J A L A I N D R A

jejaring peristiwa - jejaring kata - jejaring imagi - jejaring diri

  • ADI TOHA

    mail : jalaindra@yahoo.com
    YM : the_eagle_flies_alone





    Page copy protected against web site content infringement by Copyscape

  • ARSIP

  • PENANGGALAN

    Juli 2008
    S S R K J S M
    « Jun    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • RUMAH SINGGAH

  • KUNJUNGAN

    • 29,120 Tamu telah Mabok Di Blog Ini
  • PETA KUNJUNGAN

  • MisCellaNeous

    Click to view my Personality Profile page



    blog readability test

Arsip untuk 'Ulasan Buku' Kategori


Membaca Cikal, Bunga Rampai Sastra Remaja dan Pelajar Kab Pekalongan

Ditulis oleh jalaindra di/pada Juni 12, 2008

oleh: Adi Toha

Saya menerima buku ini dari Aveus Har, seorang pegiat sastra di Pekalongan yang juga penulis muda produktif Pekalongan, di acara “Sastra Balik Desa” di Desa Gebyok, Gunung Pati Semarang, 16 Mei 2008 silam. Di tempat itulah juga untuk pertama kalinya saya bertemu dengan awak Komunitas Rumah Imaji Pekalongan, sebuah komunitas yang bergiat dalam kerja-kerja sastra di Kabupaten Pekalongan. Saya senang mengetahui bahwa di Pekalongan ada Komunitas Rumah Imaji, dengan kerja-kerja yang telah mereka capai sampai saat ini, termasuk dengan menerbitkan –bekerjasama dengan Dewan Kesenian Daerah-sebuah bunga rampai sastra remaja dan pelajar Kabupaten Pekalongan.

Cikal, demikian buku tersebut berjudul, adalah sebuah kumpulan cerita pendek dan puisi yang ditulis oleh para pelajar dan remaja di wilayah kabupaten Pekalongan. Cerita pendek dan puisi yang masuk ke dalam buku ini telah diseleksi oleh Tim penyeleksi yang terdiri dari Komunitas Rumah Imaji dan DKD Kab. Pekalongan. Hasilnya, terdapat 12 cerpen dan 20 puisi dengan 32 pengarang yang berasal dari pelajar SMP, SMA, anggota Komunitas Rumah Imaji, dan FLP.

Meski saya cukup senang dan bangga dengan penerbitan bunga rampai ini, namun, membaca cerpen-cerpen dan puisi-puisi dalam buku ini, saya tidak menemukan sesuatu yang baru yang cukup untuk membuat saya bisa kagum pada puisi dan cerpen-cerpen tersebut. Pilihan tema yang disajikan oleh para pengarang muda ini masih berkutat di seputar kehidupan remaja dan sekolah, seputar cinta dan persahabatan, pemandangan alam, dan perasaan hati, meski ada beberapa yang sedikit menyinggung permasalahan sosial. Pun bagaimana mengolah tema menjadi sebuah cerita atau puisi, masih biasa-biasa saja. Mungkin wajar, karena buku ini adalah bunga rampai sastra remaja dan pelajar, dan bisa jadi, sebagian besar karya para pengarang yang masuk ke dalam buku ini adalah karya pertama yang mereka tulis.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ulasan Buku | Tidak ada komentar »

Cinta, Supranatural dan Lanturan yang Terlalu

Ditulis oleh jalaindra di/pada Maret 4, 2008

Judul Buku : Lumpur Similiar - Misteri Perangkap Cinta
Pengarang : Alfian Malik
Penerbit : Akoer
Tahun : I, Desember 2007

Alfian Malik, lewat novelnya “Lumpur Similiar – Misteri Perangkap Cinta” berusaha memadukan kisah cinta dalam balutan dunia supranatural bahkan mistis. Adalah Tegar Patih, putra seorang pembantu Presiden, pemegang gelar Doktor Antropologi Universitas Leiden, tengah dalam persiapan untuk mengikuti lomba reli Sabang-Merauke (Sabang-Merauke International Event Rally-SMILER) dengan menyusuri rute Riau-Sumatera Barat untuk melakukan penjajakan awal. Karena jalan penghubung antara Riau-Sumatera Barat terputus akibat gempa, maka ia terpaksa menempuh jalan tembus melewati pedalaman hutan yang sangat rawan. Tidak disangka, seorang perempuan rivalnya sesama pereli mengikuti jalannya. Perempuan tersebut bernama Khariza, seorang lulusan perguruan tinggi ternama di Inggris dan istri dari seorang perwira tinggi kerabat kesultanan Brunei. Berdua mereka melakukan perlombaan sebelum lomba yang resmi benar-benar dimulai, sampai akhirnya keduanya tersesat di sebuah desa pedalaman yang diberi nama Lumpur Similiar.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ulasan Buku | 4 Komentar »

Paket Buku dari Akoer

Ditulis oleh jalaindra di/pada Februari 26, 2008

Beberapa hari yang lalu, sebuah paket datang dari kurir sebuah jasa pengiriman. Dari bentuknya, aku menaksir itu adalah buku dari Penerbit Akoer. Beberapa hari sebelumnya, sepulang dari menghadiri acara PAS 2008 di Jakarta, sebuah email dari seseorang yang bernama Rinni Anastasia dari Penerbit Akoer tiba-tiba mampir di Inbox, menanyakan alamat, katanya Si Mbak ingin mengirimkan buku-buku terbaru dari Akoer. Wah, senang sekali. Secara, akhir-akhir ini budget untuk membeli buku terbaru bisa dibilang tidak ada.

