J A L A I N D R A

jejaring peristiwa – jejaring kata – jejaring imagi – jejaring diri

  • ADI TOHA

    mail : jalaindra@yahoo.com






    PageRank Checking Icon
  • Links For Rent

  • ARSIP

  • RUMAH SINGGAH

  • KUNJUNGAN

    • 56,375 Tamu telah Mabok Di Blog Ini
  • MisCellaNeous

    Click to view my Personality Profile page


    . . .
  • RSS Related Websites

Arsip untuk ‘Artikel’ Kategori

Harmoni dan Buku di Lereng Merapi

Ditulis oleh jalaindra di/pada September 12, 2009

Apa yang terbayang di benak kita ketika mendengar tentang Gunung Merapi? Mungkin yang pertama kali terbayang adalah sosok Mbah Maridjan. Pernahkah kita membayangkan, jika di sebuah desa terakhir di lereng Gunung Merapi terdapat sebuah perpustakaan yang didirikan secara swadaya oleh warganya? Inilah sepenggal catatan perjalanan berkunjung ke Rumah Baca Komunitas Merapi di Dusun Gemer, Magelang, pemukiman terakhir sebelum puncak Gunung Merapi.

Selasa pagi, 5 Mei 2009, di Pondok Maos Guyub, sekitar jam setengah sembilan, saya sudah berkemas-kemas. Sesuai rencana, saya dan Kang Sigit hendak memulai perjalanan ke Jogja dan akan mampir di Magelang, di Rumah Baca Komunitas Merapi yang dirintis oleh Gendhotwukir dan kawan-kawan. Setelah berfoto dan berpamitan sewajarnya dengan teman-teman yang masih ada di Guyub, kami pun mulai naik delman ke pasar Boja, dilanjutkan dengan naik bis ke Semarang.

Kami turun di perempatan entah apa namanya dan jalan kaki beberapa puluh langkah. Kang Sigit menyeret koper besar warna merahnya menyusuri jalan, sampai akhirnya sebuah angkutan menghampiri kami dan menanyakan arah. Ya, kami hedak menuju ke Jl. Dr. Cipto, ke sebuah agen bus yang akan mengantar kami ke Jogja. Setelah nego harga, akhirnya kami pun naik. Agen bus yang dituju adalah PO . Nusantara, tepatnya di Jl. Dr. Cipto 108 C. Tarifnya untuk Jurusan Semarang-Jogja adalah Rp. 35.000 per orang. Pukul 10.15 Bus yang akan membawa kami merapat. Perjalanan kembali dimulai. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Artikel, Catatan | Bertanda: | 5 Komentar »

Samurai Rasa Bule

Ditulis oleh jalaindra di/pada Februari 18, 2007

Oleh : Adi Toha*

Musashi, dan Taiko mungkin menjadi rujukan setiap orang manakala ingin membaca kisah Samurai Jepang. Karya Eiji Yoshikawa tersebut memang tidak bisa dipungkiri telah menjadi raja untuk karya-karya fiksi yang mengambil latar sejarah Jepang dalam kaitannya dengan Samurai dan Shogun. Namun siapa sangka jika Lian Hearn mampu menggebrak genre karya fiksi Samurai tersebut dengan karya fenomenalnya: Kisah Klan Otori?

Lian Hearn, penulis Australia kelahiran Inggris dengan nama asli Gillian Rubinstein menghadirkan warna baru dalam kisah sejarah Jepang dan Samurai lewat karyanya Kisah Klan Otori (Tales Of The Otori). Kisah Klan Otori adalah sebuah karya trilogi ditambah satu sequel dan satu prequel. Buku pertama berjudul Across The Nightingale Floor, buku kedua adalah Grass For His Pillow, dan buku ketiga adalah Brilliance Of The Moon. Sequel-nya adalah The Harsh Cry Of The Heron, dan prequel-nya adalah Heaven’s Net Is Wide. Empat dari lima buku telah diterbitkan dan telah beredar dalam edisi bahasa Indonesia, sedangkan prequel-nya akan diterbitkan pada akhir 2007.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Artikel, Ulasan Buku | 7 Komentar »

resume

Ditulis oleh jalaindra di/pada Februari 18, 2007

Memahami Teks Sastra*

 

