J A L A I N D R A

jejaring peristiwa – jejaring kata – jejaring imagi – jejaring diri

  • ADI TOHA

    mail : jalaindra@yahoo.com






    PageRank Checking Icon
  • Links For Rent

  • ARSIP

  • RUMAH SINGGAH

  • KUNJUNGAN

    • 56,375 Tamu telah Mabok Di Blog Ini
  • MisCellaNeous

    Click to view my Personality Profile page


    . . .
  • RSS Related Websites

Arsip untuk ‘Catatan’ Kategori

[Refleksi] Laron

Ditulis oleh jalaindra di/pada Oktober 18, 2009

Berawal dari obrolan ringan di sebuah sore berteman segelas kopi di Ngeumong Cafe Library, tentang laron, saya jadi teringat sebuah puisi pendek yang pernah saya tulis tentang Laron atau Siraru dalam basa sundanya.

Siraru

iring-iringan di mulut lubang
melepas kepergian prajurit ke medan perang
empat sayap rapuh menjadi senjata
terbang memburu cahaya

Ya, laron. Kebanyakan mungkin hanya melihat laron ketika mereka beterbangan di malam hari musim hujan mengerumuni cahaya. Pernahkah kalian melihat bagaimana laron-laron keluar dari lubang-lubang di dalam tanah? Terutama ketika pagi selepas hujan semalam sebelumnya? Ya, dari lubang-lubang basah di dalam tanah, laron-laron itu keluar, diiringi atau dikawal oleh berpuluh-puluh rayap kepala putih dan rayap kepala merah. Satu persatu laron-laron itu muncul, mengembangkan sayap dan terbang.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Catatan | Leave a Comment »

Percakapan Sederhana Suatu Ketika Tentang Hujan

Ditulis oleh jalaindra di/pada Oktober 9, 2009

Sore saat lelah mencapai puncakmu, kau membuka korden ruang kerjamu, termenung membayangkan saat itu kau tengah duduk di samping orang yang sangat kau cintai, bersama-sama memandang hujan, hujan yang tetes demi tetes airnya seperti cinta yang setiap saat menetesi hati dengan kerinduan. Seperti katamu, kau sangat hujan, hujan memiliki bahasa yang sangat indah, halus, diiringi dengan ritme yang teratur dan berulang.

Seperti rindu, seperti hujan, seperti cintaku kepadamu, ada bahasa yang tak bisa diwakilkan oleh kata, halus, indah, berulang dan tak lelah membasahi tanah, mengalirkan titik-titik airnya, menyatu bermuara di dasar hatimu. Hujan yang tercipta karena tetes demi tetes itu menyatu, seperti halnya cinta yang keping demi kepingnya menyatu menjadi sebentuk ruang bahagia. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Catatan | Leave a Comment »

Harmoni dan Buku di Lereng Merapi

Ditulis oleh jalaindra di/pada September 12, 2009

Apa yang terbayang di benak kita ketika mendengar tentang Gunung Merapi? Mungkin yang pertama kali terbayang adalah sosok Mbah Maridjan. Pernahkah kita membayangkan, jika di sebuah desa terakhir di lereng Gunung Merapi terdapat sebuah perpustakaan yang didirikan secara swadaya oleh warganya? Inilah sepenggal catatan perjalanan berkunjung ke Rumah Baca Komunitas Merapi di Dusun Gemer, Magelang, pemukiman terakhir sebelum puncak Gunung Merapi.

Selasa pagi, 5 Mei 2009, di Pondok Maos Guyub, sekitar jam setengah sembilan, saya sudah berkemas-kemas. Sesuai rencana, saya dan Kang Sigit hendak memulai perjalanan ke Jogja dan akan mampir di Magelang, di Rumah Baca Komunitas Merapi yang dirintis oleh Gendhotwukir dan kawan-kawan. Setelah berfoto dan berpamitan sewajarnya dengan teman-teman yang masih ada di Guyub, kami pun mulai naik delman ke pasar Boja, dilanjutkan dengan naik bis ke Semarang.

