J A L A I N D R A

jejaring peristiwa – jejaring kata – jejaring imagi – jejaring diri

  • ADI TOHA

    mail : jalaindra@yahoo.com






    PageRank Checking Icon
  • Links For Rent

  • ARSIP

  • RUMAH SINGGAH

  • KUNJUNGAN

    • 56,254 Tamu telah Mabok Di Blog Ini
  • MisCellaNeous

    Click to view my Personality Profile page


    . . .
  • RSS Related Websites

Arsip untuk ‘Uncategorized’ Kategori

Belum

Ditulis oleh jalaindra di/pada Oktober 9, 2009

,

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Sudah

Ditulis oleh jalaindra di/pada Oktober 7, 2009

.

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Lelaki Matahari dan Gadis Kejora – I

Ditulis oleh jalaindra di/pada Agustus 19, 2009

Bergegas lelaki itu melangkah menyusuri sepanjang jalan malioboro pagi yang masih lengang. Pagi baru saja membuka mata saat ia keluar dari sebuah penginapan kecil setelah ia menyerahkan kunci kamar yang dipesannya kepada pemilik penginapan kecil di sudut Sosrowijayan. Beberapa orang yang ditemuinya di jalan yang menanyakan kemanakah tujuannya dan menawarkan jasa tumpangan tak dihiraukannya. Ia sudah tahu kemana ia hendak menuju. Jogja bukanlah sebuah kota yang asing baginya. Beberapa kali lelaki itu mengunjungi kota itu sekedar untuk mengikuti beberapa acara sastra dan budaya, atau sekedar menginap barang semalam sebagai tempat persinggahan perjalanan-perjalanannya. Dan Jogja kali ini akan menjadi sebuah kota saksi. Saksi pertemuannya dengan seorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Seseorang yang adalah hidupnya.

Halte bus transjogja tampak masih sepi, hanya ada dua orang duduk di kursi tunggu dan dua orang petugas halte. “Bandara.” Dengan sangat yakin lelaki itu menjawab saat petugas loket menanyakan arah tujuannya. Ia duduk menunggu bus yang akan mengantarkannya ke bandara dengan perasaan cemas sekaligus bahagia, takut sekaligus berani, bermacam perasaan yang mendekam dalam dadanya bergiliran merasukinya satu persatu. Dan tentu saja, rasa rindu yang semakin membuncah, pada seseorang yang beberapa saat lagi akan segera ditemuinya. Berkali-kali ia melihat penanda jam di ponselnya. Waktu terus berdetak seiring detakan jantungnya yang semakin cepat, hampir sesak nafas ia dibuatnya.

Tak berapa lama bus yang ditunggunya datang. Bergegas ia masuk dan menyandarkan tubuhnya di sebuah kursi di deretan belakang. Ingatannya memutar kembali slide-slide ingatan waktu yang telah lalu dan bayangan waktu yang akan datang. Ingatan dan bayangan melebur tak bisa dibedakan, menyantu dalam satu rangkaian montage. Seperti sebuah thriller, inilah saat di mana sang tokoh utama telah menemukan simpul mati dari semua petunjuk yang telah ditemukan sebelumnya dan bergegas melakukan tindakan akhir untuk memecahkan teka-teki, sementara waktu yang ada telah semakin sempit. Lelaki itu akan berjumpa dengan kekasihnya yang telah ditunggunya sekian lama. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Uncategorized | Bertanda: | 1 Komentar »

11 Puisi di Ulang Tahunmu

Ditulis oleh jalaindra di/pada Mei 2, 2009

1. Langkah Waktu

detik detak yang memutar
seiring langkah waktu yang terus berkejaran
hari-hari yang telah terlewati
peristiwa dan mimpi-mimpi
menjadi pijak kita berdiri di detik ini
pandang jauh ke depan
ada mimpi dan harapan tuk kita taklukkan
dengan segenap doa, sepenuh cinta
akan hari-hari indah yang kan kita jelang
masa depan adalah misteri
dan kita akan membuka lapis demi lapisnya
dengan keyakinan diri

