Tulisan ini pernah dipublikasikan di Pikiran Rakyat, 19 Oktober 2006
Berbicara tentang buku-buku yang inspiratif yang bisa memberikan pemahaman hidup kepada pembacanya adalah sebuah hal yang subyektif. Saya pikir, masing-masing pembaca akan menunjuk kepada buku-buku yang berlainan. Semua buku bisa menjadi sebuah buku yang inspiratif tergantung sejauh mana pembaca menemukan cerminan kisah atau refleksi diri dari buku-buku yang dibacanya. Buku-buku sastra berkelas Nobel Prize atau Booker prize atau penghargaan-penghargaan lainnya baik dalam negeri ataupun luar negeri, bisa menjadi sebuah buku yang inspiratif bagi pembaca yang memang menggemari buku-buku semacam itu. Tidak menutup kemungkinan, buku-buku sastra pop semacam chicklit dan teenlit, atau buku-buku self-helping pun bisa menjadi inspiratif. Sekali lagi, ini masalah subyektif, ini masalah selera baca.
Jika seseorang menanyakan kepada saya, buku-buku apa saja yang inspiratif, saya akan menjawab beberapa judul : The Alchemist karya Paulo Coelho dan buku-buku Coelho lainnya, Solitaire Mystery karya Jostein Gaarder, Tao Of Physic karya Fritjof Capra, Life of Pi karya Yann Martel, dan Les Miserables karya Victor Hugo. Saya hanya menyebutkan satu buku non-fiksi, sementara yang lain adalah buku-buku fiksi. Hal ini karena –lagi-lagi permasalahan subyektif- saya lebih nyaman mengambil inspirasi, hikmah, pelajaran hidup atau apapun itu dari kisah-kisah, bukan tuntunan, anjuran atau nasihat. Dalam kisah, kendali untuk mengiyakan atau menyangkal sepenuhnya ada pada saya, sementara dalam tuntunan, anjuran atau nasihat, saya merasa bodoh dan dibodohi.
The Alchemist, berkisah tentang perjalanan seorang bocah bernama Santiago dalam mewujudkan Legenda Pribadinya. Saya pikir, semua Bookaholic pasti telah membaca buku ini. Ya, benar. Banyak sekali pelajaran hidup yang bisa diambil dari kisah Santiago : percaya kepada mimpi, mengikuti kata hati, peka terhadap firasat dan pertanda, keberanian untuk mengambil dan menjalani suatu pilihan dan sebagainya. Karya-karya Coelho selalu menghadirkan kisah-kisah yang inspiratif yang bahkan bisa membuat kita tersihir saat menelusuri halaman demi halaman bukunya.
“Saat kau benar-benar menginginkan sesuatu, segenap alam semesta bersatu untuk membantumu meraihnya”. Itulah petuah bijak yang mungkin menjadi kata-kata sakti bagi banyak orang, termasuk saya, selain ”Hanya ada satu hal yang membuat mimpi tak mungkin diraih, perasaan takut gagal”, dan ”Kita takut kehilangan apa yang kita miliki, entah itu hidup kita, ataupun barang-barang dan tanah kita, tapi ketakutan ini lenyap saat kita memahami bahwa kisah hidup kita dan sejarah dunia ini ditulis oleh satu tangan yang sama”.
Solitaire Mystery (Misteri Soliter), berkisah tentang perjalanan seorang bocah bernama Hans Thomas bersama ayahnya untuk mencari ibunya. Dalam perjalanan, sang bocah belajar banyak hal tentang dunia dan sejarah hidup dan perjalanannya. Satu hal yang saya dapat dari kisah Hans Thomas adalah bahwa, tidak ada yang namanya kebetulan. Peristiwa-peristiwa, sekecil apapun yang dialami dalam hidup kita telah dirangkai sedemikian rupa untuk menuju kepada apa yang harus kita jalani, dan kemana kita akan sampai pada suatu titik dalam kehidupan. Mungkin dalam bahasa Coelho, kebetulan-kebetulan itulah yang namanya pertanda.
