<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>J A L A I N D R A</title>
	<atom:link href="http://jalaindra.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jalaindra.wordpress.com</link>
	<description>jejaring peristiwa - jejaring kata - jejaring imagi - jejaring diri</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Nov 2009 03:09:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='jalaindra.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/55fb57c1058a8d11d26b7b5586e5f294?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>J A L A I N D R A</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Heaven Net Is Wide &#8211; Lian Hearn</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2009/11/13/heaven-net-is-wide-lian-hearn/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2009/11/13/heaven-net-is-wide-lian-hearn/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 03:09:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=668</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingat dengan Kisah Klan Otori? Rangkaian kisah menakjubkan karya Lian Hearn dimulai dari Across The Nightingale Floor, Grass For His Pillow, Brilliance of The Moon dan The Harsh Cry of Heron. Sebentar lagi, yang ditunggu-tunggu, edisi bahasa Indonesianya akan segera hadir, buku ke O : Heaven Net Is Wide. Menurut info di situs Penerbit [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=668&subd=jalaindra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><a href="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/11/heaven-net-is-wide1.jpg"><img class="size-full wp-image-669 alignright" title="heaven net is wide" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/11/heaven-net-is-wide1.jpg?w=160&#038;h=245" alt="heaven net is wide" width="160" height="245" /></a>Masih ingat dengan <a href="http://jalaindra.wordpress.com/2007/02/18/samurai-rasa-bule/">Kisah Klan Otori</a>? Rangkaian kisah menakjubkan karya Lian Hearn dimulai dari Across The Nightingale Floor, Grass For His Pillow, Brilliance of The Moon dan The Harsh Cry of Heron. Sebentar lagi, yang ditunggu-tunggu, edisi bahasa Indonesianya akan segera hadir, buku ke O : Heaven Net Is Wide. Menurut info di situs Penerbit Matahati, buku ini akan terbit awal Desember 2009, tapi sudah bisa dipesan di toko buku online mulai tanggal 24 November 2009. <em>can&#8217;t hardly wait..</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam permulaan Across The Nightingale Floor diceritakan tentang pertemuan Otori Shigeru dengan Tomasu -yang kemudian beralih nama menjadi Otori Takeo. Lewat serangkaian intrik yang dijalankan oleh Iida Sadamu, Shigeru tewas. Otori Takeo melakukan perannya sebagai pemimpin klan untuk menggantikan Shigeru. Meskipun pemunculannya dalam buku pertama tersebut relatif sebentar, sosok Otori Shigeru sangat menyita perhatian para pembacanya. Nah, dalam Heaven Net Is Wide inilah sosok Shigeru akan benar-benar menjadi tokoh utama.  Kita akan mengikuti perjalanan pemimpin Klan Otori tersebut sebelum bertemu dengan Takeo.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi yang belum pernah baca Kisah Klan Otori, silahkan kamu bisa resensinya di sini: <a href="http://jalaindra.wordpress.com/jejak-media/across-the-nightingale-floor/" target="_blank">Across The Nightingale Floor</a>, <a href="http://jalaindra.wordpress.com/jejak-media/grass-for-his-pillow/">Grass for His Pillow</a>, <a href="http://jalaindra.wordpress.com/jejak-media/grass-for-his-pillow/" target="_blank">Brilliance of The Moon</a> dan <a href="http://jalaindra.wordpress.com/2007/01/31/jeritan-pilu-sang-bangau/" target="_blank">The Harsh cry of Heron.</a> Apakah prequel ini akan sama menakjubkannya dengan trilogi dan sekuelnya? Semoga.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/668/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/668/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/668/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/668/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/668/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/668/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/668/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/668/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/668/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/668/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=668&subd=jalaindra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2009/11/13/heaven-net-is-wide-lian-hearn/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/11/heaven-net-is-wide1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">heaven net is wide</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jendela Laut Allea</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2009/11/05/jendela-laut-allea/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2009/11/05/jendela-laut-allea/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 07:21:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[matahari dan kejora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=661</guid>
		<description><![CDATA[Di atas tempat tidurnya yang lembut dan empuk Allea mengerjap-kerjapkan matanya memandang langit-langit kamar yang putih bersih tanpa cicak tanpa sarang laba-laba. Selimut lembut dan empuk membebat tubuhnya dari dada sampai ke ujung kaki, sementara rambut panjangnya terurai acak-acakan di atas bantal putih yang sarung bantalnya selalu diganti setiap seminggu sekali. Allea tidak tahu kenapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=661&subd=jalaindra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><a href="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/11/morning_sunshine1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-663" title="morning_sunshine" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/11/morning_sunshine1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="morning_sunshine" width="300" height="225" /></a>Di atas tempat tidurnya yang lembut dan empuk Allea mengerjap-kerjapkan matanya memandang langit-langit kamar yang putih bersih tanpa cicak tanpa sarang laba-laba. Selimut lembut dan empuk membebat tubuhnya dari dada sampai ke ujung kaki, sementara rambut panjangnya terurai acak-acakan di atas bantal putih yang sarung bantalnya selalu diganti setiap seminggu sekali. Allea tidak tahu kenapa ia memandang langit-langit. Yang ia tahu, hanya itulah tempat pertama yang dilihatnya ketika terbangun dari tidurnya. Entah tidur siang, sore ataupun malam. Ia tidak tahu, apa yang ingin ia pandangi di langit-langit yang sepi itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tempat kedua yang selalu ia pandangi adalah laut. Ya, laut yang terbingkai di jendela kamarnya. Lama ia terpekur di samping jendela kamarnya yang tepat mengarah ke laut. Kamar apartemennya yang berada sepuluh lantai dari permukaan tanah dengan jendela yang tepat menghadap ke laut, memudahkannya untuk memandangi luasan laut dengan lalu lalang kapal feri dari satu seberang ke seberang yang lain. Ia juga tidak tahu apa yang ingin dilihatnya di luasan laut itu. Yang ia tahu, ia suka memandangi laut dari jendela kamarnya. Gedung-gedung tinggi di daratan seberang samar tertutup di balik kabut tipis.<span id="more-661"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Setiap pagi ia berharap ada seseorang yang mengetuk-ketuk jendela kamarnya. Seseorang yang mungkin seperti Peter Pan melayang-layang di udara mengetuk jendela kamar Wendy dan mengajaknya ke Neverland. Allea sering membayangkan Neverland, bukan hanya karena ia selalu berharap bisa sejenak melepaskan semua rutinitas pekerjaan sehari-harinya, tapi juga ia ingin melupakan siapa dirinya sekarang dan menjadi hanya seorang gadis kecil yang ingin bermain, tertawa dan merasakan jatuh cinta.</p>