Kami turun di perempatan entah apa namanya dan jalan kaki beberapa puluh langkah. Kang Sigit menyeret koper besar warna merahnya menyusuri jalan, sampai akhirnya sebuah angkutan menghampiri kami dan menanyakan arah. Ya, kami hedak menuju ke Jl. Dr. Cipto, ke sebuah agen bus yang akan mengantar kami ke Jogja. Setelah nego harga, akhirnya kami pun naik. Agen bus yang dituju adalah PO . Nusantara, tepatnya di Jl. Dr. Cipto 108 C. Tarifnya untuk Jurusan Semarang-Jogja adalah Rp. 35.000 per orang. Pukul 10.15 Bus yang akan membawa kami merapat. Perjalanan kembali dimulai. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Artikel, Catatan | Bertanda: | 5 Komentar »

Valharald

Ditulis oleh jalaindra di/pada Maret 14, 2009

coverBeberapa waktu kemarin, gue nemu kutipan kalimat yang oke banget buat  loe-loe yang pingin jadi penulis, yang sekarang mungkin sedang nunggu-nunggu naskah loe untuk diterbitin. Kutipannya kek gini “Hidup gue, nyawa gue, semangat gue, semuanya ada di karya ini. Gak boleh ada penerbit yang nolak karya gue. Apapun caranya, gimanapun sulitnya, karya gue ini harus berhasil tembus ke penerbit.”

Ya, kebetulan beberapa hari kemarin gue habis masukin naskah gue ke sebuah penerbit besar di Bandung. dan baiknya, ntu penerbit menyilahkan gue buat masukin naskah yang sama ke penerbit yang lain. Ya udah, gue masukin aja ntu naskah ke dua penerbit besar di Jogja, dan kali ini, gue gak ingin nunggu lama, pokoknya tahun 2009, harus terbit itu buku.

Yup, bener. “Hidup gue, nyawa gue, semangat gue, semuanya ada di karya ini. Gak boleh ada penerbit yang nolak karya gue. Apapun caranya, gimanapun sulitnya, karya gue ini harus berhasil tembus ke penerbit.” Gue yakin, penerbit yang nolak naskah gue, bakal nyesel nantinya.  Wkwkwkwk.

Ditulis dalam Catatan | 7 Komentar »

Tujuh Sore Kayuh Sepeda

Ditulis oleh jalaindra di/pada Februari 27, 2009

Sebuah catatan “Sepeda Sastra, 4-10 Mei 2008, Pondok Maos Guyub, Boja “

100_4276-largePagi-pagi sekali ketika sedang lelap di kamar kosan Dwicipta, saya dikagetkan oleh sebuah bunyi panggilan di ponsel yang saya letakkan di dekat kepala. Rupanya dari nomor Shiho Sawai. Kamis malam sebelumnya, 1 Mei 2008, setelah pertemuan Apsas di Kedai Ceker, saya dan Shiho telah sepakat untuk ketemuan dan berangkat bareng ke Boja dari terminal Jombor pada hari minggunya. Kami telah janjian pukul 06.00 harus sudah berangkat dari terminal Jombor, karena perjalanan Jogja – Boja memakan waktu 4 jam, dan rangkaian acara sepeda sastra di Guyub akan dimulai pada pukul 10.00. Harusnya, sebelum jam enam pagi saya sudah bersiap, tapi nyatanya pada jam itu saya masih lelap di kamar kosan dwicipta. Kalau bukan karena panggilan itu, mungkin saya masih lelap sampai siang. Saya yakin Shiho marah dan kesel kepada saya.