Terhitung sudah dua kali saya mendapat kiriman buku dari Akoer. Yang pertama adalah buku “Narkobar The Motivator”. Kebetulan saya menjadi salah satu yang beruntung di milis Pasarbuku untuk mendapat buku gratis itu. Yang kedua adalah Novel “Mahasati” Qaris Tajudin. Novel Mahasati langsung saya baca karena sangat menarik menurutku. Saya juga telah membuat semacam resensinya di blog ini. Resensi Mahasati juga kukirimkan ke beberapa media massa. Yah, karena mungkin aku belum beruntung, tidak dimuat. Akhirnya tulisan resensinya hanya bisa manggung di blog dan milis.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Catatan, Ulasan Buku | 6 Komentar »

Maya - Jostein Gaarder

Ditulis oleh jalaindra di/pada Februari 20, 2008

Maya

Judul Buku : Maya: Misteri Dunia dan Cinta
Judul Asli : Maya
Pengarang : Jostein Gaarder
Penerbit : Mizan
Tahun : I, Januari 2008

Jika Tuhan memang ada, tidak hanya Ia ulung meninggalkan jejak. Lebih dari segalanya, Ia ahli menyembunyikan diri.

Sepotong kalimat itulah yang mungkin akan terlontar jika membicarakan tentang evolusi. Dalam teori evolusi Darwin, tidak ada tempat bagi Tuhan dalam penciptaan kehidupan manusia di planet Bumi. Kehidupan di planet Bumi tercipta bermilyar-milyar tahun yang lalu dari bakteri purba bersel satu yang berevolusi secara kebetulan tanpa adanya campur tangan pencipta. Seiring perkembangannya, teori evolusi Darwin banyak ditentang terutama oleh kalangan agama, hingga muncul sosok Pierre Teilhard de Chardin yang mencoba mengintegrasikan fenomena evolusi dengan doktrin teologis menjadi suatu pandangan dunia yang koheren. Teilhard mengungkapkan tentang Hukum Kesadaran-Kompleksitas, yang menyatakan bahwa evolusi berlangsung menuju peningkatan kompleksitas yang dibarengi dengan munculnya kesadaran yang mencapai puncaknya pada spiritualitas manusia. Pada akhirnya, evolusi akan menemui Tuhan sebagai sumber dari segala mahluk dan terutama sebagai sumber dari kekuatan yang meniscayakan berlangsungnya proses evolusi.

Jostein Gaarder, dalam novelnya yang berjudul Maya, hendak merangkum proses panjang evolusi manusia menuju munculnya kesadaran manusia lewat dialog-dialog cerdas para tokohnya. Tak hanya itu, ia dengan piawai memadukan kisah cinta, dongeng, misteri, filsafat, pengetahuan ilmiah, seni dan sejarah serta spiritualitas menjadi satu jalinan kisah yang kompleks tapi memikat.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ulasan Buku | 9 Komentar »

Saya, Kang Sobary, dan Sang Musafir

Ditulis oleh jalaindra di/pada Desember 6, 2007

Beberapa kali ke Tisera Jatos, selalu menimang-nimang buku ini, sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli, entah pada timangan yang ke berapa. Entah karena pengaruh penulisnya, Kang Sobary, yang namanya begitu sering menclok di mata dan telinga, atau karena judulnya yang memagnet “Sang Musafir”. Plus kutipan pertanyaan Kang Sobary di belakang buku: “Aku mungkin hanya musafir iseng tak punya tujuan? Apa yang kucari? Aku terpenjara oleh kantor, oleh keluarga, oleh orang tua dan mertua, oleh istri dan anak-anak. Tapi siapa bilang aku tak terpenjara oleh nafsuku sendiri, dan kecenderungan-kecenderungan sok mengejar apa yang abadi, tapi tak sadar telah kandas di atas segala yang fana?”

Jadilah “Sang Musafir” di tangan saya. Membaca pengantar Mukadimahnya, membuat terharu. Sobary berkisah tentang seorang bocah kecil dari dusun yang menggenggam tekad yang kuat untuk pergi ke Jakarta, mengembara dan mematangkan diri, meninggalkan ibu bapaknya, saudara-saudaranya, teman-temannya dan kampung kelahirannya. Perpisahan dikatakan dramatis oleh Kang Sobary. Entah hal ini memang pengalaman nyata Sobary ataukah didramatisasi. Sang ibu pingsan di stasiun kereta api. Sangat wajar. Sang bocah tidak pernah melangkah lebih jauh dari batas dusunnya, dan ia masih terlalu kecil untuk tidak hilang di keriuhan pasar.

Namun bukan itu yang membuat saya terharu dan hampir-hampir menitikkan air mata membaca Mukadimah ini. Saya teringat ibu saya. Agak sentimentil memang. Tapi memang itulah adanya. Kang Sobary menulis, “Dalam pengembaraanku, jauh dari orang tua, jauh dari kampung, aku merasa dekat dengan ibu. Rupanya, dari jarak jauh, aku lebih bisa memahami arti ibu.” Dan ini, “Dan aku menangis bukan karena cemas atau menyesal telah mengembara jauh, melainkan karena yakin, dala pengembaraan itu aku hidup dalam hakikat cinta yang hangat, lebih dari ketulusan cinta matahari pada bumi. Inilah cinta ibu yang menyinari jiwaku.” Sedemikian dekatkah hubungan saya dengan ibu saya? Dianggap dekat tidak, dianggap jauh juga tidak. Saya bahkan jarang berbicara panjang lebar atau bercerita panjang tentang pengalaman saya selama pengembaraan di Bandung, kota yang asing bagi orang-orang kampung semacam saya. Namun justru dalam kediaman itulah, dialog yang sesungguhnya terjadi, dialog yang berada di luar jangkauan suara, bahasa dan kata-kata. Sang ibu yang saya tinggalkan untuk menjalani laku ke-musafir-an saya yang mungkin tidak bisa dipahami olehnya. Saya merasa sangat egois, mengejar sesuatu yang hanya saya yang bisa memahaminya. Tapi saya yakin, doanya selalu ada dalam langkah-langkah saya.

