J A L A I N D R A

jejaring peristiwa – jejaring kata – jejaring imagi – jejaring diri

REVIEW VALHARALD 4 : Mantoel Toeink

Posted by jalaindra pada Februari 26, 2011

Oleh : Mantoel Toeink [Distrik 12]

Sebelum memulai pembahasan apapun mengenai novel ini, saya harus mengingatkan bahwa saya membaca novel pinjaman, bukan beli sendiri. Karena itulah, mohon dimaafkan apabila ada data buku yang kurang akurat. Untuk bagian kutipan dari dalam novel, kebetulan saya menulis resensi ini saat sang buku belum dikembalikan ke empunya jadi setidaknya saya benar-benar menyalin dan tidak ada kesalahan yang terlalu fatal kecuali jika saya sedang meleng, kesalahan ketik.

Saya pertama kali mendengar novel ini di salah satu forum pembicaraan di Goodreads dan setelah ada di tangan saya, baru saya sadar kalau sebenarnya saya sudah pernah melihat novel ini di toko buku yang kerap saya sambangi. Nah, kalau saya pernah melihat dan bisa sampai taraf tidak ingat pada judulnya, biasanya memang ada sesuatu yang “salah”—menurut saya—pada novel tersebut.

Heran deh, siapa yang pertama kali mempelopori kewajiban sosok manusia atau sesuatu yang menyerupai manusia harus memenuhi bagian kiri kover depan? Ini novel fiksi fantasi lokal kedua yang saya dapati menaruh sosok di bagian kiri kover depan, tapi saya merasa sebelum ini saya pernah melihat sebuah novel fiksi terjemahan yang meletakkan sosok di bagian sebelah kiri kover (saya tidak ingat). Entah berapa lama lagi trend sosok memenuhi sisi kiri kover depan ini akan berlangsung …

Terlepas dari keberadaan sosok berbaju zirah di separuh kover depan sebelah kiri, hal lain yang menarik perhatian dari sampul novel ini adalah sosok lain yang mengisi sisa tempat yang tidak dijajah si pria berbaju zirah. Ketiga sosok lain yang tidak berzirah adalah dua orang wanita dan seorang pria, nah, yang menarik perhatian adalah mereka sosok yang lebih berupa foto ketimbang ilustrasi tangan atau komputer. Saya pribadi sejujurnya kurang menyukai kover depan yang diisi dengan foto manusia begitu. Kenapa sih tidak menggunakan ilustrasi? Kalaupun tidak ada tenaga ilustrator, apakah ada yang salah apabila tidak ada sosok manusia sedikit pun di kover depan? Misalnya, hanya judul novel, nama pengarang, endorsement jika ada, lalu sedikit ilustrasi yang tidak usah sosok makhluk hidup. Contohnya seperti The Godfather atau 5 cm. Kedua novel itu minimalis sekali dalam hal kover, kalah jauh dengan, misalnya serial The Secrets of Immortal Nicholas Flamel, tapi minimalis sekalipun tetap membuat buku tersebut nampak mencolok saat disandingkan dengan tumpukan buku lainnya. People do judge the book by its cover, apalagi kalau buku di toko semuanya disegel. :D Berdasarkan pembahasan saya di atas, bisa ditebak bahwa saya akan ragu-ragu sekali mengambil Valharald dari rak buku karena masalah sampul depannya yang tidak sesuai selera. (Untung ada teman yang berbaik hati meminjamkan. :D :D )

Sinopsis, kira-kira cukup menggambarkan isi buku, menurut saya. Jika diperhatikan lebih lanjut, mungkin beberapa orang akan merasa ada yang aneh pada kalimat kedua sinopsis.

Pada sebuah negeri (VarchLand) yang telah mengalami masa-masa damai selama beratus-ratus tahun, tiba-tiba terancam mengalami kehancuran oleh sebuah kekuatan kegelapan yang datang dari bangsa Vomorian.

Kejanggalan tersebut disebabkan oleh kata “pada” dan “tiba-tiba”. Mari saya perlihatkan apabila kedua kata tersebut dilenyapkan.

Sebuah negeri (VarchLand) yang telah mengalami masa-masa damai selama beratus-ratus tahun, terancam mengalami kehancuran oleh sebuah kekuatan kegelapan yang datang dari bangsa Vomorian.

Kata “pada” merujuk pada tempat atau lokasi. Betul bahwa “negeri VarchLand” adalah sebuah tempat, tapi dalam konteks kalimat ini, ia berfungsi sebagai sebuah subjek, bukan keterangan tempat. Tambahan kata “pada” sebelum “negeri VarchLand” memberikan kesan bahwa rangkaian kata di depan merupakan suatu keterangan tempat, tapi pada kenyataannya diikuti oleh kata “mengalami” yang merupakan sebuah predikat dan kata kerja aktif dengan ciri didahului sebuah subjek.

