J A L A I N D R A

jejaring peristiwa – jejaring kata – jejaring imagi – jejaring diri

  • ADI TOHA

    mail : jalaindra@yahoo.com






    PageRank Checking Icon
  • Links For Rent

  • ARSIP

  • RUMAH SINGGAH

  • KUNJUNGAN

    • 56,375 Tamu telah Mabok Di Blog Ini
  • MisCellaNeous

    Click to view my Personality Profile page


    . . .
  • RSS Related Websites

Arsip untuk ‘Cerpen’ Kategori

Jendela Laut Allea

Ditulis oleh jalaindra di/pada November 5, 2009

morning_sunshineDi atas tempat tidurnya yang lembut dan empuk Allea mengerjap-kerjapkan matanya memandang langit-langit kamar yang putih bersih tanpa cicak tanpa sarang laba-laba. Selimut lembut dan empuk membebat tubuhnya dari dada sampai ke ujung kaki, sementara rambut panjangnya terurai acak-acakan di atas bantal putih yang sarung bantalnya selalu diganti setiap seminggu sekali. Allea tidak tahu kenapa ia memandang langit-langit. Yang ia tahu, hanya itulah tempat pertama yang dilihatnya ketika terbangun dari tidurnya. Entah tidur siang, sore ataupun malam. Ia tidak tahu, apa yang ingin ia pandangi di langit-langit yang sepi itu.

Tempat kedua yang selalu ia pandangi adalah laut. Ya, laut yang terbingkai di jendela kamarnya. Lama ia terpekur di samping jendela kamarnya yang tepat mengarah ke laut. Kamar apartemennya yang berada sepuluh lantai dari permukaan tanah dengan jendela yang tepat menghadap ke laut, memudahkannya untuk memandangi luasan laut dengan lalu lalang kapal feri dari satu seberang ke seberang yang lain. Ia juga tidak tahu apa yang ingin dilihatnya di luasan laut itu. Yang ia tahu, ia suka memandangi laut dari jendela kamarnya. Gedung-gedung tinggi di daratan seberang samar tertutup di balik kabut tipis. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerpen | Bertanda: | 1 Komentar »

Matahari Untuk Kekasihku

Ditulis oleh jalaindra di/pada Juli 2, 2009

1087ed70-e277-45be-ac98-4526bdb756e7Allea, jika suatu saat kau terbangun di pagi hari dan mendapati di atas langit-langit kamarmu tergantung sebuah bola bundar berkilauan dengan cahayanya yang terang namun hangat, seperti terang dan hangat yang kau rasakan saat matahari mulai terbit, jangan heran. Aku telah menggantungkan matahari di langit-langit kamarmu diam-diam di saat kau terlelap.

Aku selalu ingat saat kau mengatakan kecemburuanmu kepada Alina dan Liana. Alina telah mendapatkan hadiah dari kekasihnya sepotong senja seukuran kartu pos dan Liana mendapatkan dari kekasihnya selimut jingga senja. Lalu kau bertanya kepadaku apa yang telah dan akan aku berikan kepadamu. Aku selalu mengingatnya, Allea. Sejak itu, aku selalu mencari sesuatu yang bisa aku persembahkan untukmu sebagai hadiah terindah. Tentu saja aku tidak mau ikut-ikutan Seno mengerat senja seukuran kartu pos, juga tidak mau ikut-ikutan Jalaindra mencuri selimut jingga. Aku ingin sesuatu yang lebih megah dari keduanya.

Allea, juga jangan heran kenapa aku bisa masuk ke dalam kamarmu untuk menggantungkan lampu matahari itu tanpa membangunkan tidurmu. Bukankah kau telah menitipkan kuncimu kepadaku? Kunci satu-satunya milikmu yang kautitipkan kepada seseorang yang kepadanya kau mencintai dengan sepenuh, kepadaku. Malam itu aku akan diam-diam membuka pintu kamarmu, mengendap-endap agar tidak mengganggu tidurmu. Di dalam tasku, bulatan bercahaya sebesar bola voli yang menjadi tujuan perjalananku beberapa bulan yang telah lalu. Maafkan aku, Allea. Aku meninggalkanmu tanpa berpamitan, sehingga aku yakin kau cemas mencariku dan kehilanganku.

