<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>J A L A I N D R A &#187; Ulasan Buku</title>
	<atom:link href="http://jalaindra.wordpress.com/category/ulasan-buku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jalaindra.wordpress.com</link>
	<description>jejaring peristiwa - jejaring kata - jejaring imagi - jejaring diri</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Nov 2009 03:09:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='jalaindra.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/55fb57c1058a8d11d26b7b5586e5f294?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>J A L A I N D R A &#187; Ulasan Buku</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Heaven Net Is Wide &#8211; Lian Hearn</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2009/11/13/heaven-net-is-wide-lian-hearn/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2009/11/13/heaven-net-is-wide-lian-hearn/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 03:09:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=668</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingat dengan Kisah Klan Otori? Rangkaian kisah menakjubkan karya Lian Hearn dimulai dari Across The Nightingale Floor, Grass For His Pillow, Brilliance of The Moon dan The Harsh Cry of Heron. Sebentar lagi, yang ditunggu-tunggu, edisi bahasa Indonesianya akan segera hadir, buku ke O : Heaven Net Is Wide. Menurut info di situs Penerbit [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=668&subd=jalaindra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><a href="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/11/heaven-net-is-wide1.jpg"><img class="size-full wp-image-669 alignright" title="heaven net is wide" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/11/heaven-net-is-wide1.jpg?w=160&#038;h=245" alt="heaven net is wide" width="160" height="245" /></a>Masih ingat dengan <a href="http://jalaindra.wordpress.com/2007/02/18/samurai-rasa-bule/">Kisah Klan Otori</a>? Rangkaian kisah menakjubkan karya Lian Hearn dimulai dari Across The Nightingale Floor, Grass For His Pillow, Brilliance of The Moon dan The Harsh Cry of Heron. Sebentar lagi, yang ditunggu-tunggu, edisi bahasa Indonesianya akan segera hadir, buku ke O : Heaven Net Is Wide. Menurut info di situs Penerbit Matahati, buku ini akan terbit awal Desember 2009, tapi sudah bisa dipesan di toko buku online mulai tanggal 24 November 2009. <em>can&#8217;t hardly wait..</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam permulaan Across The Nightingale Floor diceritakan tentang pertemuan Otori Shigeru dengan Tomasu -yang kemudian beralih nama menjadi Otori Takeo. Lewat serangkaian intrik yang dijalankan oleh Iida Sadamu, Shigeru tewas. Otori Takeo melakukan perannya sebagai pemimpin klan untuk menggantikan Shigeru. Meskipun pemunculannya dalam buku pertama tersebut relatif sebentar, sosok Otori Shigeru sangat menyita perhatian para pembacanya. Nah, dalam Heaven Net Is Wide inilah sosok Shigeru akan benar-benar menjadi tokoh utama.  Kita akan mengikuti perjalanan pemimpin Klan Otori tersebut sebelum bertemu dengan Takeo.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi yang belum pernah baca Kisah Klan Otori, silahkan kamu bisa resensinya di sini: <a href="http://jalaindra.wordpress.com/jejak-media/across-the-nightingale-floor/" target="_blank">Across The Nightingale Floor</a>, <a href="http://jalaindra.wordpress.com/jejak-media/grass-for-his-pillow/">Grass for His Pillow</a>, <a href="http://jalaindra.wordpress.com/jejak-media/grass-for-his-pillow/" target="_blank">Brilliance of The Moon</a> dan <a href="http://jalaindra.wordpress.com/2007/01/31/jeritan-pilu-sang-bangau/" target="_blank">The Harsh cry of Heron.</a> Apakah prequel ini akan sama menakjubkannya dengan trilogi dan sekuelnya? Semoga.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/668/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/668/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/668/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/668/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/668/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/668/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/668/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/668/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/668/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/668/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=668&subd=jalaindra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2009/11/13/heaven-net-is-wide-lian-hearn/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/11/heaven-net-is-wide1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">heaven net is wide</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Magician’s Elephant &#8211; Kate DiCamillo</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/28/the-magician%e2%80%99s-elephant-kate-dicamillo/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/28/the-magician%e2%80%99s-elephant-kate-dicamillo/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Oct 2009 08:05:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=655</guid>
		<description><![CDATA[Judul : The Magician’s Elephant, Gajah Sang Penyihir
Pengarang : Kate DiCamillo
Ilustrasi Oleh Yoko Tanaka
Alih Bahasa : Dini Pandia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : September, 2009
Seberapa besar kepercayaanmu terhadap ramalan? Jika suatu saat kau diberi tahu oleh seorang peramal bahwa seekor unta akan membawamu menemukan harta karun di bawah piramida, padahal hampir tidak mungkin kau akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=655&subd=jalaindra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><a href="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/10/gajah1.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-657" title="gajah" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/10/gajah1.jpg?w=168&#038;h=250" alt="gajah" width="168" height="250" /></a>Judul :<strong> The Magician’s Elephant, Gajah Sang Penyihir</strong><br />
Pengarang : Kate DiCamillo<br />
Ilustrasi Oleh Yoko Tanaka<br />
Alih Bahasa : Dini Pandia<br />
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama<br />
Cetakan : September, 2009</p>
<p style="text-align:justify;">Seberapa besar kepercayaanmu terhadap ramalan? Jika suatu saat kau diberi tahu oleh seorang peramal bahwa seekor unta akan membawamu menemukan harta karun di bawah piramida, padahal hampir tidak mungkin kau akan bertemu dengan seekor unta karena kau tinggal sangat jauh dari negeri padang pasir, dan hampir tidak mungkin kau akan melihat langsung piramida, apakah kau akan mempercayai sang peramal itu atau menganggap itu hanya sebuah bualan belaka?</p>
<p style="text-align:justify;">Peter Augustus Duchene, adalah seorang anak yatim piatu sepuluh tahun yang tinggal bersama seorang mantan tentara yang sangat tua dan sakit-sakitan di kota Baltese. Vilna Lutz, nama mantan tentara itu, adalah sahabat ayahnya, ia berharap Peter menjadi seorang tentara seperti ayahnya. Maka setiap hari Peter diajari segala hal tentang ketentaraan mulai dari baris berbaris hingga strategi pasukan.<span id="more-655"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu malam, ia disuruh oleh Vilna untuk membeli makanan dan ikan dengan satu-satunya uang koin yang mereka miliki. Bukannya membeli makanan, Peter malah menghabiskan koin itu untuk membayar seorang peramal di alun-alun kota. Peter ingin mengetahui tentang adiknya, Adele, yang menurut Vilna Lutz telah meninggal sesaat setelah dilahirkan. Jawaban sang peramal sungguh membuat peter terkejut. Adiknya masih hidup! Bagaimana Peter bisa menemukannya? Peramal itu menjawab dengan jawaban yang lebih mengejutkan: <em>“Gajah! Gajah itu akan membawamu ke sana!”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana mungkin seekor gajah bisa menjadi petunjuk keberadaan adiknya, sedangkan di kota Baltese, tidak seorang pun yang Peter ketahui pernah melihat seekor gajah!</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, <em>miracle’s happen when you believe</em>. Secara mengejutkan tak jauh dari apartemen tempat peter tinggal, sebuah pertunjukan sihir berbuah bencana. Ketika sang penyihir berniat memunculkan sebuket lili di tengah-tengah pertunjukan untuk menunjukkan kehebatan sihirnya, yang keluar malah seekor gajah yang tiba-tiba jatuh dari atap dan melukai kaki seorang wanita bangsawan, Madam La Vaughn sehingga ia tidak bisa menggunakan kakinya lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Peristiwa itu membuat Peter meyakini perkataan peramal bahwa adiknya masih hidup. Peristiwa demi peristiwa yang terjadi selanjutnya membuat Peter yakin bahwa sang Gajah akan benar-benar mengantarkannya untuk menemukan adiknya.</p>
<p style="text-align:justify;">The Magician’s Elephant adalah buku cerita anak terbaru yang ditulis oleh Kate DiCamillo, penulis cerita anak yang telah banyak mendapatkan penghargaan untuk karya-karya cerita anaknya. Cerita-cerita anaknya antara lain: <em>The Tiger Rising</em> (2001), <em>The Tale of Despereaux</em> (2003) dan <em>The Miraculous Journey of Edward Tulane</em> (2006).</p>
<p style="text-align:justify;">Berlatar kota khayalan bernama Baltese yang bernuansa suram dengan kedinginan musim saljunya, The Magician Elephant adalah kisah tentang harapan dan keajaiban, dan bagaimana seorang anak mampu memelihara dan meyakini harapannya. Kisah Peter dalam menemukan adiknya adalah perlambang bahwa siapapun berhak untuk mengejar harapannya, tak peduli seberapapun mustahilnya harapan tersebut, karena selalu terbuka kemungkinan keajaiban untuk terjadi. Dan siapapun tak berhak menghalangi seseorang untuk mengejar harapannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti halnya sang penyihir yang dengan sekuat sihirnya ingin menunjukkan kehebatannya dengan memunculkan sebuket lili tapi yang muncul malah seekor gajah yang jauh lebih memukau dari pada sebuket lili, seperti itulah kekuatan keyakinan yang bisa jadi akan memunculkan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang diharapkan. Buku ini sangat menarik dan menghibur untuk dibaca, sekedar untuk mengingatkan kembali bahwa selalu ada sosok anak kecil dalam diri kita yang imaginasinya tak bisa dan tak ingin dibatasi.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;"><strong>Adi Toha</strong><br />
Pendongeng dan pecinta dongeng</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/655/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/655/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/655/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=655&subd=jalaindra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/28/the-magician%e2%80%99s-elephant-kate-dicamillo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/10/gajah1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gajah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The History of Love &#8211; Nicole Krauss</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/23/the-history-of-love-nicole-krauss/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/23/the-history-of-love-nicole-krauss/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 14:57:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=646</guid>
		<description><![CDATA[1. Cinta dan Kehilangan
