REVIEW VALHARALD 6 : Luz Balthasaar @ Fikfanindo
Posted by jalaindra pada Februari 26, 2011
Oleh : Luz Balthasaar
Valharald. Kalau mendengar itu, apa yang pertama-tama terbayang di kepala anda? Nggak ada? Bingung? ngawang-ngawang? Iyah, sama. Oleh karena itu aku ngeriset dikit untuk menemukan apa itu Valharald dengan memakai metode guru Pendidikan Kewarganegaraan waktu mendefinisikan bahwa “demokrasi terdiri dari kata demos dan kratein.”
Valharald terdiri dari kata “Valhalla” dan “Harald“. Jika diterjemahkan dengan sangat, sangat, sangat bebas, kedua kata ini masing-masing berarti “Pub Surgawi” dan “Gembong Viking.” Lengkapnya, silakan agar tautan-tautan yang kukasih diklik saja.
Dari definisi kedua kata dimaksud, kita bisa menyimpulkan bahwa Valharald = Pub Surgawi + Gembong Viking. Dan apa yang terjadi kalau Gembong Viking ketemu Pub? Mabuk. So, Valharald kiranya dapat diterjemahkan sebagai “Gembong Viking Mabuk.”
SWT. Translation cacad alert. Don’t try this at home, Kids. Kalau ada penerjemah sungguhan yang barangkali ngebaca tulisan ini, mohon agar terjemahanku diedit, thanks.
Tapi aku yakin bahwa Valharald memang portmanteau antara Valhalla dan Harald, yang kedengaran keren sebagai judul, dan membuatku langsung ngebayangin epik bersetting daerah Eropa Utara/bertema Viking macam The Sea of Trolls karya Nancy Farmer. Tapi ngelihat covernya kok… ga cucok? Mana lautnya, mana drakkar-nya, mana berserker-nya…?
Yang ada malah ksatria medieval dan putri yang natap ke kota di background, lengkap dengan elang-elang beterbangan. Belum lagi di bawah putri itu ada dua orang. Satunya putri lain dan satunya lagi… OMG!! It’s JERAGORN!!!
Yes, that particular guy looks like an unholy mutant fusion of J*s*s and Aragorn. Click the cover picture to enlarge it, and you’ll understand what I mean.
Ahem.
Jika aku menyingkirkan baik Jeragorn maupun harapanku akan sebuah novel viking, cover ini benernya nggak jelek. Aku suka kota dan elangnya. Nah, andai saja kutipan kecil (plus endorsemen geje) dan stempel merah itu nggak ada, aku yakin aku akan lebih suka. Kenapa? Bunyi kutipan yang dipilih itu, berikut stempelnya, menurutku nggak banget. Servis buat pembaca:
Bunyi kutipan plus endorsemen:
“Jika saatnya telah tiba, kita akan berikan mereka pertempuran yang sesungguhnya. Dan, bila pun harus memberikan nyawa kepada mereka, jangan biarkan mereka menerimanya dengan sangat mudah. Dasar makhluk-makhluk keparat!”
Sebuah NOVEL yang akan membuatmu GEMETAR!
What the Bleep, Dude?
Ini menuntun kita pada pertanyaan: kenapa sih kunci itu nggak bisa kunci biasa aja? Kenapa harus dibikin prosedur agar kunci itu dibagi-bagi ke 12 orang? Pake diwarisin secara turun-temurun pulak! Apalagi kayaknya perpindahan kepemilikan kunci itu nggak dicatat sama Valharald maupun Raja Hallvard. Bukankah ini justru menyusahkan jika sewaktu-waktu kunci itu diperlukan?
Gosh. Administrasi birokrasi Indonesia sudah mengekspor praktek-praktek mereka ke VarchLand rupanya.
Maksudku gini. Lihat nggak di gedung-gedung yang desain ketahanan bencananya bener? Kapak, selang, dan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) selalu tersedia dekat-dekat andai terjadi kebakaran. Sama halnya dengan kasus senjata yang disegel ini. Kalau ada bahaya mengancam, seharusnya kunci itu diletakkan dekat-dekat, supaya prajurit bisa langsung ambil senjata dan berantem.