Ya, bulatan sebesar bola voli itulah matahari untukmu. Kau tahu dari mana aku mendapatkannya, Allea? Ah, ceritanya cukup panjang. Kuharap kau mau mendengarnya, atau setidaknya, kau mau membaca kisah yang akan kutuliskan setelah ini. Mungkin tidak mudah untuk menggantungkan bulatan bercahaya itu di langit-langit kamarmu. Benda itu cukup ringan, mungkin, tak lebih berat dari berat lampu kamarmu. Tidak seperti menggantungkan balon-balon yang pernah kugantungkan saat menghias langit kamarmu sewaktu kau berulang tahun, pada bulatan bercahaya itu aku tidak menemukan pangkal yang bisa aku lilitkan benang atau tali. Permukaan matahari itu halus, lembut dan terasa hangat. Juga pastinya tidak seperti menempelkan gambar-gambar glow-in-the-dark berbentuk benda-benda langit di sekeliling tembok dan langit-langit kamarmu. Bulatan cahaya itu tidak bisa menempel ke tembok atau langit-langit sama sekali. Aku pernah mencoba menggantungkannya di langit-langit mushola tempatku singgah. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerpen | 4 Komentar »

[Repost] Kekasih Yang Datang Bersama Gelombang

Ditulis oleh jalaindra di/pada Januari 18, 2009

angel_in_seaSuara-suara bising burung-burung camar yang berteriak dan deburan ombak yang terdengar bergemuruh membangunkan aku dari tidurku, entah untuk berapa lama. Perlahan aku membuka mataku dan mencoba bangkit dari tidurku. Aku tak ingat apa yang baru saja aku alami. Aku tak ingat apa yang aku lakukan sebelumnya. Tidur, itu saja yang aku ingat pasti. Aku tidak ingat apa yang telah terjadi sebelum aku tidur. Pikiranku kosong seakan semua ingatan dalam otakku telah hilang, yang ada hanya ingatan sejak aku terbangun dan ketidaktahuan-ketidaktahuan hingga saat ini. Aku mencoba mengingat namun percuma. Semakin aku mencoba kepalaku menjadi semakin berat terasa. Pun aku….Aku tak ingat siapa diriku. Aku menebar pandanganku ke sekeliling, aku di mana?

Tempat ini sama sekali asing bagiku. Sebuah pondok kecil yang dindingnya tersusun dari papan-papan kayu yang tidak rata, celah yang ada diantaranya cukup untuk membuat udara dari luar masuk ke dalam. Atap yang dianyam dari daun-daun kelapa kering. Dan tempatku terduduk, sebuah rangkaian batang-batang pohon sebesar tangan yang dijajar dan diikat satu dengan lainnya sehingga dapat dipakai untuk tempat duduk dan tidur. Tidak ada sesuatu pun yang tidak terbuat dari kayu dan batang-batang pohon. Pun tali yang dipakai untuk mengikat adalah kulit-kulit pohon yang diuntai sebesar jari. Tempatku berada adalah sebuah ruang tersendiri dalam pondok itu. Entah pondok milik siapa.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerpen | 1 Komentar »

[Repost] Silsilah Ilalang dan Elang

Ditulis oleh jalaindra di/pada Desember 28, 2008

Catatan: Sebuah cerpen lama, ditulis sewaktu awal-awal belajar menulis cerpen. Cerpen ini sudah kuposting di blog lama yang dua tahun lebih sudah kutinggalkan. (gambar diambil dari: www.sherpaguides.com)

bald_eagle

Namaku Ilalang, aku tak tahu mengapa bapakku memberi aku nama itu, lengkapnya, Ilalang Indera Bumi, lebih aneh lagi, bukan ? Tidak seperti nama-nama bocah-bocah lain di desaku, Tono, Pardi, Ahmad ataupun Joni. Waktu itu aku masih berusia 10 tahun, kelas 4 SD di sekolah dekat rumah. Teman-teman sekolahku sering memanggil aku dengan Elang, atau Gaok dalam bahasa jawa. Aku sering menjadi ejekan teman-temanku karena namaku kedengarannya aneh : Gaok, Gaok, Gaok.

Gaok, atau Elang kadang dijumpai di desaku melayang-layang tinggi dengan angkuhnya di atas angkasa sambil mengeluarkan suara-suara yang membuat anak-anak ayam berlarian ketakutan berlindung pada induknya. Setiap kali ada gaok terbang di langit desaku, anak-anak seusiaku dulu sering bersorak gembira, karena jarang sekali mereka melihat burung sebesar Gaok terbang melingkar-lingkar. “Gaok, Gaok, Gaok”, teriak mereka. Meski Elang itu sendirian terbang berputar-putar di langit desaku, cukup membuat gaduh suasana di bawah, terlebih bagi induk-induk ayam kampung yang dengan panik melindungi anak-anaknya.

