Artikel ini pernah dimuat di Pikiran Rakyat, 21 September 2006
“Aku merindukanmu dengan kematian orang lain…”. Itulah tagline film berjudul ”Betina” yang menjadi karya debutan Lola Amaria sebagai sutradara. Berlatar di sebuah desa antah berantah, film ini berkisah tentang pribadi-pribadi unik –kalau tidak bisa dibilang ’sakit’- dalam dunia yang absurd, yang berada dalam batas antara real dan surreal.
Tokoh utamanya adalah Betina (Kinaryosih) seorang perempuan pemerah sapi yang tiba-tiba saja jatuh cinta kepada seorang penjaga kuburan. Lalu ada Ibu Betina (Tutie Kirana) yang agak kurang waras setelah suaminya diculik gara-gara menulis buku berjudul ”NKRI Bukan Tuhan”. Selanjutnya adalah Luta, seorang rekan kerja Betina di peternakan sapi yang agak mengalami keterbelakangan mental, Seorang penjaga kuburan (Agastya Kandaou), dan pribadi-pribadi absurd lainnya.
Film yang diproduksi oleh 9 Palm Picture dan Tit’s Film Workshop tersebut diputar pada acara diskusi dan pemutaran film Betina di Pusat Studi Bahasa Jepang (PSBJ) Universitas Padjadjaran 14–15 September 2005. Acara tersebut diselenggarakan atas kerjasama Komunitas Seni dan Budaya ’Rumah 21’ dan Himpunan Mahasiswa Rusia (Himarus) Universitas Padjadjaran. Hadir dalam acara tersebut, Lola Amaria sebagai pembicara diskusi.
Film dibuka dengan beberapa tulisan penjelasan mengenai jamur yang banyak tumbuh di sekitar tai ayam dan sapi yang memiliki khasiat bisa menimbulkan halusinasi selama beberapa jam. Selanjutnya adalah narasi dari seorang penyiar radio yang mengabarkan tentang kematian-kematian yang terjadi di desa tempat tinggal Betina. Saat kematian datang dan acara ritual penguburan berlangsung, di sanalah Betina berkesepatan untuk bertemu dengan sang penjaga kuburan meski hanya memandangi saja, sementara sang penjaga kuburan berjalan ke sebuah pondok kecil di atas kuburan bersama dengan seorang wanita kerabat terdekat dari yang meninggal.
Sebagai seorang perempuan muda yang terbilang cantik, tak pelak lagi Betina mengundang birahi dan nafsu para lelaki di sekelilingnya, mereka adalah mandor koperasi susu, juragan ternak sapi dan Luta (rekan kerja Betina) yang juga masih kerabatnya, bahkan sampai seorang tukang sapu peternakan sapi yang juga adalah pembantu sang pemimpin ritual kematian.
Anehnya, setiap lelaki yang berusaha menggoda Betina satu persatu mengalami kemantian. Dimulai dengan mandor koperasi susu yang ditemukan mati pada suatu pagi, juragan ternak sapi yang pernah mencoba untuk memperkosa Betina dan terakhir adalah Luta. Penonton dibawa untuk mereka-reka bahwa Betina lah penyebab kematian mereka, mengingat Betina sangat mengharapkan adanya upacara kematian agar ia bisa bertemu dengan sang penjaga kuburan.
Film yang sangat minim dengan dialog dan terkesan teatrikal ini mau tak mau menuntut para pemerannya untuk mampu bermain dengan menggunakan gesture tubuh dan ekspresi wajah. Bagusnya, Kinaryosih memerankan tokoh Betina dengan baik. Penonton diajak untuk ikut merasakan rasa cinta, cemburu, marah, bahkan halusinasi betina akan kepuasan seksual dari penjaga kuburan yang ia idolakan. Tidak ketinggalan pula, keintiman betina dengan Dewa, sapi kesayangannya yang seringkali menjadi penyaluran birahinya. Semuanya dihadirkan lewat gesture dan ekspresi wajah yang apik.
Betina menawarkan sebuah dunia lain di luar dunia nyata yang biasa kita temukan sehari-hari dan penuh dengan simbol-simbol dan ritual magis bernama kematian sepanjang film. Ritual kematian digambarkan dengan iring-iringan beberapa orang dengan kostum kain sarung, karung dan serok sampah dari anyaman bambu sebagai topi, diiringi dengan bunyi-bunyian dari piring seng yang dikalungkan pada masing-masing pengiring jenazah. Paling depan iring-iringan adalah sebuah kereta yang ditarik oleh sapi yang diatasnya adalah jenazah dan seorang wanita kerabat dekat dari jenazah. Iring-iringan menuju ke sebuah pemakaman yang penuh dengan nisan berbentuk segitiga. Mengenai simbol segitiga, Lola mengatakan bahwa ia bermaksud untuk tidak menyinggung agama dan kepercayaan manapun. ”Segitiga juga merupakan simbol tiga unsur yakni: Kehidupan, Pengetahuan dan Religi,” kata Lola dalam sesi diskusi setelah acara pemuataran.
Pada sesi diskusi film, juga terungkap bahwa lewat Betina, Lola bermaksud untuk memberikan warning kepada para perempuan untuk tidak begitu saja jatuh cinta kepada seorang lelaki. Lelaki yang diidolakan belum tentu sebaik yang dibayangkan. Sosok penjaga kuburan yang diidolakan oleh Betina, ternyata menggunakan kekuasaannya sebagai pemimpin ritual kematian untuk meniduri perempuan-perempuan pengantar jenazah di pondoknya. ”Cinta seringkali membuat orang bertindak absurd dan unlogic,” demikian katanya.
Alur utama Betina adalah obsesi seorang perempuan kepada seorang laki-laki yang memiliki kuasa di atas orang-orang biasa. Dalam hal ini kuasa untuk memimpin ritual acara kematian, mengantarkan para orang mati ke dunia lain dan kuasa untuk menghibur para janda dari orang yang mati dengan menidurinya. Hal inilah yang dirasakan oleh Betina. Ia selalu cemburu ketika sang penjaga kuburan mencium dan menghibur para perempuan pendamping jenazah dan membawa perempuan itu ke pondok di atas kuburan, berharap suatu saat ia lah yang menjadi perempuan itu. Sampai suatu ketika, Ibu Betina meninggal, dan Betina lah yang akhirnya duduk di atas kereta sapi mengantarkan jenazahnya ke kuburan. Namun sayang, sang penjaga kuburan yang dinantikannya tidak kunjung datang. Ternyata ia telah meninggal di pondoknya, dibunuh oleh pembantunya sendiri yang juga adalah seorang tukang sapu yang ternyata mencintai Betina. Sebuah cinta segitiga yang absurd.
Betina, menjadi alternatif pilihan menonton film bagi penonton yang menginginkan kisah cinta yang unlogic dan unhappy ending. Sayangnya, distribusi film Betina tidak dilakukan lewat jalur mayor tetapi lewat jalur indie dengan pemutaran-pemutaran di beberapa kampus, salah satunya adalah pemutaran di Pusat Studi Bahasa Jepang (PSBJ) Universitas Padjadjaran 14-15 September 2006 oleh Komunitas Seni dan Budaya Rumah 21. (Adi Toha – Rumah 21)