J A L A I N D R A

jejaring peristiwa – jejaring kata – jejaring imagi – jejaring diri

Arsip untuk ‘Catatan’ Kategori

Mimpi Berbuah Novel – Sekilas Proses Kreatif

Posted by jalaindra pada Mei 4, 2010

Pada suatu malam bermimpi. Saya mendapati diri saya menjadi seorang ksatria yang tengah terpojok di sudut sebuah istana bersama dengan para ksatria lain. Di luar, ribuan monster dan makhluk aneh berwujud mengerikan tengah bergerak bergelombang-gelombang menyerbu istana. Tidak ada jalan keluar untuk melarikan diri. Jalan satu-satunya adalah menghadapi serbuan monster-monster itu apapun yang terjadi. Saya dalam posisi sebagai pemegang keputusan apakah saya dan orang-orang yang bertahan dalam istana tersebut akan menyerah atau melawan dengan resiko yang sama-sama bisa diperkirakan: tewas.

Monster-monster dalam mimpi saya semakin mendekat. Saya segera mengambil keputusan dan berteriak dengan lantang: “Jika pun kita harus mati di sini, maka kita akan mempersembahkan kematian terbaik kita dengan memberikan perlawanan yang sesungguhnya kepada mereka!” lalu saya merangsek ke barisan depan pasukan monster-monster itu, seperti Aragorn mengawali pertempuran di Gerbang Hitam Mordor.

Entah kenapa, saya merasakan kenikmatan ketika mengayunkan pedang dan tombak dalam pertempuran yang sebenarnya (meski di dalam mimpi), sebuah pertempuran antara hidup dan mati. Saat pertempuran tengah mencapai puncaknya, saya keburu terjaga. Saya tidak mengetahui bagaimana nasib saya dan orang-orang yang berada dalam istana tersebut. Namun, kenikmatan pertarungan tersebut masih terasa beberapa waktu setelah saya terjaga.
Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Catatan | 1 Komentar »

Kisah Sebuah Poci

Posted by jalaindra pada Maret 11, 2010

Entah sudah berapa bulan lamanya sebuah poci tanah liat tergeletak begitu saja di dalam kamar saya. poci itu dibawa oleh seorang teman, mungkin dimaksudkan untuk mewadahi air minum, mengingat dispenser yang biasa dipakai bocor. Tapi nyatanya, poci itu tidak terpakai sama sekali, saya dan kawan-kawan lebih memilih untuk menuang begitu saja air minum dari galon aqua ke gelas atau ke botol-botol kecil. Beruntung, nasib poci itu tidak berubah menjadi pengganti asbak.

Sebagai sebuah benda yang memiliki massa dan menempati ruang, poci itu sudah menjadi lanskap kamar. Meski keberadaannya tidak begitu berarti, tidak terpikir dalam benak saya untuk menyingkirkan poci itu, hanya mungkin letaknya saja yang berpindah-pindah, kadang di bawah tumpukan kardus, kadang di atas tumpukan koran.

Beberapa hari kemarin saya berinisitaif untuk mencuci poci tanah liat itu. Dalam bayangan saya, mungkin bisa dimanfaatkan sebagai mana fungsinya. Saya rindu rasa air putih yang dituang dari wadah tanah liat, seperti kendi rumah saya di kampung. Barangkali bisa digunakan untuk menyeduh teh sesekali sambil menikmati hujan. Atau mungkin bisa digunakan untuk celengan, menyimpan uang recehan. Saya membayangkan, poci tanah liat itu akan saya fungsikan seperti lampu aladin. Ketika suatu saat saya butuh uang receh, tinggal gosok poci dan buka tutupnya, ALAKAZAMMM, uang receh pun tinggal ambil. Ya, bentuknya memang seperti lampu aladin.

Saya mulai merendam poci di dalam air selama beberapa hari, seperti yang biasa Ibu saya lakukan terhadap poci tanah liat yang baru saja dibeli sebelum bisa digunakan untuk wadah air putih. Cuci rendam cuci rendam selama beberapa kali.

Pagi ini saya mencucinya untuk terakhir kali dan mengeringkannya di  pinggir jendela. Sebelum sholat dhuhur, saya lihat poci itu hampir kering. Saya berpikir, selesai saya sholat dhuhur, poci itu pasti sudah kering dan siap dipakai. Allahu Akbar. Takbir pertama sholat dhuhur.