Hermeneutika moderen yang digagas oleh pendirinya, Schleiermacher, berangkat dari sebuah dalil yang berbunyi: Es gilt einen Verfasser besser zu verstehen, al ser sich selber verstanden hat (kita harus memahami seorang pengarang lebih baik dari dia sendiri memahami dirinya). Hal ini sangat mungkin karena sebuah teks sastra sangat multi-interpretable. Dunia yang dibangun oleh teks-teks sastra terbuka untuk didekati dan dimasuki oleh siapa saja, bahkan oleh pengarang sendiri dengan cara yang bisa saja berbeda dari maksud semula saat ia melahirkan sebuah teks sastra. Maksud teks dan maksud pengarang adalah dua hal yang berbeda dan tidak perlu selalu sama dan sejalan.

Ricoeur dalam Interpretation Theory: Discourse and The Surplus of Meaning, menyebut maksud pengarang sebagai utterer’s meaning (makna pengujar), sedangkan makna teks adalah utterance meaning (makna ujaran). Makna pengujar atau makna pengarang sangat bergantung kepada maksud pengarangnya, dan bersifat intensional. Sedangkan makna teks tergantung dari hubungan-hubungan dalam teks itu sendiri dan bersifat proporsional.

Dalam melakukan interpretasi sebuah teks, Schleiermacher membedakan interpretasi psikologis dari interpretasi gramatik. Interpretasi psikologis adalah tafsir yang dilakukan dengan melihat hubungan antara teks dan penulis serta situasi psikologis penulisnya. Sedangkan tafsir gramatik didasarkan pada hubungan yang terdapat antara kata dan kalimat dalam sebuah teks. Setiap teks yang ditulis, dengan demikian mendapatkan apa yang disebut sebagai otonomi semantik, yang membebaskan teks dari tiga ikatan. Pertama, teks dibebaskan dari ikatannya dengan pengarang. Sebuah teks yang tertulis bebas ditafsirkan oleh siapa saja yang membacanya tanpa terikat kepada apa yang semula dimaksudkan pengarangnya. Kedua, sebuah teks juga dibebaskan dari konteks di mana semula dia diproduksikan. Ketiga, sebuah teks dibebaskan dari hubungan yang tadinya terdapat di antara teks itu semula ditujukan.

Teks diandaikan sebagai sebuah dunia tersendiri, yang lebih dari sekedar refleksi dunia psikologis pengarang, atau refleksi dunia sosiologis dari konteks di mana teks tersebut diproduksi. Hubungan teks dengan penulis dibentuk oleh intensi, hubungan teks dengan dirinya dibentuk oleh makna (sense) sedangkan hubungan teks dengan dunia luar teks dibentuk oleh referensi (reference).

Mengapa makna sebuah teks (dalam hal ini teks sastra) begitu penting? Pertama, adalah karena peristiwa-peristiwa akan berlalu, tetapi makna yang melingkupi peristiwa akan tetap tinggal. Kedua, makna teks adalah suatu dunia tersendiri yang berbeda baik dari maksud pengarang, maupun dari dunia referensial, yang dirujuk oleh teks. Makna tekstual (sense) berbeda juga dari dunia referensi, karena teks tidak hanya bercerita tentang referensinya, tetapi membangun dunianya sendiri, yang bisa berlainan atau bertentangan dengan dunia referensinya. Setiap teks yang hadir kemudian mendapatkan semacam otonomi sendiri, otonomi semantik yang selain sanggup membebaskan teks dari maksud pengarangnya, sanggup pula membebaskan diri dari rujukan-rujukan kepada dunia referensial. Apakah sebuah teks sastra hanya bercerita tentang sesuatu, atau teks sastra itu sendiri mau mengatakan sesuatu?