Pada suatu masa kau pernah mencintai seseorang dan seseorang itu mencintaimu. Cintanya kepadamu membuatmu berjanji tidak akan pernah mencintai seseorang yang lain sepanjang hidupmu. Pada suatu masa seseorang yang kau cintai itu pergi ke negeri yang jauh. Berhari, berminggu bertahun tanpa kabar. Lalu kau menulis surat-surat untuknya namun kau tak yakin surat-surat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=646&subd=jalaindra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>1. Cinta dan Kehilangan</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/10/the-history-of-love.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-647" title="The history of love" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/10/the-history-of-love.jpg?w=150&#038;h=200" alt="The history of love" width="150" height="200" /></a>Pada suatu masa kau pernah mencintai seseorang dan seseorang itu mencintaimu. Cintanya kepadamu membuatmu berjanji tidak akan pernah mencintai seseorang yang lain sepanjang hidupmu. Pada suatu masa seseorang yang kau cintai itu pergi ke negeri yang jauh. Berhari, berminggu bertahun tanpa kabar. Lalu kau menulis surat-surat untuknya namun kau tak yakin surat-surat itu akan sampai. Pada suatu masa kau bertekad akan menyusul seseorang itu, dengan cara apapun kau akan menemuinya. Pada suatu masa setelah bertahun-tahun menjalani perjalanan panjang dan berat, sampai harus bertaruh nyawa dengan maut, kau berhasil menemuinya. Cintanya kepadamu masih seperti dulu, tapi ia tidak bisa ikut bersamamu karena ia telah menikah dengan orang lain dan memiliki anak. Pada suatu masa kau menepati janji yang pernah kau ucapkan untuk tidak akan mencintai orang lain sepanjang hidupmu. Pada suatu masa akhirnya pergi dan menghilang, bertahan hidup sendiri dengan kenangan-kenangan manis dan cintamu kepadanya.<span id="more-646"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Lelaki Tua Tukang Kunci</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Leo Gursky adalah seorang lelaki tua tukang kunci. Ia tinggal di sebuah apartemen di New York. Setelah beberapa puluh tahun berusaha menjalani hidup tanpa menarik perhatian orang lain, pada umur 80 tahun ia merasakan ketakutan akan kematian. Ketakutan terbesarnya adalah mengalami kematian saat tidak ada seorang pun yang melihat dan memperhatikannya. Maka ia mencoba menarik perhatian orang-orang agar orang-orang mengingatnya. Ia sengaja menjatuhkan uang-uang receh dari kantongnya di sebuah toko, ia menjadi model telanjang untuk sebuah kelas melukis, dan hal-hal kecil yang membuat ia bisa dilihat orang. Meski Leo bukan pengarang, ia sangat pandai menulis cerita. Pada umur dua puluh tahun, ia pernah menulis sebuah naskah yang tidak pernah diterbitkannya, bahkan tidak pernah dibaca oleh orang lain. Naskah itu ia tulis sebagai kenangan cintanya untuk Alma Mereminski, satu-satunya gadis yang dicintainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Leo berasal dari Slonim, Polandia. Ia selamat dari pembantaian pasukan Nazi dan berhasil lari ke New York menyusul Alma yang terlebih dahulu diberangkatkan oleh ayahnya ke New York. Leo pernah berjanji akan menyusul Alma. Maka ketika ia telah sampai di New York, ia segera mencari alamat Alma untuk menemuinya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. Alma Singer</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Alma, begitulah namanya. Ia seorang gadis empat belas tahun yang bercita-cita menjadi seorang naturalis dan bisa bertahan hidup di alam liar. Oleh ibunya, ia diberi nama sesuai dengan nama setiap gadis dalam buku “The History of Love” pemberian ayahnya kepadanya. Ayahnya meninggal ketika Alma berumur tujuh tahun. Ibunya tak pernah berhenti mencintai ayahnya, sehingga ia menolak setiap lelaki yang ingin berkencan dengannya. Untuk mengambarkan tentang perasaan ibunya terhadap ayahnya, Alma mengutip perkataan pelukis dan pematung Alberto Giacometti yang pernah diceritakan oleh pamannya kepadanya, “kadang-kadang untuk sekedar melukis kepala, keseluruhan tubuh mesti dikorbankan. Untuk melukis daun, keseluruhan lanskapnya harus dienyahkan. Mulanya memang kau seakan-akan membatasi diri dengan cara itu, tapi setelah beberapa waktu kau menyadari bahwa cukup dengan memiliki seperempat inci sesuatu, kaulebih punya kemungkinan mempertahankan perasaan tertentu akan alam semesta, disbanding kalau kau pura-pura melukis keseluruhan langit.” Dan ibunya telah memilih ayahnya, dan demi mempertahankan perasaan itu, dia mengenyahkan seluruh dunia dan tenggelam di balik kamus-kamus. Ibunya seorang penerjemah buku.</p>
<p style="text-align:justify;">Kenangan Alma terhadap ayahnya hanyalah sepotong-sepotong, tidak utuh. Alma hanya mendengar cerita tentang ayahnya dari ibunya. Maka ketika sebuah surat tiba-tiba datang dari seseorang, meminta ibunya untuk menerjemahkan buku “The History of Love” ke dalam bahasa Inggris, Alma seolah menemukan jalan untuk mencari tahu lebih banyak tentang ayahnya. Alma juga berpikir, barangkali dengan mencari tahu tentang ayahnya dari buku itu, ia bisa menemukan orang yang tepat untuk membahagiakan ibunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mulailah Alma menelusuri petunjuk demi petunjuk untuk mencari tahu siapakah sebenarnya Alma dalam buku yang telah menginspirasi kedua orang tuanya untuk menamainya Alma. Dia penasaran, mengapa seseorang dalam surat itu menyuruh ibunya untuk menerjemahkan buku itu semata-mata demi keperluan pribadinya. Seseorang itu mengaku, semasa kecilnya, ibunya pernah membacakan beberapa halaman dari buku “The History Of Love”.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4. The History Of Love – Zvi Litvinoff</strong></p>
<p style="text-align:justify;">“Wanita yang pertama diciptakan mungkin Hawa, tapi gadisku yang pertama tetap Alma.” Demikian salah satu petikan dalam buku The History Of Love. Zvi Litvinoff adalah seorang pengarang tidak cukup dikenal yang melarikan diri dari Polandia ke Chili pada tahun 1941. Satu-satunya karyanya adalah buku “The History Of Love” yang diterbitkan dalam bahasa Spanyol. Sebagaimana pengarangnya, buku itu juga tidak cukup dikenal. Cetakan pertamanya dicetak sebanyak dua ribu eksemplar. Dari dua ribu eksemplar tersebut hanya beberapa yang dibeli dan dibaca orang, namun setidaknya, ada satu copy yang ditakdirkan mengubah kehidupan beberapa orang. Satu copy itu mulanya tersimpan di sebuah gudang lembab di kota Santiago, lalu kemudian dikirim ke sebuah toko buku di Buenos Aires dan selama beberapa tahun tak tersentuh, terselip di antara buku-buku lain yang lebih tebal dan lebih menarik. Ketika toko buku itu berganti pemilik, buku itu kembali tersimpan di gudang yang lebih jorok dari sebelumnya, sebelum akhirnya dikirim ke sebuah toko buku bekas kecil di dekat rumah Jorge Luis Borges.</p>
<p style="text-align:justify;">Si pemilik toko buku bekas itu menyisihkah buku itu dan membacanya ketika tokonya sedang sepi. Setelah menyelesaikan membaca buku itu di sela-sela kesibukan melayani pembeli, ia tahu bahwa buku itu sangat berharga. Kemudian ia menaruh buku itu di jendela toko, namun tidak berusaha menarik perhatian para pengunjung tokonya terhadap buku itu. Ia tahu, di tangan yang salah, buku itu akan menjadi sia-sia. Maka dibirkannya buku itu di tempatnya, berharap pembaca yang tepat akan menemukannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan pada suatu siang, seorang pemuda jangkung berasal dari Israel yang baru saja menyelesaikan wajib militernya dan tengah berkelana di Amerika Selatan selama beberapa bulan mengambil buku itu dan membelinya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5. Zvi Litvinoff</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 1941 ia melarikan diri dari Polandia ke Chile untuk menghindari pembunuhan besar-besaran oleh pasukan Nazi. Tidak banyak informasi yang diketahui oleh publik selain kata pengantar yang dituliskan oleh istrinya Rosa Litvinoff di cetakan kedua buku “The History of Love” yang diterbitkan setelah kematian Zvi Litvinoff. Satu-satunya karya yang pernah diterbitkannya adalah buku “The History of Love” yang ia salin dari bahasa Yiddish ke bahasa Spanyol dari sebuah naskah tulisan tangan milik temannya. Mengira bahwa temannya itu telah meninggal dalam pembantaian, ia menerbitkan naskah itu atas namanya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>6. Anak Yang Tidak Pernah Tahu Siapa Ayahnya</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu masa seorang gadis terpaksa pergi dari Polandia ke Amerika. Beberapa minggu setelah kedatangannya, ia mengetahui bahwa ia mengandung janin hasil percintaannya dengan lelaki yang dicintainya semenjak kecil. Laki-laki itu telah berjanji kepadanya tidak akan mencintai gadis lain selain dirinya. Pada suatu masa ia mendapat kabar bahwa telah terjadi pembantaian besar-besar di kampung halamannya, tempat lelaki yang dicintainya tinggal. Ia mengira, lelaki yang dicintai ikut menjadi korban pembantaian. Setelah melahirkan seorang bayi laki-laki, ia menikah dengan seorang lelaki lain. Bayi laki-laki itu diberi nama Isaac Moritz. Setelah dewasa, ia menjadi seorang pengarang terkenal di Amerika. Salah satu bukunya berjudul The Remedy. Ia tidak tahu, jika ayah kandungnya selalu mengikuti perkembangan dirinya, termasuk karier kepenulisannya. Ia tidak tahu jika ayahnya selalu menyimpan foto-foto dan berita tentang dirinya. Ia tidak tahu, bakat kepengarangannya diwarisi dari ayahnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>7. The History Of Love – Nicole Krauss</strong></p>
<p style="text-align:justify;">The History of Love adalah novel di dalam novel dengan kisah yang kompleks dengan alur yang berpindah-pindah antara masa kini dan masa lalu serta dinarasikan oleh beberapa narator. Narator utama adalah Leo Gursky dan Alma Singer. Pada satu bagian, Leo menarasikan hari-hari tuanya di apartement bersama Bruno, tetangganya yang juga teman masa kecilnya di Polandia, ketakutannya akan kematian, dan kenangannya akan Alma. Pada bagian lain, Alma menarasikan kehidupannya bersama ibu dan adik laki-lakinya, Bird; tentang kehilangan dan kesedihannya sepeninggal ayahnya, dan tingkah aneh adiknya. Dan pada bagian lain, adalah narasi oleh narator tentang Zvi Litfinoff dan beberapa kutipan dari buku misterius itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Alur yang bergerak maju mundur dan sudut pandang yang berubah-ubah dari satu tokoh ke tokoh lain membuat buku ini menarik, menghibur dan menantang untuk diikuti. Membacanya seakan tengah berjalan menyusuri labirin demi labirin misteri tentang buku misterius The History Of Love, labirin kehidupan dan kesepian Leo dan semangat hidup dan pencarian Alma muda. Pengarang berhasil menghidupkan tokoh-tokoh dalam novel ini terasa begitu dekat dan memorable.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana layaknya sebuah kisah misteri, petunjuk demi petunjuk mulai terbuka seiring berjalan alur mendekati halaman terakhir. Namun lantas tidak menjadikan buku ini sekedar cerita misteri. Di dalamnya akan banyak ditemukan filosofi indah tentang hubungan antar manusia, tentang cinta, kehilangan dan kematian. Pengarang berhasil menyatukan kepingan-kepingan kisah dari masing-masing tokohnya menjadi sebuah kisah yang utuh, menyentuh, mengharukan sekaligus mengundang tawa, karena tidak jarang terselip humor-humor yang cerdas dan menyegarkan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>7. Suami-Istri Pengarang</strong></p>