Tindakan ngebagi kunci jadi 12 dan membiarkannya berpindah kepemilikan macam ini sama aja bikin gedung, tapi nitipin kapak, selang, dan APAR-nya sama dua belas mobil dinas pejabat yang sibuk mondar-mandir sana-sini. Pas kebakaran, yang terjadi adalah, “Dul, Dul, itu si Toing sopirnya Pak Fuad ke mana ya? APAR-nya di doi tuh. SMS-in doi dong biar datang. Pantat ane udah kebakar nih! GYAAAA~!”
You get the point. Premis ini nggak believable buatku. Tapi dalam rangka membela pengarang, kalau nggak gini, nggak akan ada cerita.
Sekalipun premisnya aneh, aku bisa bisa menerima kalau ceritanya ternyata menarik. Jadi mari kita lihat, apakah ceritanya “sangat seru dan menarik” seperti klaim endorsemen di akhir sinopsis cover belakangnya? Hmmm… secara struktur, ya. Cerita ini punya struktur yang menarik karena tidak biasa. Dimana tidak biasanya? Alih-alih memakai alur maju, pengarang memutuskan untuk menceritakan riwayat para Ksatria Talismandala serta perjalanan mereka satu persatu, sampai akhirnya mereka semua ketemu di tempat di mana seharusnya mereka membuka kunci.
Sang pengarang memulai cerita pada satu bab, yang diberi judul sesuai dengan nama karakter yang diceritakan pada bab itu. Bab 1, misalnya. Judulnya “Valharald Cadwaladir,” menceritakan tentang petualangan sang title character Valharald Cadwaladir, yang sibuk mencari dua belas Ksatria Talismandala.
Setelah dia, giliran Cuchulainn, seorang pemuda liar yang kisah hidupnya ternyata nggak ada nyambung-nyambungnya sama kisah namesake-nya, yaitu Cu Chulainn, (bacanya “ku-hu-lan,” BTW,) pahlawan Keltik yang diceritakan di dalam kisah epik Tain Bo Cualinge (“toyn bo ku-linya”).
Setelah mereka berdua, giliran Fionn d’Arthfael dan Urias d’Eoghain. Lalu Gwyneira dan Eira Olwydd… terus… sampai ksatria terakhir, Gavin Mor.
Sedikit catatan, meskipun banyak nama mencomot dari mitologi Keltik, cerita ini sama sekali nggak ada budaya Keltiknya. Cuma cerita tipikal hack and slash medieval tanpa spesifikasi geografi yang jelas. Buktinya, artikel “d’” dalam tata nama ini bukannya berasal dari budaya Keltik, tapi Perancis. Bahkan Keltiknya sendiri nggak jelas Keltik mana, seperti yang dibilang seorang teman. Nama Fionn adalah Keltik-Irlandia, sementara nama Cymrodor adalah Keltik-Welsh. Aku merasakan kecewa yang sama dengan ketika ngebaca nama Valharald dan mengharapkan ada sedikit urusan pervikingan. Tapi baiklah, dikesampingkan saja. Toh nggak ada yang salah dengan mencomot nama dari mitos. Lanjut.
Begitu riwayat Mr. Gav selesai, cerita sudah sampai bab 8 dari 10 bab yang ada di buku. Maka dalam dua bab sisanya diceritakanlah para karakter itu ketemu di Vincha, ikut perang gede, dan… kelar. Dengan potensi sekuel, tentunya. Para pemampir setia blog ini pasti sudah mafhum bahwa dalam slangku, “potensi sekuel” adalah bahasa halus untuk “penyakit ending gantung, gilak!”
Again, Dude, What the Bleep?