Ketika saya tengah rukuk, tiba-tiba. BRAKKKK !!!! PRANKKK !!! dari belakang saya terdengar suara jendela yang menutup dengan kencang karena hempasan angin. Sholat saya mulai tidak khusuk. Saya yakin poci itu jatuh terkena hempasan jendela. Saya masih berharap poci itu tidak pecah.

Selesai salam, saya menoleh ke belakang. Yaaaaahhhh… poci tanah liat itu sudah hancur berkeping-keping. Tidak ada pilihan lain, poci itu harus saya buang ke tempat sampah. Saya jadi teringat bait puisi Goenawan Mohamad:

Apa yang berharga pada tanah liat ini
Selain separuh ilusi
Sesuatu yang kelak retak
Dan kita membikinnya abadi

Saya jadi berpikir, bagaimana seandainya saya tidak berniat memfungsikan poci itu sebagaimana mestinya. Mungkinkah usaha saya untuk membersihkan poci itu hanya mempercepat perjalanan nasib poci itu ke tempat sampah? Saya jadi berpikir… ya, sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi.

Satu lanskap telah menghilang dari kamar saya, ketika saya berniat untuk mempergunakannya sebagaimana mestinya.

Ditulis dalam Catatan | 1 Komentar »

Resensiana.Com – Blog Resensi Buku

Posted by jalaindra pada November 29, 2009

Setelah menimbang-nimbang beberapa waktu, mengingat blog ini terlalu banyak campur aduk: ada puisi, cerpen, resensi buku dan tulisan lain, akhirnya saya memutuskan untuk membuat satu blog khusus yang rencananya akan saya isi dengan resensi buku dan semua tentang buku. Blog tersebut beralamat di http://resensiana.com. Semoga dengan adanya blog khusus tersebut, saya jadi lebih rajin dan bersemangat untuk membaca dan menulis lebih banyak lagi.

Ditulis dalam Catatan | 4 Komentar »

[Refleksi] Laron

Posted by jalaindra pada Oktober 18, 2009

Berawal dari obrolan ringan di sebuah sore berteman segelas kopi di Ngeumong Cafe Library, tentang laron, saya jadi teringat sebuah puisi pendek yang pernah saya tulis tentang Laron atau Siraru dalam basa sundanya.

Siraru

iring-iringan di mulut lubang
melepas kepergian prajurit ke medan perang
empat sayap rapuh menjadi senjata
terbang memburu cahaya

Ya, laron. Kebanyakan mungkin hanya melihat laron ketika mereka beterbangan di malam hari musim hujan mengerumuni cahaya. Pernahkah kalian melihat bagaimana laron-laron keluar dari lubang-lubang di dalam tanah? Terutama ketika pagi selepas hujan semalam sebelumnya? Ya, dari lubang-lubang basah di dalam tanah, laron-laron itu keluar, diiringi atau dikawal oleh berpuluh-puluh rayap kepala putih dan rayap kepala merah. Satu persatu laron-laron itu muncul, mengembangkan sayap dan terbang.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Catatan | 1 Komentar »

Percakapan Sederhana Suatu Ketika Tentang Hujan

Posted by jalaindra pada Oktober 9, 2009

Sore saat lelah mencapai puncakmu, kau membuka korden ruang kerjamu, termenung membayangkan saat itu kau tengah duduk di samping orang yang sangat kau cintai, bersama-sama memandang hujan, hujan yang tetes demi tetes airnya seperti cinta yang setiap saat menetesi hati dengan kerinduan. Seperti katamu, kau sangat hujan, hujan memiliki bahasa yang sangat indah, halus, diiringi dengan ritme yang teratur dan berulang.

Seperti rindu, seperti hujan, seperti cintaku kepadamu, ada bahasa yang tak bisa diwakilkan oleh kata, halus, indah, berulang dan tak lelah membasahi tanah, mengalirkan titik-titik airnya, menyatu bermuara di dasar hatimu. Hujan yang tercipta karena tetes demi tetes itu menyatu, seperti halnya cinta yang keping demi kepingnya menyatu menjadi sebentuk ruang bahagia. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Catatan | 1 Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.