Sedangkan Tao of Physic, memperlihatkan kepada saya, bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini –benda-benda, peristiwa-peristiwa- saling terhubung dalam sebuah mekanisme yang hidup dan berkesinambungan. Perkembangan sains yang diwakili oleh pesatnya kemajuan Fisika Kuantum dan Fisika Moderen seakan-akan hendak melibas semua hal yang berbau tradisional dan mistis. Lewat buku ini, Capra menyatakan bahwa hal itu tidak selayaknya terjadi. Fisika Kuantum dan Fisika Moderen dengan mistisme dunia timur adalah dua hal yang paralel. Masing-masing ada bukan untuk saling menegasikan, tetapi saling melengkapi dan berhubungan. Capra menegaskan tentang pentingnya sebuah harmoni antara dua kutub yang sepertinya saling bertentangan.
Suatu ketika, seorang teman pernah bertanya kepada saya, “Manakah yang lebih baik, berbuat baik ataukah berbuat jujur?” Waktu itu saya hanya bisa diam, karena memang saya tidak tahu harus menjawab apa. Kebaikan dan kejujuran adalah dua hal yang berlainan yang hanya dibatasi oleh sebuah sekat tipis yang bernama perasaan. Terkadang, saat kita berbuat baik, di satu sisi kita telah berbuat tidak jujur pada diri kita maupun pada orang lain. Sebaliknya, di saat kita berbuat jujur, di satu sisi kita telah berbuat tidak baik bagi diri kita maupun orang lain.
Lalu saya menemukan buku berjudul Les Miserables karya Victor Hugo. Novel ini berkisah tentang kehidupan Jean Valjean, seorang lelaki yang mengalami ketidakadilan di masa lalunya. Perjalanan waktu membuatnya bertemu dengan orang-orang yang menyadarkannya dari dendam atas masa lalunya, sekaligus ia belajar akan arti kebaikan dan kejujuran. Namun perjalanan waktu pula yang selalu menghadapkan dirinya pada dua pilihan, antara harus berbuat baik ataukah berbuat jujur. Dari Jean Valjean saya belajar bahwa, mau tidak mau, di saat pilihan-pilihan mendatangi kita, kita harus berani untuk menentukan pilihan mana yang akan diambil dan kita harus siap menjalani konsekuensi-konsekuensi atas pilihan-pilihan tersebut.
Life of Pi, adalah sebuah monolog tentang bagaimana seseorang harus bertahan hidup dan percaya kepada Tuhan. Buku ini bercerita tentang seorang bocah bernama Piscine Molitor Patel atau Pi yang terapung-apung di samudera setelah kapal yang ditumpanginya karam. Bersama dengan seekor harimau Royal Bengal yang setiap saat bisa memangsanya, ia terapung-apung di sebuah sekoci di tengah luasnya samudera selama berbulan-bulan. Bahwa keinginan untuk tetap hidup dan kepercayaan kepada keajaiban dan Tuhan lah yang akhirnya menyelamatkannya.
Dengan menganggap bahwa kisah-kisah dalam sebuah buku merupakan replika dari kehidupan, akan banyak hal yang relevan untuk kita jadikan contoh dan kita jadikan inspirasi dalam perjalanan hidup kita sendiri. Menjadi bijak dengan apa yang kita dengar, apa yang kita lihat dan apa yang kita baca bukanlah sesuatu yang sulit, asalkan kita bersedia untuk membuka diri terhadap pemikiran-pemikiran dan pemahaman-pemahaman yang baru. Buku menjadi salah satu mata air di mana kisah-kisah, pelajaran-pelajaran, kebajikan-kebajikan mengalir tiada henti dan tiada pernah akan habis. Mengetahui kisah-kisah seseorang yang tertulis dan dituliskan dalam buku, kita akan tahu, bahwa kita tidak sendirian, seseorang bersama kita. Mereka pernah mengalami apa yang belum dan akan kita alami, dan mereka berhasil melaluinya. Jadi, tidak ada alasan untuk kita tidak bisa.***
Adi Toha
pengelola Toko Buku Cahaya Media, Jatinangor
jalaindra@yahoo.com