<p style="text-align:justify;">Jatuh cinta. Mungkin sangat aneh kedengarannya. Untuk seorang gadis muda cukup usia dan karir seperti Allea belum pernah merasakan jatuh cinta. Sebenar-benar jatuh cinta. Atau setidaknya, yang diyakininya sebagai jatuh cinta. Selama ini memang tidak sedikit teman laki-lakinya, teman kantornya yang menaruh hati dan mengutarakan rasanya kepadanya bahkan berniat menjadikannya istri. Namun karena ia tidak merasakan jatuh cinta kepada orang-orang itu, ia pun selalu menolak mereka dan menjalani hidupnya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Sendirian di kamarnya, hal yang selalu menghiburnya adalah buku-buku. Di sebuah ruangan lain berdiri satu rak dengan jajaran buku koleksinya. Mulai dari buku-buku pengantar manajemen sampai novel pengarang nobelis sastra. Ia tidak bisa memejamkan mata menjelang tidurnya sebelum membaca beberapa kalimat terlebih dulu dari buku-buku. Ia sangat menyukai dongeng. Ia berharap, kelak seseorang yang kepadanya ia akan jatuh cinta bersedia membacakan dongeng kepadanya setiap malam menjelang tidur. Di dalam dongeng ia seperti menemukan kebebasan. Dalam dongeng ia selalu menemukan banyak kemungkinan dan penyelesaian yang akhirnya membawa sang tokoh dalam akhir yang bahagia.</p>
<p style="text-align:justify;">Kebahagiaan yang selama ini dirasakannya di dalam kamar itu, di kota itu, ia rasakan semu. Ia memiliki segalanya, ia bisa mendapatkan segala yang ia ingini, segala yang ia maui. Ia memiliki lebih dari cukup uang untuk membawanya ke tempat manapun yang ia ingini, kecuali Neverland tentu saja. Tapi dengan semua itu ia justru tidak merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Allea membayangkan apakah Adam dan Hawa di surga dahulu merasakan bahagia, ketika segala sesuatu yang ia inginkan bisa dipenuhi oleh Tuhan. Adam dan Hawa tinggal memintanya, dan Tuhan akan mengabulkan. Sepertinya halnya dirinya, ia tinggal meminta. Kecuali buah Khuldi, bagi adam. Dan Allea menginginkan buah Khuldi itu. Tapi entah, ia tidak menemukannya. Belum menemukannya. Setidaknya, seperti dalam dongeng, kemungkinan apapun bisa saja terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Peristiwanya terjadi di suatu pagi. Seperti pagi-pagi sebelumnya, di atas tempat tidurnya yang lembut dan empuk Allea mengerjap-kerjapkan matanya memandang langit-langit kamar yang putih bersih tanpa cicak tanpa sarang laba-laba. Lalu ia memandang laut yang terbingkai dari jendela kamarnya. Butir-butir embun yang hinggap di kaca jendela membuat laut tampak kabur. Ia bangkit dari tempat tidurnya, membuka jendela dan duduk terpekur merasakan hembus dingin udara pagi yang seketika menerpa wajahnya. Laut masih seperti biasanya. Desah ombak terdengar pelan dan berulang-ulang meningkahi desah nafasnya sendiri. Tapi ada sesuatu yang aneh. Suara desah ombak itu semakin keras terdengar hingga seolah lidah ombak menjilat-jilat di luar jendela kamar. Pun ia merasakan percik-percik airnya membasahi wajahnya. Semakin lama ia semakin merasakan bahwa laut telah memasuki kamarnya atau kamarnya telah memasuki laut. Tapi entah, ia tidak merasakan ketakutan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketakutan yang selalu menghantuinya adalah kebahagiaan yang selama ini dirasakannya, atau setidaknya, kebahagiaan yang disangkakan orang kepadanya. Karena orang menganggap seluruh kebutuhan hidpnya telah tercukupi, maka ia seharusnya bahagia. Ia takut, ia harus selalu menyembunyikan kegelisahannya dari orang-orang, bahkan dari dirinya sendiri. Tapi pagi itu, ia merasakan kebahagiaan yang berbeda. Laut memenuhi seisi kamar. Ia berenang dan menyelam. Meskipun selama ini ia sering berenang dan menyelam di kolam renang di bawah apartemennya, ia tetap merasakan sesuatu yang berbeda. Bisa jadi karena ia berenang di dalam kamar, bisa jadi karena ia berenang di dalam laut. Ya, laut, bukan kolam.</p>
<p style="text-align:justify;">Di kedalaman laut itu ia menyelam ke sana kemari. Apa yang ia lihat di dalam kamar seperti biasanya, kini telah menghilang. Tidak ada tempat tidur, selimut dan bantal, tidak ada meja-meja, laptop dan setumpuk data penjualan yang harus ia laporkan kepada atasan. Hanya ada laut. Hanya ada biru. Hanya ada gelembung-gelembung udara yang keluar dari mulut dan hidungnya. Anehnya, ia tidak merasakan sesak nafas, seolah telah tumbuh insang dengan tiba-tiba di balik telinganya. Sejujurnya, ia mengkhawatirkan buku-buku yang tersimpan di kamar sebelah. Pasti buku-buku itu telah basah. Allea berenang kesana kemari seolah kakinya telah menjelma sirip. Namun, matanya masih cukup sadar untuk melihat bahwa baju yang dikenakannya masih baju tidur yang selalu ia pakai, baju bergambar tokoh kartun Winnie The Pooh dengan tulisan Sweet Honey di bagian dadanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dadanya diliputi perasaan lega, ringan dan damai yang selama ini belum pernah Allea rasakan. Matanya memandang ke bekas langit-langit kamarnya. Ada sesuatu yang membayang terang di sana, seperti ketika kau melihat matahari dari kedalaman laut. Ia menekankan kakinya untuk berenang ke atas dan tiba-tiba ia menyembul ke permukaan laut. Ya, laut. Betul-betul laut. Ia menebarkan pandangannya ke seluruh penjuru mata angin yang dilihatnya hanya air laut. Garis cakrawala membentang di kejauhan mempertemukan garis laut dan garis langit. Cericit camar sesekali terdengar. Allea mengambang di suatu tempat entah di mana di tengah entah laut apa. Meski kelihatannya menakutkan –bayangkan, tiba-tiba kau mengapung di tengah samudera, tak kau lihat siapapun, tak kau lihat setitikpun daratan di sejauh pandanganmu- tapi ia menikmatinya. Jika pun ada ketakutan dan kekhawatiran, Allea menikmati ketakutan dan kekhawatiran itu, karena bagaimanapun, ia belum pernah merasakannya. Ia ingin merasakannya lebih lama lagi, sebelum ia akhirnya terbangun dan harus menjalani rutinitas pekerjaannya. Allea tahu apa yang dialaminya hanya mimpi.</p>
<p style="text-align:justify;">Mimpi itu berulang keesokan harinya. Setelah terapung di tengah laut entah di mana, di kejauhan Allea melihat sebuah pulau kecil dengan sebuah pohon kelapa di tengahnya, persis seperti sebuah foto wallpaper di laptopnya. Ia berenang menuju ke pulau itu. Di sana ia disambut oleh dua orang bocah laki-laki bertelanjang dada berkulit coklat terbakar matahari. Kedua bocah itu masing-masing menggandeng tangan Allea dan mengajaknya berlarian mengelilingi pulau.</p>
<p style="text-align:justify;">“Siapakah kalian? Kenapa kalian ada di pulau ini?” tanya Allea. Kedua bocah itu menjawab hampir bersamaan. “Kami ada di sini, karena kami tahu kau akan ke pulau ini. Kami adalah anak-anak yang kelak akan kau lahirkan dari rahimmu.”</p>