Kembali ke Kang Sobary, saya memang belum pernah bertemu muka dengan beliau. Saya hanya kadang melihatnya lewat tivi, dan kadang membaca esai-esainya di koran. Namun, ada kedekatan kultur dan latar belakang sosial yang mungkin hampir sama. Saya lahir dan besar di kampung, di pinggiran kota kabupaten, jauh dari kota besar, mendapat pendidikan agama yang cukup dari madrasah dan guru-guru ngaji. Dan anehnya, cita-cita sang bocah dalam “Sang Musafir” ini, sama dengan cita-cita kecil saya dulu. Sang bocah ingin menjadi ahli agama, saya pun dulu ingin menjadi ahli agama. Di antara teman seumuran dan sepengajian, saya yang paling lancar baca al-quran dan menghafalnya. Ilmu-ilmu fiqih, Nahwu-Shorof dan sebagainya, dulu saya pernah jagonya. Seandainya saya tidak keluar dari kampung halaman dan berkuliah di Bandung, tetapi tinggal di kampung halaman sambil memperdalam ilmu agama, mondok di pesantren, mungkin sekarang saya sudah jadi dai atau kyai muda.

Sang bocah sekaligus ingin menjadi pujangga atau pengarang. Dan inilah, saya sekarang ingin menjadi pengarang, betul-betul pengarang, bukan pengarang-pengarangan, laku musafir yang sedang saya jalani. Sang bocah kelak ingin menjadi diplomat, wartawan, rohaniwan dan tinggal di rumah dinas. Sungguh, semasa kecil saya pernah berpikiran semacam itu. Tidak persis sama memang, tapi, ya seperti itulah, menjadi orang pintar, berhubungan dengan orang banyak, pergi kemana-mana dan sebagainya. Dan satu lagi, sang bocah berangkat ke Jakarta dengan kereta api. Sungguh, perjalanan pertama saya, awal mula sekali saya melangkah keluar dari kampung halaman saya di Pekalongan untuk kemudian berkuliah di Bandung, saya naik kereta api, waktu itu singgah dulu di Jakarta, kebetulan ada saudara di sana. Sungguh, itu merupakan pengalaman pertama kali bagi saya.

Selebihnya, membaca bagian-demi bagian buku ini saya seperti didongengi oleh Kang Sobary tentang pengalamannya, pengalaman sang bocah, yang kini telah menjadi seorang pimpinan tinggi kantor berita nasional, tentang kegelisahan-kegelisahannya dan kegerahannya dalam menghadapi birokrasi dan politik perkantoran. Saya juga dicritani tentang keluarganya, tentang siapa temannya dan siapa (yang seperti) lawannya. Ada bagian-bagian yang sepertinya saya ditarik dari tempat duduk saya, di manapun itu dan didudukkan di samping Kang Sobary untuk menikmati suasana pedesaan, suasana malam yang hening, merasakan basah rumput di belakang rumah, mendengarkan suara diamnya malam, beribadah di bawah pohon mangga di belakang rumah, duduk bersila memperhatikan laku gerak binatang-binatang malam yang tidak menyadari kehadiran sosok manusia di dekatnya. Momen-momen hening seperti ini yang membawa alam pikiran dan perasaan saya kembali ke rumah. Di rumah, saya memiliki kebiasaan, setiap tengah malam, saya keluar dan berdiri mematung di depan rumah sambil mendongak ke langit memperhatikan gerak bintang dan apapun yang ada di kegelapan langit yang hening, untuk beberapa saat. Momen-momen seperti inilah yang tidak saya temukan di Bandung karena kebisingan dan rutinitas kerja. Dalam “Sang Musafir” momen-momen sendiri dan hening seperti inilah yang tidak ditemui oleh Kang Sobary dalam kesibuk-riuhan birokrasi kantor dengan segala rutinitas dan intrik-intriknya.

Saya curiga, jangan-jangan, apa yang terjadi pada Kang Sobary juga akan terjadi pada saya, sebagai sama-sama “Musafir” yang tengah berjalan di trek-nya masing-masing. Mungkin tidak seekstrem yang dialami Kang Sobary yang harus memegang tanggung jawab tinggi di kantor berita nasional negeri ini. Dalam kadar yang lebih kecil mungkin saja terjadi. Saya hanyalah orang desa yang masih gagap dengan modernitas kota dengan segala pernak-pernik dan keanehannya. Pikiran saya masih desa, cara pandang saya masih desa. Saya lebih memilih untuk tidak ikut-ikutan dan menyingkir dari keriuhan dan gaya hidup orang-orang kota. Bagaimana jika nanti suatu saat saya harus, mau tidak mau harus berhadapan dengan kota, dan memang kenyataannya, sedikit demi sedikit kota telah mengelilingi kehidupan saya? Meskipun, desa yang saya maksud adalah desa sejak saya dilahirkan sampai saya mulai meninggalkannya untuk kuliah di Bandung, karena desa saya hari ini telah banyak berubah, lebih seperti ke kota tidak sampai, balik lagi ke desa, sudah terlalu jauh.

