yang telah dilenyapkan oleh waktu, ia tidak akan pernah kembali, ia tidak akan pernah kita jumpai lagi karena apa yang telah dilenyapkan oleh waktu sungguh telah berada pada sebuah tempat yang sangat jauh.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Pesan-pesan itu amat penting dan pasti akan berguna bagi pembacanya. Kebaikan lainnya adalah kemampuan penulis untuk merangkai misteri hubungan antara satu tokoh dengan tokoh lainnya, hubungan kekerabatan dan misteri yang melingkupinya membuat novel ini layak dibaca. Saya berharap, bila benar novel ini berlanjut kesalahan dan kekurangan-kekurangan diatas dapat ditemukan jawabannya.</p>
<p style="text-align:justify;">*) Penyair, Dir. Dewantara Institute</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/801/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/801/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jalaindra.wordpress.com/801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jalaindra.wordpress.com/801/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jalaindra.wordpress.com/801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jalaindra.wordpress.com/801/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/801/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/801/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/801/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/801/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&amp;blog=187870&amp;post=801&amp;subd=jalaindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2011/02/26/valharald-review-2-rama-prabu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2011/02/29261_1462479922731_1255461224_31284538_1153756_a.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Cover Valharald</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>VALHARALD REVIEW 1 : Nisa Amalia</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2011/02/26/valharald-review-1-nisa/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2011/02/26/valharald-review-1-nisa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Feb 2011 05:45:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Review Valharald]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=796</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Nisa Amalia Sinopsis (1) VALHARALD adalah sebuah novel fiksi fantasi karya Adi Toha. Berkisah tentang perjalanan dan petualangan 12 Ksatria Talismandala dalam menjalani misi dan takdirnya sebagai ksatria cahaya, menyelamatkan negeri VarchLand dari Kekuatan Kegelapan. Kedua belas Ksatria Talismandala ini merupakan orang-orang yang terpilih dengan keunikan dan karakteristik tersendiri dari beragam suku. Menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&amp;blog=187870&amp;post=796&amp;subd=jalaindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Oleh : <a href="http://resensi-nisa.blogspot.com/2010/05/catatan-nisa-elvadiani-valharald-lawan.html">Nisa Amalia</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sinopsis (1)</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jalaindra.files.wordpress.com/2011/02/29261_1462479922731_1255461224_31284538_1153756_a.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-797" title="Cover Valharald" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2011/02/29261_1462479922731_1255461224_31284538_1153756_a.jpg" alt="" width="150" height="210" /></a>VALHARALD adalah sebuah novel fiksi fantasi karya Adi Toha. Berkisah tentang perjalanan dan petualangan 12 Ksatria Talismandala dalam menjalani misi dan takdirnya sebagai ksatria cahaya, menyelamatkan negeri VarchLand dari Kekuatan Kegelapan. Kedua belas Ksatria Talismandala ini merupakan orang-orang yang terpilih dengan keunikan dan karakteristik tersendiri dari beragam suku. Menjadi istimewa dengan jati diri dan latar belakangnya masing-masing.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam perjalanannya 12 Ksatria Talismandala tersebut dibekali oleh sebuah kunci berbentuk segitiga yang berfungsi untuk membuka senjata rahasia dan peralatan perang yang telah lama tersimpan di tempat yang juga terahasia. Disamping senjata dan peralatan rahasia tersebut, tersimpan pula Mahkota Liafala, mahkota tertinggi negeri Varchland.</p>
<p style="text-align:justify;">Barangkali itulah yang ingin disampaikan dalam kisah Valharald. Dua belas ksatria bisa jadi adalah diri kita yang tengah terpanggil untuk melakukan sebuah perubahan besar dalam hidup, namun kita selalu saja dilanda pertanyaan-pertanyaan: benarkah saya harus berubah? Beranikah kita untuk melakukan sesuatu yang besar dalam hidup kita?</p>
<p style="text-align:justify;">Melawan atau Mati!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mutiara Kecil itu…</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-796"></span>Kejadian demi kejadian dalam hidup membawa kita kepada satu titik. Jika kita melihat ke belakang dan menyadari sepenuhnya bahwa tibanya kita di satu titik itu adalah sebuah keharusan. Kita akan semakin yakin untuk melangkah ke titik-titik selanjutnya. Meski kita tidak akan pernah tahu apa yang akan kita temui di titik-titik itu. (2)</p>
<p style="text-align:justify;">Kau tidak bisa menjanjikan apa yang belum tentu kau dapatkan. Jangan pernah menjanjikan itu. Kadang takdir tidak berjalan sesuai dengan harapan kita. Apa yang telah kita harapkan, apa yang kita janjikan, apa yang telah kita nanti-nantikan semuanya bisa hilang dan musnah dalam sekejap. (3)</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk apa kita takut pada sesuatu yang belum jelas keberadaannya? Kalau pun mereka memang ada, belum tentu mereka akan menyerang kita. Siapa tahu justru mereka akan membantu kita untuk menyelesaikan ujian nanti&#8230; (Dialog Fionn). (4)</p>
<p style="text-align:justify;">Jangan pernah menyesali apa yang telah dilenyapkan oleh waktu, ia tidak akan pernah kembali, ia tidak akan pernah kita jumpai lagi karena apa yang telah dilenyapkan oleh waktu sungguh telah berada pada sebuah tempat yang sangat jauh&#8230;. (5)</p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah beberapa penggalan kata-kata filosofis yang menarik perhatian saya dan bahkan saya dokumentasikan sendiri. Tak banyak namun cukup. Saya katakan beginilah seharusnya sebuah cerita dikisahkan. Ketika membaca Valharald, saya menjadi teringat masa-masa ketika paman saya memberikan dongeng sebelum tidur. Atau mungkin seperti inilah tepatnya ketika seorang penutur di masa itu menceritakan dongeng kepada anak-anak.</p>
<p style="text-align:justify;">Valharald tidak hanya menuturkan cerita atau sekedar curahan hati. Ketika seorang pencerita asyik pada dunianya terkadang ia terjebak pada dunia eksklusifnya, membentengi diri pada pembacanya, tidak mempunyai kontak dengan penikmatnya. Penikmat sering kali dibuat bingung dengan kelebatan-kelebatan peristiwa atau gaya tuturan yang terlalu “aku”. Valharald berusaha menyentuh saya ketika penulis menyisipkan kata-kata atau pesan-pesan filosofisnya secara halus. Bahkan, saya merasa sedang berdialog dengan tokoh tersebut. Menemukan kata-kata filosofis seperti yang saya coba bocorkan di atas, menjadi sebuah “harta karun” kecil yang membuat saya keasyikan dalam dunia Valharald, dan tidak merasa digurui.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata-kata filosofis itulah yang saya akui menjadi semacam “reward” kecil ketika saya “dibujuk” tanpa sadar oleh penulis untuk semakin menyelami petualangan demi petualangan, cerita demi cerita, bahkan pertarungan demi pertarungan dari tokohnya. Saya bahkan tidak segan mencatat ulang, mendokumentasikan kata-kata filosofis itu. Novel ini tidak hanya menjadi semacam penghibur namun juga memancing saya untuk membaca secara aktif, terlibat secara emosi maupun retrospeksi dengan penggalan-penggalan kata-kata filosofis, yang entah sadar atau tidak terselip di banyak bagian dialog-dialog tokoh-tokohnya. Saya malah mempunyai pemikiran, apakah seperti demikian pemikiran-pemikiran filosofis yang ada dalam benak penulis?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Membaca-i “Manusia Fiktif” itu…</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di satu sisi saya sangat menikmati “harta karun” itu, di satu sisi lain saya harus terheran-heran dengan kekurangdetailan penulis dalam menangkap gejala-gejala lumrah “manusia”. Satu kejanggalan yang saya tangkap diantaranya adalah ketika penulis menuturkan persahabatan tiga orang pemuda Fionn, Urias dan Cymrodor dengan kaku. Tak ada sekelumit pun percakapan me“manusia” yang nampak, tak ada hal-hal konyol yang tesembul, tak ada keakraban atau kelucuan-kelucuan akrab khas gambaran sebuah persahabatan yang terjalin sangat lama, bahkan semenjak lahir. Tak ada kutipan-kutipan khas “boys talk” yang bisa saya temui.</p>
<p style="text-align:justify;">Keganjilan lain adalah, usia penokohan itu sangat beragam, mulai dari yang masih paruh baya, hingga yang sudah setengah abad, namun sangat aneh apabila gaya bicara mereka juga harus meniru satu sudut pandang saja. Sangat kaku dan tidak menunjukkan pembeda sesuai dengan usia yang dituturkan oleh penulis. Begitu juga latar belakang kesukuan tokohnya, penulis masih belum memikirkan bagaimana meng”karakter”kan tokohnya, padahal ke-12 Ksatria Talismandala merupakan ksatria terpilih dari berbagai suku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bungkus” Dongeng itu…</p>