<p style="text-align:justify;">Allea terkejut, lalu tersenyum menatap wajah kedua bocah itu bergantian. Ia sadar suatu ketika ia akan menjadi ibu. Ia sadar suatu ketika rahimnya akan mengandung benih kehidupan. Namun, ia tidak tahu, siapakah yang akan menjadi ayah dari kedua bocah itu. Setidaknya, ia belum tahu. Perasaan bahagia meluap-luap di dada Allea. Ia selalu mendambakan kelak memiliki anak kembar. Setidaknya, dalam mimpi, hal itu pernah terwujud. Allea tergoda untuk menanyakan kepada kedua bocah itu tentang siapakah ayah mereka. Kedua bocah itu mendadak berhenti berlari. Serentak keduanya menunjuk ke satu arah. Di arah itu, matahari baru naik sepenggalah. Tak ada siapa-siapa, hanya ada matahari yang bersinar cerah.</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Di atas tempat tidurnya yang lembut dan empuk Allea mengerjap-kerjapkan matanya memandang langit-langit kamar yang putih bersih tanpa cicak tanpa sarang laba-laba. Itulah tempat pertama yang selalu ia pandangi lama sesaat setelah ia membuka mata di pagi hari. Tempat kedua yang selalu ia pandangi adalah laut yang terbingkai di jendela kamarnya. Sesaat setelah memandangi laut dan menghirup udara segarnya, ia melangkah keluar kamar menuju teras belakang. Di kejauhan, semburat cahaya jingga keemasan melukis cakrawala timur. Bercak-bercak jingganya memantul di dinding gedung-gedung.  Matahari perlahan muncul.</p>
<p style="text-align:justify;">“Selamat pagi, matahari. Aku akan menunggumu membawakan matahariku,” bisiknya pelan.</p>
<p style="text-align:justify;">Jatinangor, 5 November 2009</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/661/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/661/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/661/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/661/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/661/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/661/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/661/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/661/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/661/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/661/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=661&subd=jalaindra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2009/11/05/jendela-laut-allea/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/11/morning_sunshine1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">morning_sunshine</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Magician’s Elephant &#8211; Kate DiCamillo</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/28/the-magician%e2%80%99s-elephant-kate-dicamillo/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/28/the-magician%e2%80%99s-elephant-kate-dicamillo/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 08:05:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=655</guid>
		<description><![CDATA[Judul : The Magician’s Elephant, Gajah Sang Penyihir
Pengarang : Kate DiCamillo
Ilustrasi Oleh Yoko Tanaka
Alih Bahasa : Dini Pandia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : September, 2009
Seberapa besar kepercayaanmu terhadap ramalan? Jika suatu saat kau diberi tahu oleh seorang peramal bahwa seekor unta akan membawamu menemukan harta karun di bawah piramida, padahal hampir tidak mungkin kau akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=655&subd=jalaindra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><a href="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/10/gajah1.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-657" title="gajah" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/10/gajah1.jpg?w=168&#038;h=250" alt="gajah" width="168" height="250" /></a>Judul :<strong> The Magician’s Elephant, Gajah Sang Penyihir</strong><br />
Pengarang : Kate DiCamillo<br />
Ilustrasi Oleh Yoko Tanaka<br />
Alih Bahasa : Dini Pandia<br />
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama<br />
Cetakan : September, 2009</p>
<p style="text-align:justify;">Seberapa besar kepercayaanmu terhadap ramalan? Jika suatu saat kau diberi tahu oleh seorang peramal bahwa seekor unta akan membawamu menemukan harta karun di bawah piramida, padahal hampir tidak mungkin kau akan bertemu dengan seekor unta karena kau tinggal sangat jauh dari negeri padang pasir, dan hampir tidak mungkin kau akan melihat langsung piramida, apakah kau akan mempercayai sang peramal itu atau menganggap itu hanya sebuah bualan belaka?</p>
<p style="text-align:justify;">Peter Augustus Duchene, adalah seorang anak yatim piatu sepuluh tahun yang tinggal bersama seorang mantan tentara yang sangat tua dan sakit-sakitan di kota Baltese. Vilna Lutz, nama mantan tentara itu, adalah sahabat ayahnya, ia berharap Peter menjadi seorang tentara seperti ayahnya. Maka setiap hari Peter diajari segala hal tentang ketentaraan mulai dari baris berbaris hingga strategi pasukan.<span id="more-655"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu malam, ia disuruh oleh Vilna untuk membeli makanan dan ikan dengan satu-satunya uang koin yang mereka miliki. Bukannya membeli makanan, Peter malah menghabiskan koin itu untuk membayar seorang peramal di alun-alun kota. Peter ingin mengetahui tentang adiknya, Adele, yang menurut Vilna Lutz telah meninggal sesaat setelah dilahirkan. Jawaban sang peramal sungguh membuat peter terkejut. Adiknya masih hidup! Bagaimana Peter bisa menemukannya? Peramal itu menjawab dengan jawaban yang lebih mengejutkan: <em>“Gajah! Gajah itu akan membawamu ke sana!”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana mungkin seekor gajah bisa menjadi petunjuk keberadaan adiknya, sedangkan di kota Baltese, tidak seorang pun yang Peter ketahui pernah melihat seekor gajah!</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, <em>miracle’s happen when you believe</em>. Secara mengejutkan tak jauh dari apartemen tempat peter tinggal, sebuah pertunjukan sihir berbuah bencana. Ketika sang penyihir berniat memunculkan sebuket lili di tengah-tengah pertunjukan untuk menunjukkan kehebatan sihirnya, yang keluar malah seekor gajah yang tiba-tiba jatuh dari atap dan melukai kaki seorang wanita bangsawan, Madam La Vaughn sehingga ia tidak bisa menggunakan kakinya lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Peristiwa itu membuat Peter meyakini perkataan peramal bahwa adiknya masih hidup. Peristiwa demi peristiwa yang terjadi selanjutnya membuat Peter yakin bahwa sang Gajah akan benar-benar mengantarkannya untuk menemukan adiknya.</p>
<p style="text-align:justify;">The Magician’s Elephant adalah buku cerita anak terbaru yang ditulis oleh Kate DiCamillo, penulis cerita anak yang telah banyak mendapatkan penghargaan untuk karya-karya cerita anaknya. Cerita-cerita anaknya antara lain: <em>The Tiger Rising</em> (2001), <em>The Tale of Despereaux</em> (2003) dan <em>The Miraculous Journey of Edward Tulane</em> (2006).</p>