Oke, cukup deh ngomong soal tata bahasa. Saya bukan pakarnya berbahasa Indonesia yang baik dan benar jadi rasanya tidak etis kalau saya mengomentari seorang pengarang yang novelnya sudah terbit padahal saya ikut merancang EYD, pengajar bahasa Indonesia, penulis buku tentang tata bahasa, dan menerbitkan buku sendiri belum pernah dilakoni sama sekali.

Mari menjabarkan isi novel ini ke dalam bentuk poin-poin yang lebih mudah dicerna saja. :D

Kelebihan:
- Aliran cerita yang enak untuk diikuti
Ada banyak flashback di dalam novel ini tapi saat flashback disisipkan di cerita “masa kini”, alirannya tidak terganggu sama sekali dan porsi setiap flashback saya rasa cukup pas.

- Tata bahasa yang baik
Meskipun hal ini sudah menjadi sebuah kewajiban bagi semua novel yg diterbitkan di seantero nusantara ini, saya masih menemukan ada saja novel yang “kecolongan” dalam hal paling mendasar, yakni tata bahasa. Valharald ini termasuk ke dalam novel yang tata bahasanya tergarap dengan baik (dan benar) dari segi teknis, mulai dari huruf kapital, penggunaan tanda baca, penggunaan kata baku dalam sebuah narasi (yang ini mungkin preferensi pribadi, tapi setahu saya ada aturan seperti itu dalam sebuah karya tulis), semuanya oke, kecuali beberapa salah ketik minor dalam hal huruf kapital. Woot, jangan salah, teknik penulisan mungkin kedengarannya terlalu formal dan tidak keren sama sekali, tapi bagi saya sebuah tata bahasa yang baik berpengaruh kepada kenikmatan membaca.

Kekurangan:
- Layout “ajaib”
Ada sebuah kotak-kotak kecil berisi kutipan kalimat yang terdapat di halaman tersebut. Tidak setiap halaman dihiasi kotak-kotak tersebut, tapi pada awalnya saya melihat, saya merasa sedikit terganggu karena perhatian saya jadi terfokus pada kotak-kotak yang mirip sekali seperti pada artikel di Intisari itu. Untungnya pada akhirnya saya berhasil mengabaikan kotak-kotak tersebut selama membaca sehingga keluhan saya hanya berhenti sampai di sini.

- Salah ketik yang fatal
Kenapa fatal? Karena yang salah diketik adalah nama! Saya kutipkan beberapa kalimat yang saya ingat dan berhasil saya temukan kembali.

”Itu dia. Ingolf!” seru Ingemar kegirangan.
“Hah? Ingolf? Kau yakin?” tanya Ingemar ragu. “Semudah inikah menemukannya?”

Ganti kata “Ingemar” di kalimat kedua dengan “Einar”. (Saat dialog tersebut terjadi, Ingemar tengah bersama-sama dengan Einar.)

”Owain, kita akan segera bertemu dengan adikmu di Vincha. Ayah berharap ia baik-baik saja. Ayah yakin jika tidak ada sesuatu hal yang menghambatnya dalam perjalanan, ia telah sampai di Vincha,” kata Azkhara.
“Aku harap juga demikian, Ayah,” balas Gwyneira.

Gwyneira adalah adik yang dimaksud oleh Azkhara (boro-boro ada di jarak sepuluh meter dari mereka saat dialog di atas terjadi). Harusnya “Gwyneira” di sana diganti dengan “Owain”.

- Logika yang terasa kurang pas.
Salah satunya adalah mengenai kepergian para Kesatria Talismandala ke medan perang. Ada dua pertanyaan besar yang timbul saat saya mencapai akhir buku ini:

1. Kesiapan mereka menghadapi sebuah peperangan.
Perang berbeda dengan sebuah pertarungan biasa. Sebuah pertarungan biasanya tidak melibatkan terlalu banyak lawan—kira-kira seimbang dalam hal jumlah antara si penyerang dan yang diserang, sedangkan dalam sebuah peperangan ada sangat banyak jumlah musuh yang datang menghampiri. Pengalaman dalam sebuah pertarungan—entah melawan beruang entah melawan makhluk asing yang makan orang, tapi dalam jumlah lebih sedikit daripada sebuah pasukan perang—seharusnya tidak dianggap sama dengan pengalaman berperang. Tidak diceritakan apakah kalung yang menjadi penanda para Kesatria itu memiliki kekuatan mistis entah apa untuk melindungi penggunanya atau bagaimana sehingga mereka yang tidak memiliki pengalaman menggunakan senjata dan bertarung pun diterjunkan ke dalam peperangan (sekedar informasi, dari dua belas Kesatria, ada satu yang sama sekali tidak dibekali pengetahuan bertarung yang memadai).