<p style="text-align:justify;">The History of Love yang terbit pada tahun 2005 adalah karya kedua Nicole Krauss. Karya sebelumnya adalah novel berjudul Man Walks into a Room yang terbit pada tahun 2002. Di tahun yang sama, Jonathan Safran Foer yang kemudian menjadi suaminya, menerbitkan Everything Is Illuminated. Nicole Krauss dan Jonathan safran Foer menikah pada tahun 2004. Di tahun 2005, bersamaan dengan terbitnya The History Of Love, Jonathan Safran Foer menerbitkan novel berjudul Extremely Loud and Incredibly Close. Untuk lulus dari Oxford University Nicole Krauss menulis tesis tentang seniman Amerika Joseph Cornell, sementara Foer pada tahun 2001 mengedit sebuah buku antologi yang terinpirasi dari karya-karya Josep Cornell. Sebuah kebetulan kah? Bagaimana pun juga, keduanya adalah pasangan pengarang yang cemerlang, yang karya-karyanya diakui oleh dunia.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>8. Novel di Dalam Novel</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Novel di dalam novel, atau fiksi di dalam fiksi adalah salah satu bentuk turunan dari metafiksi. Metafiksi adalah fiksi yang secara langsung atau tidak langsung mengabarkan dirinya sebagai sebuah cerita rekaan. Novel atau karya fiksi yang termasuk ke dalam bentuk metafiksi di antaranya sebagai berikut:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li style="text-align:justify;"> Fiksi tentang seorang pengarang dalam membuat cerita.</li>
<li style="text-align:justify;"> Fiksi tentang seorang pembaca membaca sebuah novel.</li>
<li style="text-align:justify;"> Fiksi di dalam fiksi, atau novel di dalam novel.</li>
<li style="text-align:justify;"> Fiksi yang di dalamnya narator menunjukkan dirinya sebagai pengarang cerita.</li>
<li style="text-align:justify;"> Fiksi yang mengajak pembaca untuk berinteraksi secara langsung dengan cerita.</li>
<li style="text-align:justify;"> Fiksi non-linear yang bisa dibaca dalam urutan apapun, tidak harus dari awal sampai akhir.</li>
<li style="text-align:justify;"> Fiksi yang di dalamnya terdapat catatan kaki yang alih-alih hanya mengomentari, melanjutkan ceritanya sendiri.</li>
<li style="text-align:justify;"> Fiksi yang di dalamnya pengarang juga termasuk dalam tokoh cerita.</li>
<li style="text-align:justify;"> Fiksi yang memiliki latar, waktu dan karakter yang paralel dengan karya fiksi sebelumnya baik dari pengarang yang sama maupun pengarang yang berbeda, tetapi diceritakan dalam perspektif yang berbeda.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Buku The History of Love karya Zvi Litvinoff tentu saja adalah <em>Fictional book within fictional work. </em>Tidak usah bersusah payah mencari siapakah Zvi Litvinoff, sang pengarang buku tersebut dari sumber lain selain The History of Love karya Nicole Krauss.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>9. Kesetiaan dan Keteguhan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Terlepas dari teknik penulisan Krauss yang lain dengan novel pada umumnya, novel ini memang membicarakan tentang cinta. Seberapa besar penghargaan dan penilaian manusia terhadap cinta. Seberapa teguh manusia dalam memenuhi janjinya. Meskipun seumur hidupnya Leo Gursky hidup sendiri dan menjadi pecundang dengan menghilang dari publik dan keramaian, dia tetap adalah seorang pemenang. Ia telah memenuhi janjinya kepada Alma Mereminsky untuk tidak mencintai gadis lain sepanjang hidupnya dan bertahan hidup dengan kenangan indah dan cintanya kepada Alma, satu-satunya gadis yang dicintainya. Charlotte Singer, ibu Alma, adalah sosok istri yang setia menjaga cintanya kepada suaminya meskipun suaminya telah meninggal. Ia tenggelam dalam kesibukannya menerjemahkan buku-buku dan tidak berniat untuk mencari pengganti suaminya. Suaminya akan selalu hidup dalam ingatannya. Rosa Litvinoff, adalah sosok istri yang menerima dan memaafkan apa adanya suaminya meskipun ia tahu sebuah kebenaran yang selama ini disembunyikan oleh suaminya yang tak pernah dikatakannya sampai suaminya meninggal. Kebenaran yang jika diungkap akan menjatuhkan nama baik dirinya dan suaminya di mata orang-orang.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>10. Leo dan Alma</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8220;Pada suatu masa ada seorang anak laki-laki yang mencintai seorang anak perempuan, suara tawa si anak perempuan adalah pertanyaan yang seumur hidup ingin dijawab oleh si anak lelaki. Ketika mereka berumur sepuluh, si anak lelaki meminta si anak perempuan menikah dengannya. Ketika mereka berumur sebelas, dia mencium si anak perempuan untuk pertama kali. Ketika mereka berumur tiga belas, mereka bertengkar dan selama tiga minggu tidak saling bicara. Ketika mereka berumur lima belas, si anak perempuan menunjukkan padanya bekas luka di payudara kirinya. Cinta mereka adalah rahasia yang tidak mereka bagikan pada siapapun. Si anak lelaki berjanji takkan pernah mencintai gadis lain sepanjang hidupnya.&#8221;</em> (The History Of Love)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>11. Sebelas</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>… bersyukur karena dunia ini telah dengan sengaja menciptakan pemisahan-pemisahan, dengan maksud agar kita bisa mengatasinya, agar kita bisa merasakan suka cita sebuah kedekatan, meski jauh di dalam kita tak pernah bisa melupakan kesedihan akibat perbedaan-perbedaan yang tak terseberangi antara kita. </em>(The History of Love)<br />
<em><strong></strong></em></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><br />
Catatan :</strong></em><br />
Sengaja saya menggunakan penomoran dalam penulisan ulasan ini, mengikuti cara Alma dalam menceritakan kisahnya dalam buku ini.</p>
</blockquote>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/646/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/646/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/646/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=646&subd=jalaindra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2009/10/23/the-history-of-love-nicole-krauss/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/10/the-history-of-love.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">The history of love</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Holly Golighty</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2009/04/18/kisah-holly-golighty/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2009/04/18/kisah-holly-golighty/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2009 14:29:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=568</guid>
		<description><![CDATA[Judul buku    : Breakfast at Tiffany’s
Pengarang    : Truman Capote
Penerjemah    : Berliani M. Nugrahani
Penerbit    : Serambi
Cetakan        : I, Februari 2009
Tebal        : 149 hlm
Novel pendek (novella) Breakfast at Tiffany’s terbit pertama kali pada tahun 1958, enam tahun sebelum penerbitan In Cold Blood, ‘novel non-fiksi’ yang semakin melambungkan nama Truman Capote sebagai penulis papan atas Amerika. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=568&subd=jalaindra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><img class="alignright size-full wp-image-569" title="cover_breakfast_at_tiffanys" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/04/cover_breakfast_at_tiffanys.gif?w=150&#038;h=210" alt="cover_breakfast_at_tiffanys" width="150" height="210" />Judul buku    : <strong>Breakfast at Tiffany’s</strong><br />
Pengarang    : Truman Capote<br />
Penerjemah    : Berliani M. Nugrahani<br />
Penerbit    : Serambi<br />
Cetakan        : I, Februari 2009<br />
Tebal        : 149 hlm</p>
<p style="text-align:justify;">Novel pendek (novella) <em>Breakfast at Tiffany’s</em> terbit pertama kali pada tahun 1958, enam tahun sebelum penerbitan <em>In Cold Blood</em>, ‘novel non-fiksi’ yang semakin melambungkan nama Truman Capote sebagai penulis papan atas Amerika. Dua buah film yakni <em>Capote</em> (2005) dan <em>Infamous</em> (2006) dibuat berdasarkan kisah hidupnya. <em>In Cold Blood</em> merupakan novel yang ditulis dengan gaya jurnalisme sastrawi berdasarkan kisah nyata pembunuhan sadis yang dilakukan oleh dua orang pembunuh terhadap sebuah keluarga petani kaya di Holcomb, Texas.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam Breakfast at Tiffany’s, Capote menceritakan tentang Holly Golighty, seorang wanita penghibur kelas atas New York. Dengan parasnya yang cantik dan bentuk tubuhnya yang menawan, ia bisa mengencani banyak pria kalangan atas, mulai dari pengusaha, petinggi Hollywood, politisi, petinggi militer, bahkan mafia. Gaya hidupnya glamor dan berpikiran bebas. Dia adalah ratu pesta. Pembawaannya yang supel, ceria, penuh pengertian, wawasan dan pergaulannya yang luas, mampu menarik perhatian siapapun yang mengenalnya, tidak terkecuali seorang pria yang menempati apartemen di atas apartemennya, yang bercita-cita menjadi seorang penulis, yang menjadi narator dalam novel ini. Holly memanggilnya dengan nama Fred, nama kakaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Narator mengawali ceritanya dengan sebuah perbincangan dengan Joe Bell, pengelola sebuah bar di Lexington Avenue, tempat tokoh aku dan Holly biasa berkunjung. Perbincangan itu terjadi beberapa tahun setelah tokoh aku tidak berjumpa dengan Holly, bahkan sekedar mengetahui kabarnya pun tidak. Mereka saling menanyakan kabar Holly, namun tak ada satupun yang bisa memberikan kabar yang pasti, kecuali sebuah foto seorang kulit hitam sedang memamerkan patung kayu ukiran berbentuk kepala seorang gadis yang sangat mirip dengan Holly Golighty. Dan foto itu diambil di sebuah desa kecil di Afrika! Selanjutnya, narator mulai menceritakan awal perkenalannya dengan sang primadona tersebut.<span id="more-568"></span></p>
<p style="text-align:justify;">
<div id="attachment_572" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><img class="size-full wp-image-572" title="capote" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/04/capote.jpg?w=200&#038;h=241" alt="Truman Capote" width="200" height="241" /><p class="wp-caption-text">Truman Capote</p></div>
<p>Holly tinggal sendirian di apartemennya di East Seventies, New York, ditemani oleh seekor kucing tak bernama. Tinggal di atas apartemen yang ditempati Holly, membuat tokoh aku sering memperhatikan Holly saat ia keluar masuk apartemennya, sendirian ataupun dengan tamu-tamunya. Di antara tamunya itu adalah O.J. Berman, agen aktor Hollywood dan Rusty Trawler, jutawan muda berwajah bayi. Keduanya memiliki kepentingan yang berbeda dengan wanita muda itu. Narator juga mengamati kehidupan Holly dari keranjang sampah di luar apartemennya, di sana ia mengetahui sekilas apa saja bacaan rutin wanita muda itu, apa saja yang dimakannya, dan surat-surat yang selalu dirobeknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kekuatan novel pendek ini adalah penokohan Holly yang kuat dan kompleks. Di satu sisi kadang ia memperlakukan tokoh aku dengan lembut dan penuh pengertian, namun di sisi lain ia acuh tak acuh tanpa alasan. Kadang ia terlihat kuat dalam menjalani hidupnya, namun tak jarang ia mengeluh dan menunjukkan kelemahan. Dengan statusnya sebagai sosialita muda New York memungkinkannya untuk mendapatkan bermacam kesenangan, namun di satu sisi ia tengah lari dari masa lalunya dan mencari tempat yang bisa membuatnya nyaman dan bahagia, sebagaimana yang ia dapatkan di Tiffany’s.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Yang paling bisa membuatku merasa lebih baik adalah melompat ke taksi dan pergi ke Tiffany’s. Tempat itu langsung menenangkanku, keheningan dan kemewahannya; hal yang benar-benar buruk tidak akan mungkin menimpaku di sana, dengan pria-pria bersetelan indah itu, juga semerbak aroma perak dan dompet kulit buaya.”</em> (hal. 57)</p>
<p style="text-align:justify;">Masa lalu Holly suram. Ia ditemukan oleh sebuah keluarga dokter kuda di sebuah desa kecil di Texas tengah mencuri susu dan telur kalkun di dapur. Saat ditemukan, ia bersama kakaknya Fred, keadaannya sangat mengibakan. <em>“Tulang-tulang rusuk yang bertonjolan, kaki yang terlalu kurus hingga mereka kesulitan berdiri, gigi yang terlalu goyah hingga mereka tak sanggup mengunyah bubur sekalipun”.</em> (hal. 94).</p>