Sosiolog Karl Manheim, pernah mengajukan teori bahwa setiap karya seni (termasuk juga karya sastra) mau tidak mau akan menyampaikan makna pada tiga tingkat yang berbeda. Tingkat pertama adalah makna objektif, yaitu hubungan suatu karya dengan dirinya sendiri: apakah dia gagal atau berhasil menjelmakan keindahan dan pesan yang hendak disampaikannya. Tingkat kedua adalah makna ekspresif berupa hubungan karya itu dengan latar belakang psikologi penciptanya. Suatu karya sastra adalah ekspresi suatu momen tertentu dari episode kehidupan si pencipta. Tingkat ketiga adalah makna dokumenter berupa hubungan antara karya itu dengan konteks sosial penciptaannya. Inilah mengapa sebuah karya sastra yang baik bukan hanya dilihat dari nilai keindahannya semata, melainkan juga nilai kebenaran yang ada di dalamnya.

Georg Lukacs, dalam Die Theorie des Romans, menunjukkan bahwa setiap karya sastra akan menghadapi tiga dilema dalam menunjukkan dan mengatur hubungan dengan antinomi masyarakatnya. Pertama, suatu karya sastra dihadapkan pada dilema romantis ketika dia berusaha menunjukkan bahwa adalah mungkin bagi anggota-anggota suatu masyarakat untuk melepaskan diri dari kaitan-kaitan secara kelembagaan dan ikatan-ikatan kelas sosial serta prasangka-prasangka status sosial. Seni (sastra) seakan-akan bertujuan menciptakan universalitas pikiran dan kesatuan perilaku manusia yang sudah terbebas dari kungkungan konteksnya. Persoalannya adalah, bahwa manusia tidak mungkin berada dan berkembang terlepas dari kaitan dengan lembaga-lembaga, kelas dan status sosial yang ada. Kedua, suatu karya sastra dihadapkan pada dilema intelektualitas. Di sini muncul jarak dan bahkan jurang antara sifat suatu karya seni atau sastra sebagai pengejawantahan Zeitgeist zamannya, yang berarti dia dapat berperan sebagai suatu alat bantu filsafat dan ilmu-ilmu sosial, dan kedudukannya sebagai suatu karya otonom yang harus dibedakan dengan jelas baik dari filsafat maupun dari ilmu-ilmu sosial. Persoalannya adalah, apakah sastra harus heteronom dan mencerminkan semangat zamannya, atau dia dapat juga otonom dan bahkan sanggup menerobos zamannya sendiri dan membuka cakrawala suatu zaman baru? Ketiga, suatu karya sastra dihadapkan pada dilema etis, yang mengandung pertentangan antara keputusan-keputusan individual setiap tokoh dalam sebuah karya dan akibat-akibat dari tindakannya berdasarkan keputusan yang sudah diambil.

Metafor, adalah sesuatu yang lumrah dalam sebuah teks sastra, bahkan itulah yang membedakan teks sastra dengan teks-teks lain semisal laporan jurnalistik dan catatan perjalanan. Metafor, dalam pengertian Ricoeur, adalah lingkaran hermeneutik antara sense dan reference. Sense adalah makna yang diproduksi oleh hubungan-hubungan dalam teks, sedangkan reference adalah makna yang lahir dari hubungan teks dengan dunia di luar teks. Masih menurut Ricoeur, metafor adalah ketegangan di antara fungsi identifikasi dengan fungsi predikasi. Identifikasi berfungsi membatasi dan penting untuk mengidetifikasi peristiwa, sedangkan predikasi berfungsi membuka kembali pembatasan, dan penting untuk mengembangkan makna.

Teks adalah dunia sendiri, seperti juga bahasa bukan hanya sarana untuk mengatakan sesuatu, tetapi adalah dunia tersendiri. Sebuah karya sastra, dengan teks-teks yang dihasilkannya, diharapkan sanggup untuk membangun sebuah dunia tekstual, yang bukan hanya menjadi perbandingan untuk dunia referensial, tetapi bisa menjadi dunia baru, yang mengundang pembaca untuk meninjau dan menikmatinya dan bahkan mungkin juga menghuninya.