Ilalang juga sebenarnya nama yang tidak umum. Kadang teman-temanku juga memanggilku alang-alang, bahasa jawa untuk ilalang, sejenis rumput yang banyak dijumpai di bantaran kali Sengkarang yang mengalir di desaku. Ilalang banyak dicari oleh tetangga-tetangga desaku yang memiliki kerbau atau kambing, termasuk ayahku. Kadang aku sendiri yang harus menggembala kerbauku ke padang-padang ilalang di pinggiran kali bersama kawan-kawanku. Aku naik di atasnya dan berjalan dengan teramat pelan mengikuti kemana kerbau melangkah, tentu saja dengan sehelai daun ilalang di tanganku yang kemudian aku tempelkan di mulut dan kutiup mengeluarkan bunyi-bunyi bersama teman-temanku. Teman-temanku sering menggoda dan mengerjai aku ketika kami sering bermain berlarian di padang rumput tepi sungai membiarkan kerbau-kerbau kami menggembala dirinya sendiri. Mereka selalu menyuruh dengan berlagak pada kerbau : “Kejar Ilalang, dia makananmu, dia ilalang yang paling enak !” lalu dengan cepat memukul pantat kerbau. Seketika kerbau berlari dan aku kocar-kacir ketakutan.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerpen | 3 Komentar »

Walang Kekek

Ditulis oleh jalaindra di/pada April 4, 2007

hanya sebuah cerpen lama, tak sengaja menemukan oret-oretannya di dalam kardus.

Terhitung sudah lebih dari sepuluh tahun sejak Ki Parmin mulai menghabiskan hari-harinya dengan duduk berdiam diri di depan rumahnya. Penduduk desa telah maklum bahwa perilakunya sangat wajar bagi orang-orang setua dia. Mereka duduk sambil mengangankan masa lalu dan masa muda; memandangi dunia yang tak lagi menjadi bagian hidupnya. Orang-orang muda menggantikan orang-orang tua, lalu orang-orang muda itu menjadi tua dan digantikan lagi oleh orang-orang muda yang lain.

Namun, setidaknya Parmin mempunyai alasan tersendiri mengapa ia melakukan hal itu. Ia tengah menunggu seseorang. Dan sore itu, apa yang ditunggunya datang. Penantiannya berakhir sudah. Dari depan rumahnya yang menghadap ke kaki bukit, ia melihat tiga orang asing mendaki bukit ke arah desanya. Mereka langsung mengarah ke balai desa. Mereka bertiga, tapi hanya satu di antara mereka yang membuat Parmin merasa khawatir, ajalnya kian mendekat.

Parmin menaksir, orang-orang yang dilihatnya masih muda, sangat muda bahkan. Ia menduga-duga berapa lama mereka akan tinggal di desanya, tapi ia tidak bisa menduganya dengan pasti. Mungkin hanya semalam, beberapa hari, bahkan mungkin sampai hitungan minggu. Parmin berharap mereka hanya tinggal semalam, sekedar singgah. Mungkin pengelana-pengelana muda itu hanya singgah semalam saja setelah pendakian, setelah itu kembali melanjutkan perjalanan, yang tak sedikit pun diketahui dan dipedulikan olehnya.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerpen | 3 Komentar »

Kisah Kematian Pengarang Muda

Ditulis oleh jalaindra di/pada Februari 22, 2007

cerpen: Adi Toha

Sepetak kamar kontrakan di ujung gang itu telah lama ditinggalkan penghuninya. Gelap, hanya temaram lampu bohlam di luar kamar yang sedikit memberi keremangan di dalamnya. Waktu itu tengah malam. Orang-orang tengah sibuk menggembalakan mimpi-mimpinya. Jarum jam mendetak sunyi. Hembus angin menggoyangkan dedaunan rumpun bambu, menjelmakan gerisik dan keriut menyeramkan tak jauh di kebun belakang.

Ceklek!

Lampu di dalam kamar tiba-tiba menyala tanpa ada seorang pun yang menekan sakelar. Sebuah buku catatan bergerak-gerak, mencoba melepaskan diri dari himpitan buku-buku di atasnya. Ia menggeser perlahan, tak ingin membangunkan buku lainnya.

“Ahhh… akhirnya lepas juga,” ia mendesah lega. “Sudah lama aku tidak merasakan udara bebas.” Ia membuka, meregangkan kertas-kertasnya, membiarkan udara menyusup masuk ke sela helai demi helai dirinya. Buku catatan itu bersijingkat menghampiri sebuah pena yang rebah di dekat sebuah asbak. Pena itu menggeliat pelan saat sebuah gerakan tiba-tiba menyentuh pangkalnya.
Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerpen | 6 Komentar »

Namira di Suara Pembaruan Minggu

Ditulis oleh jalaindra di/pada Januari 29, 2007

Namira, aku tidak tahu darimana dan kapan kau datang. Tahu-tahu kau sudah ada di depan pintuku. Kau sangat terkejut saat melihatku tengah telanjang bersama perempuan lain yang tidak kau kenal. Ah, jika pun aku bersama perempuan lain yang kau kenal, kau juga akan terkejut, bahkan lebih. Dalam mabukku, mataku masih sadar untuk mengenali tetes air yang keluar dari matamu sebagai air mata. Kau pun beranjak pergi dengan segera. Dalam mabukku pun ternyata aku masih bisa merasakan penyesalan yang sangat. Ya. Aku sangat menyesal Namira.

