Dwiantologi Cerpen : Un Dans L’Éternité karya Jaladara & Telur Surga karya Wigi Azkiyanti
Posted by jalaindra pada Oktober 6, 2010
Meskipun di satu sisi, BMI menjadi persoalan tenaga kerja yang tidak kunjung terselesaikan secara holistik oleh negara, namun di sisi lain, tidak sedikit pahlawan devisa tersebut yang tetap mampu berkiprah dan berprestasi lebih di berbagai bidang, termasuk dalam bidang penulisan karya sastra. Dalam khasanah perbukuan dan sastra tanah air, telah banyak karya yang lahir dari buah kerja keras dan ketekunan mereka. Salah satunya adalah buku kumpulan cerpen yang tengah ada di tangan Anda.
Berawal dari sebuah keinginan sederhana untuk ikut menggiatkan tradisi penulisan dan penerbitan di kalangan BMI dan penulis pemula, dengan ini Abatasa Publishing mempersembahkan sebuah dwiantologi cerpen yang ditulis oleh dua orang penulis, Jaladara dan Wigi Azkiyanti.
Sebuah karya adalah sebuah kesaksian. Kesaksian pengarang dengan dunia di dalam dirinya dan kesaksian pengarang terhadap dunia dan realitas di sekelilingnya. Hal ini terlihat jelas dalam cerpen-cerpen yang terkumpul dalam buku ini, yang merupakan sebuah kesaksian pengarang sebagai seorang anak bangsa yang tengah berkarya jauh dari negeri kelahirannya.
Sebuah karya juga adalah sebuah pengharapan. Dari kesaksian-kesaksian pengarang terhadap dunianya, ada semacam harapan dan semangat yang hendak disampaikan lewat beragam kisah dengan bermacam tema. Perjuangan, kemanusiaan, persahabatan, cinta, dan religiusitas, bahkan kematian adalah tema-tema yang diusung oleh pengarang dwiantologi ini dalam kisah-kisahnya. Membacanya akan membuat kita terhenyak, bahwa ada sisi-sisi kehidupan yang mungkin tidak pernah kita ketahui sebelumnya, karena mungkin memang jauh dari keseharian kita. Namun kehidupan itu ada! Dan pengarang dwiantologi ini berusaha mengejawantahkannya ke dalam cerita.
Semoga dengan hadirnya buku ini mampu memberikan stimulus kepada para BMI khususnya, juga kepada para pembaca untuk tetap berkarya. Kami berharap buku ini mendapatkan apresiasi yang selayaknya dan mendapat tempat yang terhormat dalam khasanah sastra tanah air.
-Abatasa Publishing-
Judul I : Un Dans L’Éternité,
Pengarang : Jaladara
Judul II : Telur Surga
Pengarang : Wigi Azkiyanti
Editor : Kuswinarto
Penerbit : Abatasa Publishing
Cetakan : I, Agustus 2010
ISBN : 978-602-97574-0-8
Tebal : xx + 260 Halaman
Bagi teman-teman di Indonesia yang berminat, silahkan pesen via inbok, pembayaran lewat transfer ke :
No. Rek : 1390010181067 Bank Mandiri Cabang Pekalongan a.n. Adi Toha
konfirmasi transfer: 081320932117
Untuk teman-teman yang ada di Hong Kong, Taiwan, Singapore, Malaysia, Macau, China and overseas bisa menghubungi :
ALLEA Jaladara di +852 51662635.
Buruan lho!! mumpung ada diskon 10%
Apa kata mereka tentang buku ini??!!