*Semacam rangkuman dari buku “Sastra Indonesia Dalam Enam Pertanyaan”, Ignas Kleden, Grafiti, 2004)

Ditulis dalam Artikel | Leave a Comment »

Berkelana di Jalan Sutra bersama Amin Maalouf

Ditulis oleh jalaindra di/pada Januari 25, 2007

Tidak bisa dipungkiri, buku menjadi sebuah jendela di mana dunia terhampar luas tak berbatas untuk dijelajahi. Membaca adalah sebentuk penjelajahan lintas ruang dan waktu tanpa harus menggerakkan kaki selangkah pun. Dimensi tidak lagi menjadi kendala. Fakta dan fiksi berbaur menjadi satu dalam jalinan kisah. Emosi, cinta, ketakutan, kekecewaan, kebahagiaan, penderitaan dan apapun yang dapat dirasakan manusia melebur dalam rangkaian tutur cerita.

Amin Maalouf, seorang pengarang kelahiran Lebanon, yang menuliskan karya-karyanya dalam bahasa Perancis, lewat karya-karya fiksinya, mengajak kepada pembaca untuk berkelana ke masa lalu, dengan latar Timur Tengah, Daratan Persia dan kawasan Mediterania. Tokoh-tokoh yang diciptakan Maalouf tidak hanya mengalami perjalanan lintas ruang, tetapi juga lintas budaya, agama dan peradaban, termasuk di dalamnya benturan-benturan dan konflik-konflik yang terjadi antar budaya dan peradaban yang berbeda.

Balthasar’s Odyssey, salah satu karya Amin Maalouf, berkisah tentang perjalanan seorang saudagar buku bernama Balthasar Embriaco, dalam mencari sebuah buku keramat yang di dalamnya memuat nama keseratus Tuhan, melengkapi 99 nama yang lazim dikenal di kalangan muslim sebagai Asmaul Husna. Konon, nama Tuhan yang keseratus tersebut bisa menyelamatkan dunia dari malapetaka yang akan terjadi pada masa itu –kurun waktu 1665-1666. Demi mendapatkan buku itu, mulailah Balhasar menempuh perjalanan panjang dari tempat asalnya di Gibelet menuju Konstantinopel, bersama dua orang keponakannya, Boumeh dan Habib, dan seorang pegawai bernama Hatem. Dikemas dalam bentuk sebuah catatan harian, buku ini merekam kejadian sehari-hari selama perjalanan Balthasar mengelilingi kawasan Mediterania dan hampir separuh benua, mulai dari Lebanon, Maroko, Turki, Yunani, Portugal, Belanda, Inggris, Perancis dan Italia.

Lain Balthasar, lain pula Omar Khayyam. Penyair terkenal dari Persia ini menjadi salah satu tokoh sentral dalam Samarkand, karya Amin Maalouf lainnya. Dalam khasanah sastra Timur Tengah, nama Omar Khayyam paling banyak dikenal. Kwatrin atau sajak embat baris-nya (rubaiyat), telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Omar Khayyam mulai dikenal dalam literatur barat setelah rubaiyat-nya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh penyair Inggris Edwad J FitzGerald pada tahun 1859. Sejak itu, istilah rubaiyat selalu dinisbahkan kepada Omar Khayyam. Rubaiyat Omar Khayyam menjadi karya klasik besar sepanjang masa dan menjadi pembicaraan khalayak sastra dari masa ke masa.

Dalam Samarkand inilah, Maalouf mereka-reka sebagian kehidupan Omar Khayyam, asal-muasal kelahiran Rubaiyat Omar Khayyam, dan persahabatan Khayyam dengan Nizamul Mulk, seorang Wazir Agung Sultan Parsi dan Hassan Sabbah, pemimpin sekte pembunuh yang paling terkenal sepanjang sejarah, yaitu kaum Hashishin atau Assassin. Dengan piawai Maalouf meramu fakta sejarah dan menuturkannya dalam rangkaian alur cerita yang memikat. Peristiwa demi peristiwa dituturkan dalam jalinan konflik, intrik politik, dan kisah cinta yang menyentuh dan mendebarkan.