2. Apa jadinya bila salah satu Kesatria tewas dalam peperangan?
Kedua belas Kesatria Talismandala diceritakan terjun semua ke dalam peperangan, bahkan ikut berperang langsung, bukan mengomandani. Ada dua orang (wanita) di antara mereka yang memang perannya sebagian besar adalah sebagai tenaga medis, tapi sisanya diterjunkan ke medan perang. Siapa sih yang punya ide menurunkan mereka ke peperangan? Orang itu pasti tidak berpikir apa yang akan terjadi seandainya salah satu Kesatria terbunuh. Repot jadinya kalau salah satu, salah dua, atau bahkan salah enam dari mereka gugur karena terinjak Orcus atau Ogre atau malah tidak sengaja kena bola api Pelindung Draach. Harus ada pengganti mereka yang gugur dalam pertarungan agar “kunci” yang menjadi topik utama sepanjang buku ini tetap berada di tangan yang pantas dan dapat digunakan untuk mengakses ruang rahasia tempat tersimpannya senjata mutakhir untuk melawan musuh mereka. Kenapa kedua belas orang itu tidak diutus saja untuk membuka dan mengambil senjata untuk melawan musuh-musuh mereka? Toh cukup dengan mengutus mereka pergi begitu saja akan ada masalah tersendiri karena musuh (asumsikan mereka punya mata-mata) pasti tidak akan membiarkan mereka tiba di tempat penyimpanan senjata mutakhir itu begitu saja.

Dari dua pertanyaan di atas, saya menyimpulkan sendiri bahwa si pengarang terlalu bernafsu menampilkan sebuah peperangan besar yang sangat menentukan di dalam ceritanya. Pola ini mengingatkan saya pada peperangan yang terjadi di Lord of The Ring. Bedanya, jika di LoTR Frodo harus menghancurkan The One Ring untuk mengalahkan Sauron, di Valharald ini kedua belas kunci harus disatukan untuk membuka tempat penyimpanan senjata mutakhir yang pernah digunakan untuk melawan musuh yang sama. Bedanya lagi, Frodo—ditemani Sam—tetap melanjutkan perjalanan untuk menghancurkan cincin sementara urusan perang melawan pasukan Mordor diserahkan kepada Aragorn dkk, di Valharald ini para karakter yang berperan sebagai “Frodo” malah ikut berperang.

*Kasih briefing ke Vomorian*

Oke, Vomorian, lain kali kalian ketemu orang-orang yang namanya Cuchulainn, Fionn, Urias, Gavin, Tighearnan, Gwyneira, Eira, Owain, Einar, Valharald, Ingemar, Ingolf, kalian langsung bunuh mereka dan ambil kalungnya lalu bawa jauh-jauh dari mereka. Mendingan mulai dari Eira dulu karena dia paling lemah, tapi target utamanya Einar atau Fionn karena bau-baunya dia ini bakal sah jadi penguasa VarchLand.

(Malah memihak Vomorian.)

- Karakter yang datar
Bukan datar tanpa emosi, tapi lebih karena mereka sepertinya memiliki sifat yang kira-kira sama. Bahkan Cuchulainn yang diceritakan sebagai “orang liar” yang tinggal di hutan sendirian selama bertahun-tahun pun bisa beradaptasi saat bertemu dengan manusia lainnya (dia hanya tidak bisa beradaptasi dengan menunggang kuda, tapinya). Mereka semua adalah orang-orang berbudi baik yang sepertinya tidak bisa merasa marah pada seorang “pengacau” (ini sebutan dari saya) yang hobinya ninggalin anak asuhnya sebatang kara atau bersikap (sok) misterius kepada mereka. Karakter yang saya suka hanya si kembar Ingemar-Ingolf karena salah satu dari mereka masih sempat ditunjukkan bisa merasa marah. Einar hanya sekilas ditunjukkan besar kepala dan sangat bengal di masa mudanya, tapi sisanya dia adalah seorang raja muda yang baik. Karakter yang potensial saya sukai lagi adalah Gavin, mengingat bagaimana dia telah bertemu dengan seorang “pengacau” (ini juga sebutan yang saya gunakan agar tidak spoiler) lainnya. Sayangnya Gavin sudah dilibas oleh Einar dan Fionn dalam hal porsi cerita.