<p style="text-align:justify;">Saya masih ingat ketika mendapat cetakan pertama novel ini, mata saya langsung tertuju pada sebuah label merah yang tertera di bagian sampul depan cover ini. “Novel yang akam membuatmu GEMETAR”, begitulah yang ter-emboss di cover depan Valharald. Saya rasa emboss ini malah mengebiri konten dari novel ini. Tak ada satu isi pun yang membuat pembaca GEMETAR. Tentu lain soal apabila novel ini merupakan novel horror, saya rasa emboss GEMETAR masih cukup layak. Alih-alih kata GEMETAR, saya lebih menyarankan editor untuk mengalami edisi pembacaan saya dan mengganti kata GEMETAR dengan kata-kata lain. Tergetar, misalnya. Kata “tergetar” menurut saya lebih mewakili karena bisa menggambarkan pembaca yang akan dibuat tergetar secara pikir, emosi dan perbuatan dalam melakukan perlawanan atas ujian atau perbaikan-perbaikan perilaku seperti yang dituturkan sang penulis. Kalau memungkinkan lebih baik kalau emboss itu tak usah ada sama sekali saja, atau dalam bahasa sederhananya ditiadakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya juga kecewa ketika cover tersebut tidak memiliki orisinalitas dari segi desain cover. Setiap mata pasti langsung mengingat bahwa desain cover Valharald secara jelas mengambil dari gambar film epik-fantasi luar negeri yang telah terlebih dahulu tayang beberapa tahun lalu. Menggabung-gabungkan beberapa film secara “montage”, kemudian diedit sedemikian rupa, dan diberi judul “Valharald”.</p>
<p style="text-align:justify;">Sinopsis di bagian belakang juga saya anggap kurang menarik perhatian saya, terlalu dilebih-lebihkan dan menurut saya hanya sekedar “lips marketing” yang kurang cerdas membaca konten Valharald sesungguhnya. Suatu saat saya coba mengintip deskripsi yang dibuat sendiri oleh penulisnya dalam sebuah grup jejaring pertemanan, dan saya akui deskripsi sinopsis yang diberikan jauh lebih membuat saya tertarik, dibanding yang diberikan di novelnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kekecewaan saya pada kemasan Valharald rupanya bisa menjadi catatan tersendiri bagi editor, disamping beberapa kesalahan-kesalahan penulisan kata yang kerap kali saya temukan di sana-sini. Apakah Valharald terburu-buru dalam proses penyuntingan? Bagi saya, hal itu sangat disayangkan bagi bayi novel cerdas dan boleh dikatakan inspiratif namun terlahir secara prematur oleh penerbitnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Valharald bagi saya…</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Novel ini sedikit banyak memiliki ikatan emosional dengan saya di sana-sini. Di satu saat saya bahkan mengakui merasa dekat dengan Gwyneira yang menyukai kupu-kupu, dan menyelami dialog-dialog filosofis nya dengan Fionn. Di saat yang lain, saya harus dibuat terharu dengan Eira yang dalam beberapa hal mempunyai pengalaman yang bagi saya mendekati pengalaman hidup saya. Satu kata, menyentuh, namun bukan sebagai sebuah tulisan yang berisi tentang kecengengan yang mengharu-biru. Valharald bercerita tentang ketegaran dan perlawanan atas ujian hidup. Seperti yang termaktub dalam salah satu kutipannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Harga dari sebuah perjuangan adalah ujian. Yang tak sanggup bertahan dan kalah akan tersingkir. Yang sanggup bertahan dan memenangkan perjuangan akan tetap hidup. Bukankah kehidupan adalah serangkaian pertarungan? (6)</p>
<p style="text-align:justify;">Begitulah Valharald yang ditutup dengan sebuah bab pertempuran dengan ending yang menggantung dan menjanjikan kelanjutan pengisahan perlawanan berikutnya. Apakah Valharald menjadi korban kutipannya sendiri? Menjadi kisah yang akan dengan mudah “dilenyapkan oleh waktu” atau tidak, yang pasti saya tidak sabar menanti kelanjutan dari novel ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Judul : VALHARALD : Ksatria Talismandala dan Pertempuran di Vincha<br />
Pengarang : Adi Toha<br />
Penerbit : Diva Press<br />
ISBN : 97860295*****<br />
Tebal : 411 Halaman</p>
<p style="text-align:justify;">Referensi :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Sinopsis sebagian diambil dari info grup Facebook Valharald, http://www.facebook.com/?sk=messages&amp;tid=413848564461#!/group.php?gid=120690074616363&amp;ref=ts</li>
<li>Valharald, hal.135</li>
<li>Valharald, hal.214</li>
<li>Valharald, hal.52</li>
<li>Valharald, hal.10</li>
<li>Valharald, hal.129</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/796/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/796/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jalaindra.wordpress.com/796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jalaindra.wordpress.com/796/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jalaindra.wordpress.com/796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jalaindra.wordpress.com/796/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/796/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/796/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/796/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/796/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&amp;blog=187870&amp;post=796&amp;subd=jalaindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2011/02/26/valharald-review-1-nisa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2011/02/29261_1462479922731_1255461224_31284538_1153756_a.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Cover Valharald</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dwiantologi Cerpen : Un Dans L’Éternité karya Jaladara &amp; Telur Surga karya Wigi Azkiyanti</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2010/10/06/dwiantologi-cerpen-un-dans-l%e2%80%99eternite-karya-jaladara-telur-surga-karya-wigi-azkiyanti/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2010/10/06/dwiantologi-cerpen-un-dans-l%e2%80%99eternite-karya-jaladara-telur-surga-karya-wigi-azkiyanti/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Oct 2010 04:21:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=793</guid>
		<description><![CDATA[Meskipun di satu sisi, BMI menjadi persoalan tenaga kerja yang tidak kunjung terselesaikan secara holistik oleh negara, namun di sisi lain, tidak sedikit pahlawan devisa tersebut yang tetap mampu berkiprah dan berprestasi lebih di berbagai bidang, termasuk dalam bidang penulisan karya sastra. Dalam khasanah perbukuan dan sastra tanah air, telah banyak karya yang lahir dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&amp;blog=187870&amp;post=793&amp;subd=jalaindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft" src="http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/hs228.ash2/49303_1028145486_4061_n.jpg" alt="" width="200" height="300" />Meskipun di satu sisi, BMI menjadi persoalan tenaga kerja yang tidak kunjung terselesaikan secara holistik oleh negara, namun di sisi lain, tidak sedikit pahlawan devisa tersebut yang tetap mampu berkiprah dan berprestasi lebih di berbagai bidang, termasuk dalam bidang penulisan karya sastra. Dalam khasanah perbukuan dan sastra tanah air, telah banyak karya yang lahir dari buah kerja keras dan ketekunan mereka. Salah satunya adalah buku kumpulan cerpen yang tengah ada di tangan Anda.</p>
<p style="text-align:justify;">Berawal dari sebuah keinginan sederhana untuk ikut menggiatkan tradisi penulisan dan penerbitan di kalangan BMI dan penulis pemula, dengan ini Abatasa Publishing mempersembahkan sebuah dwiantologi cerpen yang ditulis oleh dua orang penulis, Jaladara dan Wigi Azkiyanti.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah karya adalah sebuah kesaksian. Kesaksian pengarang dengan dunia di dalam dirinya dan kesaksian pengarang terhadap dunia dan realitas di sekelilingnya. Hal ini terlihat jelas dalam cerpen-cerpen yang terkumpul dalam buku ini, yang merupakan sebuah kesaksian pengarang sebagai seorang anak bangsa yang tengah berkarya jauh dari negeri kelahirannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah karya juga adalah sebuah pengharapan. Dari kesaksian-kesaksian pengarang terhadap dunianya, ada semacam harapan dan semangat yang hendak disampaikan lewat beragam kisah dengan bermacam tema. Perjuangan, kemanusiaan, persahabatan, cinta, dan religiusitas, bahkan kematian adalah tema-tema yang diusung oleh pengarang dwiantologi ini dalam kisah-kisahnya. Membacanya akan membuat kita terhenyak, bahwa ada sisi-sisi kehidupan yang mungkin tidak pernah kita ketahui sebelumnya, karena mungkin memang jauh dari keseharian kita. Namun kehidupan itu ada! Dan pengarang dwiantologi ini berusaha mengejawantahkannya ke dalam cerita.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga dengan hadirnya buku ini mampu memberikan stimulus kepada para BMI khususnya, juga kepada para pembaca untuk tetap berkarya. Kami berharap buku ini mendapatkan apresiasi yang selayaknya dan mendapat tempat yang terhormat dalam khasanah sastra tanah air.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>-Abatasa Publishing-</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span id="more-793"></span>Judul I : Un Dans L’Éternité,</strong><br />
Pengarang : Jaladara</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Judul II : Telur Surga</strong><br />
Pengarang : Wigi Azkiyanti</p>
<p style="text-align:justify;">Editor : Kuswinarto<br />
Penerbit : Abatasa Publishing<br />
Cetakan : I, Agustus 2010<br />
ISBN : 978-602-97574-0-8<br />
Tebal : xx + 260 Halaman</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi teman-teman di Indonesia yang berminat, silahkan pesen via inbok, pembayaran lewat transfer ke :</p>
<p style="text-align:justify;">No. Rek : 1390010181067 Bank Mandiri Cabang Pekalongan a.n. Adi Toha</p>
<p style="text-align:justify;">konfirmasi transfer: 081320932117</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk teman-teman yang ada di Hong Kong, Taiwan, Singapore, Malaysia, Macau, China and overseas bisa menghubungi  :</p>
<p style="text-align:justify;">ALLEA Jaladara di +852 51662635.</p>