Karya-karya Amin Maalouf yang lain di antaranya adalah Leo The Africanus, dan The Rock of Tanios yang memenangi penghargaan bergengsi di Perancis, Prix Goncourt pada tahun 1993.

Membaca karya-karya fiksi Amin Maalouf adalah membaca perjalanan, petualangan dan kelana. Kelihaian Maalouf dalam mendeskripsikan detil latar dan peristiwa-peristiwa dalam sejarah seakan mengundang pembaca untuk masuk dan mengalami sendiri tempat dan peristiwa dalam karya-karyanya. Inilah yang disebut perjalanan lintas ruang dan waktu dalam membaca sebuah buku. Lewat karya-karya Maalouf, kita seperti sedang melakukan napak tilas perjalanan di Jalan Sutra, sebuah jalur yang membentang dari Asia Tengah sampai ke Eropa yang digunakan sebagai jalur perdagangan pada jaman dahulu. Kronik budaya dan peradaban yang melingkupi jalur tersebut selalu tidak luput untuk ditulis Maalouf dalam karya-karyanya.

Dan pada akhirnya, kita akan dibingungkan apakah kebenaran dalam fiksi dalam karya-karya Maalouf tersebut adalah sebuah kebenaran dalam sejarah. Benarkah ada nama Tuhan keseratus yang dicari oleh seorang Balthasar? Benarkah salah satu korban tenggelamnya kapal Titanic adalah sebuah peti kecil yang didalamnya berisi naskah asli Rubaiyat Omar Khayyam? Kita tidak akan pernah tahu kebenaran yang sesungguhnya. Tetapi selama kebenaran-kebenaran dalam fiksi tersebut telah hidup di dalam pikiran kita, kebenaran-kebenaran tersebut akan menjadi kebenaran sejarah, setidaknya bagi diri kita sendiri. Senada dengan sebuah ucapan “Literature is not an object but an experience and the readers are not consumers but active performers who bring text to life in their minds”. ***

(Adi Toha, Penikmat buku dan sastra, tinggal di Jatinangor)

Ditulis dalam Artikel, Ulasan Buku | 1 Komentar »

Kritikus Sastra Riau, di Mana Persembunyianmu?

Ditulis oleh jalaindra di/pada Desember 18, 2006

Oleh Hary B Kori’un

ADA anggapan bahwa dunia satra Riau mengalami stagnasi yang hebat saat ini. Krisis karya telah terjadi dan orang-orang yang selama ini bekerja untuk sastra, mulai pelan-pelan beralih ke dunia yang lain. Memang, penghargaan untuk mereka yang bergelut di bidang sastra di Riau, mendapat apresiasi lumayan besar dengan banyaknya penghargaan, mulai dari Anugerah Sagang (untuk beberapa kategori baik karya maupun personal), Anugerah Ganti (karya novel), Laman Sastra Dewan Kesenian Riau (untuk beberapa karya kreatif seperti cerpen, naskah drama, puisi dan lainnya) sampai Anugerah Seniman Perdana (SP) dan Seniman Pemangku Negri (SPN) yang secara materi sangat besar. Penghargaan-penghargaan itu membuat para sastrawan di luar Riau merasa iri. Mereka berpikir, orang-orang yang mendapatkan penghargaan itu adalah mereka yang sangat eksis di bidangnya, dan bisa melecut lahirnya para sastrawan (karya) baru yang secara kualitas akan lebih baik lagi. Lalu di mana peran kritikus?
Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Artikel | Leave a Comment »