<p style="text-align:justify;">Berlatar kota khayalan bernama Baltese yang bernuansa suram dengan kedinginan musim saljunya, The Magician Elephant adalah kisah tentang harapan dan keajaiban, dan bagaimana seorang anak mampu memelihara dan meyakini harapannya. Kisah Peter dalam menemukan adiknya adalah perlambang bahwa siapapun berhak untuk mengejar harapannya, tak peduli seberapapun mustahilnya harapan tersebut, karena selalu terbuka kemungkinan keajaiban untuk terjadi. Dan siapapun tak berhak menghalangi seseorang untuk mengejar harapannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti halnya sang penyihir yang dengan sekuat sihirnya ingin menunjukkan kehebatannya dengan memunculkan sebuket lili tapi yang muncul malah seekor gajah yang jauh lebih memukau dari pada sebuket lili, seperti itulah kekuatan keyakinan yang bisa jadi akan memunculkan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang diharapkan. Buku ini sangat menarik dan menghibur untuk dibaca, sekedar untuk mengingatkan kembali bahwa selalu ada sosok anak kecil dalam diri kita yang imaginasinya tak bisa dan tak ingin dibatasi.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;"><strong>Adi Toha</strong><br />
Pendongeng dan pecinta dongeng</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/655/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=655&subd=jalaindra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/28/the-magician%e2%80%99s-elephant-kate-dicamillo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/10/gajah1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gajah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The History of Love &#8211; Nicole Krauss</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/23/the-history-of-love-nicole-krauss/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/23/the-history-of-love-nicole-krauss/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 14:57:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=646</guid>
		<description><![CDATA[1. Cinta dan Kehilangan
Pada suatu masa kau pernah mencintai seseorang dan seseorang itu mencintaimu. Cintanya kepadamu membuatmu berjanji tidak akan pernah mencintai seseorang yang lain sepanjang hidupmu. Pada suatu masa seseorang yang kau cintai itu pergi ke negeri yang jauh. Berhari, berminggu bertahun tanpa kabar. Lalu kau menulis surat-surat untuknya namun kau tak yakin surat-surat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=646&subd=jalaindra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>1. Cinta dan Kehilangan</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/10/the-history-of-love.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-647" title="The history of love" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/10/the-history-of-love.jpg?w=150&#038;h=200" alt="The history of love" width="150" height="200" /></a>Pada suatu masa kau pernah mencintai seseorang dan seseorang itu mencintaimu. Cintanya kepadamu membuatmu berjanji tidak akan pernah mencintai seseorang yang lain sepanjang hidupmu. Pada suatu masa seseorang yang kau cintai itu pergi ke negeri yang jauh. Berhari, berminggu bertahun tanpa kabar. Lalu kau menulis surat-surat untuknya namun kau tak yakin surat-surat itu akan sampai. Pada suatu masa kau bertekad akan menyusul seseorang itu, dengan cara apapun kau akan menemuinya. Pada suatu masa setelah bertahun-tahun menjalani perjalanan panjang dan berat, sampai harus bertaruh nyawa dengan maut, kau berhasil menemuinya. Cintanya kepadamu masih seperti dulu, tapi ia tidak bisa ikut bersamamu karena ia telah menikah dengan orang lain dan memiliki anak. Pada suatu masa kau menepati janji yang pernah kau ucapkan untuk tidak akan mencintai orang lain sepanjang hidupmu. Pada suatu masa akhirnya pergi dan menghilang, bertahan hidup sendiri dengan kenangan-kenangan manis dan cintamu kepadanya.<span id="more-646"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Lelaki Tua Tukang Kunci</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Leo Gursky adalah seorang lelaki tua tukang kunci. Ia tinggal di sebuah apartemen di New York. Setelah beberapa puluh tahun berusaha menjalani hidup tanpa menarik perhatian orang lain, pada umur 80 tahun ia merasakan ketakutan akan kematian. Ketakutan terbesarnya adalah mengalami kematian saat tidak ada seorang pun yang melihat dan memperhatikannya. Maka ia mencoba menarik perhatian orang-orang agar orang-orang mengingatnya. Ia sengaja menjatuhkan uang-uang receh dari kantongnya di sebuah toko, ia menjadi model telanjang untuk sebuah kelas melukis, dan hal-hal kecil yang membuat ia bisa dilihat orang. Meski Leo bukan pengarang, ia sangat pandai menulis cerita. Pada umur dua puluh tahun, ia pernah menulis sebuah naskah yang tidak pernah diterbitkannya, bahkan tidak pernah dibaca oleh orang lain. Naskah itu ia tulis sebagai kenangan cintanya untuk Alma Mereminski, satu-satunya gadis yang dicintainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Leo berasal dari Slonim, Polandia. Ia selamat dari pembantaian pasukan Nazi dan berhasil lari ke New York menyusul Alma yang terlebih dahulu diberangkatkan oleh ayahnya ke New York. Leo pernah berjanji akan menyusul Alma. Maka ketika ia telah sampai di New York, ia segera mencari alamat Alma untuk menemuinya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. Alma Singer</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Alma, begitulah namanya. Ia seorang gadis empat belas tahun yang bercita-cita menjadi seorang naturalis dan bisa bertahan hidup di alam liar. Oleh ibunya, ia diberi nama sesuai dengan nama setiap gadis dalam buku “The History of Love” pemberian ayahnya kepadanya. Ayahnya meninggal ketika Alma berumur tujuh tahun. Ibunya tak pernah berhenti mencintai ayahnya, sehingga ia menolak setiap lelaki yang ingin berkencan dengannya. Untuk mengambarkan tentang perasaan ibunya terhadap ayahnya, Alma mengutip perkataan pelukis dan pematung Alberto Giacometti yang pernah diceritakan oleh pamannya kepadanya, “kadang-kadang untuk sekedar melukis kepala, keseluruhan tubuh mesti dikorbankan. Untuk melukis daun, keseluruhan lanskapnya harus dienyahkan. Mulanya memang kau seakan-akan membatasi diri dengan cara itu, tapi setelah beberapa waktu kau menyadari bahwa cukup dengan memiliki seperempat inci sesuatu, kaulebih punya kemungkinan mempertahankan perasaan tertentu akan alam semesta, disbanding kalau kau pura-pura melukis keseluruhan langit.” Dan ibunya telah memilih ayahnya, dan demi mempertahankan perasaan itu, dia mengenyahkan seluruh dunia dan tenggelam di balik kamus-kamus. Ibunya seorang penerjemah buku.</p>
<p style="text-align:justify;">Kenangan Alma terhadap ayahnya hanyalah sepotong-sepotong, tidak utuh. Alma hanya mendengar cerita tentang ayahnya dari ibunya. Maka ketika sebuah surat tiba-tiba datang dari seseorang, meminta ibunya untuk menerjemahkan buku “The History of Love” ke dalam bahasa Inggris, Alma seolah menemukan jalan untuk mencari tahu lebih banyak tentang ayahnya. Alma juga berpikir, barangkali dengan mencari tahu tentang ayahnya dari buku itu, ia bisa menemukan orang yang tepat untuk membahagiakan ibunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mulailah Alma menelusuri petunjuk demi petunjuk untuk mencari tahu siapakah sebenarnya Alma dalam buku yang telah menginspirasi kedua orang tuanya untuk menamainya Alma. Dia penasaran, mengapa seseorang dalam surat itu menyuruh ibunya untuk menerjemahkan buku itu semata-mata demi keperluan pribadinya. Seseorang itu mengaku, semasa kecilnya, ibunya pernah membacakan beberapa halaman dari buku “The History Of Love”.