<p style="text-align:justify;">Lewat penuturan sang narrator, maupun lewat dialog-dialog Holly, Truman Capote menjadikan tokoh Holly benar-benar hidup dan memorable, namun terkesan munafik dan inkonsisten. Jika kehidupan dan pergaulannya di kalangan atas diumpamakan sebagai langit, maka ia telah tinggal di langit seperti yang diinginkannya. Namun ia pun menyadari, bahwa kehidupannya di langit itu tidak akan bertahan lama. Dengan liris ia mengatakan: <em>“.. menatap langit lebih baik daripada tinggal di langit. Tempat sesunyi itu. Langit hanyalah tempat petir berkilatan dan berbagai hal lenyap begitu saja.” </em>(hal. 101)</p>
<p style="text-align:justify;">Terlepas dari perbedaan status antara Holly dan narator, hubungan pertemanan antara keduanya sangatlah dekat, bahkan cenderung romantis meski tak mendayu-dayu. Hubungan yang tanpa hasrat untuk saling memiliki dan memaksakan kehendak satu dengan yang lainnya. Keduanya kadang menghabiskan waktu bersama. Narator dengan setia mendengarkan cerita Holly tentang masa lalunya, simpul-simpul pemikirannya dan mimpi-mimpinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 1961, Breakfast at Tiffany’s difilmkan. Tokoh Holly Golighty diperankan oleh si cantik Audrey Hepburn. Sejak saat itu Holly Golighty menjadi ikon budaya pop Hollywood, dan nama Audrey Hepburn melambung menjadi bintang papan atas Holywood. Capote berharap Marylin Monroe lah yang akan memerankan Holly. Bagaimanapun juga, Capote telah berhasil menciptakan sosok karakter yang melegenda lewat sebuah karya yang sangat nikmat dibaca, baik untuk sekedar hiburan, maupun untuk menilik salah salah satu fragmen kehidupan penduduk New York pada kurun 1940-an, semasa perang dunia II tengah berkecamuk, dalam hal ini, kehidupan kalangan atas dengan segala keglamorannya.</p>
<p style="text-align:right;"><strong>(Adi Toha)</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/568/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/568/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/568/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/568/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/568/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/568/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/568/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/568/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/568/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/568/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=568&subd=jalaindra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2009/04/18/kisah-holly-golighty/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/04/cover_breakfast_at_tiffanys.gif" medium="image">
			<media:title type="html">cover_breakfast_at_tiffanys</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/04/capote.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">capote</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Maria, Kenangan Cinta Pertama</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2009/04/16/maria-kenangan-cinta-pertama/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2009/04/16/maria-kenangan-cinta-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Apr 2009 21:16:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=561</guid>
		<description><![CDATA[Judul     : Maria
Pengarang     : Vladimir Nabokov
Penerbit     : Serambi
Tahun     : I, Maret 2009
Tebal     : 205 halaman
Mahluk apakah yang bernama kenangan itu? Sehingga setiap kehadirannya bisa meruntuhkan jarak antara masa kini dan masa lalu. Kenangan hadir begitu kuatnya sehingga waktu yang seharusnya bergulir semakin membawa ke masa depan, malah seperti mengantar kembali ke masa lalu? Apalagi jika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=561&subd=jalaindra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><img class="alignright" src="http://serambi.co.id/modules/Katalog/images/cover/buku_Maria.gif" alt="" width="150" height="210" />Judul     : <strong>Maria</strong><br />
Pengarang     : Vladimir Nabokov<br />
Penerbit     : Serambi<br />
Tahun     : I, Maret 2009<br />
Tebal     : 205 halaman</p>
<p style="text-align:justify;">Mahluk apakah yang bernama kenangan itu? Sehingga setiap kehadirannya bisa meruntuhkan jarak antara masa kini dan masa lalu. Kenangan hadir begitu kuatnya sehingga waktu yang seharusnya bergulir semakin membawa ke masa depan, malah seperti mengantar kembali ke masa lalu? Apalagi jika kenangan itu berhubungan dengan pengalaman cinta pertama di masa muda yang penuh romantisme dan begitu menakjubkan, yang didasari oleh cinta yang tulus dan penuh kelembutan. Itulah yang terjadi dengan Lev Glebovich Ganin, seorang imigran Rusia yang tinggal di sebuah pondokan kumuh di Berlin.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu ketika Ganin terjebak dalam lift pondokannya yang rusak bersama seorang penyewa pondokan lainnya. Ganin mulai berkenalan dengan teman pondokannya itu yang bernama Aleksey Ivanovich Alfyorof; dan ia diperkenalkan dengan sebuah nama: Maria, istri Alfyorof yang akan datang ke pondokan itu beberapa hari lagi. Siapakah Maria bagi Ganin? Dari adegan awal saja, pengarang telah memberikan semacam pertanda bahwa Ganin dan Alfyorof telah dihubungkan oleh sebuah nama: Maria.</p>
<p style="text-align:justify;">Ingatan Ganin tentang sebuah nama: Maria, semakin menjadi manakala Alfyorof menunjukkan foto istrinya kepada Ganin. Tanpa berkata sepatah katapun, Ganin meninggalkan kamar Alfyorof dan membanting pintu kamarnya sendiri tepat di depan muka Alfyorof setelah ia melihat foto-foto Maria yang ditunjukkan kepadanya. Ganin yang semula sangat periang dan sering melakukan “kehebohan” bagi seisi pondokan, berubah menjadi seorang pemurung yang tidak menyenangkan.<span id="more-561"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Kini bagai ada sesuatu yang hilang dari dirinya, bahkan jalannya agak terbungkuk dan mengeluh pada Potyagin bahwa ia menderita insomnia –‘seperti seorang perempuan gelisah’.”</em> (hal. 25)</p>
<p style="text-align:justify;">Maria adalah cinta pertama Ganin yang telah lama hilang. Ingatan Ganin melayang pada sembilan tahun sebelumnya, pada musim panas 1925 saat ia baru saja sembuh dari penyakit tifus. Di sebuah desa kecil di Petersburg. Maria yang <em>“Alis matanya yang indah dan selalu bergerak-gerak, keaslian yang menyiratkan kehangatan, terutama di bagian pipinya; lubang hidungnya yang mengembang tiap kali ia bicara, tertawa-tawa kecil saat mengisap air dari batang rumput; gaya bicaranya cepat dan beraksen kental, dengan deru napasnya, dan lekukan lehernya yang menggetarkan.”</em> (Hal 110), adalah masa lalu Ganin yang ia tinggalkan, bersama kepergiannya dari Rusia.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Begitu terhanyutnya ia dalam kenangan masa lalu sampai-sampai ia tidak peduli pada waktu yang terus bergulir. Tubuhnya berada di pondokan Frau Dorn tetapi jiwanya berada di Rusia, hidup di dunia masa lalunya seolah semua itu nyata seperti dulu. Waktu yang terus menggelinding baginya malah seperti mengantarnya makin masuk ke dalam dunia masa lalunya, yang terkuak perlahan-lahan.”</em> (Hal 107)</p>
<p style="text-align:justify;">Sambil mengenang Maria, Ganin berharap Maria masih mencintainya. Kenangan dan harapannya ini membuat Ganin memutuskan untuk mengakhiri hubungan percintaannya dengan Lyudmila, kekasihnya semasa tinggal di Berlin. Ia bahkan berencana, sesaat setelah pertemuan kembali dengan kekasih masa lalunya itu, Ganin akan mengajak Maria kabur ke Perancis dan tinggal bersama, meninggalkan pondokan kumuhnya di Berlin, meninggalkan suami Maria.</p>
<p style="text-align:justify;">Di pondokan yang bergaya Rusia dan dekat sekali dengan stasiun kereta api itu tinggal beberapa orang imigran Rusia. Selain Ganin dan Alfyorof, ada Potyagin, seorang penyair tua Rusia yang tengah menanti Passpor dan Visa untuk pergi ke Paris, Klara perempuan berdada montok yang diam-diam menaruh hati pada Ganin, dua orang penari balet: Kolin dan Gornotsvetov, dan tentu saja sang pemilik pondokan, Lydia Nikolaevna, janda seorang pebisnis Jerman, yang pelit dan merasa bangga bila berhasil menghemat sesuatu.</p>
<div id="attachment_566" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><img class="size-full wp-image-566" title="nabokov11" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/04/nabokov11.jpg?w=200&#038;h=216" alt="nabokov11" width="200" height="216" /><p class="wp-caption-text">Vladimir Nabokov</p></div>
<p style="text-align:justify;">Maria, adalah karya pertama Vladimir Nabokov, sastrawan kelahiran Rusia yang telah melahirkan karya termahsyur yang mengguncang dunia, Lolita, novel yang berkisah tentang pengakuan cinta seorang profesor paruh baya, Humbert Humbert, dengan seorang gadis kecil belasan tahun, Dolores Haze. Lolita lah yang melambungkan nama Vladimir Nabokov dalam jajaran penulis besar dunia. Ditulis dan diterbitkan pertama kali dalam bahasa Rusia dengan judul Mashen&#8217;ka novel ini menunjukkan banyak sisi dari pengalaman hidup Nabokov yang ia sisipkan dalam sosok Ganin. Masa remaja Ganin di St. Petersburg sama halnya dengan masa remaja Nabokov. Ganin yang tinggal di Berlin setelah meninggalkan Rusia sama halnya dengan Nabokov yang beremigrasi ke Berlin semasa revolusi Rusia. Pandangan Nabokov akan negeri kelahirannya itu tercermin dalam beberapa dialog tokoh-tokohnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Begitulah seharusnya. Kita harus mencintai Rusia. Tanpa cinta dari para emigran seperti kita, cerita tentang Rusia akan tamat. Tak seorang pun yang tinggal di Rusia cinta pada Rusia.” (hal. 104). </em>Itulah perkataan Potyagin. Meskipun ia berencana menghabiskan sisa hidupnya di Paris, ia tetap cinta Rusia. Berbeda dengan Alfyorof, yang mengatakan kepada Ganin perkataan: <em>“berhentilah menjadi seorang Bolshevik. Boleh saja kau masih mengaguminya, tetapi sikapmu keliru, percayalah. Sudah saatnya kita mengakui bahwa Rusia sudah tamat, bahwa kaum “orang kudus”, kaum tani Rusia ternyata tidak lebih dari sampah masyarakat –tidak seperti yang diharapkan- dan negeri kita itu sudah tamat untuk selamanya.” </em>(hal 54)</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun karya pertama Nabokov ini terbilang pendek -hanya 205 halaman dalam terjemahan bahasa Indonesia- namun telah menunjukkan kemahiran Nabokov dalam mengolah kata untuk mengambarkan latar peristiwa dan menghidupkan karakter tokoh-tokohnya. Bagaimana ketika menuliskan situasi pondokan tempat tinggal Ganin, Nabokov selalu menyertakan dengung dan bising suara kereta api yang lewat di dekat pondokan, seakan kereta api tengah melintas menembus pondokan tersebut. Peralihan dari satu bab ke bab lain dalam bentuk flashback yang berulang-ulang, membawa pembaca untuk ikut mengenang Maria, lewat kenangan Ganin. Lewat serangkain kenangan itulah Nabokov menghidupkan sosok Maria.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai karya pertama dari seorang pengarang besar, Maria sangat layak dibaca, selain karena kemenarikan ceritanya itu sendiri, juga kita bisa belajar tentang bagaimana seorang pengarang besar dalam melahirkan karya pertamanya.  Dan fiksionalisasi dari pengalaman hidup, selalu menarik untuk dijadikan sebuah karya.</p>