<p style="text-align:justify;">Buruan lho!! mumpung ada diskon 10%</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Apa kata mereka tentang buku ini??!!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sewaktu saya selesai membaca kumpulan cerpen Jaladara dan Wigi Azkiyanti, saya shock. umpama saya mengusung senjata, dengan berjalan kaki, saya masih mengeluh. tapi kedua orang ini, meski harus merangkak, mereka tak menyerah. dengan harus banting tulang, jauh dari sanak keluarga, keduanya bisa bertumpu di atas kedua kaki dan memberikan hasil karya yang membanggakan, di mana tidak semua orang bisa melakukannya. Mengintip Permainan Takdir, adalah favorit saya dari semua cerpen Jaladara. saya dipaksa untuk menebak-nebak dan berspekulasi, ‘ada apa ini?’ ‘bagaimana akhirnya?’, sampai di akhir… saya mendapat jawaban yang cukup mencengangkan. love it so much… Wigi Azkiyanti menampar saya dengan Telur Surga. bagaimana tidak? di mana orang-orang banyak yang tidak melaksanakan puasa wajib, namun tokoh di cerpennya, mati-matian tetap berpuasa meski banyak tantangannya. meski penuturannya sangat sederhana, tapi makna yang diambil sangat dalam. saya salut, sungguh. Ini mungkin hanya sekedar pendapat dari seorang saya yang bukan siapa-siapa di dunia ini. dan saya yakin, orang-orang yang merasa dirinya hebat, akan berpikir sama… setelah membaca karya Jaladara dan Wigi Azkiyanti. bahwa ada orang-orang yang sepertinya tak kasat di dunia ini, tapi mereka mempunyai talenta luar biasa, lebih fascinating, splendid, great, dari mereka yang merasa dirinya ‘hebat’&#8221;<br />
<strong>–Tita rosianti – penulis Kitten Heels, Gagasmedia– </strong></p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Jaladara sangat melankolis dalam bermain cinta dan tragedi; bermain kehidupan dan kematian; bermain kemanusiaan dan kealpaan; bermain bahasa ibu dan bahasa tetangga jauh. Dengan keseriusan mengikuti jalan ceritanya, di ujung jalan ada suatu kejutan yang menggetar-getirkan. Wigi Azkiyanti sangat serius menyajikan cerita sebagai syiar agama; memaknai realita aneka cerita dalam jalinan benang jilbabnya. Barangkali itulah ciri khas karyanya, dan memang layak disimak.&#8221;<br />
<strong>–Gus Noy, penikmat sastra; tinggal di Balikpapan, Kaltim– </strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Menapaki perjalanan kisah-kisah dalam ‘Jaladara : Une Dans L’Eternite’ adalah perjalanan sarat mimpi jiwa2 yg dinamis. Penulis memaparkan mimpi-mimpi yang diturutkan berdasarkan pengalaman pribadinya menyinggahi kehidupan mulai dari ke-hidupan “membumi” hingga “melangit”. Ini adalah sebuah cerita yang kompleks dimana keterbatasan mampu ditepis demi cinta, harapan, kebermaknaan hidup dan pencarian jati diri, bagaimana memburaikan benang-benang kusut kehidupan, menjlentrehkan dan memintalnya menjadi jalinan cerita yang utuh dalam balutan nafas religiusitas, kasih keluarga, arti sahabat dan cinta dari orang-orang yang disayangi. Saya menyambut baik karya ini. Selamat…&#8221;<br />
<strong>–Nisa Amalia, Pegiat komunitas Sastra ESOK, Surabaya–</strong></p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Lea, demikian saya memanggil Jaladara. Sebelum membaca tulisan beliau, saya memang sangat tertarik dengan personalitinya yang memiliki karakter tersendiri, yaitu seorang yang penuh semangat dan optimistis. Ternyata dugaan saya tidak meleset, setelah membaca kumcer-nya ini, apa yang ingin saya katakan adalah…. You’re awesome, girl..!! Saya bagai dipukau dengan untaian kata-kata yang menyusun alur cerita, ianya mengalir begitu baik dan tidak membosankan sama sekali. Saat tiba pada ending cerita, saya merasa sangat senang hati karena sememangnya semua cerpen dalam kumcer ini adalah sangat manis. Bacalah cerpen Kembali Padamu, Ibu, atau Bu Guru Marni, dan yang lainnya, dijamin tidak rugi menghabiskan waktu untuk menikmati cerita yang sangat original karya Jaladara. Teruskan menulis, Lea!! You’re very talented…&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Bakat menulis adalah anugerah Allah SWT yang harus disyukuri dan diamalkan, yaitu dengan menyampaikan messages keislaman pada setiap karya yang dilahirkan. Hal tersebut menurut sudut pandang saya telah dipenuhi  oleh Wigi Azkiyanti pada cerpen yang ditulisnya. Genre cerpen pop islami yang dilahirkan oleh Wigi, memikat hati saya saat membacanya, bagai mendapat sebuah bonus yaitu mendapat sebuah cerita yang menarik, tapi  disisi lain juga menambah pengetahuan ke-islaman saya, dan pada akhirnya hal tersebut melahirkan sebuah keinsyafan didalam hati. Percayalah, sangat bermanfaat membaca kumpulan cerpen karya Wigi Azkiyanti.&#8221;<br />
<strong>–Dang Aji, Founder Group “Untuk Sahabat”–</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Cerita yang disuguhkan dalam kumpulan cerpen ini sangat menarik, yang merupakan ekspresi dari realitas kehidupan yang ada. Penulisanya tertata dengan baik dan begitu cermat. Beberapa cerita dari kumpulan  cerpen ini juga memunculkan unsur religi, saya berharap cerita yang disuguhkan dapat memberikan inspirasi kepada para pembaca, dan para penulis lain untuk mem-budayakan penulisan yang baik dan “Ahsan” sehingga mampu mendekatkan diri kepada Robb nya.”<br />
<strong>–Ir. Fajar Kurniawan, M.Si, Dosen Bintang Nusantara Hong Kong–</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Jaladara melukiskan mimpi-mimpi besar, dan Wigi azkiyanti membimbing kita untuk kembali beberapa kali menyimak sapuan kuasnya. Saya menemukan kolaborasi yang unik dalam buku ini.”<br />
<strong>–Susie Utomo – Ketua Forum Lingkar Pena Hong Kong–</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Sebuah kolaborasi dari 2 penulis yang masing-masing mem-punyai style sendiri-sendiri, akan tetapi menjadi indah dalam sebuah kumcer dengan ending yang tak terduga.&#8221;<br />
<strong>–Bintang Alzeyra, penulis Verliebt in Wien–</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Aku langsung jatuh cinta pada Bu Guru Marni! Ya, di Kumcer ini perjuangan seorang guru untuk mendidiknya kental sekali, pergulatan batin sang guru terasa mengigit! Ah, begitukah cinta?”<br />
<strong>–Naqiyyah Syam, Penulis, Ketua FLP Cabang Lampung Timur–<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Banyak cerita yang dihadirkan dalam buku ini dan banyak hikmah yang bisa diambil dari cerita-cerita tersebut. Cerpen Kembali Padamu, Ibu memberikan pesan yang kuat kepada mereka yang telah melupakan seorang ibu, bahwa jasa ibu akan tetap dikenang sampai kapanpun. Cerpen ini bisa menyadarkan mereka yang sudah lama tidak memeluk ibu. Cerpen “Bu Guru Marni” dan “Aulia Maharani” bercerita tentang sosok TKW yang dengan penuh perjuangan akhirnya mencapai kesuksesan. Meskipun cerita TKW yang sukses sudah banyak tetapi dibanding dengan jumlah TKW yang ada persentasenya pasti masih sangat sedikit. Beberapa cerita yang lain sarat dengan pesan-pesan yang bersumber dari Al-quran. Semangat dan kegigihan keduanya boleh dijadikan contoh. Salut kepada kedua penulis. Semoga makin banyak BMI yang bisa berkarya me-ngikuti jejak kalian berdua; dan semoga bisa menghasilkan karya-karya yang lebih baik di kemudian hari&#8221;<br />
<strong>–Imroatul Cholifah, BMI di Singapura– </strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Saya ucapkan selamat dan salut Mbak Jaladara dan Mbak Wigi Azkiyanti atas terbitnya buku kumpulan 12 cerpen ini. Bukan hanya karena isinya. Tapi juga membayangkan bagaimana perjuangan dalam proses tertuangnya kata demi kata hingga tersusun sebagai cerita pendek. Tema yang beragam, diksi yang  tidak biasa menambah aroma, bahwa buku ini layak untuk dibaca. Buku ini juga membuktikan bahwa cita-cita tidak hanya untuk dimiliki tapi diwujudkan.”<br />
<strong>–Minie, BMI di Taiwan–<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mereka yang berjuang agar mimpi jadi kenyataan berkelebat dalam buku ini. Dua pengarang bahu-membahu mengabadikannya.&#8221;<br />
<strong>-Bonari Nabonenar, pengarang-</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/793/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/793/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/793/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/793/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jalaindra.wordpress.com/793/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jalaindra.wordpress.com/793/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jalaindra.wordpress.com/793/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jalaindra.wordpress.com/793/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/793/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/793/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/793/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/793/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/793/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/793/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&amp;blog=187870&amp;post=793&amp;subd=jalaindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2010/10/06/dwiantologi-cerpen-un-dans-l%e2%80%99eternite-karya-jaladara-telur-surga-karya-wigi-azkiyanti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/hs228.ash2/49303_1028145486_4061_n.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Dongeng Untuk Allea: Para Pencuri Bulan</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2010/10/06/dongeng-untuk-allea-para-pencuri-bulan/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2010/10/06/dongeng-untuk-allea-para-pencuri-bulan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Oct 2010 03:47:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=790</guid>
		<description><![CDATA[Tiga orang pencuri yang sudah tidak diragukan lagi keterkenalannya dalam jagad pencurian secara tidak sengaja bertemu di pinggir sebuah sungai yang cukup besar di negeri yang kabarnya selalu purnama di setiap malamnya. Aladdin telah melanglang buana, luntang lantung putus asa setelah kehilangan lampu ajaibnya sehingga ia tidak tahu sudah sampai di manakah perjalanannya ketika dia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&amp;blog=187870&amp;post=790&amp;subd=jalaindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Tiga orang pencuri yang sudah tidak diragukan lagi keterkenalannya dalam  jagad pencurian secara tidak sengaja bertemu di pinggir sebuah sungai  yang cukup besar di negeri yang kabarnya selalu purnama di setiap  malamnya. Aladdin telah melanglang buana, luntang lantung putus asa  setelah kehilangan lampu ajaibnya sehingga ia tidak tahu sudah sampai di  manakah perjalanannya ketika dia mendengar teriakan seseorang dalam  bahasa yang tidak dipahaminya. Meski begitu, dia tahu, seseorang itu  pasti sedang tenggelam dan butuh bantuan dari suara teriakannya yang  terputus-putus dan suara kecipak air. Ia bergegas mencari sumber suara.  Sementara itu, Ali Baba, yang melarikan diri dari negerinya karena  Sultan penguasa negerinya rupanya telah menyewa pasukan pemburu bayaran  professional dari lembah Alamut untuk memburunya hidup atau mati, sedang  duduk termenung di atas sebuah batu besar sambil memainkan ujung  ranting yang digenggamnya ke permukaan air ketika dari arah hulu sungai  dia mendengar suara teriakan yang sama. Hampir bersamaan keduanya sampai  di tepi sungai –Aladdin di satu tepid an Ali Baba di tepi lainnya –dan  melihat di tengah sungai seseorang tengah menggapai-gapai permukaan air  dengan putus-asa.</p>