Struktur seperti ini menimbulkan banyak protes dari beberapa orang yang kukenal. Salah satunya adalah The Great Om Soto(y) himself, yang bilang bahwa buku ini cerita pengenalan karakternya kebanyakan. Gara-gara cerita pengenalan karakter ini, alur Valharald baru maju setelah 8/10 bab. Protes semacam ini bisa kumengerti. Tapi aku juga bisa mengerti alur pikiran pengarang untuk memperkenalkan karakternya dan memajukan cerita lewat riwayat para karakter.
Pemakaian alur seperti ini di dalam novel bukannya yang pertama kali. Beberapa orang di antara anda barangkali pernah membaca novel kolaborasi berjudul Puing, yang salah satu penulisnya adalah Bondan Winarno sang pemilik Kopitiam Oey itu. (The novel itself is interesting, although it wasn’t that good. But that’s not the point anyway.)
Yang ingin kubilang adalah bahwa mengungkap cerita suatu novel melalui riwayat karakter bukan haram. Bahkan, itu bisa berhasil. Dalam kasus Puing, novel ini berhasil memajukan alur melalui cerita para karakternya. Mengapa? Barangkali karena variasi. Setiap karakter diceritakan oleh pengarang yang berbeda dengan cara dan gaya yang berbeda. Namun, temanya sama, yaitu tentang kehidupan-setelah-mati. Baru setelah itu para karakter ini ketemu, maka dimainkanlah babak gong puncak yang mengakhiri kisah tersebut.
Karena dikerjakan oleh tangan yang berbeda ini, tiap kali aku mulai membaca bab baru yang bercerita tentang karakter baru, rasanya segar. Ada karakter yang pecatur, ada yang sutradara, ada yang dokter, dan perbedaan di antara mereka terasa nyata. Ibaratnya nonton festival film. Tontonannya banyak, kisahnya banyak, tokohnya ada banyak dengan karakter yang berbeda. Dan tiap tokoh jelas dimainkan oleh aktor-aktris yang berbeda pula.
Nah, Valharald kurang lebih menerapkan teknik cerita yang sama. Bedanya, semua karakter diceritakan dengan cara yang sama dan gaya yang sama. Variasi penokohannya pun nggak tinggi. Ada yang anak raja, ada yang anak desa, tapi perbedaan di antara mereka berdua tipis sekali. Bahkan kedua tokoh utama perempuannya pun, meski riwayatnya lain, karakternya sama. Mereka ini kayak dibikin dari satu template hero/heroine tipikal fiksi fantasi yang dilain-lainin dikit. Memang tiap orang punya riwayat yang berbeda, tapi perbedaan riwayat itu nggak berimplikasi signifikan ke penokohan mereka.
Sekali lagi memakai perumpamaan festival film, aku ngerasa kalau film yang ditampilkan itu memang berbeda, dengan cerita berbeda, tapi semua tokohnya dimainkan oleh artis yang sama, dengan penjiwaan yang sama, dan sutradara yang sama. Semua tokoh utama cowok yang masih muda dimainin sama Christian Bale. Semua tokoh utama cowok yang agak tua dimainin sama Sir Ian McKellen. Semua tokoh utama cewek dimainin sama Aishwarya Rai. Semua tokoh sampingan baik yang cowok dimainin sama Rupert Grint. Semua tokoh sampingan cewek yang baik dimainkan oleh Tera Patrick. Semua tokoh jahat manusia dimainkan oleh Aming, dan semua monster dimainkan oleh grafik komputer.
Kisah para tokoh ini memang beda. Tapi penokohannya gitu-gitu aja.
Tambah lagi pertempuran di Vincha yang seharusnya jadi gong itu pun berakhir antiklimaks plus ga tuntas. Aku merasa sia-sia setelah selesai baca. Kayak makan masakan Padang yang nggak pake cabe. Atau kayak ke Wakatobi tapi nggak jajal diving. Atau ibarat lagi jalan-jalan keliling Eropa, tau-tau dipanggil pulang sebelum ngunjungin dua negara. Atau makan jeruk tapi yang dilahap kulitnya doang. Aku berharap sebuah klimaks memberi titik, bukannya koma. Perkara apakah setelah titik itu ada kalimat lain, udah urusan buku kedua.
