Entah sudah berapa bulan lamanya sebuah poci tanah liat tergeletak begitu saja di dalam kamar saya. poci itu dibawa oleh seorang teman, mungkin dimaksudkan untuk mewadahi air minum, mengingat dispenser yang biasa dipakai bocor. Tapi nyatanya, poci itu tidak terpakai sama sekali, saya dan kawan-kawan lebih memilih untuk menuang begitu saja air minum dari galon aqua ke gelas atau ke botol-botol kecil. Beruntung, nasib poci itu tidak berubah menjadi pengganti asbak.
Sebagai sebuah benda yang memiliki massa dan menempati ruang, poci itu sudah menjadi lanskap kamar. Meski keberadaannya tidak begitu berarti, tidak terpikir dalam benak saya untuk menyingkirkan poci itu, hanya mungkin letaknya saja yang berpindah-pindah, kadang di bawah tumpukan kardus, kadang di atas tumpukan koran.
Beberapa hari kemarin saya berinisitaif untuk mencuci poci tanah liat itu. Dalam bayangan saya, mungkin bisa dimanfaatkan sebagai mana fungsinya. Saya rindu rasa air putih yang dituang dari wadah tanah liat, seperti kendi rumah saya di kampung. Barangkali bisa digunakan untuk menyeduh teh sesekali sambil menikmati hujan. Atau mungkin bisa digunakan untuk celengan, menyimpan uang recehan. Saya membayangkan, poci tanah liat itu akan saya fungsikan seperti lampu aladin. Ketika suatu saat saya butuh uang receh, tinggal gosok poci dan buka tutupnya, ALAKAZAMMM, uang receh pun tinggal ambil. Ya, bentuknya memang seperti lampu aladin.
Saya mulai merendam poci di dalam air selama beberapa hari, seperti yang biasa Ibu saya lakukan terhadap poci tanah liat yang baru saja dibeli sebelum bisa digunakan untuk wadah air putih. Cuci rendam cuci rendam selama beberapa kali.
Pagi ini saya mencucinya untuk terakhir kali dan mengeringkannya di pinggir jendela. Sebelum sholat dhuhur, saya lihat poci itu hampir kering. Saya berpikir, selesai saya sholat dhuhur, poci itu pasti sudah kering dan siap dipakai. Allahu Akbar. Takbir pertama sholat dhuhur.
Ketika saya tengah rukuk, tiba-tiba. BRAKKKK !!!! PRANKKK !!! dari belakang saya terdengar suara jendela yang menutup dengan kencang karena hempasan angin. Sholat saya mulai tidak khusuk. Saya yakin poci itu jatuh terkena hempasan jendela. Saya masih berharap poci itu tidak pecah.
Selesai salam, saya menoleh ke belakang. Yaaaaahhhh… poci tanah liat itu sudah hancur berkeping-keping. Tidak ada pilihan lain, poci itu harus saya buang ke tempat sampah. Saya jadi teringat bait puisi Goenawan Mohamad:
Apa yang berharga pada tanah liat ini
Selain separuh ilusi
Sesuatu yang kelak retak
Dan kita membikinnya abadi
Saya jadi berpikir, bagaimana seandainya saya tidak berniat memfungsikan poci itu sebagaimana mestinya. Mungkinkah usaha saya untuk membersihkan poci itu hanya mempercepat perjalanan nasib poci itu ke tempat sampah? Saya jadi berpikir… ya, sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi.
Satu lanskap telah menghilang dari kamar saya, ketika saya berniat untuk mempergunakannya sebagaimana mestinya.