<p style="text-align:right;">-Adi Toha-</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/561/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=561&subd=jalaindra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2009/04/16/maria-kenangan-cinta-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://serambi.co.id/modules/Katalog/images/cover/buku_Maria.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/04/nabokov11.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">nabokov11</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The New Life, Orhan Pamuk &#8211; Sihir Sebuah Buku</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2009/03/21/the-new-life-orhan-pamuk-sihir-sebuah-buku/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2009/03/21/the-new-life-orhan-pamuk-sihir-sebuah-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2009 15:38:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=553</guid>
		<description><![CDATA[Judul Buku : The New Life, Kehidupan Baru
Pengarang : Orhan Pamuk
Penerjemah : Erwin Salim &#38; Ratih Ramelan
Penerbit : Serambi, November 2008
Tebal : 469 halaman
“Suatu hari, aku membaca sebuah buku, dan seluruh kehidupanku pun berubah”. Itulah kalimat pembuka novel karya penerima penghargaan nobel sastra tahun 2006, Ferit Orhan Pamuk, yang berjudul The New Life, kehidupan baru. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=553&subd=jalaindra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><img class="alignright size-full wp-image-554" title="cover" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/03/cover.gif?w=150&#038;h=210" alt="cover" width="150" height="210" />Judul Buku : <em><strong>The New Life, Kehidupan Baru</strong></em><br />
Pengarang : Orhan Pamuk<br />
Penerjemah : Erwin Salim &amp; Ratih Ramelan<br />
Penerbit : Serambi, November 2008<br />
Tebal : 469 halaman</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Suatu hari, aku membaca sebuah buku, dan seluruh kehidupanku pun berubah”</em>. Itulah kalimat pembuka novel karya penerima penghargaan nobel sastra tahun 2006, Ferit Orhan Pamuk, yang berjudul The New Life, kehidupan baru. Novel ini terbit pertama kali di Turki dengan judul Yeni Hayat, pada tahun 1995 dan menjadi buku yang paling cepat terjual habis dalam sejarah Turki.</p>
<p style="text-align:justify;">The New Life, dinarasikan oleh Osman, seorang mahasiswa teknik di Istanbul, yang suatu ketika melihat sebuah buku dalam genggaman seorang gadis cantik teman kuliahnya. Secara kebetulan, dalam perjalanan pulang, ia melihat buku itu dan membelinya di sebuah kaki lima. Kebetulan itulah yang akhirnya merubah seluruh kehidupan Osman. Sebuah kebetulan pula, jika gadis cantik yang bernama Janan itu telah memiliki kekasih yang bernama Mehmet, yang juga telah membaca dan telah melakukan perjalanan untuk mencari dunia dalam buku itu. Sebuah dunia dan perjalanan, yang menurut Mehmet akan sangat berbahaya, karena ada sekelompok orang yang akan meneroror bahkan membunuhnya hanya karena ia telah membaca buku itu.<span id="more-553"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Mehmet menghilang pada suatu hari. Janan pun menghilang. Terdorong oleh cintanya kepada Janan, dan obsesinya untuk mencari dunia baru dalam buku itu, Osman pun melakukan perjalanan acak dengan bus dalam waktu yang acak pula. Ia singgah di terminal hanya untuk pindah ke bus lain yang tak ia ketahui akan membawanya kemana. Perjalanan-perjalanannya kebanyakan berakhir dengan kecelakaan bus. Osman mengatakan kepada dirinya sendiri: <em>“Si pengembara muda begitu bertekad untuk menemukan dunia antah berantah itu, sampai dia membiarkan dirinya diangkut tanpa henti di jalan yang akan membawanya ke tepi perbatasan.”<br />
</em><br />
Dalam kecelakaan bus kesekian kalinya yang dialami Osman, akhirnya ia bertemu dengan Janan. Mereka kembali melanjutkan perjalanannya mencari Mehmet, sebuah perjalanan yang terkesan suram, absurd dan magis. Sebuah perjalanan untuk mencari kecelakaan, menuju dunia dan kehidupan baru, mengikuti jejak Mehmet yang telah melepaskan sama sekali masa lalunya dan benar-benar telah mencapai kehidupan barunya dalam buku itu berkat sebuah kecelakaan lalu lintas.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah kecelakaan bus membawa mereka ke kota Gudul, dan bertemu dengan Dokter Fine, pemimpin sebuah jaringan rahasia yang berusaha melawan pengaruh buruk buku itu, melawan kebudayaan asing, melawan barang-barang baru yang datang dari barat, dan perang habis-habisan melawan barang cetakan yang diproduksi secara massal. Dari Dokter Fine lah Osman mengetahui lebih banyak tentang buku berjudul “The New Life” yang telah mempesonanya sedekimian hebat, dan tentang adanya konspirasi besar yang dihembuskan oleh pihak-pihak asing untuk mempengaruhi pemikiran anak-anak muda Turki. Juga fakta tentang Mehmet.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="size-medium wp-image-555 alignleft" title="pamuk_orhan" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/03/pamuk_orhan.gif?w=200&#038;h=300" alt="pamuk_orhan" width="200" height="300" />Secara ringkas dan sederhana, novel ini berkisah tentang pencarian diri, perjalanan demi perjalanan untuk menyatukan kepingan teka-teki sebuah buku yang misterius, pembunuhan demi pembunuhan dan tentang cinta segitiga. Namun, jika ditilik lebih dalam lagi, novel ini ingin menunjukkan dialog antara Timur dan Barat, antara yang moderen dan yang konvensional dalam geliat kebudayaan Turki yang tengah bangkit untuk mencapai kesejajarannya dengan negara-negara Eropa.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam setiap karyanya, Pamuk selalu membenturkan kebudayaan timur dan barat lewat labirin kisah dan identitas tokoh-tokohnya. Osman adalah potret anak muda yang gamang, bahkan cenderung frustasi, yang terpesona oleh sebuah dunia dan kehidupan baru yang ditemuinya dalam sebuah buku. Karena kecemburuannya terhadap Mehmet, ia rela melakukan pembunuhan demi pembunuhan. Sedangkan Dokter Fine adalah potret identitas lokal yang hendak mempertahankan kebudayaan lama yang konvensional, meskipun di satu sisi, ia menggunakan merek-merek arloji dari Barat untuk menyebut setiap agen yang ditugasinya untuk memata-matai anaknya yang juga terpengaruh oleh buku itu, hal itu semata-mata karena ketertarikannya akan waktu.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain mengikuti petualangan Osman dalam menelusuri setiap detil tentang buku itu, pembaca juga diajak mengikuti arus kesadaran Osman akan banyak hal yang dijumpainya selama perjalanan. Bahkan di beberapa bagian, Osman mengajak bicara secara langsung dengan pembacanya, seakan ia mengerti apa yang dipikirkan oleh pembacanya dalam mengikuti narasinya. Seperti misalnya: <em>“Aku hampir dapat melihat pembacaku mengerutkan dahi dengan sedih, karena memahami bahwa aku sedang berusaha mencukupkan diri dengan apa yang tersisa dari malam-malam itu di dalam pikiranku, hatiku dan jiwaku. Pembaca yang sabar, pembaca yang bersimpati, pembaca yang peka, menangislah untukku jika dapat, tapi jangan kau lupa bahwa orang yang kau tangisi adalah seorang pembunuh.“</em>(hal. 379)</p>
<p style="text-align:justify;">Pamuk tidak mengungkapkan apa sebenarnya isi buku yang dimaksud, ia hanya menunjukkan kepingan-kepingannya lewat pemikiran dan pengalaman mereka yang telah membacanya serta beberapa kutipan dalam buku itu yang ternyata adalah kutipan dari buku-buku yang lain, di antaranya dari Ibnu Arabi, Rilke, Jules Verne dan Dante. Sampai baris terakhir pun, buku itu tetap menjadi misteri, dan pembaca dibiarkan mereka-reka sendiri. Bisa jadi buku itu adalah sebuah perlambang yang universal. Masing-masing pembaca bisa menafsir dan menentukan sendiri, sesuai dengan refleksi perjalanan hidupnya, buku apa yang dimaksud. Sebagaimana yang dituturkan oleh Osman: <em>“Jadi seperti itulah, sudut pandangku diubah oleh buku itu, dan buku itu diubah oleh sudut pandangku.“</em>(hal. 14)</p>
<p style="text-align:justify;">The New Life, kehidupan baru, dunia baru adalah sesuatu yang ditawarkan oleh sebuah buku. Dalam ceramah nobelnya, Pamuk mengatakan: <em>“Ketika aku duduk di belakang mejaku, selama beberapa hari, bulan, bahkan tahun, perlahan-lahan menuliskan kata-kata baru ke dalam halaman kosong, aku merasa seperti aku tengah menciptakan sebuah dunia baru.” </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Suatu hari, aku membaca sebuah buku, dan seluruh kehidupanku pun berubah”</em>. Sebuah buku, memang penuh dengan sihir.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Adi Toha</strong><br />
<em>Pendiri Rumah Baca Jala Pustaka, Pekalongan</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/553/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/553/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/553/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=553&subd=jalaindra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2009/03/21/the-new-life-orhan-pamuk-sihir-sebuah-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/03/cover.gif" medium="image">
			<media:title type="html">cover</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/03/pamuk_orhan.gif?w=222" medium="image">
			<media:title type="html">pamuk_orhan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dialog Indah Menjelang Ajal</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2009/03/18/dialog-indah-menjelang-ajal/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2009/03/18/dialog-indah-menjelang-ajal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2009 14:37:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=547</guid>
		<description><![CDATA[Judul        : Cecilia &#38; Malaikat Ariel
Judul Asli    : Through a Glass, Darkly
Pengarang     : Jostein Gaarder
Penerjemah     : Andytias Prabantoro
Penerbit     : Mizan, Desember 2008
Tebal        : 211 halaman
Kisah pengalaman seseorang dalam melewati saat-saat terakhir menjelang datangnya kematian selalu memberikan penyadaran akan betapa berharganya waktu hidup yang dimiliki di dunia. Terkadang, kita tak pernah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=547&subd=jalaindra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><img class="alignright size-full wp-image-548" title="cecilia-dan-malaikat-ariel" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/03/cecilia-dan-malaikat-ariel.jpg?w=150&#038;h=210" alt="cecilia-dan-malaikat-ariel" width="150" height="210" />Judul        : <em><strong>Cecilia &amp; Malaikat Ariel</strong></em><br />
Judul Asli    : <em>Through a Glass, Darkly</em><br />
Pengarang     : Jostein Gaarder<br />
Penerjemah     : Andytias Prabantoro<br />
Penerbit     : Mizan, Desember 2008<br />
Tebal        : 211 halaman</p>