Dalam kesendirian, kadang saya juga menanyakan apa yang ditanyakan oleh Kang Sobary, apa sebenarnya yang saya cari dalam hidup ini? Bondo? Status sosial? Simbol kemakmuran dunia? Popularitas? Atau Idealisme? Ataukah saya hanya berusaha menutupi sesuatu yang saya tidak bisa dan tidak ada? Atau jangan-jangan saya mengejar sesuatu yang tidak ada? Mungkin seperti yang saya bilang, mau ke kota tidak sampai, mau kembali ke desa sudah terlalu jauh berjalan.

Ah, “Sang Musafir” bagi saya seperti pohon teduh di tengah perjalanan, tempat melepas lelah dan istirahat, juga teman perjalanan. Jikalau waktu istirahat telah usai, langkah sang musafir harus diayun kembali, menyusuri jalan dan terus berjalan. Karena takdir sang musafir bukan untuk sampai di tujuan, tapi untuk melewati satu tujuan menuju satu tujuan yang lain dan seterusnya. Tidak ada kata sampai bagi sang musafir, karena perjalanan itulah tujuannya. Terus berjalan, dari satu pertanyaan ke pertanyaan lain. “Diriku belum selesai diukir. Aku kelihatannya masih terus menerus mengukir diriku sendiri selama dalam perjalanan melintasi lorong-lorong, gang-gang, dan jalan-jalan, selama detik, jam, bulan dan tahun belum habis kutembus. Ringkasnya, selama aku masih harus melintasi ruang dan waktu yang bukan bagian dari dariku, sang musafir belum bisa menemukan –dan mungkin tak harus bisa menemukan- apa yang dicarinya.” Manusia bukan kereta api yang berjalan di rel yang telah digariskan. Dan garis perjalanan saya masih akan terus diukir, membelok, melingkar, melurus, bahkan mungkin memutar kembali melewati garis semula. Siapa yang tahu, di garis semula itulah saya akan benar-benar menemukan garis sesungguhnya, yang menuju kepada kesejatian diri saya. Dan yang harus selalu saya yakinkan kepada diri saya sendiri adalah, akan selalu ada penunjuk jalan, apapun, siapapun, kapanpun dan di manapun ia akan akan muncul.

-adi toha, musafir-

Ditulis dalam Catatan, Ulasan Buku | 1 Komentar »

Setiap Detik adalah Kebahagiaan

Ditulis oleh jalaindra di/pada Nopember 4, 2007

Judul : Cherish Every MomentMenikmati Hidup Yang Indah Setiap Saat

Penulis : Arvan Pradiansyah

Penerbit : Elex Media Komputindo

Cetakan : 2007 Tebal : 322 hlm

Pernahkah kita menghitung dan menyadari bahwa dalam setiap langkah kaki yang kita lakukan terdapat banyak sekali keberuntungan dan anugerah yang kita dapatkan? Ya, beruntung kita masih punya dua kaki untuk melangkah, masih punya dua tangan; beruntung kita masih punya dua mata untuk melihat kemana langkah kaki kita; beruntung masih punya dua telinga untuk mendengar suara-suara dalam langkah kita; beruntung masih bisa melangkah dengan sehat, dan masih banyak lagi yang lain kalau mau dihitung satu persatu. Dan yang terpenting dari semua keberuntungan dan anugerah itu adalah, kita masih punya waktu untuk melakukan satu langkah itu dan merasakan semua keberuntungan tersebut.

Seringnya kita tidak pernah menghitung apalagi menyadari hal-hal yang sepertinya remeh temeh seperti ini. Dunia moderen yang menuntut serba cepat dalam segala hal membuat manusia moderen seakan abai dengan hal-hal kecil dan sederhana semacam itu dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, jika kita mau meluangkan waktu sedikit saja untuk mencoba menyadarinya, dan memperhatikan setiap momen sekecil apapun dalam kehidupan kita, perubahan besar niscaya akan terjadi dalam kehidupan kita.

Ada sebuah kisah tentang sebuah roda yang dengan sangat cepatnya meluncur melewati sebuah jala berbatu di antara padang rumput hijau. Setelah sampai di tujuannya, ia baru menyadari kalau salah satu jerujiya terlepas dan hilang. Maka mulailah ia kembali menyusuri jalan yang pernah ia lewati, kali ini dengan pelan-pelan, memperhatikan setiap bagian jalan yang ia lewati sebelumnya, berharap ia menemukan jerujinya yang hilang. Dengan berjalan pelan-pelan tersebut, ia baru menyadari banyak hal indah yang bisa dilihat yang selama ini terlewat olehnya. Hijaunya rerumputan, barisan semut yang membawa remah-remah, belalang-belalang yang tengah menggerogoti pucuk-pucuk daun, kupu-kupu warna-warni, dan banyak lagi. Sampai-sampai ia melupakan tentang jerujinya yang hilang, kalau saja seekor kupu-kupu tidak mengatakan kepadanya bahwa ia melihat sebuah jeruji yang terlepas di suatu tempat.