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4. The History Of Love – Zvi Litvinoff</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Wanita yang pertama diciptakan mungkin Hawa, tapi gadisku yang pertama tetap Alma.” Demikian salah satu petikan dalam buku The History Of Love. Zvi Litvinoff adalah seorang pengarang tidak cukup dikenal yang melarikan diri dari Polandia ke Chili pada tahun 1941. Satu-satunya karyanya adalah buku “The History Of Love” yang diterbitkan dalam bahasa Spanyol. Sebagaimana pengarangnya, buku itu juga tidak cukup dikenal. Cetakan pertamanya dicetak sebanyak dua ribu eksemplar. Dari dua ribu eksemplar tersebut hanya beberapa yang dibeli dan dibaca orang, namun setidaknya, ada satu copy yang ditakdirkan mengubah kehidupan beberapa orang. Satu copy itu mulanya tersimpan di sebuah gudang lembab di kota Santiago, lalu kemudian dikirim ke sebuah toko buku di Buenos Aires dan selama beberapa tahun tak tersentuh, terselip di antara buku-buku lain yang lebih tebal dan lebih menarik. Ketika toko buku itu berganti pemilik, buku itu kembali tersimpan di gudang yang lebih jorok dari sebelumnya, sebelum akhirnya dikirim ke sebuah toko buku bekas kecil di dekat rumah Jorge Luis Borges.</p>
<p style="text-align:justify;">Si pemilik toko buku bekas itu menyisihkah buku itu dan membacanya ketika tokonya sedang sepi. Setelah menyelesaikan membaca buku itu di sela-sela kesibukan melayani pembeli, ia tahu bahwa buku itu sangat berharga. Kemudian ia menaruh buku itu di jendela toko, namun tidak berusaha menarik perhatian para pengunjung tokonya terhadap buku itu. Ia tahu, di tangan yang salah, buku itu akan menjadi sia-sia. Maka dibirkannya buku itu di tempatnya, berharap pembaca yang tepat akan menemukannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan pada suatu siang, seorang pemuda jangkung berasal dari Israel yang baru saja menyelesaikan wajib militernya dan tengah berkelana di Amerika Selatan selama beberapa bulan mengambil buku itu dan membelinya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5. Zvi Litvinoff</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 1941 ia melarikan diri dari Polandia ke Chile untuk menghindari pembunuhan besar-besaran oleh pasukan Nazi. Tidak banyak informasi yang diketahui oleh publik selain kata pengantar yang dituliskan oleh istrinya Rosa Litvinoff di cetakan kedua buku “The History of Love” yang diterbitkan setelah kematian Zvi Litvinoff. Satu-satunya karya yang pernah diterbitkannya adalah buku “The History of Love” yang ia salin dari bahasa Yiddish ke bahasa Spanyol dari sebuah naskah tulisan tangan milik temannya. Mengira bahwa temannya itu telah meninggal dalam pembantaian, ia menerbitkan naskah itu atas namanya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>6. Anak Yang Tidak Pernah Tahu Siapa Ayahnya</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu masa seorang gadis terpaksa pergi dari Polandia ke Amerika. Beberapa minggu setelah kedatangannya, ia mengetahui bahwa ia mengandung janin hasil percintaannya dengan lelaki yang dicintainya semenjak kecil. Laki-laki itu telah berjanji kepadanya tidak akan mencintai gadis lain selain dirinya. Pada suatu masa ia mendapat kabar bahwa telah terjadi pembantaian besar-besar di kampung halamannya, tempat lelaki yang dicintainya tinggal. Ia mengira, lelaki yang dicintai ikut menjadi korban pembantaian. Setelah melahirkan seorang bayi laki-laki, ia menikah dengan seorang lelaki lain. Bayi laki-laki itu diberi nama Isaac Moritz. Setelah dewasa, ia menjadi seorang pengarang terkenal di Amerika. Salah satu bukunya berjudul The Remedy. Ia tidak tahu, jika ayah kandungnya selalu mengikuti perkembangan dirinya, termasuk karier kepenulisannya. Ia tidak tahu jika ayahnya selalu menyimpan foto-foto dan berita tentang dirinya. Ia tidak tahu, bakat kepengarangannya diwarisi dari ayahnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>7. The History Of Love – Nicole Krauss</strong></p>
<p style="text-align:justify;">The History of Love adalah novel di dalam novel dengan kisah yang kompleks dengan alur yang berpindah-pindah antara masa kini dan masa lalu serta dinarasikan oleh beberapa narator. Narator utama adalah Leo Gursky dan Alma Singer. Pada satu bagian, Leo menarasikan hari-hari tuanya di apartement bersama Bruno, tetangganya yang juga teman masa kecilnya di Polandia, ketakutannya akan kematian, dan kenangannya akan Alma. Pada bagian lain, Alma menarasikan kehidupannya bersama ibu dan adik laki-lakinya, Bird; tentang kehilangan dan kesedihannya sepeninggal ayahnya, dan tingkah aneh adiknya. Dan pada bagian lain, adalah narasi oleh narator tentang Zvi Litfinoff dan beberapa kutipan dari buku misterius itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Alur yang bergerak maju mundur dan sudut pandang yang berubah-ubah dari satu tokoh ke tokoh lain membuat buku ini menarik, menghibur dan menantang untuk diikuti. Membacanya seakan tengah berjalan menyusuri labirin demi labirin misteri tentang buku misterius The History Of Love, labirin kehidupan dan kesepian Leo dan semangat hidup dan pencarian Alma muda. Pengarang berhasil menghidupkan tokoh-tokoh dalam novel ini terasa begitu dekat dan memorable.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana layaknya sebuah kisah misteri, petunjuk demi petunjuk mulai terbuka seiring berjalan alur mendekati halaman terakhir. Namun lantas tidak menjadikan buku ini sekedar cerita misteri. Di dalamnya akan banyak ditemukan filosofi indah tentang hubungan antar manusia, tentang cinta, kehilangan dan kematian. Pengarang berhasil menyatukan kepingan-kepingan kisah dari masing-masing tokohnya menjadi sebuah kisah yang utuh, menyentuh, mengharukan sekaligus mengundang tawa, karena tidak jarang terselip humor-humor yang cerdas dan menyegarkan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>7. Suami-Istri Pengarang</strong></p>
<p style="text-align:justify;">The History of Love yang terbit pada tahun 2005 adalah karya kedua Nicole Krauss. Karya sebelumnya adalah novel berjudul Man Walks into a Room yang terbit pada tahun 2002. Di tahun yang sama, Jonathan Safran Foer yang kemudian menjadi suaminya, menerbitkan Everything Is Illuminated. Nicole Krauss dan Jonathan safran Foer menikah pada tahun 2004. Di tahun 2005, bersamaan dengan terbitnya The History Of Love, Jonathan Safran Foer menerbitkan novel berjudul Extremely Loud and Incredibly Close. Untuk lulus dari Oxford University Nicole Krauss menulis tesis tentang seniman Amerika Joseph Cornell, sementara Foer pada tahun 2001 mengedit sebuah buku antologi yang terinpirasi dari karya-karya Josep Cornell. Sebuah kebetulan kah? Bagaimana pun juga, keduanya adalah pasangan pengarang yang cemerlang, yang karya-karyanya diakui oleh dunia.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>8. Novel di Dalam Novel</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Novel di dalam novel, atau fiksi di dalam fiksi adalah salah satu bentuk turunan dari metafiksi. Metafiksi adalah fiksi yang secara langsung atau tidak langsung mengabarkan dirinya sebagai sebuah cerita rekaan. Novel atau karya fiksi yang termasuk ke dalam bentuk metafiksi di antaranya sebagai berikut:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li style="text-align:justify;"> Fiksi tentang seorang pengarang dalam membuat cerita.</li>