Untuk gaya bercerita sendiri, aku nggak akan banyak mengeluh. Jelas, dan emosinya ada. Tapi urusannya beda kalau digabung dengan masalah karakterisasi copy-paste yang kusebut sebelumnya. Mereka cukup hidup, tapi tidak membuatku cukup peduli.
Dialog mereka sendiri terkadang terjangkit virus K3jU dengan berbagai strainnya.
Strain pertama adalah Strain K4w4n yang sesekali menggangguku. Gejalanya adalah:
“Benar, Kawanku. Ayah Owain bernama Azkhara…”
“Kita istirahat dahlulu disini, Kawan-kawan!” kata Fionn, “bagaimana?”
“Hei… hei, tenang saja, Kawan! Ada apa ini?”
Hei, Kawan, apakah kau tidak tahu, Kawan, bahwa menyebut “Kawan” di akhir kalimat seperti ini itu menjengkelkan, kawan?
Strain kedua adalah Strain 3ms1. Gejalanya gini:
“Sungguh aku menyesal telah membuatmu mengalami semua hal itu, Anakku. Baiklah, malam sudah larut…”
Kapan kalimat ini dikatakan? Ketika Eira baru saja menceritakan kisah sedihnya di depan ayah yang tidak ditemuinya bertahun-tahun. Rasanya keliru jika seorang ayah, setelah mendengar anaknya nyaris diperkosa, tiba-tiba mengalihkan pembicaraan dengan gaya MC trainee mau nutup pesta.
Trus ada lagi,
“Tidak usah takut, Eira. Kau sekarang sudah aman. Tidak seorang pun yang akan mencelakaimu lagi. Aku akan mencoba menjadi cahaya bagimu, bukan cahaya yang sementara. Laki-laki tua yang kau ceritakan itu benar. Kita bersaudara, meskipun kita terlahir dari orang tua yang berbeda, kita memiliki tugas yang sama untuk membawa cahaya, menerangi kegelapan.”
Blah blah blah blah blah. Oh my crap.
Sekali lagi nggak masalah kalau penulis mau menyampaikan apa yang dia percaya, tapi ya jangan khotbah/makalah mode on, dong? Integrasikanlah pandangan anda ke dalam tindak-tanduk tokoh atau plot cerita. The story and the characters should not preach the ideal; the story and the characters should live the ideal. Bukankah begitu?
Tapi di sisi lain, petuah-petuah Valharald nggak semenjengkelkan kuliah di banyak buku lain yang kubaca. (Termasuk di antara yang menyebalkan ini adalah penjelasan 2 halaman teori chaos di Jurassic Park oleh Ian Malcolm pas dia sekarat.) Tiap kali muncul panjangnya cuma satu-dua paragraf. Nggak berhalaman-halaman, dan nggak dikasih bermacam-macam footnote. Nggak separah yang kubayangkan, dan kadarnya masih bisa ketelen, meski nggak nikmat.
Bagian terakhir yang mau kukeluhkan dari Valharald ini adalah sikap yang diambil penulis dalam memperlakukan para tokohnya. Kurasa penulis disini terlalu maksa. Ini terutama tampak dari riwayat Eira dan Raja Heremon. Eira diculik dari kecil sampai besar dengan tujuan mau dijadikan budak. Di banyak kisah fantasi, kalau budaknya cewek, pasti larinya ke budak untuk tujuan yang dalam bahasa Pos Kota disebut urusan arus bawah.
Tapi katanya, karena campur tangan Kuasa Yang Lebih Tinggi, selama sekian belas tahun Eira “tetap mempertahankan kesuciannya.” It is, of course, probable, but highly unbelievable. Apalagi untuk orang yang tiap hari lihat berita sedih para TKW. Jadinya kelihatan banget pengarang itu nggak tega, dan karena nggak tega itu, bikin alasannya maksa.