<p style="text-align:justify;">“Elp… Elp…” Pria itu berteriak kehabisan nafas.</p>
<p style="text-align:justify;">Tanpa pikir panjang, Aladdin dan Ali Baba menceburkan diri ke dalam  sungai hampir bersamaan dan berenang menuju pria itu. Hampir bersamaan  pula, keduanya meraih tubuh pria itu dan menyeretnya ke salah satu tepi.  Di tepi sungai, pria yang ternyata bercelana hijau ketat itu terbatuk  dan memuntahkan air yang sempat ditelannya saat hampir tenggelam.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-790"></span>“Thank You, My Friends. You’ve save my life. I’m Robin Hood. Who are  you?” kata pria bercelana hijau ketat itu setelah pulih dari batuknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Aladdin dan Ali Baba hanya berpandangan. Barangkali mereka tidak tahu  apa yang dikatakan pria itu, atau barangkali keduanya tidak mempercayai  orang yang telah ditolongnya, karena setahu mereka, dari buku-buku yang  mereka baca, Robin Hood adalah pencuri legendaries dari hutan Sherwood  di Inggris. Aladdin berpikir, mungkin saja perjalanan luntang lantungnya  telah sampai di Inggris. Demikian juga Ali Baba, barangkali pelarian  dan persembunyiannya dari kejaran pasukan Hassasin Alamut, tanpa  disadarinya telah membawanya ke benua eropa. Memang, seingat dia, dia  telah mendaki banyak gunung, melewati banyak lembah, mengikuti banyak  sungai ke samudra, dan menyeberangi samudera itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Pikiran Ali Baba buyar seketika saat  pria itu melihat sekelilingnya dan  berkata, “Where am I?” bertanya entah kepada siapa, barangkali kepada  dirinya sendiri, karena pertanyaan sebelumnya kepada dua orang  penolongnya belum juga mendapat jawaban.</p>
<p style="text-align:justify;">“I’m Ali Baba.”</p>
<p style="text-align:justify;">Aladdin masih terbengong. Dia sama sekali tidak tahu apa yang  didengarnya. Melihat hal ini, Ali Baba, mengamati dari wajah dan pakaian  yang dikenakan Aladdin, membuatnya berpikir bahwa barangkali pria itu  berasal dari peradaban yang sama dengannya, maka dia menjelaskan kepada  Aladdin dengan bahasa arab. Aladdin senang karena setidaknya, salah satu  dari dua orang asing yang ditemuinya mengerti bahasanya. Dia lalu  menjawab dengan senang, “Ana Aladdin.” Demikianlah, Ali Baba yang  sedikit banyak pernah belajar dari kamus saku yang pernah dicurinya dari  seorang pengelana asal eropa, menjadi mediator komunikasi antara pria  yang bernama Robin Hood dengan Aladdin.</p>
<p style="text-align:justify;">“Adakah di antara kalian yang tahu di mana kita sekarang?” tanya Robin  sambil memandangi sekelilingnya dengan penasaran. Hari masih belum  terlalu siang. Hanya ada pepohonan dan semak-semak yang rimbun, juga  kicauan burung dari pucuk-pucuk pohon, tentu saja suara kicaunya tidak  dikenali oleh Robin karena dia hampir hafal semua kicau burung yang ada  di hutan Sherwood. “Aku tidak tahu apa yang telah terjadi, tiba-tiba,  aku terjatuh ke dalam sungai saat dikejar-kejar oleh Sherif. Kau tahu,  aku tidak bisa berenang. Hal terakhir yang kulihat adalah suara Maid  Marion yang memanggilku di kejauhan,” tambahnya. “Sungguh aneh, kenapa  aku bisa berada di sini. Dan bertemu dengan kalian.”</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak ada yang bisa menjelaskan dengan pasti apa yang sebenarnya  terjadi. Ali Baba dengan bijak berkata sambil menunjuk ke langit,  “Barangkali Sang Pengarang sedang ingin bermain-main dengan kita.”  Menyadari hanya itulah satu-satunya penjelasan yang bisa diterima,  ketiganya berjalan bersama mengikuti jalan setapak yang sepertinya  mengarah ke sebuah kota. Selama perjalanan, Aladdin dengan penuh rasa  ingin tahu menanyakan banyak hal kepada Ali Baba dan Robin Hood  –terutama kepada Robin, dia bertanya cantikan mana Maid Marion dengan  Prince Jasmine.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah cukup lama berjalan mengikuti jalan setapak di tengah hutan,  mereka pun sampai di sebuah tanah terbuka. Di kejauhan tampak sebuah  gerbang kota yang ramai. Aladin hampir saja berlari mendahului kedua  teman barunya seandainya tidak dihentikan oleh Robin.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tunggu dulu. Kau pikir siapa diri kita. Kita adalah pencuri. Tidak  mungkin kita memasuki kota secara terang-terangan seperti ini. Kita  tidak tahu di kota seperti apakah yang ada di depan sana. Aku takut,  penduduk kota itu akan mengenali kita dan menangkap kita –atau langsung  membunuh kita.” Kata Robin dengan waspada.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ada ide?” Ali baba bertanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kita tunggu sampai malam. Setidaknya, kita bisa mengendap diam-diam dan  menyelidiki kota seperti apakah yang kita tuju. Banyak hal yang  tersembunyi dalam kegelapan, dan hanya orang-orang seperti kitalah yang  akan bisa mengetahuiya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Meski Aladin merasa sangat lapar, dia terpaksa menyetujui gagasan Robin  yang disampaikan lewat Ali Baba dalam bahasa yang begitu membujuk. Dia  tidak bisa membantah, tanpa jin lampu, dia hanyalah pencuri biasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Malam hari sepertinya sangat lambat datangnya dan mereka hampir tidak  menyadarinya karena kegelapan tampaknya tidak datang sepenuhnya bersama  malam hari seperti yang mereka duga sebelumnya. Setelah mereka melihat  ke atas langit, pantas saja, lingkaran bulan terlihat sempurna dengan  cahaya keemasannya menerangi setiap lorong-lorong kota. Tak tahan  menunggu lebih lama, mereka pun nekat memasuki kota diam-diam dan  langsung mencari rumah makan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kehadiran tiga orang asing di rumah makan yang rupanya sedang menjadi  tempat perayaan kelahiran anak seorang tukang sol sepatu terkenal di  kota itu, tidak banyak menyita perhatian. Seandainya malam itu tidak  sedang berlangsung perayaan, maka bisa dipastikan ketiga orang asing itu  tidak akan bisa menikmati makanan dengan gratis, karena tukang sol  sepatu itu mentraktir sepuasnya semua orang yang datang ke rumah makan  itu. Dalam benaknya, Robin berpikir bahwa setelah perayaan berakhir, dia  akan menemui tukang sol sepatu itu dan memesan sepatu baru untuk  mengganti sepatu kulitnya yang rusak. Sedangkan Aladin teringat dengan  Jasmine yang suatu ketika pernah meminta sepatu kaca seperti yang  dikenakan oleh Cinderella. Sementara Ali Baba membayangkan anak tukang  sol sepatu itu kelak pasti akan memiliki banyak koleksi sepatu karena  pastinya setiap tahun orang tuanya akan membuatkan sepatu baru seiring  semakin membesarnya ukuran kaki anak itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka duduk satu meja di salah satu sudut yang paling remang sambil  mengamati setiap orang yang hadir di tempat itu. Ketiganya sangat  frustasi, karena mereka tidak punya cukup informasi dalam perbendaharaan  otak mereka untuk bisa menjelaskan tentang orang-orang itu. Setelah  merasa cukup kenyang mereka pun keluar dari rumah makan dan  berjalan-jalan di kota –setelah bertanya kepada salah seorang tamu rumah  makan di mana mereka bisa mencari baju baru. Mereka tidak ingin  kelihatan terlalu mencolok di tengah orang-orang kota yang sepertinya  sangat maju. Sepanjang perjalanan, mereka tidak melihat rumah ataupun  orang yang cukup bisa dikatakan miskin –bahkan tukang sol sepatu pun  bisa mentraktir ratusan orang.</p>
<p style="text-align:justify;">Di bawah cahaya bulan, mereka bisa melihat jalan-jalan dan lorong-lorong  kota bersih dari pengemis dan sampah, bahkan seolah-olah tidak ada  lorong gelap yang tersembunyi. Semuanya terlihat karena bulan tepat  berada di tengah-tengah langit, seperti lentera raksasa yang digantung  entah oleh siapa –lagi-lagi Ali Baba berpikir barangkali Sang Pengarang  lah yang telah menggantungkannya seperti itu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kita tidak bisa menginap. Kita tidak punya uang,” kata Aladin cemas.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bodoh. Tentu saja kita akan segera mendapatkan uang,” jawab Robin.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bagaimana caranya?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kau pikir siapa diri kita? Tentu saja kita akan mencurinya. Dari orang  kaya tentu saja.” Jawab Robin.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kukira, kau adalah pencuri baik hati yang mencuri dari orang kaya untuk  diberikan kepada orang miskin,” sindir Ali Baba.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tentu saja. Tapi aku tidak melihat orang miskin di kota ini. Dan kita  tidak tahu apakah ada orang kaya yang jahat di kota ini. Ah, barangkali  kita hanya harus tinggal di kota ini lebih lama lagi untuk  mengetahuinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Apa yang mereka lihat dan  rasakan tidak seperti yang mereka bayangkan sebelumnya. Di pondok kecil  yang dibangun di sisi hutan Robin menggerutu sendirian dan frustasi.  Beberapa hari setelah pertemuan pertama dengan Aladin dan Ali Baba,  kedua pencuri negeri seribu satu malam itu memutuskan untuk berpisah dan  memilih hidupnya sendiri-sendiri. Aladin ingin bertobat menjadi orang  baik –selama ini dia selalu berpikir bahwa dirinya tidak cukup baik dank  arena selalu bergantung kepada jin lampunya, dia ingin melupakan jin  lampu –dan melamar menjadi murid tukang sol sepatu. Ali Baba, dengan  kepandaiannya membantu pekerjaan pengurus perpustakaan kota –yang  membuatnya tahu banyak tentang kota itu dan penduduk-penduduknya serta  tentang bulan di kota itu yang selalu purnama, dan dia berpikir tidak  akan ada untungnya jika dia harus meneruskan kariernya di dunia  pencurian. Sementara Robin tetap bersikukuh menjadi pencuri dan tetap  tinggal di hutan –dia telah terbiasa tinggal di hutan Sherwood.</p>