Cherish Every Moment, buku karya Arvan Pradiansyah, seorang pembicara publik, fasilitator dan kolumnis di beberapa media massa nasional ini menawarkan semacam panduan bagaimana untuk menikmati hidup yang indah setiap saat. Dengan ditulis dalam bentuk wawancara imaginer seorang penanya dengan narasumber (atau seorang murid dengan gurunya), Arvan mencoba untuk menyampaikan perspektif positif dari berbagai hal seputar kehidupan yang seringkali disalahpahami. Dari lembar demi lembar dalam buku ini dia terus saja mengajak kita untuk menggapai kehidupan dengan penuh kebahagiaan dalam kondisi apapun.

Dalam buku ini terdapat 24 bahasan yang dikemukakan oleh Arvan yang jika dirangkum, adalah tentang 4 hal: berhubungan dengan diri sendiri, berhubungan dengan orang lain, berhubungan dengan keduniaan, dan berhubungan dengan Tuhan; yang kesemuanya diarahkan untuk mencapai kebahagiaan hidup.

Salah satu bahasan yang menjadi judul buku ini “Cherish Every Moment” adalah ajakan untuk menghargai dan memanfaatkan setiap waktu, setiap saat, bahkan setiap detik dalam kehidupan kita untuk kebahagiaan. Pikiran kita cenderung disesaki oleh kecemasan dan ketakutan tentang hari esok dan masa depan yang masih menjadi misteri, sehingga kita tidak bisa menikmati apa yang nyata-nyata ada di depan kita: hari ini, saat ini, detik ini. Arvan mengajak untuk membangun mindset bahwa hari ini adalah hari terakhir dalam kehidupan kita, sehingga kita akan berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk diri kita dan orang lain, seolah tidak akan ada lagi kesempatan di hari esok. Hari ini adalah hadiah terbesar yang diberikan Tuhan kepada kita. Kalau kita menyadari hal ini, maka kita tidak akan melewatkan satu momen pun dalam kehidupan kita. Kita akan benar-benar masuk ke dalam kekinian dan terserap ke dalam apapun yang sedang kita lakukan. Dengan demikian, hidup akan terasa sangat indah. (hal. 11). Senada dengan baris-baris puisi penyair Inggris Whalt Whitman: “Gathered ye rosebuds while ye may // Old time is still a flying // And this same flower that smiles today // Tomorrow will be dying”; ataupun ungkapan bahasa latin dari Horace: “Carpe Diem, quam minimum credula postero!” Raihlah hari ini, hanya sedikit yang bisa kita percaya dari masa depan.

Bahasan lain dalam buku ini tak kalah menariknya, seperti bahwa hidup adalah pilihan, bahwa kita lah yang memegang kendali sepenuhnya atas segala sesuatu yang berkaitan dengan hidup kita. Kata “pilihan” atau “memilih” menjadi semacam “abracadabra” untuk membuat segalanya sesuatunya berubah. Dengan melakukan pemilihan secara sadar atas apa yang akan dilakukan, niscaya tidak akan ada keterpaksaan atau pun penyesalan dalam melakukan pekerjaan atau apapun. Untuk itulah perlunya ada jeda untuk merenung dan memikirkan segala konsekuensi atas pilihan yang akan diambil.

Masing-masing bahasan yang terdapat dalam buku ini bisa dibaca secara terpisah atau acak tanpa harus berurutan, sesuai dengan bahasan yang menurut pembaca paling menarik. Pembaca bisa memulai dari bahasan ke-15 tentang cinta, misalnya, yang menurut Arvan, cinta adalah hubungan sebab akibat. Mencintai adalah sebab dan dicintai adalah akibat. Cinta yang universal dan fundamental adalah mencintai sesama manusia. Bahwa inti setiap agama adalah cinta. Atau pembaca bisa saja langsung menuju ke bahasan penutup buku ini yang merupakan bahasan yang sangat bertenaga dengan judul “Mengapa Hidup Sering Tidak Adil?” Anggapan bahwa hidup tidak adil adalah anggapan yang salah dan berbahaya. Dengan mengatakan hidup tidak adil sama saja mengatakan bahwa Tuhan tidak adil. Tuhan adalah Maha Adil, dan Dia mengatur alam semesta dengan keadilan-Nya. Adanya anggapan bahwa hidup tidak adil, karena manusia cenderung tidak melihat keseluruhan alur kehidupan, tetapi hanya parsial semata. “Jawaban” Arvan dalam penutup buku ini tentunya melegakan bagi siapapun yang tengah merasakan “ketidakadilan” hidup.

Jika kita cukup jujur untuk mengakui dan mengingat kembali, apa yang dikatakan Arvan dalam buku ini bukanlah hal yang sama sekali baru. Hal yang sama pernah disampaikan oleh guru-guru kita, tokoh-tokoh agama kita, para sufi atau tokoh-tokoh spiritual, tokoh-tokoh budaya, ataupun tokoh-tokoh masyarakat, bahkan orang yang paling dekat dengan diri kita seperti orang tua kita. Sayangnya, kadang kita abai dan melupakan begitu saja nasihat-nasihat kehidupan tersebut. Atau, jika kita bisa mengingat kembali, apa yang dikatakan Arvan sebenarnya telah berulangkali ditulis entah dalam bentuk buku-buku penuntun, buku-buku swa-bantu, buku-buku psikologi popular, atau bahkan novel dan puisi. Misalnya, bahasan yang berjudul “Orang Beragama atau Orang Baik”, secara komprehensif pernah ditulis oleh Jalaludin Rahmat lewat “Dahulukan Akhlak di Atas Fiqih” (Muthahhari Press, 2002 dan Mizan, 2007). Dan perihal “Rekening Kepercayaan”, salah satu bahasan lain dalam buku Arvan ini, saya teringat dengan konsep “Bank Budi” yang ditulis Paulo Coelho dalam “The Zahir”.