Dengan mata yang masih mengantuk saya bergegas mandi dan bersiap-siap. Setelah memastikan tak ada yang ketinggalan, saya pun berpamitan kepada Dwicipta, cerpenis Jogja itu, yang masih tertidur dan melangkah dengan tergesa-gesa ke Jalan Kaliurang. Angkot dari jalan Kaliurang ke Terminal Jombor rupanya belum ada sepagi itu. Akhirnya saya memberanikan diri memanggil taksi yang kebetulan lewat. Wah, baru sekali itu, seumur hidup saya manggil taksi, dan naik taksi sendiri. Setelah nego ongkos, akhirnya taksi yang saya naiki mulai meluncur dengan cepatnya. Meskipun waktu itu saya tengah tergesa-gesa sekali, khawatir Shiho akan marah karena saya terlambat datang, tapi dalam benak saya tersenyum-senyum sendiri. Waahh… ngguaya.. numpak taksi dewekkan, rek. Maklumlah, saya orang kampung yang kemana-mana lebih memilih naik angkot atau sepeda, daripada taksi yang ongkosnya cenderung mahal. Kalau tidak terburu-buru waktu itu, saya tidak bakalan naik taksi.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Catatan | 3 Komentar »

HUT Ke-4 APSAS [Ep. 3]

Ditulis oleh jalaindra di/pada Februari 26, 2009

Kau terbangun dengan gagap di pagi itu, di sebuah kamar asing yang baru semalam kau tiduri. Di sampingmu berdiri rak yang dipenuhi buku-buku. Semalam kau sempat membaca-baca, meski hanya ratusan judulnya saja. Matamu terlalu lelah untuk membaca, dan tubuhmu terlalu lelah untuk terjaga, hingga semalam, setelah obrolan-obrolan singkat, kau tertidur, nyenyak, melepas lelah. Sebuah suara dan seseorang muncul dari ruangan dalam dengan wajah kantuknya, “Lho, sudah jam 8 toh?”. Ya, orang itu, Cak Lul. Semalam setelah rangkaian acara Hut Apsas akhirnya kau memutuskan untuk menginap di rumahnya. Hari ini, minggu, acara akan dilanjutkan dengan ziarah ke makam Pram dan Chairil Anwar.

Seusai mandi dan bersiap-siap sewajarnya, kau duduk di ruang tidurmu semalam, kembali menatap ratusan judul buku di rak. Tak berapa lama cak lul datang, membawa bungkusan nasi. Kalian pun sarapan pagi dan ngobrol ngalor-ngidul ditemani dua gelas kopi, dan beberapa batang rokok. Jejarum jam dinding terus berputar dalam lingkarannya.

Tiba-tiba terdengar dengungan dan keributan di luar. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Catatan | 2 Komentar »

… dalam Sederhana

Ditulis oleh jalaindra di/pada Februari 18, 2009

Kejora, semalam, kau ceritakan kepadaku sebuah kisah. Sebuah kisah tentang kebahagian sejati dalam cinta dan kesederhanaan. Sebuah kisah tentang “Kebahagiaan Dalam Semangkuk Bubur”.

… aku pun merebahkan kepalaku perlahan.. di pangkuanmu.. tak memalingkan mata sedetikpun dari wajahmu..

… dan kau mengecup keningku.

Kau mulai menceritakan kisah itu. Tersebutlah sepasang suami istri yang biasa makan bubur. Sang suami lah yang selalu memasakkan bubur untuk istrinya. Berasnya adalah beras ketan, kualinya adalah kuali tanah liat, apinya berasal dari batu bara. Tiap hari subuh jam 4.30, pria ini menyulut api. Dalam kuali diisi air, untuk merendam beras yang telah dicuci. Menunggu air mendidih, beras dimasukkan. Menggunakan api besar memasak selama 10 menit. Setelah itu dirubah menjadi api kecil untuk direbus. Pria itu di pinggir kompor sedang membungkuk, menggunakan gayung mengaduk-aduk dengan perlahan-lahan. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Catatan | 6 Komentar »

HUT Ke-4 APSAS [Ep. 2]

Ditulis oleh jalaindra di/pada Februari 8, 2009

bagian ke 2 dari 3 tulisan.