<p style="text-align:justify;">Malam itu Robin sedang menunggu kedatangan Aladin dan Ali Baba. Sehari  sebelumnya, ketiganya telah mengatur sebuah pertemuan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ini tidak bagus untuk kita. Kota ini tidak bagus untuk kita, terlalu  aman, terlalu maju, terlalu sempurna. Kita harus membuat kekacauan. Apa  jadinya seorang Robin Hood tanpa mencuri dari orang kaya untuk orang  miskin?” kata Robin dengan marah, setelah ketiganya berkumpul.</p>
<p style="text-align:justify;">“Lupakanlah keinginanmu. Ambillah jalan hidup baru. Kau bisa berguna di  kota itu, setidaknya, kau bisa menggunakan keahlianmu memanah untuk  membuat pertunjukan-pertunjukan. Orang-orang pasti akan senang.” Ali  Baba memberi nasehat.</p>
<p style="text-align:justify;">“Keahlian memanahku bukan untuk pertunjukan! Tapi untuk membantu orang  miskin.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi tidak ada orang miskin di kota itu, atau setidaknya, tidak ada  orang yang bisa dikatakan pantas dibantu dengan cara itu. semua orang  bisa melakukan pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri.  Orang-orang yang kaya di kota itu pun tidak bisa dikatakan sombong dan  jahat. Semuanya berjalan dengan indah. Saling memberi, saling  menghormati dan menghargai,” kata Aladdin. “Oh ya, aku bawakan sepatu  baru untukmu. Aku yang membuatnya sendiri. Barangkali kau suka.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku tidak ingin mengambil resiko menanggalkan nama Robin Hood yang  sudah terkenal ini. Jika kota itu terlalu sempurna, maka kita bisa  membuatnya tidak sempurna. Kita bisa ciptakan kekacauan. Kita rusak  keseimbangan hidup mereka,” kata Robin dengan licik.</p>
<p style="text-align:justify;">“Caranya?” tanya Ali Baba dan Aladin hampir bersamaan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kita curi bulan mereka. Ya. Setelah lama memikirkannya, aku yakin,  hanya itulah satu-satunya cara untuk membuat kota itu kacau, karena  hanya bulan itulah satunya yang tidak dimiliki oleh kota lain.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kau benar, Robin –maksudku, tentang bulan itu. mereka selalu bangga  dengan bulan mereka. Dan berdasarkan apa yang telah kubaca di  arsip-arsip perpustakaan kota, bulan itu muncul dari suatu tempat yang  hanya Sang Pengarang lah yang tahu,” kata Ali Baba.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kita akan mencarinya. Kita akan membuat bulan mereka tidak seperti  hari-hari sebelumnya. Aku akan memanah bulan itu dan mengikatnya agar  dia tidak beredar. Berkali-kali aku sudah berusaha memanahnya dari  tempat ini, tapi sepertinya terlalu tinggi, makanya panahku tidak pernah  sampai. Jika aku bisa memanahnya di tempat saat dia muncul pertama  kali, aku pasti akan bisa menembusnya.” Robin percaya diri. “Jika kalian  tidak mau ikut aku, silahkan. Aku bisa mencarinya sendiri.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ali Baba dan Aladin saling berpandangan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kau pikir siapa diri kita? Kita adalah pencuri. Ali Baba adalah  pencuri, bukan pegawai perpustakaan. Aladin adalah pencuri, bukan tukang  sol sepatu. Apa kata orang-orang jika mereka tahu sebenarnya tentang  diri kita. Mereka pasti akan menertawai kita. Mari kita rebut kembali  harga diri kita sebagai pencuri,” Robin dengan penuh semangat. “Aku  tunggu besok di tempat ini. Jika sampai besok malam kalian belum muncul,  aku akan berangkat seorang diri.“</p>
<p style="text-align:justify;">Keesokan harinya, setelah berpikir seharian, tanpa diduga, Ali Baba dan  Aladin muncul di depan pondok Robin Hood, keduanya telah bersiap untuk  berangkat. Ali Baba membawa sebuah buku besar dan tua yang menarik  perhatian Robin.</p>
<p style="text-align:justify;">“Buku apa itu?” tanyanya ingin tahu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ini adalah kumpulan peta yang pernah dibuat tentang negeri ini,  barangkali berguna dalam perjalanan kita nanti.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Sangat berguna, temanku,” jawab Robin dengan senang hati.</p>
<p style="text-align:justify;">Malam itu juga ketiganya memulai perjalanan mereka. Perjalanan yang  tidak akan bisa diketahui di mana ujungnya. Dalam hati, Aladin berharap,  perjalanan ini akan membawanya kembali menemukan jin lampunya. Jika  tidak menemukan jin lampu yang pernah dimilikinya, barangkali dia akan  menemukan jin lampu yang lain –atau jin botol barangkali. Sementara itu,  Ali Baba sedikit banyak terdorong oleh keinginannya untuk menemukan  tempat persembunyian baru. Ia tahu ia tidak bisa tinggal terlalu lama.  Ia yakin, cepat atau lambat, para pemburu Hassashin akan mencium  jejaknya dan memburunya sampai ke kota itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka memasuki setiap gua, membalik gunung, menebas bukit, menembus  hutan-hutan untuk mencari tempat asal bulan. Selama berminggu-minggu  mereka mendatangi tempat-tempat di dalam peta yang mereka perkirakan  menjadi tempat persembunyian bulan. Mereka terus berjalan ke arah timur.  Dalam diri mereka –terutama Robin –terbit keyakinan bahwa mereka kian  dekat kepada apa yang mereka cari.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka sampai di sebuah telaga yang tidak cukup lebar dan berair biru  pada saat hari hampir senja. Bagi ketiganya, setelah perjalanan  seharian, air telaga itu sangat menyegarkan. Aladin dan Ali Baba tidka  bisa menahan keinginannya untuk mandi dan berenang-renang di kedalaman  telaga itu sementara Robin membuang jauh-jauh keinginan itu karena ia  tahu, ia tidak bisa berenang. Ketiganya memutuskan untuk beristirahat  dan membuat tenda di tepi telaga itu sebelum melanjutkan perjalanan esok  harinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Betapa terkejutnya Robin ketika setelah senja berakhir, telaga itu  menjadi berwarna keemasan. Ia bergegas membangunkan kedua rekan  perjalanannya yang setelah lelah berenang-renang, mereka tertidur di  dalam tenda. Ketiganya hanya bisa melongo menyaksikan warna keemasan  telaga itu perlahan-lahan mengumpul di bagian tengah permukaannya  membentuk sebuah bola sangat terang. Bola itu perlahan naik ke angkasa.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bulan!” ketiganya serentak berseru. Tanpa pikir panjang, Robin segera  menyiapkan anak panah  yang pangkalnya sudah dikaitkan dengan tali.  Dengan cepat panah Robin melesat mengarah ke bulan. Kena! Tapi panah itu  hanya menembus bulan, seolah tidak pernah mengenai apa-apa. Robin putus  asa. Bulan tidak seperti yang dia perkirakan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sepertinya kita harus memikirkan cara lain,” kata Ali Baba.</p>
<p style="text-align:justify;">“Setidaknya, kita sudah menemukan tempat persembunyian bulan,” Aladin  menimpali.</p>
<p style="text-align:justify;">Malam itu, mereka tidak bisa tidur, memikirkan cara lain untuk mencuri  bulan, sementara bulan seolah mengejek mereka di ketinggian angkasa,  bersinar terang seperti malam-malam sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku punya ide.” Aladin memecah kebisuan. “Kita membuat jaring di tengah  telaga. Barangkali kita bisa menangkapnya sebelum dia mengapung ke  angkasa.”</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya mereka merajut jaring kecil seukuran bulan menggunakan tali  yang mereka punya. Keesokan harinya, saat bulan telah menghilang dan  berganti matahari, jaring itu telah terpasang tepat di tengah-tengah  telaga tempat bulan muncul. jaring itu terikat pada empat ujungnya  dengan tali panjang yang terikat di pohon besar di empat penjuru telaga.  Mereka harap-harap cemas menanti datangnya malam.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika warna telaga beranjak keemasan, menanda bulan sebentar lagi akan  muncul, ketiganya dicekam kecemasan yang semakin menjadi-jadi. Selain  itu, Robin juga telah bersiap dengan busurnya. Barangkali jika dia  memanahnya tepat setelah bulan itu muncul –seperti bayi, belum punya  kekuatan penuh, pikirnya –akan berhasil.</p>
<p style="text-align:justify;">Bulan muncul tepat di bawah jaring yang mereka pasang yang berhasil  dilewatinya dengan mudah seolah-olah jaring itu tidak pernah ada.  Demikian juga panah Robin Hood yang mendesing cepat menembusnya. Sekali  lagi, bulan mengapung ke angkasa, mengejek ketiga pencuri yang hendak  menangkapnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Merasa putus asa dan lelah dengan segala yang telah dilakukan, ketiga  berbaring menatap bulan dan tertidur. Aladin lah yang bangun pertama  kali ketika hari sudah beranjak pagi. Dia mulai menyalakan perapian  untuk membakar daging sisa buruan. Ia tidak ingin membangunkan kedua  rekan perjalanannya itu. Biarlah nanti setelah dagingnya matang, dia  akan membangunkan mereka, pikirnya. Sedang enak-enak menyayat daging  bakar dengan giginya, tiba-tiba dia mengaduh, bukan karena masih  panasnya daging yang dibakarnya, tapi rupanya, salah satu giginya  tanggal. Dia meludahkan gigi itu, bercampur dengan ludah yang telah  bercampur dengan remah-remah arang daging bakaran. Melihat gigi putih  kehitaman di tanah, mendadak Aladin meloncat kegirangan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku punya ide. Bangunlah!” serunya sambil membangunkan dua rekannya.  “Lihatlah gigiku yang tanggal itu, warnanya agak kehitaman kan? Karena  ludahku telah bercampur dengan arang. Kita akan lakukan hal yang sama  dengan bulan. Kita akan membuat telaga ini menjadi hitam! Dan bulan pun  akan menjadi hitam.” Aladin menjelaskan dengan semangat.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bagaimana caranya?” Robin bertanya, mata kantuknya membuatnya semakin  terlihat tolol.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tentu saja dengan arang. Kita akan membuat arang sebanyak-banyaknya,  kita tumbuk menjadi serbuk dan kita taburkan ke dalam telaga,” jawab  Aladin.</p>