Terlepas dari ketidakbaruannya, buku ini cukup inspiratif. Tema-temanya menyangkut kehidupan dan permasalahan sehari-hari yang dihadapi oleh manusia moderen, yang cenderung terpenjara oleh sistem dan lingkungan. Disajikan dalam bahasa yang mudah dicerna dan dipahami. Apa yang dikemukakan oleh Arvan bisa jadi adalah sebuah penyingkapan akar permasalahan ketidakbahagiaan kebanyakan manusia moderen dengan cara yang sederhana, ringkas, praktis dan tidak bertele-tele. Meski beberapa bahasan akan lebih baik dan memuaskan jika diulas dengan lebih mendasar dan mendalam, namun buku ini dirasa cukup untuk memberikan motivasi dan penyadaran untuk menikmati hidup yang indah setiap saat.

Carpe Diem! Seize the day! Cherish Every Moment! agar di suatu waktu di masa mendatang, kita tidak akan mengatakan kalimat penyesalan “seandainya dulu saya…”.

Adi Toha

 

Ditulis dalam Ulasan Buku | 1 Komentar »

Mahasati - Kitab Cinta, Kembara dan Air Mata

Ditulis oleh jalaindra di/pada Agustus 15, 2007

Judul : Mahasati
Penulis : Qaris Tajudin
Penerbit : Penerbit Akoer
Terbit : Mei 2007
Tebal : 392 halaman

Lupakan kisah percintaan sepasang manusia yang berjalan dengan indah, manis, dan bahagia. Lupakan kisah percintaan yang biasa-biasa saja, penuh kata-kata manis dan rayuan klise. Bersiaplah untuk sebuah tragedi yang mungkin akan membuatmu berurai air mata. Tapi tunggu dulu, kisah ini bukan kisah tragedi yang melulu berisi air mata. Kisah ini adalah kisah perjalanan seorang lelaki di negeri yang asing dari kampung halamannya. Tapi jangan dulu berharap ini adalah sebuah kisah perjalanan seorang pelancong menyinggahi tempat-tempat yang indah dan eksotik. Ini adalah perjalanan seorang lelaki dalam mengenal dirinya untuk mengenal Tuhannya lewat perjalanan ke negeri-negeri Timur Tengah. Tapi jangan juga terlalu cepat menyimpulkan bahwa novel ini adalah sebentuk novel islami yang melulu berbicara surga dan neraka.

Mahasati, novel perdana Qaris Tajudin, jurnalis sebuah koran berita nasional, adalah perpaduan kisah cinta yang tulus dan lekat; perjalanan untuk melupakan dan menemukan; pengembaraan tanpa peta dan rencana; gelora dan semangat pergerakan kaum muda; dan pencarian jati diri lewat pergolakan batin yang kaya. Dituturkan dengan cerdas, puitis, berani dan tanpa mengiba oleh seorang lelaki tahanan dari dalam jeruji Guantanamo.

Adalah Andi, Yoyok, dan Larasati, tiga kawan karib semasa kecil sampai remaja di sebuah desa di Jawa. Benih-benih cinta antara Andi dan Sati tumbuh, mekar, dan hampir berbunga jika saja perpisahan tidak terlanjur datang. Nasib dan perjalanan waktu memisah ketiganya untuk menjalani jalan hidupnya masing-masing. Andi menjadi seorang wartawan, Yoyok menjadi seorang perajin emas, dan Sati menjadi seorang desainer.

Kematian Yoyok karena sebuah kecelakaan membuat Andi dan Sati kembali bertemu setelah sekian lama perpisahan. Di pemakaman, keduanya mencoba mengingat kembali apa yang telah mereka bangun, masihkah ada sisa-sisa yang bisa dipugar kembali menjadi sebuah bangunan cinta yang kokoh dan menjadi tempat bernaung dan berteduh keduanya di tengah kerasnya kehidupan Jakarta. Sati adalah sosok perempuan yang sempurna di mata Andi. Meski ia telah memiliki seorang anak perempuan hasil hubungannya dengan lelaki lain, Andi tetap mencintai dan menyayanginya melebihi siapapun. Bagi Sati, Andi laksana oase tempat melepas lelah, penat dan masalah di tengah gurun tandus jalan hidupnya.

Cinta kembali bersemi. Andi dan Sati telah memugar kembali bangunan cinta mereka dari puing-puing masa lalu. Andi, Sati dan Rania, anak perempuan Sati yang masih kecil, laksana sebuah keluarga kecil yang bahagia. Namun, lautan tempat mereka mengayuh bahtera cinta rupanya tidak membiarkan mereka berlayar dengan bahagia berlama-lama. Badai datang dengan tiba-tiba. Sati kehilangan hak perwaliannya atas Rania. Sati goyah sampai akhirnya ia dirawat di rumah sakit karena kondisi kesehatannya yang sangat kritis. Tak lama kemudian, Sati meninggalkan Andi untuk selama-lamanya.

