
Beberapa kali ke Tisera Jatos, selalu menimang-nimang buku ini, sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli, entah pada timangan yang ke berapa. Entah karena pengaruh penulisnya, Kang Sobary, yang namanya begitu sering menclok di mata dan telinga, atau karena judulnya yang memagnet “Sang Musafir”. Plus kutipan pertanyaan Kang Sobary di belakang buku: “Aku mungkin hanya musafir iseng tak punya tujuan? Apa yang kucari? Aku terpenjara oleh kantor, oleh keluarga, oleh orang tua dan mertua, oleh istri dan anak-anak. Tapi siapa bilang aku tak terpenjara oleh nafsuku sendiri, dan kecenderungan-kecenderungan sok mengejar apa yang abadi, tapi tak sadar telah kandas di atas segala yang fana?”
Jadilah “Sang Musafir” di tangan saya. Membaca pengantar Mukadimahnya, membuat terharu. Sobary berkisah tentang seorang bocah kecil dari dusun yang menggenggam tekad yang kuat untuk pergi ke Jakarta, mengembara dan mematangkan diri, meninggalkan ibu bapaknya, saudara-saudaranya, teman-temannya dan kampung kelahirannya. Perpisahan dikatakan dramatis oleh Kang Sobary. Entah hal ini memang pengalaman nyata Sobary ataukah didramatisasi. Sang ibu pingsan di stasiun kereta api. Sangat wajar. Sang bocah tidak pernah melangkah lebih jauh dari batas dusunnya, dan ia masih terlalu kecil untuk tidak hilang di keriuhan pasar.
Namun bukan itu yang membuat saya terharu dan hampir-hampir menitikkan air mata membaca Mukadimah ini. Saya teringat ibu saya. Agak sentimentil memang. Tapi memang itulah adanya. Kang Sobary menulis, “Dalam pengembaraanku, jauh dari orang tua, jauh dari kampung, aku merasa dekat dengan ibu. Rupanya, dari jarak jauh, aku lebih bisa memahami arti ibu.” Dan ini, “Dan aku menangis bukan karena cemas atau menyesal telah mengembara jauh, melainkan karena yakin, dala pengembaraan itu aku hidup dalam hakikat cinta yang hangat, lebih dari ketulusan cinta matahari pada bumi. Inilah cinta ibu yang menyinari jiwaku.” Sedemikian dekatkah hubungan saya dengan ibu saya? Dianggap dekat tidak, dianggap jauh juga tidak. Saya bahkan jarang berbicara panjang lebar atau bercerita panjang tentang pengalaman saya selama pengembaraan di Bandung, kota yang asing bagi orang-orang kampung semacam saya. Namun justru dalam kediaman itulah, dialog yang sesungguhnya terjadi, dialog yang berada di luar jangkauan suara, bahasa dan kata-kata. Sang ibu yang saya tinggalkan untuk menjalani laku ke-musafir-an saya yang mungkin tidak bisa dipahami olehnya. Saya merasa sangat egois, mengejar sesuatu yang hanya saya yang bisa memahaminya. Tapi saya yakin, doanya selalu ada dalam langkah-langkah saya.
Kembali ke Kang Sobary, saya memang belum pernah bertemu muka dengan beliau. Saya hanya kadang melihatnya lewat tivi, dan kadang membaca esai-esainya di koran. Namun, ada kedekatan kultur dan latar belakang sosial yang mungkin hampir sama. Saya lahir dan besar di kampung, di pinggiran kota kabupaten, jauh dari kota besar, mendapat pendidikan agama yang cukup dari madrasah dan guru-guru ngaji. Dan anehnya, cita-cita sang bocah dalam “Sang Musafir” ini, sama dengan cita-cita kecil saya dulu. Sang bocah ingin menjadi ahli agama, saya pun dulu ingin menjadi ahli agama. Di antara teman seumuran dan sepengajian, saya yang paling lancar baca al-quran dan menghafalnya. Ilmu-ilmu fiqih, Nahwu-Shorof dan sebagainya, dulu saya pernah jagonya. Seandainya saya tidak keluar dari kampung halaman dan berkuliah di Bandung, tetapi tinggal di kampung halaman sambil memperdalam ilmu agama, mondok di pesantren, mungkin sekarang saya sudah jadi dai atau kyai muda.
Sang bocah sekaligus ingin menjadi pujangga atau pengarang. Dan inilah, saya sekarang ingin menjadi pengarang, betul-betul pengarang, bukan pengarang-pengarangan, laku musafir yang sedang saya jalani. Sang bocah kelak ingin menjadi diplomat, wartawan, rohaniwan dan tinggal di rumah dinas. Sungguh, semasa kecil saya pernah berpikiran semacam itu. Tidak persis sama memang, tapi, ya seperti itulah, menjadi orang pintar, berhubungan dengan orang banyak, pergi kemana-mana dan sebagainya. Dan satu lagi, sang bocah berangkat ke Jakarta dengan kereta api. Sungguh, perjalanan pertama saya, awal mula sekali saya melangkah keluar dari kampung halaman saya di Pekalongan untuk kemudian berkuliah di Bandung, saya naik kereta api, waktu itu singgah dulu di Jakarta, kebetulan ada saudara di sana. Sungguh, itu merupakan pengalaman pertama kali bagi saya.