<p style="text-align:justify;">Hari-hari berikutnya, tidak ada yang mereka lakukan selain menebang  pohon, membakarnya dan setelah pohon itu menjadi arang, mereka  menumbuknya menjadi serbuk. Setelah berhari-hari bekerja, puluhan  gunungan serbuk hitam terlihat di sekeliling telaga, siap untuk  ditaburkan. Mereka mulai memasukkan serbuk-serbuk hitam itu pada pagi  hari. Warna telaga perlahan menghitam oleh saking banyaknya serbuk hitam  yang larut di dalamnya. Pekerjaan itu selesai tepat pada saat matahari  mulai redup di langit barat. Menunggu dengan gemetar apa yang akan  terjadi setelahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang, warna telaga mendadak keemasan, tapi bukan terang keemasan  seperti yang mereka lihat sebelumnya. Memang, bulatan bulan muncul dari  tengah-tengah telaga, mengapung perlahan ke angkasa, tapi warnanya tidak  seperti warna terang keemasan yang mereka lihat sebelumnya. Warna bulan  hitam pucat, meski bulatannya masih cukup terlihat. Malam itu, jauh  lebih gelap dari malam-malam yang pernah mereka rasakan sebelumnya.  Ketiga orang pencuri itu bersorak berrangkulan tangan. Mereka berhasil  membuat bulan berwarna gelap. Bulatan gelap bulan perlahan mengambang ke  angkasa, entah untuk waktu berapa lama sebelum inti terang bulan  perlahan semakin terang.</p>
<p style="text-align:justify;">Malam itu, penduduk kota di mana bulan selalu purnama akan mencatat  dalam sejarah kota mereka bahwa tiba-tiba pada suatu malam, bulan  bersinar redup, bahkan hampir tidak bisa dinikmati sinarnya. Malam itu,  mereka akan mencatat bahwa mereka mengalami malam yang paling gelap  dalam sejarah hidup mereka. Tapi malam itu, mereka juga akan mencatat,  untuk pertama kalinya, mereka melihat ribuan gemintang yang berkerlip  dengan sangat indah di kegelapan langit malam. Gemintang yang akan  mereka rindukan karena malam-malam berikutnya, bulan kembali bersinar  terang seperti biasanya. Terang yang lama kelamaan membuat mereka jenuh,  karena mereka tahu, di balik terang itu, tersembunyi keindahan lain.</p>
<p style="text-align:justify;">﻿</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jalaindra.wordpress.com/790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jalaindra.wordpress.com/790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jalaindra.wordpress.com/790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jalaindra.wordpress.com/790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/790/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/790/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/790/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&amp;blog=187870&amp;post=790&amp;subd=jalaindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2010/10/06/dongeng-untuk-allea-para-pencuri-bulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pelukis Senja</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2010/06/08/pelukis-senja/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2010/06/08/pelukis-senja/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2010 19:06:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=784</guid>
		<description><![CDATA[Jika saja aku tak pernah tersesat ke kota itu, mungkin negeri kita tidak akan pernah memiliki senja seindah senja yang bisa kita nikmati saat ini, Allea. Kau tentunya masih ingat ketika pejabat negeri kita melakukan sayembara untuk melukis senja. Kau bersikeras menyuruhku untuk ikut serta. Padahal aku tidak ingin membagi dengan orang lain apa yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&amp;blog=187870&amp;post=784&amp;subd=jalaindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://jalaindra.files.wordpress.com/2010/06/senja4.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-785" title="senja4" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2010/06/senja4.jpg?w=345&#038;h=189" alt="" width="345" height="189" /></a>Jika saja aku tak pernah tersesat ke kota itu, mungkin negeri kita tidak akan pernah memiliki senja seindah senja yang bisa kita nikmati saat ini, Allea. Kau tentunya masih ingat ketika pejabat negeri kita melakukan sayembara untuk melukis senja. Kau bersikeras menyuruhku untuk ikut serta. Padahal aku tidak ingin membagi dengan orang lain apa yang telah kubagi kepadamu tentang senja yang kulihat di kota tersembunyi itu. Aku ingin hanya engkau lah yang memilikinya. Namun, setelah kau beralasan bahwa orang-orang di negeri ini sudah bosan dengan senja kelabu dan remang yang itu-itu juga, dan mereka membutuhkan senja yang lain, maka aku menuruti keinginanmu dan mendaftarkan diri pada sayembara itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Meski kau telah mendengarnya berkali-kali dengan cerita ketersesatanku ke kota yang aku sebut kota senja, aku tak pernah bosan untuk menceritakannya kembali kepadamu, Allea. Aku harap kau pun tak pernah bosan. Dengan menceritakannya kembali, mungkin ada bagian-bagian yang baru saja kuingat dan terlewatkan pada cerita-cerita sebelumnya. Kau tahu, Allea, aku juga selalu merasa senang ketika melihat mimik heran dan penasaran di wajahmu ketika ceritaku sampai pada bagian bagaimana penduduk negeri senja memperlakukan senja setiap harinya. Kau tak pernah mengira kan, bahwa mereka menghentikan seluruh aktifitas mereka selama sekian menit hanya untuk menikmati semburat cahaya jingga kemerahan yang melukis belahan langit barat. Lalu mereka akan bicara tentang hal-hal buruk yang telah mereka alami sepanjang hari itu namun bukan dengan nada keluhan dan penyesalan, melainkan dengan nada harapan bahwa keesokan harinya mereka akan menjadi lebih baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku selalu tidak habis pikir kenapa langkahku waktu itu membawaku ke kota senja. Waktu itu aku dan tim tengah melakukan pemetaan wilayah hutan di pedalaman Kalimantan. Setelah seharian penuh kami keluar masuk hutan, kami beristirahat di salah satu pos pemantau hutan. Sementara rekan-rekanku beristirahat melepas lelah, aku berjalan-jalan di sekitar pos untuk sekedar melihat-lihat ada tumbuhan dan binatang apa saja yang hidup di tempat itu. Mungkin saja aku beruntung melihat orangutan di habitat aslinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Udara terasa semakin dingin dan lembab seiring langkah-langkahku menjauhi pos pemantau. Aku melihat burung kecil hitam berparuh jingga terang yang meloncat di dahan-dahan pohon. Menyadari kehadiranku, burung itu berkicau seolah hendak mengabarkan kepada kawanannya. Benar saja, beberapa saat kemudian terdengar kicauan dari arah pohon-pohon yang lain. Aku meneruskan langkahku menyusuri celah-celah pohon namun sesekali menoleh ke belakang ke arah pos agar aku tidak kehilangan arah. Kanopi hutan semakin rimbun. Rumput dan semak-semak yang kujejak semakin lembab.<br />
<span id="more-784"></span><br />
Aku sempat merasa takut dan berpikir untuk segera kembali ke pos pemantau ketika melihat sekelebat bayangan dan gerakan semak yang mencurigakan dari balik batu besar berlumut di depanku. Batu itu seolah jatuh begitu saja dari langit entah sejak kapan. Sebatas penglihatanku, tidak ada penampakan batu lain. Namun karena rasa penasaranku, aku memberanikan diri mendekat. Kau tahu, Allea, apa yang aku lihat di balik batu itu? Seekor Kelinci. Ya, seekor kelinci. Dan entah kenapa tiba-tiba aku teringat dongeng Alice di negeri ajaib. Aku tersenyum membayangkan kelinci itu akan membawaku ke negeri ajaib seperti Alice. Namun ternyata kelinci itu tidak membawaku ke negeri ajaib, melainkan kota senja.</p>
<p style="text-align:justify;">Seberkas cahaya yang sangat menyilaukan menghentakku tiba-tiba entah dari mana datangnya. Aku memekik ketakutan. Saking silaunya, aku tidak mampu melihat apa-apa lagi di sekitarku. Dengan kedua tangan meraba-raba aku melangkah perlahan mengikuti arah suara kawan-kawanku yang memanggil dari kejauhan. Mungkin mereka mendengar teriakanku. Aku yakin aku terperosok ke dalam jurang ketika aku merasakan tubuhku jatuh dan berguling-guling menerjang semak belukar. Tanganku menggapai-gapai mencari batang pohon atau semak yang bisa aku pegang untuk menghentikan jatuhku, namun aku tidak menemukan apa-apa. Aku terus berguling meluncur ke dasar jurang. Hal terakhir yang aku dengar sebelum pingsan adalah kaokan gagak yang aku yakin berengger di ranting pohon di atasku.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku bangun dari sadarku dan mendapati diriku terbaring di dasar lembah. Aku yakin telah cukup lama pingsan, namun anehnya, hari masih cukup terang, padahal ketika aku mulai melangkah menjauhi pos pemantau, hari sudah cukup sore. Aku tidak mendengar ada suara kawan-kawan yang memanggilku. Aku melihat sekawanan burung terbang menjauh. Seekor kelinci berlari dari balik semak, berhenti sejenak di depanku dan memandang ke arahku sebelum akhirnya berlari menghilang ke balik semak yang lain. aku tergoda untuk meyakini bahwa kelinci itu telah membawaku ke dunia Alice.