Out of topic: *uhuk* Meng-handle dua belas orang sekaligus memang susah yah? *uhuk* *lirik draft DNMS* Makanya nggak sekaligus lagi sekarang. *uhuk* Jadinya lebih oke, IMHO. *uhuk uhuk dan sudah saatnya kita kembali ke topik pembicaraan utama setelah promosi draft belum jadi yang nggak tahu malu ini*

Tambahan lagi. Mereka mungkin berusia dua puluhan tahun, tapi saya tetap merasa janggal saat mereka sepertinya tidak merasakan apa-apa saat telah membunuh seseorang. Orang yang mereka bunuh bisa dibilang memang jahat, tapi benarkah kita bisa membunuh orang jahat begitu saja?

- Ketidakkonsistenan karakteristik
Ini terutama terjadi pada karakter bernama Valharald. Diceritakan bahwa Valharald ini adalah penasihat kerajaan yang bijak. Lucunya setelah sekian lama disuguhi kunjungan dan pertemuannya dengan orang-orang terpilih dan orang-orang penting, di bab delapan, bab milik Gavin, beliau yang merupakan karakter paling uzur di antara kedua belas Kesatria, berubah menjadi maling buah plum yang digebukin preman pasar. Jawabannya kepada Gavin yang menolongnya pun tidak bisa dibilang baik atau bijak (dia bisa digebukin preman pasar karena mencuri saja sudah tidak terdengar bijak). Kalau itu bukan Valharald, tapi musuh yang menyamar, kenapa dia menyuruh Gavin ke tempat berkumpulnya Kesatria lainnya dan tidak berniat mencuri kunci atau membunuh Gavin saat itu juga agar kuncinya tidak terkumpul? Dengan pemikiran demikian, saya yakin bahwa orang tua yang ditemui Gavin adalah Valharald. Kalau itu bukan Valharald, maka pertanyaan saya tadi masuk ke dalam kelemahan mengenai tindakan yang tidak logis.

- Plot biasa
Betul. Biasa. Betul sekali. Nobody that becomes somebody to saves everybody. Betul sekali. Dan dilengkapi dengan peperangan. Hmmmmmm. Plot semacam ini mungkin sudah ada dari sejak tahun 70-an di game-game dan sudah lebih tua lagi untuk ukuran sebuah karya sastra. Saya sendiri sebenarnya tidak bisa menebak mengapa seorang pengarang memilih plot seperti ini padahal jika dilihat dari biografinya beliau ini sudah pernah menghasilkan kumpulan cerpen anak yang ceritanya lebih bervariatif. Sungguh sebuah misteri. Hmm.

- Siapa sebenarnya target pembacanya?
Poin plus, menurut salah satu reviewer di Goodreads, novel ini adalah kata-kata mutiara yang lumayan sering diungkapkan para karakternya. Kata-kata mutiara itu, sayangnya, lewat begitu saja bagi saya. Anggapan saya sejauh ini bukan karena kata-kata mutiaranya basi (positive thinking) tapi karena saya sudah pernah mendengar kata-kata serupa di media lain dan di umur kepala dua ini saya sudah tidak terlalu idealis lagi dalam berpikir. Kata-kata mutiara dan moral of the story biasanya sangat pas untuk sebuah cerita anak-anak, makanya saya sempat berpikir bahwa Valharald ini jangan-jangan sebuah novel yang ditujukan untuk anak-anak dan bisa menjadi konsumsi segala usia (karena ini bukan bir atau vodka atau susu bayi, jadi kakek-kakek mau baca paling efek sampingnya hanya bosan bukan yang terkait ginjal, hati, atau lambung). Tapi! Saat saya melihat kembali kovernya, saya kurang yakin anak-anak akan tertarik untuk mengambil buku ini dari rak buku. Ditambah lagi, ternyata di dalam cerita ada hal-hal yang saya rasa kurang cocok untuk anak SD (anak hasil hamil di luar nikah dan ortu sang ibu tidak merestui anaknya menikah dengan orang yang telah menghamili dan beberapa jenis kasus Termehek-mehek TransTV lain, meskipun tidak sebanyak itu jumlahnya). Mohon maaf apabila ternyata pendapat terakhir tentang hal yang pantas dan tidak pantas bagi anak-anak itu salah. Saya kurang mengerti standar mengenai apa yang pantas dan tidak pantas bagi anak-anak sekarang ini.

3 Tanggapan to “REVIEW VALHARALD 4 : Mantoel Toeink”

  1. Idi suwardi berkata

    Artikelnya sangat bermanfaat dan layak untuk dibaca

  2. Idi suwardi berkata

    malam :) salam sukses

  3. Nuraeni berkata

    mudah-mudahan
    anda selalu sukses …!!!:)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.