apsasDari terminal lebak bulus, saya naik metromini no. 20 sesuai petunjuk Kang Yonathan lewat percakapan di Facebook. Turun di Tugu Tani, nyambung lagi naik no.20 yang ke arah TIM. Sampai di TIM, saya bertanya kepada pak Satpam, di manakah PDS HB Jassin. Saya melangkah sesuai yang ditunjukkan oleh pak satpam itu: di belakang planetarium, ada pagar seng, masuk saja. Tampak beberapa anak kecil tengah berkerumun di depan planetarium. Genangan-genangan air sisa hujan (mungkin semalam) terlihat di sepanjang aspal. Dalam jarak beberapa puluh meter, tulisan plang PDS HB Jassin mulai terlihat. Saya tersenyum senang, ini dia tempatnya. Di bawah plang, menempel di pagar seng selembar kertas putih bertuliskan HUT APSAS dengan tanda panah hitam di bawahnya. Saya pun berbelok mengikuti tanda panah itu menyusuri sebuah jalan sempit.

Hanya dalam beberapa langkah, mulai terlihat beberapa orang yang wajahnya sudah saya kenal, meski lewat foto-foto di facebook atau multiply, tengah duduk di atas tangga yang menuju ke sebuah ruangan. Mungkin ruangan itulah yang akan digunakan untuk kegiatan. Saya pun mulai melangkah menaiki tangga. Di ujung tangga atas, terlihat seorang perempuan yang saya ketahui dari foto-fotonya bernama Gita Pratama tengah duduk sambil menghisap rokoknya. Saya pun menyalaminya, kali pertama saya bertemu dengannya, meskipun telah kenal sekian lama di dunia maya. Di sana juga ada Mirza, sang “bayi sehat”, dan beberapa teman  dari kemudian.com.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Catatan | 6 Komentar »

HUT Ke-4 APSAS [Ep. 1]

Ditulis oleh jalaindra di/pada Februari 5, 2009

bagian pertama dari 3 tulisan

Sabtu, di penghujung januari, sebelum subuh, laki-laki itu terbangun. Terdengar sayup lagu yang diputar penjaga warnet tempatnya tinggal. Ia berdiri dan melangkah ke ruangan depan dengan mata yang masih mengantuk. Diminumnya kopi hangat yang masih tersisa setengah gelas di meja jaga, sambil berucap “Assalamu’alaikum”, sebagai kata sakti meminta kopi kepada seorang temannya yang tengah berjaga. “Aya rokok teu?” ia bertanya kepada temannya. Temannya mengulurkan sebatang rokok yang segera disulutnya sambil duduk di sofa, pandangan matanya mengarah kepada tayangan TV kabel yang entah memainkan film apa. Sambil menanti adzan subuh berkumandang, ia menghabiskan sebatang rokok hisap demi hisap. Sebuah SMS dari seseorang yang VVVIP masuk ke dalam ponselnya.

Tiba-tiba listrik padam!

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Catatan | 2 Komentar »

Jala Pustaka Goes to Australia

Ditulis oleh jalaindra di/pada Januari 30, 2009

Hahaha.. judul di atas bukan berarti Rumah Baca Jala Pustaka benar-benar Goes to Australia, tetapi suaranya saja, lebih tepatnya, suara saya.

Begini ceritanya…

Pada hari Rabu, 28 Januari 2009 tiba-tiba ada seorang perempuan yang menelpon saya, katanya dari SBS Radio, Melbourne, Australia untuk program siaran berbahasa Indonesia, yang tertarik ingin mewawancarai saya perihal Rumah Baca Jala Pustaka. Perempuan itu bernama Ibu Sri Dean. Katanya, dia sudah mengirimkan email pemberitahuan sebelumnya. Wew, saya nggak tahu, lha wong emailnya belum saya buka. Sambil menerima telepon, saya membuka email jalapustaka, ternyata benar.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Catatan | Bertanda: | 5 Komentar »