2. Kelahiran

di hari kelahiranmu ke dunia
kuyakin hujan turun saat itu
langit tengah menangis haru
ia kehilangan salah satu bidadari terbaiknya

di hari kehadiranmu di hatiku
hujan pun turun kala itu
langit tengah menyucikan hati kita
dari bening bulir-bulirnya
kita ‘kan berkaca ketulusan cinta

3.  Saat Kelahiran

dari rahim ibumu yang rahimNya kau hadir
dari sehembus ruhNya kau berdetak, tumbuh dan terlahir
ada tawa mengiringi tangis perkenalanmu dengan dunia
butir-butir bening air mata haru dan bahagia
mengalir dari sudut mata ibumu

dalam erangan tertahan doa-doa terselip
dalam desahan lega harapan-harapan terucapkan
semoga kaujalani hidup dengan penuh kebahagiaan
selamat ulang tahun kuucapkan

panjang umur di hari-hari yang kelak kaujelang
(bersamaku)

4. Janji Matahari

adakah yang lebih setia dari matahari
terbit kala pagi
ia sentuhkan jemari-jemari cahayanya
membelai setiap lekuk wajah dunia

pada embun di pucuk dedaun
ia jentikkan butirannya menguap
lalu diembunkannya lagi di waktu senja

adakah yang lebih setia dari matahari
ia hamparkan selimut jingganya
menanda usai sengat terik
lalu dibaringkannya keteduhan malam
dan bulan ia gantungkan menjadi lelampunya

adakah yang lebih setia dari matahari
menanda perputaran hari
tak pernah surut, tak pernah henti

5. Hikayat Sungai

pada awalnya semua adalah satu
pada mulanya semua adalah samudera
gunung-gunung bersemayam di kedalaman birunya

lalu diciptakanlah daratan
barisan gunung tegak di kejauhan
dengan puncak-puncaknya ia memandang lautan

air mata kerinduan gunung mengalir
maka terciptalah sungai-sungai
berkelok-kelok mencari celah ke muara

seperti rinduku
yang selalu mengalir ke samudera cintamu
karena pada mulanya kita adalah satu

6. Biru Kerudungmu

Biru kerudungmu
adalah biru laut sembunyikan elok panoramanya
ada kehidupan yang semarak
ada hamparan dunia beragam warna
inginku menyelami kedalamannya
mencumbu ikan-ikan di hatimu
menyentuh terumbu-terumbu karang di dasarnya
kan kupahat cintaku di sana

Biru kerudungmu
adalah biru langit sembunyikan bebintang
beribu cahaya dari sudut-sudut semesta jiwa
ada yang redup, ada yang benderang
inginku menyusuri setiap kerlipnya
dari ujung cahayanya yang sampai di kedalaman hatiku
kan kusulam kerudung cahaya

7. Mei Yang Engkau

pada bulan yang lima
seperti yang lima di setiap harian kita
kusematkan doa di hari pertambahan usia
tanggallah sudah satu persatu kalender dinding
hari-hari yang telah terlewati
menanda masa yang telah diakhiri

usahlah ada penyesalan
melangkah dengan penuh keyakinan
jalan di depan masih panjang membentang
menunggumu untuk mencumbu setiap kelok likunya
dan di ujungnya kau ‘kan temukan cita cinta
(aku)

hari ini adalah persembahan surga
pada bulan yang lima
seperti yang lima di setiap harian kita
tengoklah ke belakang jalan yang telah kaulalui
ada lubang, ada tanjakan, ada liku, ada duri
dan kaumampu melaluinya sampai detik ini

pada bulan yang lima
seperti yang lima di harian kita
pancangkan tiang-tiang doa
kembangkan layar-layar harap
berlayarlah di samudera hidup
takluklah badai duka yang mengintai
di setiap semilir angin
(bersamaku)

pada bulan yang lima
seperti yang lima di harian kita
kusematkan doa di hari pertambahan usiamu

8. 22 Pintu

telah kaumasuki pintu-pintu
kaususuri tiap labirinnya
ada duri, ada pecahan kaca
kadang gelap tanpa jendela
kadang cerah
namun kautetap melangkah

pintu ke 22 baru saja kaumasuki
ada ruang kosong yang masih misteri
nyalakan api dari dalam hatimu
terangilah setiap jalan di hadapan