<p style="text-align:justify;">Kisah pengalaman seseorang dalam melewati saat-saat terakhir menjelang datangnya kematian selalu memberikan penyadaran akan betapa berharganya waktu hidup yang dimiliki di dunia. Terkadang, kita tak pernah menyadarinya, dan baru tersadar saat kita telah sampai di titik akhir kehidupan: sakaratul maut. Jostein Gaarder, lewat novel pendeknya Through a Glass, Darkly (yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Cecilia &amp; Malaikat Ariel) hendak menceritakan kisah serupa. Dalam novel-novelnya, Jostein Gaarder kerap mengangkat tema dan gagasan besar tentang filosofi kehidupan, namun dituturkannya lewat kisah yang sederhana. Novel-novelnya yang telah terbit sebelumnya di Indonesia adalah: Dunia Sophie, Misteri Soliter, Vita Brevis, <a href="http://jalaindra.wordpress.com/jejak-media/orange-girl/" target="_blank">Gadis Jeruk</a>, Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken, dan <a href="http://www.ruangbaca.com/ruangbaca/?doky=MjAwOA==&amp;dokm=MDM=&amp;dokd=MzE=&amp;dig=YXJjaGl2ZXM=&amp;on=VUxT&amp;uniq=NjQ5" target="_blank">Maya.</a></p>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu malam natal, Cecilia Skotbu, seorang gadis belia hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidurnya, ia menderita penyakit parah yang dikhawatirkan tidak akan bisa disembuhkan. Ia tidak bisa melewatkan malam natal bersama keluarganya. Cecilia marah kepada Tuhan atas derita yang dialaminya. Ia menganggap bahwa Tuhan tidak adil. Lalu, tiba-tiba, pada tengah malam, keajaiban terjadi: seorang malaikat yang bernama Ariel datang menghiburnya. Terjadilah dialog antara keduanya. Seiring berjalannya waktu, terjalin keakraban antara Cecilia dan Ariel. Keduanya lalu bersepakat untuk saling berbagi cerita. Cecilia harus menceritakan tentang dunia dan bagaimana rasanya menjadi manusia, sebagai balasannya, Ariel akan memberitahukan tentang surga dan bagaimana rasanya menjadi malaikat.<span id="more-547"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Mulailah mereka saling bercerita. Ariel selalu ingin tahu bagaimana rasanya menjadi manusia, bagaimana mata manusia bisa melihat, telinga bisa mendengar, lidah bisa mengecap rasa, hidung bisa membaui, kulit bisa merasakan sentuhan, dan pikiran bisa mengingat dan bermimpi. Dalam pandangan Ariel, kesemua indra manusia itu adalah sebuah penciptaan yang agung dan penuh teka-tekai, terutama pikiran manusia. Ariel mengatakan, “Dalam pikiran mereka, manusia dapat melakukan semua hal yang bisa dilakukan malaikat dengan tubuh mereka. Saat kau bermimpi atau berimajinasi, kau dapat melakukan di dalam kepalamu semua hal yang bisa dilakukan malaikat di seluruh alam semesta.”</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti lazimnya kisah-kisah Jostein Gaarder, ada dimensi filosofis dan teologis yang dikemukakan lewat kisah yang sederhana. Membaca penuturan Ariel kepada Cecilia, kita akan disadarkan betapa berharganya waktu yang kita miliki di dunia, dan betapa tak ternilainya penciptaan manusia dengan semua indra yang dimilikinya. Sebuah penciptaan, yang malaikat tidak memilikinya. Dalam satu bagian, Ariel mengatakan: “Aku tidak tahu rasanya punya badan dari darah dan daging. Aku tidak tahu rasanya tumbuh. Aku tidak tahu rasanya makan, kedinginan, atau bermimpi indah.”</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti halnya kisah-kisah dengan plot serupa, hanya ada dua kemungkinan penyelesaian akhir: tokoh utama menjemput maut dengan perasaan yang berbeda dari sebelumnya, atau tokoh utama secara ajaib terbebas dari maut, dan menjalani kehidupan dengan cara pandang baru. Lantas, bagaimanakah nasib Cecilia? Jostein Gaarder meramu kisah perjumpaan manusia dengan malaikat dalam menjelang ajal ini menjadi lebih menarik sekaligus reflektif-inspiratif lewat dialog-dialog antara Cecilia dan Ariel, yang merupakan dua kutub berseberangan yang berusaha saling mengeja. Dialog-dialog inilah yang ditonjolkan, daripada sekedar plot kisah. Dialog-dialog yang terjadi antara Cecilia dan Ariel, menyingkap banyak rahasia, sebuah dialog yang mewakili manusia dan malaikat, bumi dan langit, dunia dan surga.</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap kali selesai melakukan dialog dengan Ariel, Cecilia menulis dalam Diari Cina-nya, seakan hendak menyimpulkan apa yang telah dibicarakannya dengan Ariel. Beberapa kalimat yang ditulisnya adalah: “Setiap detik, bayi-bayi baru muncul dari lengan jas Tuhan. Sim salabim! Setiap detik pula, ada orang-orang yang menghilang. Mantra K E L U A R terucap, maka kau pun harus keluar… Bukan kita yang datang ke dunia. Dunialah yang datang kepada kita. Terlahir sama artinya dengan dianugerahi seluruh dunia ini.”</p>
<p style="text-align:justify;">Sosok malaikat deskripsi Jostein dalam kisah ini tidak sama dengan sosok malaikat pada umumnya yang dicitrakan sebagai seorang yang tinggi besar dan bersayap. Malaikat Ariel bersosok kecil, bahkan lebih kecil dari tubuh Cecilia, kepala polos tak berambut, bertubuh halus tak berbulu, dan bahkan tak bersayap. Mengenai ini, Ariel menjawab: “Burung memerlukan sayap untuk terbang karena mereka terbuat dari darah dan daging. Kami terbuat dari ruh, jadi kami tidak memerlukan sayap untuk bergerak di alam semesta ini.”</p>
<p style="text-align:justify;">Tentang keistimewaan pikiran anak-anak, Ariel mengatakan: “Mereka (orang dewasa) menganggap dunia sebagai hal yang biasa-biasa saja. Buat para malaikat di surga, dunia ini bukan sesuatu yang biasa-biasa saja, biarpun kami hidup sepanjang keabadian. Kami masih terheran-heran menyaksikan apa yang telah Tuhan ciptakan. Lagi pula, Ia sendiri juga terheran-heran. Karena itulah, Ia lebih menyukai anak kecil yang serba ingin tahu ketimbang memikirkan orang-orang dewasa yang sok tahu.”</p>
<p style="text-align:justify;">Membaca kisah Cecilia, akan kita temukan banyak hal yang bisa kita renungkan. Tanya jawab Cecilia-Ariel yang sederhana namun menggelitik kesadaran dan pemikiran kita, harus dipahami sebagai sebuah keingintahuan akan rahasia alam semesta, termasuk rahasia kehidupan itu sendiri. Merenungkannya, kita akan disadarkan akan kebesaran dan kesempurnaan penciptaan manusia, alam semesta, dan semua entitas yang termasuk di dalamnya. Dan bisa jadi, kehidupan saat ini, di dunia ini, adalah surga itu sendiri.(*)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Adi Toha</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/547/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/547/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/547/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=547&subd=jalaindra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2009/03/18/dialog-indah-menjelang-ajal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2009/03/cecilia-dan-malaikat-ariel.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">cecilia-dan-malaikat-ariel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The New Life &#8211; Orhan Pamuk</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2008/12/24/the-new-life-orhan-pamuk/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2008/12/24/the-new-life-orhan-pamuk/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Dec 2008 12:40:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=398</guid>
		<description><![CDATA[Pertama kali melihat buku ini di Jatos. Membaca blurb di belakangnya, saya langsung berpikir &#8220;Ini Buku Gue Banget!&#8221;. Kek gini nie blurbnya: &#8220;Osman, seorang mahasiswa muda, terobsesi dengan sebuah buku magis yang membahas sifat dasar cinta dan hakikat diri. Dia mengabaikan rumah dan keluarganya, menelantarkan studinya, dan kemudian kelakukan pencarian makna rahasia-rahasia yang lebih misterius [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=398&subd=jalaindra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"><a href="http://serambi.co.id/modules.php?name=Katalog&amp;op=tampilbuku&amp;bid=377"><img class="alignright" src="http://serambi.co.id/modules/Katalog/images/cover/buku_the_nulife.gif" alt="" width="150" height="210" /></a>Pertama kali melihat buku ini di Jatos. Membaca blurb di belakangnya, saya langsung berpikir &#8220;Ini Buku Gue Banget!&#8221;. Kek gini nie blurbnya: <em>&#8220;Osman, seorang mahasiswa muda, terobsesi dengan sebuah buku magis yang membahas sifat dasar cinta dan hakikat diri. Dia mengabaikan rumah dan keluarganya, menelantarkan studinya, dan kemudian kelakukan pencarian makna rahasia-rahasia yang lebih misterius dari buku itu.&#8221;</em></p>
<p><em></em></p>
<p align="justify">Si Osman bisa jadi adalah gambaran diri saya sendiri. Ya, setelah saya membaca beberapa buku, saya terjatuh ke kedalamannya dan berniat menyelami kedalaman-kedalaman buku-buku yang lain. Dan berobsesi menulis sebuah buku juga, mungkin buku hidup saya sendiri. Hehehe..</p>
<p align="justify">Sama dengan Osman, saya menelantarkan studi saya sebelumnya di sebuah fakultas eksak (Osman di fakultas Teknik), bahkan meninggalkannya, menuju sebuah dunia baru, dunia buku. Hahaha..</p>
<p align="justify">Baru beberapa bab yang sudah dibaca. Kalimat-kalimat Pamuk panjang dan padat. Ada kesan magis dalam setiap kalimatnya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/398/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/398/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/398/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=398&subd=jalaindra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2008/12/24/the-new-life-orhan-pamuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://serambi.co.id/modules/Katalog/images/cover/buku_the_nulife.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Perselingkuhan Carlos Fuentes</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2008/10/25/perselingkuhan-carlos-fuentes/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2008/10/25/perselingkuhan-carlos-fuentes/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Oct 2008 19:14:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Carlos Fuentes]]></category>
		<category><![CDATA[diana soren]]></category>
		<category><![CDATA[jean seberg]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=362</guid>
		<description><![CDATA[Judul : Diana, Dewi Yang Berburu Seorang Diri.
Judul Asli : Diana, The Goddes Who Hunts Alone (Inggris), Diana o la cazadora solitaria (Mexico)
Pengarang : Carlos Fuentes
Penerjemah : Dwi Cipta
Penerbit : Penerbit e-Nusantara
Tahun : I, Juli 2008
Tebal : 279 Halaman.

Tidak mudah untuk membaca novel Diana, Dewi Yang Berburu Seorang Diri ini, tanpa mengenal lebih jauh dua [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=362&subd=jalaindra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"><a href="http://jalaindra.files.wordpress.com/2008/10/diana-depan.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-363" title="diana-depan" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2008/10/diana-depan.jpg?w=150&#038;h=210" alt="" width="150" height="210" /></a>Judul : <em><strong>Diana, Dewi Yang Berburu Seorang Diri.</strong></em><br />
Judul Asli : <em>Diana, The Goddes Who Hunts Alone (Inggris), Diana o la cazadora solitaria (Mexico)</em><br />
Pengarang : Carlos Fuentes<br />
Penerjemah : Dwi Cipta<br />
Penerbit : Penerbit e-Nusantara<br />
Tahun : I, Juli 2008<br />
Tebal : 279 Halaman.</p>
<div>
<p align="justify">Tidak mudah untuk membaca novel Diana, Dewi Yang Berburu Seorang Diri ini, tanpa mengenal lebih jauh dua sosok nyata yang menjadi tokoh utamanya. Mereka adalah Jean Seberg dan Carlos Fuentes.</p>
<p align="justify"><img class="alignleft" title="Jean Seberg" src="http://www.filmreference.com/images/sjff_03_img1335.jpg" alt="" width="150" height="210" />Jean Seberg, adalah seorang aktris muda Amerika tahun 1960-an yang kisah hidupnya penuh kontroversi. Karier pertamanya dalam perfilman Holywood bermula dari terpilihnya gadis kelahiran Iowa ini dari sekitar 18.000 peserta audisi untuk membintangi film Saint Joan, yang diangkat dari naskah karya George Bernard Shaw, peraih nobel sastra tahun 1925. Segera setelah itu, gadis yang belum menginjak umur 20 tahun itu menjadi perlambang “Mimpi Amerika” di mana karier, kesuksesan dan uang bisa didapat dengan cara mudah dan cepat. Kontroversi tentang dirinya semakin menjadi ketika ia mendukung kelompok Black Panther Party, sebuah kelompok bawah tanah yang mendukung hak-hak sipil orang kulit hitam Afro-America di Amerika Serikat. Kepopuleran dan keterlibatannya dengan kelompok tersebut membuat badan inteligen Amerika Serikat, FBI mengawasinya dengan ketat kehidupan pribadinya. Ketika pada tahun 1970 ia hamil tujuh bulan, FBI mengeluarkan cerita palsu bahwa bayi yang dikandungnya adalah hasil hubungan gelapnya dengan seorang anggota Black Panther, bukan dari hubungannya dengan suami keduanya, Romain Gary, seorang penulis Perancis. Pada tahun 1979 di Paris, ia ditemukan meninggal di dalam mobilnya, bunuh diri, dalam usia 41 tahun.</p>