<li style="text-align:justify;"> Fiksi tentang seorang pembaca membaca sebuah novel.</li>
<li style="text-align:justify;"> Fiksi di dalam fiksi, atau novel di dalam novel.</li>
<li style="text-align:justify;"> Fiksi yang di dalamnya narator menunjukkan dirinya sebagai pengarang cerita.</li>
<li style="text-align:justify;"> Fiksi yang mengajak pembaca untuk berinteraksi secara langsung dengan cerita.</li>
<li style="text-align:justify;"> Fiksi non-linear yang bisa dibaca dalam urutan apapun, tidak harus dari awal sampai akhir.</li>
<li style="text-align:justify;"> Fiksi yang di dalamnya terdapat catatan kaki yang alih-alih hanya mengomentari, melanjutkan ceritanya sendiri.</li>
<li style="text-align:justify;"> Fiksi yang di dalamnya pengarang juga termasuk dalam tokoh cerita.</li>
<li style="text-align:justify;"> Fiksi yang memiliki latar, waktu dan karakter yang paralel dengan karya fiksi sebelumnya baik dari pengarang yang sama maupun pengarang yang berbeda, tetapi diceritakan dalam perspektif yang berbeda.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Buku The History of Love karya Zvi Litvinoff tentu saja adalah <em>Fictional book within fictional work. </em>Tidak usah bersusah payah mencari siapakah Zvi Litvinoff, sang pengarang buku tersebut dari sumber lain selain The History of Love karya Nicole Krauss.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>9. Kesetiaan dan Keteguhan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Terlepas dari teknik penulisan Krauss yang lain dengan novel pada umumnya, novel ini memang membicarakan tentang cinta. Seberapa besar penghargaan dan penilaian manusia terhadap cinta. Seberapa teguh manusia dalam memenuhi janjinya. Meskipun seumur hidupnya Leo Gursky hidup sendiri dan menjadi pecundang dengan menghilang dari publik dan keramaian, dia tetap adalah seorang pemenang. Ia telah memenuhi janjinya kepada Alma Mereminsky untuk tidak mencintai gadis lain sepanjang hidupnya dan bertahan hidup dengan kenangan indah dan cintanya kepada Alma, satu-satunya gadis yang dicintainya. Charlotte Singer, ibu Alma, adalah sosok istri yang setia menjaga cintanya kepada suaminya meskipun suaminya telah meninggal. Ia tenggelam dalam kesibukannya menerjemahkan buku-buku dan tidak berniat untuk mencari pengganti suaminya. Suaminya akan selalu hidup dalam ingatannya. Rosa Litvinoff, adalah sosok istri yang menerima dan memaafkan apa adanya suaminya meskipun ia tahu sebuah kebenaran yang selama ini disembunyikan oleh suaminya yang tak pernah dikatakannya sampai suaminya meninggal. Kebenaran yang jika diungkap akan menjatuhkan nama baik dirinya dan suaminya di mata orang-orang.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>10. Leo dan Alma</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Pada suatu masa ada seorang anak laki-laki yang mencintai seorang anak perempuan, suara tawa si anak perempuan adalah pertanyaan yang seumur hidup ingin dijawab oleh si anak lelaki. Ketika mereka berumur sepuluh, si anak lelaki meminta si anak perempuan menikah dengannya. Ketika mereka berumur sebelas, dia mencium si anak perempuan untuk pertama kali. Ketika mereka berumur tiga belas, mereka bertengkar dan selama tiga minggu tidak saling bicara. Ketika mereka berumur lima belas, si anak perempuan menunjukkan padanya bekas luka di payudara kirinya. Cinta mereka adalah rahasia yang tidak mereka bagikan pada siapapun. Si anak lelaki berjanji takkan pernah mencintai gadis lain sepanjang hidupnya.&#8221;</em> (The History Of Love)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>11. Sebelas</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>… bersyukur karena dunia ini telah dengan sengaja menciptakan pemisahan-pemisahan, dengan maksud agar kita bisa mengatasinya, agar kita bisa merasakan suka cita sebuah kedekatan, meski jauh di dalam kita tak pernah bisa melupakan kesedihan akibat perbedaan-perbedaan yang tak terseberangi antara kita. </em>(The History of Love)<br />
<em><strong></strong></em></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><br />
Catatan :</strong></em><br />
Sengaja saya menggunakan penomoran dalam penulisan ulasan ini, mengikuti cara Alma dalam menceritakan kisahnya dalam buku ini.</p>
</blockquote>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/646/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=646&subd=jalaindra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/23/the-history-of-love-nicole-krauss/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/10/the-history-of-love.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">The history of love</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seperti Laut</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/22/seperti-laut/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/22/seperti-laut/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 10:33:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=642</guid>
		<description><![CDATA[seperti laut yang selalu merindukan cumbuan camar di setiap gelombangnya
sedihkah ia ketika camar melayang meninggi mengangkasa
sementara ia tahu, akan ada satu masa saat camar menghidu bebuihnya
seperti laut yang selalu merindukan puncak gunung yang pernah berada di kedalaman pelukannya
sedihkah ia ketika puncak itu kini menjulang tinggi di kejauhan tak tersentuh
sementara ia tahu, tangis dari sungai-sungainya selalu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=642&subd=jalaindra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/10/gadiskecildanlaut.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-643" title="GadisKecildanLaut" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/10/gadiskecildanlaut.jpg?w=300&#038;h=225" alt="GadisKecildanLaut" width="300" height="225" /></a>seperti laut yang selalu merindukan cumbuan camar di setiap gelombangnya<br />
sedihkah ia ketika camar melayang meninggi mengangkasa<br />
sementara ia tahu, akan ada satu masa saat camar menghidu bebuihnya</p>
<p>seperti laut yang selalu merindukan puncak gunung yang pernah berada di kedalaman pelukannya<br />
sedihkah ia ketika puncak itu kini menjulang tinggi di kejauhan tak tersentuh<br />
sementara ia tahu, tangis dari sungai-sungainya selalu berujung di muaranya</p>
<p>seperti laut tabah melepas segala kepergian<br />
seperti laut setia menanti segala kepulangan<br />
seperti rindu dan cintaku tukmu</p>
<p><em>221009</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/642/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=642&subd=jalaindra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/22/seperti-laut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/10/gadiskecildanlaut.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">GadisKecildanLaut</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>[Refleksi] Laron</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/18/refleksi-laron/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/18/refleksi-laron/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 15:08:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=636</guid>
		<description><![CDATA[Berawal dari obrolan ringan di sebuah sore berteman segelas kopi di Ngeumong Cafe Library, tentang laron, saya jadi teringat sebuah puisi pendek yang pernah saya tulis tentang Laron atau Siraru dalam basa sundanya.