22 pintu di belakang tertutup sudah
kau tak bisa kembali dan menyerah
jauh di depan ada pintu ke 23, 24
mungkin di pintu itulah mimpimu menunggu

tak perlu takut akan kegelapan
tak perlu ragu akan liku jalur di depan
aku akan menjadi tongkat dan apimu
aku akan menjadi kuncimu
masuki pintu-pintu berikutnya
hinga pintu terakhir menujuNya

9. Lilin Masa Lalu

seperti lilin kecil yang kautiup di hari ulang tahunmu
seperti itulah masa lalu akan kaupadamkan
luka duka tanggalkanlah
bersama tanggalnya lembaran kalender masa

10. Kejora

kejora, namamu, seperti bintang
hadirmu menanda hari baru
setitik cahaya di tengah padang muram
menunjuk arah para pejalan

kejora namamu, seperti bintang
gadis kecil di tengah belantara kota
mendamba harum bunga padi
dan semerbak rumput ilalang

seperti kejora menanda hari baru
seperti hari ini di saat ulang tahunmu

11. Sebelas

Kita adalah angka sebelas
bilangan prima yang hanya habis dibagi
oleh dirinya sendiri
menjadi satu
: kita

kaulah pembagiku, akulah pembagimu
kau bagi ku adalah satu
aku bagi mu adalah satu
: kita

Selamat Ulang Tahun, kejoraku.
dariku, mataharimu.

Ditulis dalam Uncategorized | 6 Komentar »

[Masih Tentang] Orang Gila

Ditulis oleh jalaindra di/pada Desember 16, 2008

entah ini ada hubungannya dengan orang gila di posting sebelumnya, akhir-akhir ini, setiap kali makan nasi bungkus, selalu saja tidak habis, pasti ada beberapa kepal yang tersisa, kubungkus kembali, kumasukkan kresek hitam dan kumasukkan tempat sampah, dan akhirnya, ketika orang itu datang mengais-ngais tempat sampah, ia akan menemukan sisa makananku..

entah, mungkin ini adalah sebuah kerja kosmos agar semua bisa tercukupi kebutuhannya…

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

Orang Gila

Ditulis oleh jalaindra di/pada Desember 13, 2008

Apakah orang gila bisa disebut orang gila jika setiap malam, setiap hari, pada waktu yang hampir sama setiap malamnya, ia selalu kembali ke satu tempat untuk mengais-kais makanan di tempat sampah, ia selalu menemukan jalurnya untuk menemukan makanan.

Ditulis dalam Uncategorized | 4 Komentar »

Hujan

Ditulis oleh jalaindra di/pada Desember 13, 2008

apa yang kau bayangkan ketika hujan? Rumah, sahabat, kekasih, pulang, ibu, atau sesuatu atau seseorang yang lain? ataukah rindu? atau banjir? atau tangis? atau…

terserah!

Ditulis dalam Uncategorized | 13 Komentar »

Melabuh Rindu

Ditulis oleh jalaindra di/pada Desember 10, 2008

: agni

musim-musim melarung langkah pejalan murung
perahu hampir karam dihempas badai sunyi rindu
adakah dermaga menanti tambat sauh hati?

mengeja setiap huruf dalam kilasan mimpi semalam
ada namamu dalam percik-percik buih
di gemuruhnya sayup seruan singgah pejalan lelah

di lidah ombak penyair tak selesai mencipta sajak
setiap kekatanya ditelan rakus samudera
dilabuhkannya ke ribuan pantai seberang
: dermagamu

anyer, 7-12-08

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »

26

Ditulis oleh jalaindra di/pada September 21, 2008

dua puluh tujuh
dua puluh delapan
entah sampai kapan

Ditulis dalam Uncategorized | 2 Komentar »

BookQuote:01

Ditulis oleh jalaindra di/pada Maret 17, 2008

Sewaktu jalan-jalan ke blog ini, saya menemukan Quote yang menurutku sangat keren, yang berhubungan dengan buku.

When a man’s fortune fall, let him first sell his gold and jewels, then let him sell his land and his estate, and then his clothes and his belongings. When he has nothing left, only then let him sell his books.

Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »