J A L A I N D R A

jejaring peristiwa – jejaring kata – jejaring imagi – jejaring diri

  • ADI TOHA

    mail : jalaindra@yahoo.com






    PageRank Checking Icon
  • Links For Rent

  • ARSIP

  • RUMAH SINGGAH

  • KUNJUNGAN

    • 56,254 Tamu telah Mabok Di Blog Ini
  • MisCellaNeous

    Click to view my Personality Profile page


    . . .
  • RSS Related Websites

Arsip untuk ‘Puisi’ Kategori

Seperti Laut

Ditulis oleh jalaindra di/pada Oktober 22, 2009

GadisKecildanLautseperti laut yang selalu merindukan cumbuan camar di setiap gelombangnya
sedihkah ia ketika camar melayang meninggi mengangkasa
sementara ia tahu, akan ada satu masa saat camar menghidu bebuihnya

seperti laut yang selalu merindukan puncak gunung yang pernah berada di kedalaman pelukannya
sedihkah ia ketika puncak itu kini menjulang tinggi di kejauhan tak tersentuh
sementara ia tahu, tangis dari sungai-sungainya selalu berujung di muaranya

seperti laut tabah melepas segala kepergian
seperti laut setia menanti segala kepulangan
seperti rindu dan cintaku tukmu

221009

Ditulis dalam Puisi | 2 Komentar »

Tak Henti Menujumu

Ditulis oleh jalaindra di/pada Oktober 10, 2009

ada yang mengintai di setiap luka kita
mata belati diasah di balik dinding angkuh
bersiap mencacah setiap celah harapan
tak hendak menyisakan apapun
selain genang dan bercak darah
dua hati terkapar di lantai mimpi

ada yang tertawa di setiap tangis kita
temali perangkap telah siap di sepanjang jalan
bersiap menjerat setiap langkah lengah
tak ingin melihat kita sampai
berharap kita terjebak di satu perangkap
dan menjadi mangsa serigala-serigala lapar
atau membusuk dimusnah belatung

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Puisi | 1 Komentar »

Masihkah Hujan

Ditulis oleh jalaindra di/pada Oktober 9, 2009

Hujan
separuh nafas mendadak hilang
tercekat rindu dirajam waktu
masihkah hujan menjadi penghantar rindu kta
masihkah tetes-tetes airnya adalah bisikan cinta
masihkah basahnya adalah basah kecupan-kecupan kita
masihkah hangatnya adalah hangat pelukan-pelukan kita

Hujan
separuh hati terisak
merintih perih terpatri jarak
masihkah hembus dinginnya adalah pintu
pintuku menujumu. jendelamu menujuku
masihkah butir-butirnya adalah air mata rindu kita
masihkah titik-titiknya adalah janji sungai pada muara

Hujan
masihkah hujan kita yang dulu?

Ditulis dalam Puisi | Leave a Comment »

Pemakaman Matahari

Ditulis oleh jalaindra di/pada Oktober 8, 2009

Jika suatu saat kau berkunjung ke kota kecil di pesisir utara dan mengujungi pemakaman kecil di tepi sungai dan kau melihat sebuah makam tak bernama dengan sebelas nisan di sekelilingnya, jangan ragu untuk singgah sejenak membacakan sesajak. Jika kau tak tahu sajak apa yang akan kau bacakan, tak perlu khawatir, di atas makam itu bertebaran lembaran-lembaran yang mungkin telah usang dan lapuk di makan waktu, pungut saja barang selembar, kau akan menemukan satu sajak yang bisa kau bacakan. Meski yang akan kau baca adalah sajak tragedi, tak perlu kau menangis, di atas makam itu telah terlalu banyak air mata yang mengalir. Dan tangismu tak kan bisa membangunkan Matahari yang terbaring di bawah tanah itu. Ya, Matahari. Maka jangan heran, jika kota kecil itu selalu mendung di saat siang, dan ketika malam tak pernah ada bulan bercahaya, karena Matahari telah memilih untuk tenggelam selamanya di kedalaman tanah. Bacalah dengan tersenyum, karena ia bahagia dalam tidur abadinya, menjaga janji cintanya hanya untuk satu nama.

Ditulis dalam Puisi | 1 Komentar »

Seberapa Jauh

Ditulis oleh jalaindra di/pada Oktober 4, 2009

Seberapa jauh jarak mampu memisah hati kita
Jika saat kau terisak merindu
Air mataku lah yang mengalir di wajahmu
Seberapa jauh samudra membentang jarak
Jika setiap saat kapal-kapal rindumu merapat di dermaga hatiku
Dan setiap waktu pelaut-pelaut rinduku bersujud di pepasir pantaimu

Seberapa lama waktu mampu mengikis harapan
Jika cinta kita adalah samudra keabadian
Seberapa lama waktu mampu menguapkan janji
Jika janji kita adalah janji matahari.

021009

Ditulis dalam Puisi | Bertanda: | Leave a Comment »

Senja di Sengkarang

Ditulis oleh jalaindra di/pada September 11, 2009

Masih tertinggal jejak di jalan setapak
tempat kita berpijak berdampingan
dan bertukar kesah dalam sebait sajak
di tepi sungai beraltar senja

masih tertinggal jejak jingga di wajah kita
dan geliat rerumput yang kita pijaki bersama
batu-batu diam, pohon-pohon diam
khidmat menyaksikan kita bergenggam tangan
melangkah menghindari semak duri
dan sesekali kau sentuh daun putri malu

sungai inilah yang membesarkanku, kataku
dan kau rebahkan kepalamu di pundakku
di altar senja kita menatap matahari yang sama
gericik air sungai yang tenang
setenang hati kita di bias jingganya

sungai inilah yang menempaku, kataku
dan kau sandarkan tubuhmu di dadaku
wajahmu tengadah menatap mencari tahu
sungai itu mengalir tenang di kedalaman matamu

di altar senja kita satukan rindu yang sama
sungai-sungai mengalir ke muara samudera
seperti rinduku yang ‘kan selalu bermuara
di kedalaman hatimu

jatinangor, 080909

: terkenang suatu senja di tepi kali sengkarang – 170809

Ditulis dalam Puisi | Leave a Comment »

Senja di Prambanan

Ditulis oleh jalaindra di/pada September 7, 2009

prambanandi pelataran prambanan senja itu
kudengar tangismu lirih menggema
lenganmu yang bergayut manja
tak hendak lepas meski sementara
tubuhmu yang bersandar mesra
lekat, tak ingin ada jeda
lagu sendu pelan mengalun
seiring langkah kita di rimbangnya

rindu kita sekokoh trisakti
tegak berdiri menantang waktu
senja itu senja pertama kita bertemu
telah selaksa senja kita merindu
berjumpa raga bersitatap mata

ada yang berdiam di genggam jemari
hangat, menyusup ke relung hati
tak terganti, takkan hilang oleh masa
jemari kita yang menyatu
seperti menyatunya rindu di senja itu

ada yang berdiam di sentuh badan
damai, separuh yang lengkap oleh separuhnya
berdiam tentram seperti arca-arca batu
teguh, tak goyah dilekang masa

di prambanan senja itu telah tergurat dalam
satu kisah dan prasasti janji
seperti relief yang terukir di setiap dinding batunya
cinta yang satu, tak lekang waktu
untukmu

jatinangor, 070909

: kenangan Prambanan, Senja – 160809

Ditulis dalam Puisi | Bertanda: | Leave a Comment »

Pelukanmu

Ditulis oleh jalaindra di/pada Agustus 29, 2009

serupa ciuman pertama bibir sang kekasih
desir detak halus baluri sekujur tubuh
kulihat pelukan itu melambai
mengundang dekap serengkuh lengan yang tak lelah
menunggu mengindra sepenuh ragamu
telah tak henti kuhitung waktu
detik detak berkejaran di urat nadi
sepasukan rindu menderap menggetarkan benteng hati

seulas senyum bibir sang kekasih
cahaya pertama yang retak di ufuk fajar
kurasa hangat di sekujur getar
aku terkapar di erat ikat dua hati
yang sekian lama saling mencari separuhnya

di dekapanmu aku luruh
kaulah lengan dan aku adalah peluk
kaulah bibir dan aku adalah kecup
kaulah kulit dan aku adalah sentuh
di dekapanmu aku luluh
hembus nafasmu kurasa dekat
sangat dekat menghembus ari
berkejaran dengan denyut nadi

pelukanmu bening air mata
kita berkaca ketulusan cinta
pelukanmu luas samudera
muara segala rasa rindu kita
memelukmu aku tahu
kaulah separuhku

290809

Ditulis dalam Puisi | Bertanda: | Leave a Comment »

Sepasang Pejalan

Ditulis oleh jalaindra di/pada Juni 22, 2009

bukankah kita adalah sepasang pejalan
menggariskan peta-peta di tapak kaki kita
yang semakin aus digerus kerikil dan debu
sungai-sungai darah mengalir dari duri-duri
tertancap menanda setiap pemberhentian
dan pemberangkatan yang tak pernah usai
sepanjang tangis sepanjang doa dan dziikir

kita adalah sepasang pengelana di jalan ini
sepasang anak kecil mengejar kupu-kupu
meraih melompat di atas padang ilalang
lupa waktu lupa rumah lupa segala ingat
hingga sang Ibu memanggil hari telah senja

adakah senja memisah genggaman kita
menyerah pada kedalaman malam
kita pun tersesat meraba dalam pekat
nyalakan cinta menjadi pelita
masihkah kau menjaga api di hatimu
seperti aku menjaga mesiu di hatiku
kan kita ledakkan gelap sesak
menuju perayaan cahaya

bukankah kita adalah sepasang pelancong
dari satu negeri ke negeri satu kita singgahi
sejak semula kita telanjang
kenapa harus takut kehilangan?
pada akhirnya kita pun telanjang
kenapa harus menebalkan pakaian?

ya, kita adalah sepasang pengembara
saling meraba peta yang tertulis di kaki kita
mungkin peta kita tak sama
tapi sejak kita adalah sepasang penggembara
sejak jemari kita telah saling mengenggam mesra
sejak pandang kita telah satu titik yang sama
peta kita kan berujung di pemberhentian yang sama

jatinangor, 210609

Ditulis dalam Puisi | Bertanda: | 4 Komentar »

Pulang

Ditulis oleh jalaindra di/pada Juni 14, 2009

datanglah di waktu subuh
saat jerat penat dunia belum memenjara kita
kan kusambut engkau dengan lantun qunut
shalawat dan sujud di hamparan sajadah rumput
di pelataran rumah bambu kenangan kita
yang telah lama kau tinggalkan

datanglah di waktu subuh
dan sebelum Ibu membuka mata fajarnya
telah kita tinggalkan Jakarta
telah kita tinggalkan kota-kota
telah kita tinggalkan jalan raya
kan kita tinggali hening desa

tak perlu kita pikirkan nilai tukar mata uang
buat apa kita menekuri neraca minyak dan emas
tutup mata dan telingamu dari tontonan tivi
dari omongan orang-orang yang merasa dirinya penting
hingga setiap detik kehidupannya menjadi gosip dan berita

datanglah di waktu subuh
saat benih padi yang pernah kita semai di ladang kita
menumbuh dengan ujung daun kecilnya menunjuk ke langit
menyeru keagunganNya

sawah kita masih luas
anak-anak kita kan bermain di pematangnya
mengejar capung, menangkap belalang
membiarkan alam mengasuhbesarkan mereka

sungai-sungai yang dulu pernah kita renangi
masih sejuk sampai kini
ingatkah engkau saat ibu-ibu kita mencuci di setiap pagi?

datanglah di waktu subuh
dan saat Ibu telah membuka matanya
kehidupan tak lagi sama

jatinangor, 130609

Ditulis dalam Puisi | 4 Komentar »