Tapi sekali lagi membela pengarang, memang ngangkat topik arus bawah di dalam sebuah karya itu nggak gampang. Tendensi pengarang–terutama pengarang Indonesia–biasanya dua. Entah dia ngeles seperti pengarang ini, atau sebaliknya, lebay, dalam arti dia memunculkan topik itu seseronok mungkin tanpa kegunaan ke plot keseluruhan, tanpa ngukur kadar yang cocok dengan ceritanya, dan tanpa eksekusi yang mumpuni.
Jalan manapun akan bikin aku nepok jidat. Tapi pengarang Valharald tidak mengulang-ulang soal urusan arus bawah ini di sepanjang cerita dan ngeles every time. Artinya, yang bersangkutan mengerti soal takaran, dan itu sesuatu yang kuhargai.
Berikutnya, cerita Raja Heremon. Dia pacaran sama cewek, dan selama pacaran itu dia nyamar jadi pengembara. Ketika cewek itu hamil, dia ngelamar, tapi ditolak sama ortu si cewek karena dia pengembara miskin. Jadilah dia ninggalin si cewek.
Pada poin ini dia bisa dia ngasih tahu kalau dia sebenernya raja, dan lamaran itu bakal langsung dioke-in. Tapi alasannya dia nggak ngasih tahu itu nggak banget deh. In His Majesty’s Own Word, “…namun aku takut, jika gadis itu mengetahui siapa sebenarnya aku, dia malah akan menjauhiku. Dia mencintaiku yang seorang pengembara, bukan seorang raja.”
This guy is either overly melodramatic, or just plain retarded.
Kalaupun waktu nyamar jadi pengembara lamaran dia diterima, pas kawin nanti ujung-ujungnya kan ketahuan juga kalau dia raja? Kalau gitu, apa bedanya dia ngaku sekarang dan ngaku nanti?
Plus, kalau dia ngaku, katanya ada kemungkinan tuh cewek pergi pas ketahuan. Tapi kalau dia nggak ngaku, tuh cewek sudah pasti nggak akan bersama dia. Antara ada kemungkinan dan sama sekali nggak ada kemungkinan, pilihannya jelas, ‘kan?
Lagian, kalau perempuan bersedia mengandung anak seorang laki-laki–apalagi laki-laki pengembara miskin–tanpa paksaan atau imbalan, bukankah itu artinya dia benar-benar cinta sama laki-laki itu, terlepas dari profesi si laki-laki?
Dan kalau si laki-laki tiba-tiba bilang bahwa dia sebenernya lebih kaya daripada kelihatannya, cewek normal bukannya bakalan ninggalin. Dia malah akan bersyukur karena dia nggak perlu mencemaskan masa depan finansial anak yang akan ia lahirkan. Bukan aku bilang perempuan adalah makhluk matre, but normal women do think a lot about the future of their children. Dari mana logikanya seorang perempuan waras menjauhi laki-laki yang dia cintai, yang juga mencintai dia, dan bisa memberi dia jaminan finansial? Dari Hongkongnya Nenek Gue!
Oleh karena daripada itu, aku menyimpulkan kalau karakter Raja Heremon ini dipaksa bikin keputusan dudud oleh pengarang demi kelangsungan plot.
Akhirnya, the verdict. Definitely not enjoyable, but not exacty unreadable, either. Buat yang penasaran sama Valharald tapi kantong cekak, disarankan sangat untuk meminjam. Preferably dari orang yang terlanjur beli tapi ternyata nggak suka buku ini. Kalau setelah baca sampai tengah Bab 3 anda nggak merasa ada masalah–atau bahkan suka–silakan agar buku tersebut diembat saja. Dengan senang hati saia akan membantu memanjatkan doa kepada Kuasa Agung manapun yang mengurusi keperawanan Eira, agar tindakan anda dicatat sebagai amal karena telah membuat pengarang, pembeli, dan diri anda sendiri berbahagia. Amin.
Idi suwardi berkata
Tadi saya search di google terus nemu blog ini dan setelah saya lihat2 ternyata tulisannya bagus19
Idi suwardi berkata
Selamat malam
blokwalking nih
Nuraeni berkata
nice blog.:)