<p align="justify"><span id="more-362"></span><a href="http://jalaindra.wordpress.com/2008/08/15/carlos-fuentes-biografi-singkat/"><img class="alignright" title="Carlos Fuentes" src="http://www.achievement.org/achievers/fue0/photos/fue0-006a.gif" alt="" width="150" height="210" /></a>Carlos Fuentes adalah seorang pengarang novel kebangsaan Meksiko, politikus berhaluan kiri, diplomat, wartawan, dramawan, dan eseis. Novelnya yang berjudul La Muerte de Artemio Cruz (Kematian Artemio Cruz) adalah satu sumbangan besar bagi gerakan realisme magis sastra Amerika latin, selain novel Cien años de soledad (Seribu Tahun Kesunyian) karya Gabriel Garcia Marquez. Karya-karya Fuentes lainnya yang mendapat pengakuan luas di kalangan internasional adalah: Aura, Terra Nostra, El Gringo Viejo (The Old Gringo), Diana o la Cazadora Solitaria (The Goddes Who Hunts Alone), La Silla del Águila (The Eagle’s Throne) dan beberapa karya lainnya. Lewat karya-karyanya, ia telah memenangi bermacam penghargaan sastra internasional. Fuentes sering menjadikan pengalaman pribadi sebagai sebagai titik tolak untuk membangun novelnya. Selain itu, perbenturan budaya Meksiko dengan budaya global, terutama Amerika yang memunculkan dilema identitas nasional, menjadi tema beberapa karyanya yang lain. Fuentes merupakan salah satu eksponen generasi boom sastra Amerika latin, selain Gabriel Garcia Marquez (Columbia), Julio Cortazar (Argentina), Mario Vargas Llosa (Peru), dan beberapa pengarang Amerika latin lainnya, yang berhasil menempatkan kesusastraan amerika latin dalam peta kesusastraan dunia. Ia telah berulang kali disebut sebagai kandidat peraih penghargaan nobel sastra.</p>
<p align="justify">Baik Jean Seberg maupun Carlos Fuentes, keduanya adalah sosok kontroversial. Karena aktivitas dan pandangan politiknya yang cenderung kritis terhadap Amerika Serikat, serta dukungannya terhadap pemerintahan Fidel Castro, Fuentes sempat dicekal di Amerika Serikat dan Puerto Rico.</p>
<p align="justify">Dalam novel Diana, Dewi Yang Berburu Seorang Diri, Jean Seberg difiksionalisasikan sebagai Diana Soren, aktris terkenal yang berhasil mencuri perhatian Hollywood lewat perannya sebagai Joan of Arc, sedangkan Fuentes memerankan dirinya sendiri, seorang penulis sukses dari Meksiko yang menjadi pembicaraan internasional. Keduanya bertemu dalam sebuah pesta tahun baru di rumah Eduardo Terrazas, arsitek ternama di Meksiko, untuk merayakan pergantian dekade enam puluhan menuju tujuh puluhan Sang penulis, yang baru saja bercerai dengan istrinya, segera terpikat oleh kecantikan aktris muda berambut pirang tersebut. Lewat serangkaian pembicaraan intim, akhirnya keduanya saling terpikat dan menjalin sebuah perselingkuhan. Pada saat yang sama, Diana telah bersuamikan Ivan Gravet, yang tak lain adalah fiksionalisasi dari Romain Gary.</p>
<p align="justify">Diana digambarkan sebagai sosok perempuan yang sempurna oleh sang penulis. Diana adalah penjelmaan Artemis, saudari Apollo. Diana adalah Cybele, dewi bumi, ibu dari segala kehidupan. Diana adalah Astarte, dewi malam Syiria yang berkuasa atas kelahiran, kesuburan, kehancuran dan kematian. Diana adalah Santa Joan, perawan dari Orleans yang mendapat visi ketuhanan untuk memimpin pasukan perang Perancis dalam merebut kemerdekaan dari kerajaan Inggris, dan menjadi martir dalam usia belia, dibakar dalam kobaran api. Dan Diana, adalah dewi malam yang berburu seorang diri di bawah cahaya rembulan.</p>
<p align="justify">Perselingkuhan pun berlangsung. Keduanya tinggal selama dua bulan di sebuah rumah di kota kecil Santiago, di sela shooting film terbaru Diana di kota itu. Hubungan asmara keduanya mulanya berlangsung dengan penuh gairah. Perbedaan usia keduanya tidak menghalangi mereka untuk saling memadu cinta. Sang penulis berusia empat puluh satu tahun sedangkan Diana berusia tiga puluh dua tahun. Sampai suatu malam, sang penulis mendapati Diana tengah melakukan pembicaraan tengah malam lewat telepon dengan seseorang yang dicurigai oleh sang penulis sebagai seorang tokoh dalam kelompok Black Panther Party.</p>
<p align="justify">Dalam novel semi-autobiografi ini, Fuentes tidak hanya menceritakan tentang periode dua bulan perselingkuhannya dengan Diana –yang dalam beberapa adegan persetubuhan, Fuentes menuliskannya secara vulgar– tetapi sebagai seorang penulis, ia juga menuliskan pandangan-pandangannya mengenai bahasa, sastra, dan kepenulisan. Sebagai seorang cendekiawan kritis yang cenderung ‘kiri’ ia juga menuliskan pemikiran politik dan kebudayaannya terhadap perubahan kondisi politik, sosial dan budaya amerika latin dalam berhadapan dengan globalisasi yang dibawa oleh kapitalisme amerika serikat. Berbeda dengan kecenderungan realisme magis sastra amerika latin pada umumnya, Fuentes memadukan peristiwa-peristiwa seputar kehidupan Jean Seberg ke dalam imaginasinya dalam kerangka cerita realis. Alhasil, pembaca dibuat ragu, apakah yang diceritakan oleh Fuentes adalah peristiwa sebenarnya ataukah fiksi belaka.</p>
<p align="justify">Kisah diceritakan lewat sudut pandang sang penulis, yang tak lain adalah Fuentes sendiri. Seperti halnya menceritakan sebuah pengalaman, dalam Diana, bertebaran tokoh-tokoh yang merupakan sosok nyata, seperti William Styron, novelis Amerika; Eduardo Terrazas, arsitek ternama Meksiko; Luis Bunuel, sutradara terkenal Mexico; Tina Turner, sang diva; dan nama-nama lain yang pernah keluar masuk dalam kehidupan Fuentes maupun Seberg. Episode terakhir kehidupan Diana tidak lain adalah episode kehidupan Jean Seberg, mulai dari kehamilannya, cerita palsu yang dihembuskan FBI, sampai pada kematiannya di Paris.</p>
<p align="justify">Membaca Diana adalah membaca sebuah pengalaman romantik, sekaligus biografis dari seorang pengarang yang telah malang melintang di dunia sastra internasional, khususnya sastra amerika latin dan seorang aktris ternama yang kontroversial karena aktivitasnya mendukung sebuah kelompok anti-penindasan. Bagaimana Fuentes berhasil memadukan sisi-sisi pengalaman pribadinya dan tokoh-tokoh lain menjadi sebuah prosa utuh yang indah dan sarat makna. Kisah Diana bukan hanya kisah tentang cinta, nafsu, kecemburuan dan pengkhianatan, namun di sisi lain adalah kisah tentang kegamangan dalam menjalani pergantian waktu dan arus kemajuan dengan segala benturan dan keterbelahan identitas individu pelaku-pelakunya.</p>
<p>Adi Toha</p></div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/362/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/362/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/362/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=362&subd=jalaindra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2008/10/25/perselingkuhan-carlos-fuentes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2008/10/diana-depan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">diana-depan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.filmreference.com/images/sjff_03_img1335.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Jean Seberg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.achievement.org/achievers/fue0/photos/fue0-006a.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Carlos Fuentes</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membaca Cikal, Bunga Rampai Sastra Remaja dan Pelajar Kab Pekalongan</title>
		<link>http://jalaindra.wordpress.com/2008/06/12/membaca-cikal-bunga-rampai-sastra-remaja-dan-pelajar-kab-pekalongan/</link>
		<comments>http://jalaindra.wordpress.com/2008/06/12/membaca-cikal-bunga-rampai-sastra-remaja-dan-pelajar-kab-pekalongan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 19:59:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalaindra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulasan Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalaindra.wordpress.com/?p=332</guid>
		<description><![CDATA[oleh: Adi Toha
Saya menerima buku ini dari Aveus Har, seorang pegiat sastra di Pekalongan yang juga penulis muda produktif Pekalongan, di acara “Sastra Balik Desa” di Desa Gebyok, Gunung Pati  Semarang, 16 Mei 2008 silam. Di tempat itulah juga untuk pertama kalinya saya bertemu dengan awak Komunitas Rumah Imaji Pekalongan, sebuah komunitas yang bergiat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=332&subd=jalaindra&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"><strong>oleh: Adi Toha</strong></p>
<p align="justify"><a href="http://jalaindra.files.wordpress.com/2008/06/cikal.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-329" style="float:right;" src="http://jalaindra.files.wordpress.com/2008/06/cikal.jpg?w=150&#038;h=200" alt="" width="150" height="200" /></a>Saya menerima buku ini dari Aveus Har, seorang pegiat sastra di Pekalongan yang juga penulis muda produktif Pekalongan, di acara “Sastra Balik Desa” di Desa Gebyok, Gunung Pati  Semarang, 16 Mei 2008 silam. Di tempat itulah juga untuk pertama kalinya saya bertemu dengan awak Komunitas Rumah Imaji Pekalongan, sebuah komunitas yang bergiat dalam kerja-kerja sastra di Kabupaten Pekalongan. Saya senang mengetahui bahwa di Pekalongan ada Komunitas Rumah Imaji, dengan kerja-kerja yang telah mereka capai sampai saat ini, termasuk dengan menerbitkan –bekerjasama dengan Dewan Kesenian Daerah-sebuah bunga rampai sastra remaja dan pelajar Kabupaten Pekalongan.</p>
<p align="justify">Cikal, demikian buku tersebut berjudul, adalah sebuah kumpulan cerita pendek dan puisi yang ditulis oleh para pelajar dan remaja di wilayah kabupaten Pekalongan. Cerita pendek dan puisi yang masuk ke dalam buku ini telah diseleksi oleh Tim penyeleksi yang terdiri dari Komunitas Rumah Imaji dan DKD Kab. Pekalongan. Hasilnya, terdapat 12 cerpen dan 20 puisi dengan 32 pengarang yang berasal dari pelajar SMP, SMA, anggota Komunitas Rumah Imaji, dan FLP.</p>
<p align="justify">Meski saya cukup senang dan bangga dengan penerbitan bunga rampai ini, namun, membaca cerpen-cerpen dan puisi-puisi dalam buku ini, saya tidak menemukan sesuatu yang baru yang cukup untuk membuat saya bisa kagum pada puisi dan cerpen-cerpen tersebut. Pilihan tema yang disajikan oleh para pengarang muda ini masih berkutat di seputar kehidupan remaja dan sekolah, seputar cinta dan persahabatan, pemandangan alam, dan perasaan hati, meski ada beberapa yang sedikit menyinggung permasalahan sosial. Pun bagaimana mengolah tema menjadi sebuah cerita atau puisi, masih biasa-biasa saja. Mungkin wajar, karena buku ini adalah bunga rampai sastra remaja dan pelajar, dan bisa jadi, sebagian besar karya para pengarang yang masuk ke dalam buku ini adalah karya pertama yang mereka tulis.</p>
<p align="justify"><span id="more-332"></span>Semisal cerpen dengan judul “Cehty” (ditulis oleh Widyasari, Komunitas Rumah Imaji), yang menjadi cerpen pertama dalam bunga rampai ini. Cerpen ini berkisah tentang Cehty, seorang cewek centil yang ternyata menarik perhatian Aswin, teman sekelasnya. Sudah lama Aswin menyukai Cehty, namun belum ada kesempatan atau keberanian untuk mengatakannya. Di saat Aswin dihukum oleh gurunya untuk membacakan surat cinta yang tidak seharusnya ia tulis di buku ulangannya di depan kelas, Aswin menyebut nama Cehty sebagai orang yang kepadanya surat cinta tersebut ia tuju. Padahal sebenarnya, surat cinta tersebut ditulis oleh Cehty, dan Cehty menuliskan nama Shasa, sahabat dekat Cehty, sebagai orang yang dimaksud oleh surat cinta Aswin. Cerita yang sangat biasa dan sinetronik, bukan? Demikian juga dengan cerpen “Di Balik Tudung Saji” (ditulis oleh Fandi Hidayat, Komunitas Rumah Imaji). Cerpen ini berkisah tentang kecurigaan di antara teman tentang siapakah sebenarnya yang mengambil paha ayam di balik tudung saji. Cerpen lain yang mengambil tema hampir serupa dengan dua cerpen di atas adalah “Bukan Mimpi Biasa” dan “September Ceria”.</p>