Kehilangan Sati adalah pukulan mematikan bagi Andi. Ia merasakan kesedihan dan keputus-asaan yang sangat. Berharap untuk melupakan bayang-bayang Sati, Andi melakukan perjalanan ke Kairouan, Tunisia. Alih-alih mengunjungi rumah keluarga Charief Saeed, kenalan Hafiz teman sekampungnya, ia malah bertemu dengan Abdalla ben M’rad, pemilik toko buku, sampai akhirnya ia tinggal di toko buku dan membantu Abdalla untuk menjaga dan menjualkan buku-bukunya. Di toko buku inilah Andi mulai berkenalan dengan Kemal, adik Abdalla, dan Ahmed, anak lelaki Abdalla; keduanya adalah tokoh pergerakan islam di Tunisia. Ia mulai mengikuti ceramah dan ulama terkemuka di Kairouan bersama Ahmed, Kemal, dan Abdalla. Ahmed dan Kemal yang berjiwa muda lebih memilih untuk mengikuti ceramah dan diskusi seorang ulama progresif yang menentang pemerintahan. Andi diajak serta, sampai akhirnya ia tanpa sadar telah menjadi bagian dari mereka.

Andi tidak memiliki rencana berarti yang harus ia ikuti. Ia hanya berharap bisa melupakan Sati. Namun Sati tak kunjung lenyap dari pikirannya. Pun ketika ia bertemu dengan Miriam, seorang gadis Yahudi, mahasiswi sastra Universitas Kairouan yang mencintainya, Andi tidak bisa menerimanya karena ia masih belum bisa melupakan Sati.
Penangkapan para anggota pergerakan oleh pemerintah Tunisia membuat Andi tidak boleh berlama-lama tinggal di Kairouan. Sekali lagi, ia harus melakukan perjalanan, bukan untuk berwisata, namun untuk menyelamatkan diri. Lewat bantuan Miriam, ia dan Ahmed menyelundup ke Sisilia. Sampai akhirnya mereka berdua masuk ke dalam jaringan mafia kelas atas di Sisilia. Mereka bertemu dengan Tumino, salah seorang tokoh mafia yang menganggap dirinya sebagai Obi-wan Kenobi bagi Andi, setelah seorang peramal tua mengatakan bahwa garis hidup Andi sama dengan garis hidup Manlio, seorang mafia legendaris di Sisilia.

Namun, perjalanan hidup Andi belum akan berhenti. Hidup tidak selalu memberi kemudahan bagi lelaki itu. Keadaan yang terjadi di jaringan mafia memaksanya harus segera meninggalkan Italia. Afghanistan menjadi negeri tujuan selanjutnya. Negeri yang tengah dilanda huru-hara perang saudara antara pasukan Taliban dan Mujahidin dirasa lebih aman daripada tempat-tempat yang lain. Di Afghanistan ia menolak untuk bertempur, namun bersedia untuk membantu tenaga medis. Pertemuannya dengan Fairuz, membuatnya menetapkan pilihan untuk menjadi pengawal bersenjata suku-suku nomaden di pegunungan Hindu Kush. Di medan pegunungan yang berbahaya itulah ia bertemu dengan Nafas, sosok perempuan yang hampir seperti sosok Sati.

Dengan sudut pandang bercerita yang bergantian antara Andi dan seorang perwira perempuan Amerika yang bertugas untuk menginterogasi Andi di penjara Guantanamo, Mahasati menjadi semacam memoar atau catatan perjalanan seorang lelaki dalam menjalani kitab hidupnya. Sebagaimana ramalan yang telah dikatakan oleh perempuan tua yang ditemui oleh Andi di Italia, kitab hidup Andi adalah kitab air mata, perjalanannya adalah kapal cinta tanpa pelabuhan, takdirnya adalah terpenjara di antara air dan api, seumur hidupnya hanya mengejar asap, mengejar kekasih hati yang tak memiliki tanah air, negeri atau alamat. Seiring berjalannya interogasi, sang perwira perempuan Amerika mendapati bahwa kisah hidup dan cintanya amatlah kosong dan hampa dibandingkan kisah hidup tahanan yang diinterogasinya. Ia semakin berkeinginan untuk menguak lebih banyak hal dari tahanannya, bukan untuk atasannya, atau pemerintah Amerika, melainkan untuk mengisi kekosongan hidupnya sendiri.

Nuansa Timur Tengah yang hadir dalam novel ini bukan sekedar tempelan, melainkan menjadi bagian yang penting dalam membangun keutuhan cerita. Pengetahuan yang mencukupi yang dimiliki pengarang tidak lantas menjadikannya bertele-tele dan berpanjang lebar dalam menyampaikan detil latar setiap peristiwa. Di satu sisi, pengarang terlihat tidak cukup berani untuk melakukan keberpihakan terhadap suatu masalah, dalam hal ini perbedaan cara pandang antara Barat dan Timur dalam menyikapi terorisme. Cara pandang yang dilakukan oleh Perwira perempuan Amerika masih sebatas cara pandang formal, yakni bagaimana mengungkap akar kebencian dan radikalisme islam terhadap Amerika.

Mahasati, adalah sebuah tuturan pengalaman yang cerdas dan kaya. Tidak melulu berisi cerita cinta, namun juga kembara batin dan raga dalam mencari jawaban sebuah pertanyaan tentang arti kehilangan dan penemuan diri dalam perjalanan tanpa peta dan rencana.

Sati, adalah ritual bunuh diri di India yang dilakukan oleh seorang istri dengan cara masuk ke dalam api perabuan suaminya. Dengan melakukan Sati, sang istri telah menjadi seorang istri sejati yang menemani suaminya sampai ke alam baka. Mahasati, bisa jadi adalah sosok Sati yang agung, yang sempurna, segala-galanya di mata Andi, yang kehilangannya menjadi alasan baginya untuk mengembara ke negeri jauh. Namun, Mahasati, bisa jadi adalah sebuah ritual panjang yang dilakukan oleh Andi untuk menyertai kematian Sati, yang akan menjadikannya seorang pecinta sejati.