Siraru
iring-iringan di mulut lubang
melepas kepergian prajurit ke medan perang
empat sayap rapuh menjadi senjata
terbang memburu cahaya
Ya, laron. Kebanyakan mungkin hanya melihat laron ketika mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=636&subd=jalaindra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Berawal dari obrolan ringan di sebuah sore berteman segelas kopi di Ngeumong Cafe Library, tentang laron, saya jadi teringat sebuah puisi pendek yang pernah saya tulis tentang Laron atau Siraru dalam basa sundanya.</p>
<p><em><strong>Siraru</strong></p>
<p>iring-iringan di mulut lubang<br />
melepas kepergian prajurit ke medan perang<br />
empat sayap rapuh menjadi senjata<br />
terbang memburu cahaya</em></p>
<p>Ya, laron. Kebanyakan mungkin hanya melihat laron ketika mereka beterbangan di malam hari musim hujan mengerumuni cahaya. Pernahkah kalian melihat bagaimana laron-laron keluar dari lubang-lubang di dalam tanah? Terutama ketika pagi selepas hujan semalam sebelumnya? Ya, dari lubang-lubang basah di dalam tanah, laron-laron itu keluar, diiringi atau dikawal oleh berpuluh-puluh rayap kepala putih dan rayap kepala merah. Satu persatu laron-laron itu muncul, mengembangkan sayap dan terbang.</p>
<p><span id="more-636"></span>Saya jadi teringat masa-masa kecil di desa. Pagi buta awal musim hujan ketika membuka pintu rumah dan melihat laron-laron beterbangan, adalah sebuah perayaan tersendiri. Udara pagi yang basah dan segar, dipadu dengan burung-burung  dan kelelawar yang terbang rendah menyambar laron-laron, adalah sebuah pemandangan yang menyenangkan. Seketika saya mengambil plastik dan bergegas ke kuburan kecil di belakang rumah, dari sanalah, dari beberapa lubang di bawah rimbun pohon bambu, laron-laron itu keluar. Jadi saya tidak perlu bersusah payah untuk menangkap laron-laron yang beterbangan, cukup duduk jongkok menunggui lubang-lubang itu, dan langsung menangkap laron-laron yang baru beberapa detik menikmati cahaya itu sebelum mereka terbang. Tentu saja, kadang ujung jari diserang oleh prajurit pengiring keluarnya laron-laron itu, mereka berujud rayap kepala dengan kepala merah besar yang mengigit dengan capit besar di kepalanya. Dalam bahasa kampung, mahluk itu dernama Gonteng. Gigitan gonteng cukup menyakitkan.</p>
<p>Cukup jahat memang. Laron-laron itu telah bersusah payah hidup dalam kegelapan tanah, dan ketika melihat cahaya, bahkan belum sempat mencoba menggerakkan sayap rapuh mereka, nasib mereka langsung berakhir terperangkap di dalam plastik dan selanjutnya menjadi pakan ayam atau umpan memancing. Tetapi, mereka yang lolos dari tangkapan dan berhasil terbang pun nasibnya tidak akan lama. Mereka akan menjadi makanan burung-burung Sriti dan kelelawar kesiangan. Saya jadi berpikir, iring-iringan rayap yang menyertai keluarnya laron-laron dari lubang-lubang di permukaan tanah, apakah itu iring-iringan merayakan kelahiran ataukah perayaan kematian? Apakah laron-laron itu tahu, sesaat setelah mereka keluar dari kedalaman tanah, mereka harus berjuang mempertahankan hidup, dari tangan-tangan manusia seperti saya, dari paruh-paruh ayam, dari paruh burung-burung, dan dari mulut-mulut cicak dan kadal? Apakah mereka tahu, setelah mereka melihat cahaya, dalam sekejap, mungkin paling lama satu hari, mereka akan kembali menemui kegelapan total: kematian?</p>
<p>Iring-iringan di mulut lubang itu adalah perayaan kelahiran sekaligus kematian bagi laron-laron. Barangkali mereka telah tahu, sesaat setelah mereka menikmati cahaya, waktu hidup mereka tidak akan lama. Seperti iring-iringan prajurit ke medan perang yang tak ada harapan untuk menang. Tetapi mereka tetap berani maju ke medan perang. Setahu saya, saya tidak pernah melihat seekor laron yang ketika telah keluar dari lubang, mengepakkan sayap sejenak, lalu mereka msuk lagi ke dalam lubang. Sekali keluar dari lubang, mereka telah siap menghadapi kematian.</p>
<p>Ya, laron. Masa hidupnya hanya singkat. Dari dalam kegelapan tanah mereka bertapa, dan menjemput maut seketika, sesaat setelah mereka menikmati apa yang menjadi tujuan hidupnya: cahaya. Mungkin, satu-satunya harapan mereka adalah bisa menikmati cahaya lebih lama, dan bermain-main dengan keempat sayap rapuh mereka, sebelum akhirnya satu-persatu sayapnya rapuh dan luruh.</p>
<p>Seperti itukah kita? Seperti laron. Hidup untuk menjemput maut seketika? Mungkin saat ini kita sedang bermain-main dengan sayap-sayap rapuh kita, bermain-main dengan cahaya, dan berharap kita bisa bermain lebih lama? Kita yang dilahirkan dengan iring-iringan tangis dan harapan orang-orang terdekat kita, kita yang telah lama bertapa di kegelapan rahim ibunda, seperti laron yang bertapa di kegelapan tanah. Dan ketika terlahir, kita begitu rapuh. Mungkin laron justru lebih hebat dari kita, begitu keluar dari dalam tanah, mereka sempat mengembangkan sayap mereka, tapi kita? hanya bisa menangis. Ya, kita lebih rapuh daripada laron.</p>
<p>Ya, laron. Laron-laron itu tengah bermain dengan cahaya, bermain dengan sayap-sayap rapuhnya, menunggu maut menjemput. Jika beruntung, mereka bisa bertahan hingga malam, menikmati cahaya lampu di teras-teras rumah, di pinggir-pinggir jalan, di dalam kamar. Itupun mereka harus berjuang melawan cicak-cicak dan tokek-tokek di dinding ketika mereka istirahat dan hinggap. Dan mereka harus melawan kelelawar ketika mereka terbang. Ya, mungkin kita lah laron yang tengah bermain-main dengan sayap rapuh kita, mencumbui cahaya, cahaya kehidupan kita.</p>
<p>Seperti laron, seperti kita&#8230;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/636/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/636/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/636/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/636/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/636/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/636/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/636/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/636/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/636/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/636/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=636&subd=jalaindra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/18/refleksi-laron/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tak Henti Menujumu</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/10/tak-henti-menujumu/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/10/tak-henti-menujumu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Oct 2009 02:24:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=632</guid>
		<description><![CDATA[ada yang mengintai di setiap luka kita
mata belati diasah di balik dinding angkuh
bersiap mencacah setiap celah harapan
tak hendak menyisakan apapun
selain genang dan bercak darah
dua hati terkapar di lantai mimpi
ada yang tertawa di setiap tangis kita
temali perangkap telah siap di sepanjang jalan
bersiap menjerat setiap langkah lengah
tak ingin melihat kita sampai
berharap kita terjebak di satu perangkap
dan menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=632&subd=jalaindra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>ada yang mengintai di setiap luka kita<img class="alignright" src="http://elieruby.files.wordpress.com/2009/07/horizon.jpg?w=329&#038;h=219" alt="" width="329" height="219" /><br />
mata belati diasah di balik dinding angkuh<br />
bersiap mencacah setiap celah harapan<br />
tak hendak menyisakan apapun<br />
selain genang dan bercak darah<br />
dua hati terkapar di lantai mimpi</p>
<p>ada yang tertawa di setiap tangis kita<br />
temali perangkap telah siap di sepanjang jalan<br />
bersiap menjerat setiap langkah lengah<br />
tak ingin melihat kita sampai<br />
berharap kita terjebak di satu perangkap<br />
dan menjadi mangsa serigala-serigala lapar<br />
atau membusuk dimusnah belatung</p>
<p><span id="more-632"></span>tapi bukankah mereka bukan siapa-siapa?<br />
kita terlalu kuat untuk takluk dalam sesaat<br />
peta mimpi telah kita gurat di setiap tapak kaki<br />
luka tangis kita jadikan bekal perjalanan<br />
bukankah dari tangis dan luka itu kita menjadi satu<br />
seperti satunya tangis dan air mata<br />
seperti satunya sakit dan luka</p>
<p>bukankah kita adalah sepasang pengembara<br />
telah lama kita jelajahi lika liku jalan<br />
duri perangkap telah kita akrabi<br />
di ujung senja, mimpi kita menunggu<br />
bukankah sepanjang jalan kita telah satu<br />