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku pasti telah berada di bagian hutan lain, terlihat dari barisan pohonnya yang tidak terlalu rapat. Aku terus melangkah mencoba mencari jalan untuk kembali ke pos pemantau, namun akhirnya aku menyadari bahwa aku justru berjalan semakin menjauh sampai akhirnya aku keluar dari hutan dan mendapati padang rumput luas di depanku. Dan kulihat warna itu, Allea. Warna langit yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Itulah warna jingga yang sekarang menghiasi senja di negeri kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Warna yang terang, namun tidak menyilaukan. Warna yang seperti api, namun tidak membakar. Aku tidak yakin bisa mencari padanan yang tepat selain seolah bias lidah api tengah menjilati kapas-kapas awan. Bukan api yang membara, namun api yang lembut dan menenangkan. Siluet bocah-bocah gembala memanjang bergerak pelan di kejauhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah aku berseru memanggil mereka, berlari melintasi padang, dan menanyakan di tempat manakah aku berada saat itu, aku mengikuti mereka menuju ke kota itu. Jangan bayangkan kota itu seperti kota-kota di negeri kita yang penuh dengan gedung-gedung dan papan reklame, meskipun terlihat seperti sebuah desa di negeri kita, namun bisa aku katakan bahwa itu adalah sebuah kota, karena di tempat itulah keramaian sebuah kota kecil terlihat; pasar, kedai-kedai minuman, kolam air, alun-alun dan tempat-tempat keramaian lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak banyak rumah yang terdapat di sana. Mungkin tidak sampai seratus rumah, dengan ukuran yang kecil seperti rumah-rumah suku Dayak. Aku sempat mengira bahwa kota itu dihuni oleh suku asli pedalaman Kalimantan itu, namun setelah aku masuk lebih dalam ke kota, aku melihat beberapa orang penduduk kota itu yang sama sekali berbeda dengan suku Dayak. Pakaian mereka hampir seperti jubah pendeta abad pertengahan, dengan ikatan kain di bagian perut dan alas kaki dari kulit binatang. Masuk lebih dalam lagi aku bertemu dengan keramaian pasar. Bocah-bocah kecil yang sebelumnya kuikuti entah kemana. Mungkin mereka telah kembali ke rumahnya masing-masing. Di saat itulah, terdengar suara lonceng keras beberapa kali yang datangnya pasti dari pusat kota. Mendengar lonceng itu, semua keramaian pasar mendadak berhenti.</p>
<p style="text-align:justify;">Orang-orang lalu memandang ke arah barat, ke arah matahari jingga yang perlahan tenggelam. Lalu aku mendengar mereka berbicara dengan orang yang berada di dekat mereka. “Malam ini aku akan meminta maaf kepada istriku.” Aku mendengar seorang lelaki berbicara kepada lelaki di sebelahnya. “Hari ini benar-benar buruk, aku tidak mendapat satu pun hewan buruan. Yah, semoga besok aku mendapat buruan yang lebih besar.” Lelaki di sebelahnya lalu menjawab. “Sialan, serigala liar telah memangsa ayam-ayamku! Hmm, tapi mungkin saja aku yang kurang hati-hati menjaga kandang-kandangnya.” Suara lelaki yang lain. Ya, mereka semua tengah membicarakan hal-hal buruk yang terjadi di hari itu. Seolah mereka hendak menenggelamkannya bersama matahari. Kau tahu Allea, ada satu kalimat yang mengusik perhatianku, yang sampai kini selalu aku ingat. Kalimatnya seperti ini: “Hari ini memang buruk, tapi esok adalah hari baru, meskipun mataharinya tetap itu-itu juga. Selalu ada harapan”. Kalimat yang sederhana, bukan?</p>
<p style="text-align:justify;">Melihat orang asing berada di tengah-tengah mereka dan terlihat tengah kebingungan, beberapa orang penduduk menghampiriku dan bertanya dengan sangat sopan. Mereka menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih banyak aku jawab dengan menggelengkan kepala. Mereka menawarkan rumahnya masing-masing untuk menjadi tempat bermalamku dengan mengiming-imingi kelebihan-kelebihan dan kenyamanan-kenyamanan yang dimiliki oleh rumah-rumah mereka. Tentu saja aku tidak bisa langsung menerima semua tawaran mereka. Beberapa orang bersikeras menyeret tanganku dan mengajakku untuk mengikutinya. Seolah dengan menjadikan rumahnya sebagai tempatku menginap akan menjadi sebuah kebanggaan bagi mereka. Dengan nada sehalus dan sesopan mungkin aku mencoba menjelaskan dengan berpura-pura bahwa aku telah berjanji dengan seseorang untuk menginap di rumahnya. Beruntung orang-orang tidak bertanya lebih jauh siapa orang yang telah aku janjikan tersebut. Di kota kecil seperti ini, semua penduduknya pastilah saling kenal. Jika mereka bertanya siapa orang yang aku maksud dan aku ketahuan berbohong, entah apa yang akan mereka lakukan padaku, orang asing yang tersesat di kota mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Orang-orang yang mengerumuniku lalu membiarkan aku melanjutkan langkahku ke arah barat kota. Setelah berjalan beberapa blok rumah, aku melihat sebuah rumah berukuran lebih kecil, tidak lebih baik dan letaknya cukup terpisah dari rumah-rumah yang lain. Kupikir, aku akan menginap di rumah itu saja. Seorang lelaki tua membuka pintu rumahnya saat aku ketuk beberapa kali. Aku menjelaskan seperlunya tentang siapa aku dan niatku untuk bermalam di rumahnya beberapa malam.</p>
<p style="text-align:justify;">Kau belum bosan mendengarkan ceritaku ini kan, Allea? Ehm, senyummu selalu membuatku bersemangat untuk melanjutkannya. Baiklah, aku akan melanjutkannya. Tenang saja, apa yang akan aku ceritakan setelah ini aku yakin kau belum pernah mendengarnya. Dari cerita-ceritaku sebelumnya, kau tentunya telah tahu kalau lelaki tua itu adalah penjual minuman dari buah dan tumbuh-tumbuhan. Dia mahir meramu bahan-bahan alam menjadi minuman beraneka warna dan rasa. Kau juga telah tahu, darinya aku belajar tentang warna-warna yang kelak akan sangat berguna bagiku dalam sayembara melukis senja.</p>
<p style="text-align:justify;">Lelaki tua itu tinggal bersama seorang bocah. Nah, bocah itu adalah salah satu bocah yang kutemui di padang luar kota. Aku tidak akan menceritakan lagi tentang bagaimana lelaki tua itu menerimaku dan menceritakan banyak hal, bahwa telah ada beberapa orang dari kota Luar yang tersesat ke kota itu dan akhirnya menetap lama karena mereka tidak menemukan jalan kembali. Ya, mulanya mereka sangat sedih dan takut tidak bisa pulang ke tempat asal mereka. Namun setelah lama-kelamaan tinggal di kota itu dan merasakan bahwa kehidupan di kota itu jauh lebih baik dan lebih damai dari kota asal mereka, mereka akhirnya memutuskan tidak akan mencari jalan pulang. Kupikir, sangat wajar, mungkin saja mereka termasuk orang-orang yang kurang bahagia dalam kehidupan asal mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi tidak denganku. Sedamai dan sebaik apapun kehidupan yang akan aku alami nantinya di kota itu, aku telah bertekad akan mencari jalan pulang. Karena sedamai apapun, tak lebih damai dibandingkan dengan hidup bersamamu, Allea. Dan aku telah bertekad akan menceritakan kisah ini kepadamu. Kenyataan bahwa saat ini aku tengah bercerita kepadamu untuk kesekian kalinya, adalah bukti bahwa tekadku telah berhasil.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tidak ingat telah berapa hari lamanya aku tinggal bersama orang tua dan bocah kecil itu. Setiap pagi aku menjalani rutinitas seperti biasa, menemani lelaki tua itu untuk pergi ke dalam hutan, memetik daun-daun, bunga-bunga, buah-buah dan rumput yang nantinya akan dia ramu menjadi minuman. Setelah hari mulai siang, aku menemani bocah kecil menggembalakan domba, bukan domba milik mereka, namun milik seorang tetangga mereka. Mereka akan mendapatkan bagian dari susu dan bulu yang dihasilkan oleh domba-domba itu. Selama itu, aku selalu berpikir dan mencari cara untuk bisa kembali ke tempat asalku. Orang tua itu pernah mengatakan bahwa ia mengetahui bagaimana caranya, namun ia tidak mau memberitahukannya kepadaku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Belum waktunya. Nanti saja kalau sudah waktunya, pasti akan aku beri tahu,” katanya suatu ketika. Aku hanya bisa bersabar menjalani hari-hariku bersama mereka. Mereka dengan baik hati menerimaku menjadi bagian dari keseharian mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu senja, tidak seperti biasanya. Lelaki tua itu mengajakku untuk masuk ke dalam hutan ke arah timur. Sesaat sebelum memasuki hutan, aku sempat melihat senja saat itu lain dari biasanya. Cahaya jingga yang aku lihat di langit barat lebih indah dan lebih hangat dari sebelum-sebelumnya. Aku merasa saatnya telah tiba. Aku pikir, saatnya telah tiba baginya untuk menunjukkan jalan pulang. Dengan perasaan senang aku mengikutinya meski sesekali aku menoleh ke belakang untuk menyaksikan cahaya senja terindah saat itu. Kami semakin masuk ke dalam hutan yang belum pernah aku masuki. Udara semakin terasa lembab. Jarak pepohonan semakin rapat. Celah-celah cahaya senja dari langit barat semakin jarang, hanya ada beberapa berkas yang berhasil menyusup melalui celah-celah dedaunan kanopi hutan yang kian merapat. Di sebuah tempat tepat di antara dua pohon lelaki tua itu berhenti lalu berbalik menghadap ke arah barat. Aku memperkirakan hari itu, di luar hutan, di kota, orang-orang tengah menghentikan aktifitas mereka untuk diam memandang senja. Begitu pun dengan lelaki tua itu. Ia diam menghadap kea rah barat, namun tidak ada berkas cahaya senja yang tampak. Ia lalu membuka tas kulitnya dan mengeluarkan sebuah bejana kecil tempatnya biasa meramu sari-sari tumbuhan. Mulut bejana kecil itu ia arahkan ke barat. Tepat saat itu, seberkas cahaya senja berhasil menyusup melewati celah-celah dedaunan dan tepat mengarah ke mulut bejana kecil itu. Selama beberapa saat, lelaki itu diam tidak bergerak. Beberapa saat kemudian ia mengambil sesuatu dari dalam tas kulitnya dan menutup mulut bejana.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku akan ceritakan kepadamu tentang ramuan saripati senja.” Kata-katanya membuatku kebingungan. Katanya, ia baru saja menangkap cahaya senja paling murni, cahaya senja yang telah disaring dengan hijau daun dan basah embun. Aku semakin kebingungan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tanpa beristirahat, kami segera kembali ke pondok dan mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat minuman saripati senja. Hari telah gelap saat kami tiba di pondok. Bocah kecil tengah menunggu kami di depan tungku perapian. Melihat kami telah kembali, bocah itu menyambut kami dengan riang, rupanya ia telah tahu bahwa kakeknya akan membuat ramuan saripati senja, ramuan yang bisa dibuat hanya satu kali dalam setahun. Bocah kecil itu dengan cekatan mempersiapkan bahan-bahan dan peralatan lainnya. Gelas-gelas kecil, saringan, botol-botol, sendok-sendok dan peralatan lainnya. Aku memperhatikan mereka dengan tatapan penasaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh, aku ingin mengingat detil-detil proses pembuatan ramuan saripati senja itu, Allea. Namun prosedurnya begitu rumit dan panjang. Cairan ini dimasukkan ke dalam gelas ini, campuran itu direbus dalam api yang hangat lalu dituangkan ke dalam bejana itu, warna ini ditambahkan ke dalam warna itu, dan sebagainya aku tidak bisa mengingatnya dengan pasti. Yang paling aku ingat adalah ketika semua tahapan sudah selesai –paling tidak menurutku- lelaki tua itu membawa dua bejana ke luar. Satu bejana berisi ramuan yang telah selesai dan satu lagi adalah bejana kosong. Saat itu aku mencium keharuman yang belum pernah aku kenali. Seisi pondok tidak tampak lagi sebagai pondok, melainkan seperti sebuah taman dengan beraneka bunga-bunga dan keharuman khasnya. Seolah aku tengah berada dalam perayaan wewangian. Tak henti aku mengendus-enduskan hidungku berusaha menyesap lebih banyak keharuman. Aku akan tetap berada dalam khayalanku jika saja bocah itu tidak menarik lenganku dan mengajakku mengikuti kakeknya keluar pondok.</p>