(Versi Asli)(Versi Koran)

Ditulis dalam Cerpen | Leave a Comment »

LUBANG

Ditulis oleh jalaindra di/pada Desember 17, 2006

Cerpen ini pernah dimuat di Koran Sindo, 17 Desember 2006

MULANYA lubang itu hanyalah lubang biasa yang membuat bopeng wajah jalan aspal di sebuah kota kecil tak bernama. Tak ada orang yang peduli akan keberadaannya selain para pengendara dan pengguna jalan raya.

Tak seorang pun warga yang bersuka rela meluangkan waktu untuk menutupnya dengan tanah, pasir atau apa pun. Sampai suatu malam, lubang itu mengeluarkan seonggok janin perempuan yang masih merah. Malam itu jalanan sepi. Tak ada seorang pengendara atau pejalan kaki pun yang melintas. Malam telah larut. Lampulampu di rumah-rumah di pinggir jalan telah dimatikan.

Penghuninya tengah mengembara di alam mimpi. Seekor kucing melintas menyeberang, lalu melompat ke dahan pohon jambu, memanjat dan menghilang di atap-atap. Seekor kelelawar terbang berputar-putar, menyusup ke dalam rimbunan pohon mangga, lalu terbang lagi. Bunyi gerisik menandai jatuhnya satu buah mangga. Ia menghantam tanah dan menggelinding ke tengah jalan, menanti untuk dipungut, atau hancur terlindas mobil atau motor yang melintas. Lubang itu menganga lebar.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerpen | 1 Komentar »

Drama di dalam Kamar

Ditulis oleh jalaindra di/pada Desember 12, 2006

Aku terbangun pada suatu pagi dan terkejut mendapati seorang lelaki tua berjanggut putih berpakaian khas perancis abad 19, telah duduk di pojok kamarku, di atas kardus yang berisi tumpukan kertas. Aku heran dan bingung, sepertinya aku pernah melihat lelaki tua itu, tapi entah di mana. Oh tidak! Bukan hanya lelaki tua itu yang tiba-tiba saja ada di dalam kamarku, ada seseorang yang lain lagi, seorang lelaki yang lebih muda umurnya mungkin sekitar empat puluh enam atau empat puluh tujuh, tubuhnya sedang, tapi tampak kekar dan kuat. Ia mengenakan pakaian yang agak lusuh, rambutnya pendek dan terlihat tidak rapi.

“Si… siapa kalian?” tanyaku gagap, masih di atas kasur busa yang tipis dimakan usia.

“Bukankah kau sudah mengenalku? Baiklah, jika kau lupa, aku Hugo, Victor Hugo,” jawab lelaki tua berjanggut putih pendek itu.

Apa? Victor Hugo? Aku membatin tak percaya. Pantas saja. Aku pernah melihat lelaki tua itu dalam sampul buku yang baru kubeli kemarin, ‘Les Miserables’, aku sempat membacanya beberapa halaman.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Catatan, Cerpen, Ulasan Buku | 2 Komentar »

Pelacur dan Semut

Ditulis oleh jalaindra di/pada November 26, 2006

Cerpen ini pernah dimuat di Harian Batam Pos, Edisi 7 Mei 2006

Aku begitu terkejut saat bangun pagi, semua benda terlihat kecil, semakin kecil. Ranjang tempat tidurku tiba-tiba mengerut, aku segera melompat turun dan melihatnya semakin mengerut mengecil. Aku takut ranjang itu akan hancur karena berat badanku jika aku tidak segera melompat turun darinya. Bukan hanya ranjang itu, semua benda di ruangan hotel ini mengecil. Pintu, almari, jendela.

Ah iya! Cermin. Cermin. Dimana cermin. Aku ingin memastikan apakah memang benar semuanya mengecil ataukah aku yang membesar. Ah, itu dia. Tetapi, bagaimana aku bisa melihat diriku dan benda-benda lain dalam cermin itu jika cermin itu sendiri pun telah mengecil, tidak cukup untuk menampung bayangan sekujur tubuhku dan seisi kamar ini di dalamnya.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerpen | 2 Komentar »