(Adi Toha)

Ditulis dalam Ulasan Buku | 2 Komentar »

Petualangan Keluar Jalur

Ditulis oleh jalaindra di/pada Juli 20, 2007

Judul         : Beyond The Deepwoods, Edge Chronicles Book I
Penulis      : Paul Stewart and Chris Riddell
Penerbit    : Matahati
Cetakan     : Juni 2007

Seri Pertama dari The Edge Chronicles ini berkisah tentang petualangan Twig dalam menemukan siapa sebenarnya dirinya. Twig yang dibesarkan di antara para Woodtroll di pedalaman Deepwoods merasa terasing dengan dirinya dan lingkungannya, meski Spelda dan Tuntum, pasangan Woodtroll yang membesarkannya selalu menyayanginya. Pertama, karena Twig secara fisik berbeda dari para woodtroll yang bertubuh gemuk dan berkaki pendek, sementara ia kurus dan jangkung. Kedua, Spelda selalu menceritakan tentang siapa sebenarnya dirinya, namun cerita itu tidak pernah sampai pada bagian akhir.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ulasan Buku | 3 Komentar »

Parodi Don Quixote dan Satir Katolik-Komunis

Ditulis oleh jalaindra di/pada Mei 1, 2007

Judul : Monsignor Quixote
Penulis : Graham Greene
Penerbit : Penguin Books
Cetakan : 1983
Tebal : 256 halaman

Don Quixote, adalah karya klasik buah pikiran Cervantes, sastrawan terbesar dari Spanyol, yang dianggap oleh banyak orang sebagai novel modern pertama, dan merupakan salah satu karya terbesar dalam kanon Sastra Barat. Adalah Alonso Quixano, seorang lelaki tua terhormat dari La Mancha, terobsesi kepada buku-buku kepahlawanan yang dibacanya. Karena terlalu banyak membaca, akhirnya suatu ketika ia kehilangan akal sehatnya dan pada suatu pagi, ia memulai petualangannya. Dengan memakai baju besi dan menunggang kuda kurus yang diberi nama Rocinante, mulailah ia bertualang. Dalam sebuah episode petualangannya, ia meminta tetangganya, Sancho Panza, untuk menjadi pengawalnya dengan dijanjikan jabatan Gubernur di sebuah pulau. Bertiga: Don Quixote, Sancho Panza dan Rocinante mengalami petualangan yang seru, menegangkan, namun kocak dan penuh dengan falsafah kehidupan.

Bapa Quixote, seorang pendeta sebuah gereja di kota kecil bernama El Toboso, sebuah wilayah di La Mancha Spanyol, mengaku dirinya sebagai keturunan Don Quixote. Suatu hari, ia menolong seorang Uskup Italia yang mobilnya mengalami kerusakan di tengah jalan. Tak lama setelah itu, ia menerima surat pengangkatan menjadi seorang Monsignor dari Paus, berdasarkan rekomendasi dari Uskup yang pernah ditolongnya. Sang Uskup menyarankan Bapa Quixote untuk berlibur sementara dari tugas-tugas kependetaannya. Sebagai penggantinya, ditunjuk Bapa Herrera. Maka dimulailah perjalanan menyusuri jalanan Spanyol dengan mobil tuanya yang dijulukinya Rocinante, nama yang sama yang diberikan oleh Don Quixote kepada kudanya. Bersama dengan kawan dekatnya, seorang komunis bekas Mayor di El Toboso yang berjuluk Sancho, nama yang sama dengan teman seperjalan dan seperjuangan Don Quixote. Perjalanan Bapa Quixote, Sancho dan Rocinante, paralel dengan perjalanan leluhur mereka.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ulasan Buku | 2 Komentar »

Misteri Kain Kafan Sophia

Ditulis oleh jalaindra di/pada Maret 24, 2007

Shroud of Turin –kain kafan dari Turin, adalah sebuah relik yang beberapa orang meyakininya sebagai kain kafan pembungkus jasad Yesus setelah penyaliban. Pada kain kafan berukuran kurang lebih 4,4 x 1,1 meter tersebut secara samar tergambar sesosok tubuh seorang lelaki, lelaki inilah yang diyakini sebagai Yesus. Sebagian ahli berpendapat bahwa sosok lelaki yang tergambar di kain kafan tersebut adalah Jacques De Molay, Grand Master terakhir Ksatria Templar. Bahkan sebagian ahli lain berpendapat bahwa sosok yang tergambar pada kain kafan adalah Leonardo Da Vinci. Tentang siapakah sebenarnya yang tergambar pada kain kafan tersebut masih menjadi misteri. Banyak penelitian dan penyelidikan dilakukan untuk mengungkapnya. Kain Kafan tersebut kini tersimpan di Katedral St. John the Baptist di Turin, Itali.

Tapi, tahukah anda jika ada kain kafan lain yang pernah membungkus jasad Sophia, seorang gadis yang hidup pada zaman Konstantin Agung? Kain kafan tersebut bahkan pernah digunakan oleh Hitler untuk membungkam Paus Pius XII terhadap kekejaman yang terjadi selama pendudukan Nazi. Lantas, siapakah Sophia?

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ulasan Buku | 4 Komentar »