<p align="justify">Cerpen berjudul “Toksoplasma” (ditulis oleh Febriana Setianingsih, FLP Pekalongan) dan “Persaingan Sepatu” (ditulis oleh Fadilla Nur’ain Hafidz, FLP Pekalongan) mungkin sedikit berbeda, karena pencerita di kedua cerpen bukan sosok manusia. Dalam “Toksoplasma” kisah diceritakan oleh seekor kucing rumahan yang terusir dan menjadi kucing jalanan karena dianggap pembawa sial oleh pemiliknya. Sedangkan “Persaingan Sepatu” adalah percakapan antara sepatu bagus dan sepatu jelek tentang siapa yang sebenarnya lebih berguna bagi pemiliknya. Di kedua cerpen terlihat pengarang masih belum berani menciptakan tokoh yang keluar dari daerah amannya. Tokoh utama berakhir dengan melakukan sesuatu yang terkesan heroik bagi tokoh yang lain. Demi menghindari pengusiran untuk yang kedua kalinya, si kucing jalanan memilih untuk menyingkir manakala ‘majikan’ baru yang menampungnya mulai hamil. Si kucing terusir dari majikan pertamanya gara-gara dianggap menjadi penyebab keguguran kehamilan. Sedangkan sepatu jelek dalam cerpen “Persaingan Sepatu”, meskipun akhirnya terbuang, ia menjadi rumah baru bagi keluarga tikus. Sebuah pesan moral untuk berkorban dan berkeadilankah? Bisa jadi.</p>
<p align="justify">Sebuah pembacaan atas kondisi sosial masyarakat yang dilanda kemiskinan yang pada akhirnya melakukan segala cara untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari meskipun menyalahi aturan agama dan masyarakat, terlihat dalam cerpen “Masihkan Surga di Telapak Kaki Ibu?” (ditulis oleh Rina Suryani, Siswi SMAN 1 Wiradesa). Cerpen ini adalah kesaksian seorang anak yang bapaknya tertimpa kemalangan sehingga tidak mampu lagi untuk bekerja mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Sang Ibu yang tidak memiliki sumber penghasilan lagi, akhirnya melacur demi mencukupi kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anak-anaknya. Pada akhirnya, ketika sang Ibu meninggal karena kecelakaan, sang anak mengalami kebingungan apakah ia akan mengenangnya sebagai seorang ibu yang di telapak kakinya terletak surga, ataukah sebagai perempuan pelacur yang telah mengkhianati ayahnya?</p>
<p align="justify">Sebuah tafsir lain atas kondisi sosial masyarakat terlihat dalam cerpen “Bunga” (ditulis oleh Fransisca Delly, Siswi SMAN 1 Kajen). Cerpen ini mengambil kesenjangan antara kota dan desa sebagai latar belakang kisah. Diceritakan seorang bunga desa yang disebut dengan nama Bunga, baru saja pulang dari kota dengan membawa seorang gadis kecil. Orang-orang desa yang berprasangka buruk menyangka gadis kecil itu adalah anak haram Bunga hasil hubungan gelapnya di kota. Pergunjingan dan kecurigaan pun cepat meluas, sampai akhirnya Bunga dibakar hidup-hidup di rumahnya karena dianggap aib bagi warga desa, tanpa bisa melakukan penjelasan siapakah sebenarnya gadis yang dibawanya dari kota. Terlihat pengarang melakukan semacam stereotipikasi terhadap masyarakat desa yang dianggapnya sebagai sebuah masyarakat barbar, tidak mengerti hukum, mudah termakan oleh fitnah dan hasutan, berpikir sempit dan berperilaku anarki. Pertentangan antara desa dan kota terlihat dari cara pandang masyarakat desa yang menganggap bahwa apa yang dibawa Bunga dari kota –gadis kecil- adalah sesuatu yang didapat dengan cara yang kotor. Desa kurang bisa memahami bahwa banyak kemungkinan yang bisa terjadi di kota. Saya curiga, jangan-jangan pengarang telah termakan modernisme kota sehingga melupakan nilai-nilai tradisional desa, di mana selalu ada kemungkinan dialog dan komunikasi antar warga dalam suasana yang lebih akrab dan guyub daripada di kota, yang secara umum telah diketahui bahwa individualisme dan hedonisme telah semakin marak.</p>
<p align="justify">Membaca puisi-puisi di dalam bunga rampai ini, tidak ada tawaran sesuatu yang baru dan menarik, sama dengan puisi-puisi remaja kebanyakan. Tema-tema cinta, perasaan, dan pemandangan alam menjadi sesuatu yang diulang-ulang lewat reka kata-kata tanpa mengundang perenungan makna yang lebih mendalam. Secara bentuk, sebagian besar puisi yang terdapat dalam buku ini masih terikat pada tradisi puisi lama. Pengarang menggunakan bentuk kuatrin –empat baris dalam satu bait- dengan kepatuhan rima. Terhitung sebanyak 6 dari 8 puisi yang ditulis oleh pengarang yang masih siswa SMP menggunakan bentuk 3 kuatrin dalam puisinya. Bisa jadi karena mereka sangat terpengaruh dengan pengajaran puisi yang didapat di sekolah dan sama sekali buta dengan puisi-puisi lain di luar apa yang diajarkan di sekolah. Hal ini mungkin saja terjadi karena keterbatasan akses terhadap buku-buku atau majalah sastra di sekolah-sekolah daerah, atau karena memang pengajaran di sekolah yang tidak merangsang siswa untuk membaca buku-buku di luar buku pelajaran. Beberapa pengarang yang siswa SMA pun menggunakan bentuk yang sama dalam puisi mereka.</p>
<p><em>KUKIRIM RINDU</em></p>
<p><em>Kukirim puisi ini lewat angin<br />
Yang menyanyikan rindu padamu<br />
Membaca gelombang menjala bulan<br />
Mengail harap mengusir cemas</em></p>
<p><em>Barangkali lewat puisi ini<br />
Rindu kulunasi</em></p>
<p><em>Mencari kepingan bintang<br />
Yang jatuh di padang ilalang<br />
Memetik bunga di padang jiwa<br />
Merangkai rindu jadi mutiara</em></p>
<p><em>Kupersembahkan untukmu<br />
Atas nama Tuhan<br />
Kuingin berbagi sepotong cinta lewat tatapanmu<br />
Di mana rindu berguguran menjelma kupu-kupu</em></p>
<p align="justify">Dari salah satu puisi yang ditulis oleh Eliza Ayu Febriani, siswi SMAN 1 Kedungwuni, terlihat jelas bahwa ekplorasi tema, pilihan kata serta pencitraan masih biasa-biasa saja, bahkan sangat umum. Barangkali sudah tidak terhitung lagi <em>aku-lirik</em> yang <em>“mengirim puisi lewat angin”</em>, atau puisi-puisi cinta yang menggunakan kalimat <em>“merangkai rindu jadi mutiara”</em>, atau <em>“rindu yang menjelma kupu-kupu”</em>. Barangkali yang menarik dalam puisi di atas adalah si <em>aku-lirik</em> yang menganggap rindu sebagai beban, sebagai hutang kepada yang dirindu, sehingga harus dilunasi, meskipun lewat puisi. Akan tetapi, menjadi agak bertentangan dengan bait terakhir, di mana persembahan atas nama Tuhan haruslah dengan penuh kerelaan tanpa beban, tanpa menganggapnya sebagai hutang.</p>
<p align="justify">Sebagian besar puisi lain dalam buku ini memiliki aroma dan nuansa yang hampir sama dengan puisi di atas. Puisi yang dalam pandangan saya agak berbeda dengan kecenderungan puisi-puisi lain dalam buku ini adalah puisi yang berjudul “Bisikan Akhir Tahun” (ditulis oleh Siti Khuzaiyah, Komunitas Rumah Imaji):</p>
<p><em>BISIKAN AKHIR TAHUN</em></p>
<p><em>Tahun lalu seulas senyum terkembang penuh arti<br />
Antara gegap gempita terompet dan kembang api<br />
Dalam hati yang melangit, seorang lelaki berbisik pada istri<br />
“</em>Ma, esok rumah terenovasi dan mobil tua hendak berganti.”</p>
<p><em>Tahun ini sepotong senyum menyungging penuh misteri<br />
Bumi merapuh, air meredami kaki tanpa kembang api<br />
Dalam jiwa yang membumi, lelaki kembali berbisik pada istri<br />
</em> “Ma, tak perlu tinggi-tinggi. Esok bumi merintih, alam tua hendak terganti.”</p>
<p align="justify">Dalam puisi ini, ada sebuah pembacaan kontekstual dengan kondisi negeri ini awal tahun 2008 yang mendapat hadiah tahun baru berupa bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Jakarta, Solo, Jateng, Jatim dan provinsi lainnya. Belum lagi bencana Lumpur panas Sidoarjo yang sejak semburan awal pada Mei 2006, belum juga usai sampai sekarang. Ada harapan menuju sesuatu yang lebih baik yang menyembul lewat pergantian tahun, dalam gegap gempita perayaan tahun baru. Namun di sisi lain ada kerendahhatian untuk menyadari keadaan sesama manusia yang tengah terkena bencana di negeri ini. Puisi di atas tidak lagi berpusat pada aku-lirik, sebagaimana kebanyakan puisi lain dalam buku bunga rampai ini, juga tidak berbicara tentang cinta dan perasaan hati, tetapi lebih berbicara tentang ironi negeri ini lewat bisikan seorang suami pada istrinya di akhir tahun.</p>
<p align="justify">Sebagai sebuah buku bunga rampai sastra yang membawa nama daerah tertentu, seharusnya juga membawa budaya dan ciri khas daerah tersebut yang diungkapkan lewat bahasa sastra. Akan tetapi, lewat Cikal, budaya dan ciri khas Pekalongan sama sekali tidak dipertunjukkan lewat entah itu latar cerita atau idiom-idiom dalam cerita atau puisi. Hal ini patut disayangkan. Jangan-jangan generasi muda Pekalongan sudah tidak mengenal budaya dan ciri khas kampung halamannya sendiri, karena sudah sedemikian hebatnya digempur oleh budaya modern dan budaya pop lewat tayangan-tayangan televisi dan media propaganda lainnya?</p>
<p align="justify">Secara umum, kehadiran buku Cikal, bunga rampai sastra remaja dan pelajar kabupaten Pekalongan ini layak untuk disambut dengan baik sebagai awal untuk bertumbuhkembahnya penulisan dan geliat sastra di kabupaten Pekalongan. Lewat penerbitan yang didukung oleh Dewan Kesenian Daerah dan Pemerintah Kabupaten ini setidaknya telah memberikan lampu hijau bagi perkembangan sastra di kabupaten Pekalongan, tinggal bagaimana para pegiat sastra di Kabupaten Pekalongan menyikapinya dengan kerja-kerja sastra ke depan. Jangan sampai penerbitan buku ini hanya dijadikan sebuah monumen sejarah sebagai jejak pernah adanya sastra remaja dan pelajar di Kabupaten Pekalongan, yang akhirnya mati sebelum berkembang. Sebagaimana sebuah cikal -tunas kelapa- yang nantinya akan tumbuh menjadi pohon kelapa yang tinggi menjulang dan bagian-bagiannya bisa bermanfaat bagi banyak orang, semoga buku Cikal ini akan menjadi benih bagi pertumbuhan aktivitas dan kreativitas menulis dan bersastra di Kabupaten Pekalongan. Dan akhirnya, kita ucapkan selamat datang kepada sastra kabupaten Pekalongan, perjalanan menyusuri negeri kata-kata masihlah sangat panjang.</p>
<p align="justify"><strong><em>(Adi Toha, pecinta sastra dan buku, lahir di Pekalongan)</em></strong></p>
<p align="justify">
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jalaindra.wordpress.com/332/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jalaindra.wordpress.com/332/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalaindra.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalaindra.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalaindra.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalaindra.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalaindra.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalaindra.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalaindra.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalaindra.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalaindra.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalaindra.wordpress.com/332/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalaindra.wordpress.com&blog=187870&post=332&subd=jalaindra&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalaindra.wordpress.com/2008/06/12/membaca-cikal-bunga-rampai-sastra-remaja-dan-pelajar-kab-pekalongan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/18a0a1fde1a673d8c5abbc3fa585355e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">matahari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jalaindra.files.wordpress.com/2008/06/cikal.jpg?w=213" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>