seperti satunya pandang dan mata<br />
seperti satunya langkah dan kaki</p>
<p>:dan jalanku menujumu takkan pernah terhenti</p>
<p><em>101009</em></p>
<h6 style="text-align:right;"><em>gambar di ambil dari <a href="http://elieruby.files.wordpress.com/2009/07/horizon.jpg" target="_blank">sini</a><br />
</em></h6>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/632/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/632/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/632/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/632/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/632/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/632/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=632&subd=jalaindra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/10/tak-henti-menujumu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://elieruby.files.wordpress.com/2009/07/horizon.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Percakapan Sederhana Suatu Ketika Tentang Hujan</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/09/percakapan-sederhana-suatu-ketika-tentang-hujan/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/09/percakapan-sederhana-suatu-ketika-tentang-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 14:40:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=628</guid>
		<description><![CDATA[Sore saat lelah mencapai puncakmu, kau membuka korden ruang kerjamu, termenung membayangkan saat itu kau tengah duduk di samping orang yang sangat kau cintai, bersama-sama memandang hujan, hujan yang tetes demi tetes airnya seperti cinta yang setiap saat menetesi hati dengan kerinduan. Seperti katamu, kau sangat hujan, hujan memiliki bahasa yang sangat indah, halus, diiringi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=628&subd=jalaindra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><em><img class="alignright" title="hujan" src="http://whenshelovedme.files.wordpress.com/2008/07/2199597734_d591a2176b3.jpg?w=253&#038;h=206" alt="" width="253" height="206" /></em>Sore saat lelah mencapai puncakmu, kau membuka korden ruang kerjamu, termenung membayangkan saat itu kau tengah duduk di samping orang yang sangat kau cintai, bersama-sama memandang hujan, hujan yang tetes demi tetes airnya seperti cinta yang setiap saat menetesi hati dengan kerinduan. Seperti katamu, kau sangat hujan, hujan memiliki bahasa yang sangat indah, halus, diiringi dengan ritme yang teratur dan berulang.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti rindu, seperti hujan, seperti cintaku kepadamu, ada bahasa yang tak bisa diwakilkan oleh kata, halus, indah, berulang dan tak lelah membasahi tanah, mengalirkan titik-titik airnya, menyatu bermuara di dasar hatimu. Hujan yang tercipta karena tetes demi tetes itu menyatu, seperti halnya cinta yang keping demi kepingnya menyatu menjadi sebentuk ruang bahagia.<span id="more-628"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dan kau katakan, “cinta, rindu, cemas, aku menemukan arti semua itu di dirimu, kak.” Seperti halnya yang aku temukan di dirimu, kejora. Aku yakin akan ada saat di mana kita bersama, saling bergenggam tangan, memandang hujan, menyatukan cinta kita.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku pernah merindukanmu, mencemaskanmu melebihi segala yang kau tahu, dan dari sana aku menemukan cinta yang begitu dalam tertanam di lubuk hatiku padamu. Aku pernah menangis karena merindukanmu, aku pernah menangis karena mencemaskanmu, tapi aku tersenyum saat aku tahu, kau ada di hatiku.”</p>
<p style="text-align:justify;">Kau tahu, akupun pernah merasakan yang sama saat merindukanmu, saat mencemaskanmu. Kadang aku tak kuasa menahan air mata mengalirkan kerinduan dan kecemasanku memikirkanmu. Dan aku pun tersenyum saat aku sapa hatiku, dan kau ada di sana, tulus mencintaiku. Aku mencintaimu, setiap saat berharap ada di sampingmu.</p>
<p style="text-align:justify;">Hujan belum juga berhenti, sengaja kau tak menutup korden jendela, hingga kau bisa mendengar dengan jelas suara hujan. Apakah kau juga mendengar bisikan rindu dan cintaku di sana, kejora?</p>
<p style="text-align:justify;">Dan kita berharap hujan akan mengiringi pertemuan kita nanti, semoga hujan bermurah hati dan saat itu ia akan menyatukan kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti hujan, seperti rindu, seperti cintaku kepadamu.</p>
<p style="text-align:justify;">…</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Dan hujan benar-benar mengiringi pertemuan kita, meski kita hanya bisa memandanginya dari balik kaca jendela mobil yang terus melaju di sepanjang jalan itu, namun hembus dinginnya hangat menyusup ke dalam hati kita.. yang satu. Kita benar-benar saling bergenggam tangan, menatap hujan yang sama&#8230;&#8221;</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<h6 style="text-align:right;">*gambar diambil dari <a href="http://whenshelovedme.files.wordpress.com/2008/07/2199597734_d591a2176b3.jpg" target="_blank">sini</a></h6>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/628/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=628&subd=jalaindra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/09/percakapan-sederhana-suatu-ketika-tentang-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://whenshelovedme.files.wordpress.com/2008/07/2199597734_d591a2176b3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hujan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masihkah Hujan</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/09/masihkah-hujan/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/09/masihkah-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 07:05:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=624</guid>
		<description><![CDATA[Hujan
separuh nafas mendadak hilang
tercekat rindu dirajam waktu
masihkah hujan menjadi penghantar rindu kta
masihkah tetes-tetes airnya adalah bisikan cinta
masihkah basahnya adalah basah kecupan-kecupan kita
masihkah hangatnya adalah hangat pelukan-pelukan kita
Hujan
separuh hati terisak
merintih perih terpatri jarak
masihkah hembus dinginnya adalah pintu
pintuku menujumu. jendelamu menujuku
masihkah butir-butirnya adalah air mata rindu kita
masihkah titik-titiknya adalah janji sungai pada muara
Hujan
masihkah hujan kita yang dulu?
 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=624&subd=jalaindra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Hujan<a href="http://mataharikejora.files.wordpress.com/2009/07/1243293356-hr-165.jpg?w=240&amp;h=357"><img class="alignright" title="hujan" src="http://mataharikejora.files.wordpress.com/2009/07/1243293356-hr-165.jpg?w=204&amp;h=357&#038;h=304" alt="" width="204" height="304" /></a><br />
separuh nafas mendadak hilang<br />
tercekat rindu dirajam waktu<br />
masihkah hujan menjadi penghantar rindu kta<br />
masihkah tetes-tetes airnya adalah bisikan cinta<br />
masihkah basahnya adalah basah kecupan-kecupan kita<br />
masihkah hangatnya adalah hangat pelukan-pelukan kita</p>
<p>Hujan<br />
separuh hati terisak<br />
merintih perih terpatri jarak<br />
masihkah hembus dinginnya adalah pintu<br />
pintuku menujumu. jendelamu menujuku<br />
masihkah butir-butirnya adalah air mata rindu kita<br />
masihkah titik-titiknya adalah janji sungai pada muara</p>
<p>Hujan<br />
masihkah hujan kita yang dulu?</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/624/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=624&subd=jalaindra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/09/masihkah-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mataharikejora.files.wordpress.com/2009/07/1243293356-hr-165.jpg?w=240&#38;h=357" medium="image">
			<media:title type="html">hujan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belum</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/09/belum/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/09/belum/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 04:25:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/09/belum/</guid>
		<description><![CDATA[,
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=622&subd=jalaindra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>,</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/622/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=622&subd=jalaindra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/09/belum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>