Menjadi Bijak Dengan Buku

Ditulis oleh jalaindra di/pada November 26, 2006

Tulisan ini pernah dipublikasikan di Pikiran Rakyat, 19 Oktober 2006 

Berbicara tentang buku-buku yang inspiratif yang bisa memberikan pemahaman hidup kepada pembacanya adalah sebuah hal yang subyektif. Saya pikir, masing-masing pembaca akan menunjuk kepada buku-buku yang berlainan. Semua buku bisa menjadi sebuah buku yang inspiratif tergantung sejauh mana pembaca menemukan cerminan kisah atau refleksi diri dari buku-buku yang dibacanya. Buku-buku sastra berkelas Nobel Prize atau Booker prize atau penghargaan-penghargaan lainnya baik dalam negeri ataupun luar negeri, bisa menjadi sebuah buku yang inspiratif bagi pembaca yang memang menggemari buku-buku semacam itu. Tidak menutup kemungkinan, buku-buku sastra pop semacam chicklit dan teenlit, atau buku-buku self-helping pun bisa menjadi inspiratif. Sekali lagi, ini masalah subyektif, ini masalah selera baca.

Jika seseorang menanyakan kepada saya, buku-buku apa saja yang inspiratif, saya akan menjawab beberapa judul : The Alchemist karya Paulo Coelho dan buku-buku Coelho lainnya, Solitaire Mystery karya Jostein Gaarder, Tao Of Physic karya Fritjof Capra, Life of Pi karya Yann Martel, dan Les Miserables karya Victor Hugo. Saya hanya menyebutkan satu buku non-fiksi, sementara yang lain adalah buku-buku fiksi. Hal ini karena –lagi-lagi permasalahan subyektif- saya lebih nyaman mengambil inspirasi, hikmah, pelajaran hidup atau apapun itu dari kisah-kisah, bukan tuntunan, anjuran atau nasihat. Dalam kisah, kendali untuk mengiyakan atau menyangkal sepenuhnya ada pada saya, sementara dalam tuntunan, anjuran atau nasihat, saya merasa bodoh dan dibodohi.

The Alchemist, berkisah tentang perjalanan seorang bocah bernama Santiago dalam mewujudkan Legenda Pribadinya. Saya pikir, semua Bookaholic pasti telah membaca buku ini. Ya, benar. Banyak sekali pelajaran hidup yang bisa diambil dari kisah Santiago : percaya kepada mimpi, mengikuti kata hati, peka terhadap firasat dan pertanda, keberanian untuk mengambil dan menjalani suatu pilihan dan sebagainya. Karya-karya Coelho selalu menghadirkan kisah-kisah yang inspiratif yang bahkan bisa membuat kita tersihir saat menelusuri halaman demi halaman bukunya.

“Saat kau benar-benar menginginkan sesuatu, segenap alam semesta bersatu untuk membantumu meraihnya”. Itulah petuah bijak yang mungkin menjadi kata-kata sakti bagi banyak orang, termasuk saya, selain ”Hanya ada satu hal yang membuat mimpi tak mungkin diraih, perasaan takut gagal”, dan ”Kita takut kehilangan apa yang kita miliki, entah itu hidup kita, ataupun barang-barang dan tanah kita, tapi ketakutan ini lenyap saat kita memahami bahwa kisah hidup kita dan sejarah dunia ini ditulis oleh satu tangan yang sama”.

Solitaire Mystery (Misteri Soliter), berkisah tentang perjalanan seorang bocah bernama Hans Thomas bersama ayahnya untuk mencari ibunya. Dalam perjalanan, sang bocah belajar banyak hal tentang dunia dan sejarah hidup dan perjalanannya. Satu hal yang saya dapat dari kisah Hans Thomas adalah bahwa, tidak ada yang namanya kebetulan. Peristiwa-peristiwa, sekecil apapun yang dialami dalam hidup kita telah dirangkai sedemikian rupa untuk menuju kepada apa yang harus kita jalani, dan kemana kita akan sampai pada suatu titik dalam kehidupan. Mungkin dalam bahasa Coelho, kebetulan-kebetulan itulah yang namanya pertanda.