Selebihnya, membaca bagian-demi bagian buku ini saya seperti didongengi oleh Kang Sobary tentang pengalamannya, pengalaman sang bocah, yang kini telah menjadi seorang pimpinan tinggi kantor berita nasional, tentang kegelisahan-kegelisahannya dan kegerahannya dalam menghadapi birokrasi dan politik perkantoran. Saya juga dicritani tentang keluarganya, tentang siapa temannya dan siapa (yang seperti) lawannya. Ada bagian-bagian yang sepertinya saya ditarik dari tempat duduk saya, di manapun itu dan didudukkan di samping Kang Sobary untuk menikmati suasana pedesaan, suasana malam yang hening, merasakan basah rumput di belakang rumah, mendengarkan suara diamnya malam, beribadah di bawah pohon mangga di belakang rumah, duduk bersila memperhatikan laku gerak binatang-binatang malam yang tidak menyadari kehadiran sosok manusia di dekatnya. Momen-momen hening seperti ini yang membawa alam pikiran dan perasaan saya kembali ke rumah. Di rumah, saya memiliki kebiasaan, setiap tengah malam, saya keluar dan berdiri mematung di depan rumah sambil mendongak ke langit memperhatikan gerak bintang dan apapun yang ada di kegelapan langit yang hening, untuk beberapa saat. Momen-momen seperti inilah yang tidak saya temukan di Bandung karena kebisingan dan rutinitas kerja. Dalam “Sang Musafir” momen-momen sendiri dan hening seperti inilah yang tidak ditemui oleh Kang Sobary dalam kesibuk-riuhan birokrasi kantor dengan segala rutinitas dan intrik-intriknya.
Saya curiga, jangan-jangan, apa yang terjadi pada Kang Sobary juga akan terjadi pada saya, sebagai sama-sama “Musafir” yang tengah berjalan di trek-nya masing-masing. Mungkin tidak seekstrem yang dialami Kang Sobary yang harus memegang tanggung jawab tinggi di kantor berita nasional negeri ini. Dalam kadar yang lebih kecil mungkin saja terjadi. Saya hanyalah orang desa yang masih gagap dengan modernitas kota dengan segala pernak-pernik dan keanehannya. Pikiran saya masih desa, cara pandang saya masih desa. Saya lebih memilih untuk tidak ikut-ikutan dan menyingkir dari keriuhan dan gaya hidup orang-orang kota. Bagaimana jika nanti suatu saat saya harus, mau tidak mau harus berhadapan dengan kota, dan memang kenyataannya, sedikit demi sedikit kota telah mengelilingi kehidupan saya? Meskipun, desa yang saya maksud adalah desa sejak saya dilahirkan sampai saya mulai meninggalkannya untuk kuliah di Bandung, karena desa saya hari ini telah banyak berubah, lebih seperti ke kota tidak sampai, balik lagi ke desa, sudah terlalu jauh.
Dalam kesendirian, kadang saya juga menanyakan apa yang ditanyakan oleh Kang Sobary, apa sebenarnya yang saya cari dalam hidup ini? Bondo? Status sosial? Simbol kemakmuran dunia? Popularitas? Atau Idealisme? Ataukah saya hanya berusaha menutupi sesuatu yang saya tidak bisa dan tidak ada? Atau jangan-jangan saya mengejar sesuatu yang tidak ada? Mungkin seperti yang saya bilang, mau ke kota tidak sampai, mau kembali ke desa sudah terlalu jauh berjalan.
Ah, “Sang Musafir” bagi saya seperti pohon teduh di tengah perjalanan, tempat melepas lelah dan istirahat, juga teman perjalanan. Jikalau waktu istirahat telah usai, langkah sang musafir harus diayun kembali, menyusuri jalan dan terus berjalan. Karena takdir sang musafir bukan untuk sampai di tujuan, tapi untuk melewati satu tujuan menuju satu tujuan yang lain dan seterusnya. Tidak ada kata sampai bagi sang musafir, karena perjalanan itulah tujuannya. Terus berjalan, dari satu pertanyaan ke pertanyaan lain. “Diriku belum selesai diukir. Aku kelihatannya masih terus menerus mengukir diriku sendiri selama dalam perjalanan melintasi lorong-lorong, gang-gang, dan jalan-jalan, selama detik, jam, bulan dan tahun belum habis kutembus. Ringkasnya, selama aku masih harus melintasi ruang dan waktu yang bukan bagian dari dariku, sang musafir belum bisa menemukan –dan mungkin tak harus bisa menemukan- apa yang dicarinya.” Manusia bukan kereta api yang berjalan di rel yang telah digariskan. Dan garis perjalanan saya masih akan terus diukir, membelok, melingkar, melurus, bahkan mungkin memutar kembali melewati garis semula. Siapa yang tahu, di garis semula itulah saya akan benar-benar menemukan garis sesungguhnya, yang menuju kepada kesejatian diri saya. Dan yang harus selalu saya yakinkan kepada diri saya sendiri adalah, akan selalu ada penunjuk jalan, apapun, siapapun, kapanpun dan di manapun ia akan akan muncul.
-adi toha, musafir-