<p style="text-align:justify;">Di tengah udara malam yang dingin dan hening, lelaki tua itu membentangkan kedua tangannya dan menengadah ke langit malam. Di kota itu, tebaran bintang terasa lebih rendah seolah kau bisa langsung memetiknya. Aku menoleh ke arah bocah kecil untuk mencari tahu apa yang hendak dilakukan kakeknya dan ia balas memandangku dengan tersenyum seolah mengatakan bahwa inilah saat-saat yang ditunggunya. Malam semakin hening. Tak terdengar sedikitpun suara dari pondok-pondok lainnya, hanya gumaman-gumaman kecil dari mulut lelaki tua itu seolah tengah merapalkan mantra. Sesaat kemudian lelaki tua itu mengayunkan bejana yang kosong ke langit seolah hendak menciduk bintang-bintang ke dalam bejana itu. Ia mengayunkan lengannya beberapa kali lalu tubuhnya berputar perlahan dan semakin cepat seperti putaran seorang darwis.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku melihat seolah-olah bintang-bintang berputar bersama putarannya. Dan saat putaran lelaki itu berhenti dengan tiba-tiba, bintang-bintang tersebut mendadak goyah dan rontok berhamburan ke segala arah. Lelaki tua itu lalu menuangkan ramuan di tangan kanannya ke bejana kosong yang telah berisi bintang-bintang –setidaknya dalam anggapanku. Ritual selesai. Ia menghampiriku dan mempersilahkan untuk mencicipinya pertama kali. Sesaat aku ragu. Namun setelah lelaki itu meyakinkanku, aku pun meminumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak ada kalimat yang tepat untuk menggambarkan apa yang aku rasakan saat itu, Allea. Kau harus mencoba meminum ramuan saripati senja itu sendiri untuk mengetahuinya. Seolah tiba-tiba jiwamu melesat ke suatu tempat yang entah, di sekelilingmu hanyalah cahaya yang bening dan hening. Tempat itu seolah tempat yang paling hendak kau tuju di masa depan dan masa lalumu, seolah di sanalah segalanya bermula dan berakhir. Sensasi perasaan itu melandaku selama beberapa saat. Mungkin inilah mengapa lelaki tua dan bocah kecil itu merasakan kebahagiaan dalam kehidupan mereka yang sederhana, sekali dalam satu tahun setidaknya mereka membuat dan memiliki sesuatu yang akan sangat membahagiakan mereka. Kebahagiaan yang tidak dimiliki oleh orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami bergantian meminum ramuan saripati senja itu. Aku bertanya, apa yang baru saja dimasukkan ke dalam ramuan terakhir. Mulanya aku pikir adalah bintang-bintang. Namun ternyata, lelaki tua itu menjawab bahwa ramuan terakhir yang ditambahkannya adalah Gelap Malam. “Tanpa kegelapan, tidak akan pernah ada cahaya,” kata lelaki tua itu. Aku merenungkan kata-kata itu sepanjang waktu.</p>
<p style="text-align:justify;">Esok harinya adalah saat perpisahan. Setelah perjamuan malam itu, lelaki tua itu memberitahuku sebuah jalur yang bisa aku tempuh untuk kembali ke tempat asalku. Sesaat aku ragu apakah aku akan meninggalkan lelaki tua dan bocah kecil yang selama ini menolongku. Sisa sensasi rasa ramuan saripati senja masih menempel di bibirku. Aku tidak yakin akan bisa kembali merasakan nikmatnya ramuan itu jika aku kembali ke tempat asalku. Tapi, ingatanku tentangmu mengalahkan semua rasa yang pernah kucecap malam itu. Sebelum perjalanan dimulai, lelaki tua itu memberiku sebuah botol kecil yang sekilas tidak berisi apa-apa. Namun setelah aku perhatikan dengan cermat, terdapat bias-biar jingga di dalamnya. Ya, rupanya lelaki tua itu menyisakan sedikit cahaya senja murni yang ia tangkap waktu itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku diantar oleh bocah kecil sampai ke batas hutan. Beberapa saat sebelum kami berpisah, aku melihat seekor kelinci berlari di dekatku lalu bersembunyi di balik semak. Kembali aku teringat dengan cerita Alice di negeri ajaib. Sayangnya, di kota itu aku tidak bertemu dengan manusia kartu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sesuai petunjuk yang telah dikatakan oleh lelaki itu, aku harus melintasi hutan dan mencari sebuah jurang. Jurang itulah pintu untukku kembali ke tempat asalku, ke tempat kita. Setelah aku sampai di tepi jurang, aku kembali meneguhkan diri bahwa aku ingin kembali menemuimu untuk menceritakan cerita ini. Lalu aku meloncat begitu saja ke dasar jurang yang tidak tampak dasarnya itu. Aku tidak tahu telah berama lama melayang-layang di udara bebas ketika seberkas cahaya yang sangat terang menghantamku. Aku yakin aku pingsan waktu itu. Ketika aku tersadar, aku kembali berada di dekat batu besar berlumut di dekat pos pemantau. Dari balik semak-semak aku mendengar gemerisik suara. Seekor kelinci mendadak berlari keluar lalu bersembunyi di balik semak yang lain. Sayup terdengar suara teman-temanku memanggil.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tahu kau akan mengira bahwa aku hanya berhalusinasi karena ternyata waktu tidak berjalan dengan semestinya, padahal aku yakin bahwa aku telah berada di kota yang kusebut kota senja itu selama beberapa minggu. Aku pun mulanya berpikiran demikian, namun ketika aku merogoh saku bajuku dan menemukan botol kecil yang berisi senja murni, aku yakin bahwa aku tidak berhalusinasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku segera pulang untuk menemuimu dan menceritakan kisah ini. Dan ketika pemerintah negeri kita mengadakan sayembara untuk melukis senja, atas saranmu, aku mengikutinya. Meskipun aku tidak memiliki bakat melukis, aku nekat saja, sekaligus ingin membuktikan satu hal. Pada senja yang kelabu itu, dengan harap-harap cemas, aku mencampurkan senja murni dalam botol kecil itu ke pallet catku. Jika peserta yang lain melukis senja di atas sebuah kanvas, maka aku melukis senja langsung di senja itu sendiri. Aku membayangkan senja kelabu di hadapanku adalah kanvas besar yang harus aku lukis.</p>
<p style="text-align:justify;">Goresan pertama kuasku hanya menyentuh udara hampa dan tidak terjadi apa-apa. Aku tahu para peserta lain pasti menganggapku gila. Aku memikirkan bagaimana caranya lelaki tua itu mampu mengambil kegelapan malam dan mencampurkannya dengan ramuan saripati senja. Dengan sepenuh keyakinan aku menggoreskan goresan kedua dalam keadaan mata tertutup. Aku mendengar suara kekagetan serentak. Aku tak ingin membuka mata. Aku takut apa yang akan aku lihat .</p>
<p style="text-align:justify;">Aku menggoreskan goresan ketiga masih dalam keadaan mata terpejam. Kembali aku mendengar suara kekagetan. Keriuhan semakin menjadi. Aku memberanikan diri membuka mata dan alangkah terkejutnya saat aku melihat dua goresan warna jingga di ufuk barat, goresan kuasku. Dengan tenang dan percaya diri aku kembali mengayunkan tanganku menggoreskan warna-warna ke kanvas senja, sambil mengingat-ingat warna senja yang aku jumpai di kota senja. Aku menggoreskan warna jingga ke cakrawala, ke matahari, ke kapas-kapas tipis awan, dan ke beberapa bagian langit barat. Setelah yakin aku telah memindahkan senja yang kulihat di kota itu ke negeri ini, aku menghentikan goresan kuasku. Suara tepuk tangan tidak henti-hentinya berkumandang.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan kini bisa kau lihat, semua orang bisa melihat senja lain yang lebih indah daripada senja kelabu yang itu-itu juga. Senja yang aku persembahkan untukmu, Allea.</p>
<p style="text-align:justify;">Masih tersisa sedikit senja murni dalam botol kecil pemberian lelaki itu. Jika aku telah mengingat dengan sempurna detil-detil bagaimana lelaki itu membuat ramuan saripati senja, mungkin suatu saat aku akan mencoba membuat ramuan itu agar kau juga merasakannya. Atau mungkin suatu saat aku akan mengajakmu tersesat ke kota itu. Semoga saja pintu menuju ke tempat itu masih terbuka untukku. Atau barangkali, kita harus memelihara seekor kelinci?*** (Jatinangor, 15 Mei 2010 )</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/784/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/784/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/784/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/784/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jalaindra.wordpress.com/784/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jalaindra.wordpress.com/784/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jalaindra.wordpress.com/784/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jalaindra.wordpress.com/784/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/784/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/784/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/784/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/784/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/784/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/784/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&amp;blog=187870&amp;post=784&amp;subd=jalaindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2010/06/08/pelukis-senja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2010/06/senja4.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">senja4</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