Sedangkan Tao of Physic, memperlihatkan kepada saya, bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini –benda-benda, peristiwa-peristiwa- saling terhubung dalam sebuah mekanisme yang hidup dan berkesinambungan. Perkembangan sains yang diwakili oleh pesatnya kemajuan Fisika Kuantum dan Fisika Moderen seakan-akan hendak melibas semua hal yang berbau tradisional dan mistis. Lewat buku ini, Capra menyatakan bahwa hal itu tidak selayaknya terjadi. Fisika Kuantum dan Fisika Moderen dengan mistisme dunia timur adalah dua hal yang paralel. Masing-masing ada bukan untuk saling menegasikan, tetapi saling melengkapi dan berhubungan. Capra menegaskan tentang pentingnya sebuah harmoni antara dua kutub yang sepertinya saling bertentangan.

Suatu ketika, seorang teman pernah bertanya kepada saya, “Manakah yang lebih baik, berbuat baik ataukah berbuat jujur?” Waktu itu saya hanya bisa diam, karena memang saya tidak tahu harus menjawab apa. Kebaikan dan kejujuran adalah dua hal yang berlainan yang hanya dibatasi oleh sebuah sekat tipis yang bernama perasaan. Terkadang, saat kita berbuat baik, di satu sisi kita telah berbuat tidak jujur pada diri kita maupun pada orang lain. Sebaliknya, di saat kita berbuat jujur, di satu sisi kita telah berbuat tidak baik bagi diri kita maupun orang lain.

Lalu saya menemukan buku berjudul Les Miserables karya Victor Hugo. Novel ini berkisah tentang kehidupan Jean Valjean, seorang lelaki yang mengalami ketidakadilan di masa lalunya. Perjalanan waktu membuatnya bertemu dengan orang-orang yang menyadarkannya dari dendam atas masa lalunya, sekaligus ia belajar akan arti kebaikan dan kejujuran. Namun perjalanan waktu pula yang selalu menghadapkan dirinya pada dua pilihan, antara harus berbuat baik ataukah berbuat jujur. Dari Jean Valjean saya belajar bahwa, mau tidak mau, di saat pilihan-pilihan mendatangi kita, kita harus berani untuk menentukan pilihan mana yang akan diambil dan kita harus siap menjalani konsekuensi-konsekuensi atas pilihan-pilihan tersebut.

Life of Pi, adalah sebuah monolog tentang bagaimana seseorang harus bertahan hidup dan percaya kepada Tuhan. Buku ini bercerita tentang seorang bocah bernama Piscine Molitor Patel atau Pi yang terapung-apung di samudera setelah kapal yang ditumpanginya karam. Bersama dengan seekor harimau Royal Bengal yang setiap saat bisa memangsanya, ia terapung-apung di sebuah sekoci di tengah luasnya samudera selama berbulan-bulan. Bahwa keinginan untuk tetap hidup dan kepercayaan kepada keajaiban dan Tuhan lah yang akhirnya menyelamatkannya.

Dengan menganggap bahwa kisah-kisah dalam sebuah buku merupakan replika dari kehidupan, akan banyak hal yang relevan untuk kita jadikan contoh dan kita jadikan inspirasi dalam perjalanan hidup kita sendiri. Menjadi bijak dengan apa yang kita dengar, apa yang kita lihat dan apa yang kita baca bukanlah sesuatu yang sulit, asalkan kita bersedia untuk membuka diri terhadap pemikiran-pemikiran dan pemahaman-pemahaman yang baru. Buku menjadi salah satu mata air di mana kisah-kisah, pelajaran-pelajaran, kebajikan-kebajikan mengalir tiada henti dan tiada pernah akan habis. Mengetahui  kisah-kisah seseorang yang tertulis dan dituliskan dalam buku, kita akan tahu, bahwa kita tidak sendirian, seseorang bersama kita. Mereka pernah mengalami apa yang belum dan akan kita alami, dan mereka berhasil melaluinya. Jadi, tidak ada alasan untuk kita tidak bisa.***

Adi Toha
pengelola Toko Buku Cahaya Media, Jatinangor
jalaindra@yahoo.com

Ditulis dalam Artikel | Leave a Comment »