Sewaktu saya selesai membaca kumpulan cerpen Jaladara dan Wigi Azkiyanti, saya shock. umpama saya mengusung senjata, dengan berjalan kaki, saya masih mengeluh. tapi kedua orang ini, meski harus merangkak, mereka tak menyerah. dengan harus banting tulang, jauh dari sanak keluarga, keduanya bisa bertumpu di atas kedua kaki dan memberikan hasil karya yang membanggakan, di mana tidak semua orang bisa melakukannya. Mengintip Permainan Takdir, adalah favorit saya dari semua cerpen Jaladara. saya dipaksa untuk menebak-nebak dan berspekulasi, ‘ada apa ini?’ ‘bagaimana akhirnya?’, sampai di akhir… saya mendapat jawaban yang cukup mencengangkan. love it so much… Wigi Azkiyanti menampar saya dengan Telur Surga. bagaimana tidak? di mana orang-orang banyak yang tidak melaksanakan puasa wajib, namun tokoh di cerpennya, mati-matian tetap berpuasa meski banyak tantangannya. meski penuturannya sangat sederhana, tapi makna yang diambil sangat dalam. saya salut, sungguh. Ini mungkin hanya sekedar pendapat dari seorang saya yang bukan siapa-siapa di dunia ini. dan saya yakin, orang-orang yang merasa dirinya hebat, akan berpikir sama… setelah membaca karya Jaladara dan Wigi Azkiyanti. bahwa ada orang-orang yang sepertinya tak kasat di dunia ini, tapi mereka mempunyai talenta luar biasa, lebih fascinating, splendid, great, dari mereka yang merasa dirinya ‘hebat’”
–Tita rosianti – penulis Kitten Heels, Gagasmedia–
“Jaladara sangat melankolis dalam bermain cinta dan tragedi; bermain kehidupan dan kematian; bermain kemanusiaan dan kealpaan; bermain bahasa ibu dan bahasa tetangga jauh. Dengan keseriusan mengikuti jalan ceritanya, di ujung jalan ada suatu kejutan yang menggetar-getirkan. Wigi Azkiyanti sangat serius menyajikan cerita sebagai syiar agama; memaknai realita aneka cerita dalam jalinan benang jilbabnya. Barangkali itulah ciri khas karyanya, dan memang layak disimak.”
–Gus Noy, penikmat sastra; tinggal di Balikpapan, Kaltim–
“Menapaki perjalanan kisah-kisah dalam ‘Jaladara : Une Dans L’Eternite’ adalah perjalanan sarat mimpi jiwa2 yg dinamis. Penulis memaparkan mimpi-mimpi yang diturutkan berdasarkan pengalaman pribadinya menyinggahi kehidupan mulai dari ke-hidupan “membumi” hingga “melangit”. Ini adalah sebuah cerita yang kompleks dimana keterbatasan mampu ditepis demi cinta, harapan, kebermaknaan hidup dan pencarian jati diri, bagaimana memburaikan benang-benang kusut kehidupan, menjlentrehkan dan memintalnya menjadi jalinan cerita yang utuh dalam balutan nafas religiusitas, kasih keluarga, arti sahabat dan cinta dari orang-orang yang disayangi. Saya menyambut baik karya ini. Selamat…”
–Nisa Amalia, Pegiat komunitas Sastra ESOK, Surabaya–
“Lea, demikian saya memanggil Jaladara. Sebelum membaca tulisan beliau, saya memang sangat tertarik dengan personalitinya yang memiliki karakter tersendiri, yaitu seorang yang penuh semangat dan optimistis. Ternyata dugaan saya tidak meleset, setelah membaca kumcer-nya ini, apa yang ingin saya katakan adalah…. You’re awesome, girl..!! Saya bagai dipukau dengan untaian kata-kata yang menyusun alur cerita, ianya mengalir begitu baik dan tidak membosankan sama sekali. Saat tiba pada ending cerita, saya merasa sangat senang hati karena sememangnya semua cerpen dalam kumcer ini adalah sangat manis. Bacalah cerpen Kembali Padamu, Ibu, atau Bu Guru Marni, dan yang lainnya, dijamin tidak rugi menghabiskan waktu untuk menikmati cerita yang sangat original karya Jaladara. Teruskan menulis, Lea!! You’re very talented…”
“Bakat menulis adalah anugerah Allah SWT yang harus disyukuri dan diamalkan, yaitu dengan menyampaikan messages keislaman pada setiap karya yang dilahirkan. Hal tersebut menurut sudut pandang saya telah dipenuhi oleh Wigi Azkiyanti pada cerpen yang ditulisnya. Genre cerpen pop islami yang dilahirkan oleh Wigi, memikat hati saya saat membacanya, bagai mendapat sebuah bonus yaitu mendapat sebuah cerita yang menarik, tapi disisi lain juga menambah pengetahuan ke-islaman saya, dan pada akhirnya hal tersebut melahirkan sebuah keinsyafan didalam hati. Percayalah, sangat bermanfaat membaca kumpulan cerpen karya Wigi Azkiyanti.”
–Dang Aji, Founder Group “Untuk Sahabat”–
“Cerita yang disuguhkan dalam kumpulan cerpen ini sangat menarik, yang merupakan ekspresi dari realitas kehidupan yang ada. Penulisanya tertata dengan baik dan begitu cermat. Beberapa cerita dari kumpulan cerpen ini juga memunculkan unsur religi, saya berharap cerita yang disuguhkan dapat memberikan inspirasi kepada para pembaca, dan para penulis lain untuk mem-budayakan penulisan yang baik dan “Ahsan” sehingga mampu mendekatkan diri kepada Robb nya.”
–Ir. Fajar Kurniawan, M.Si, Dosen Bintang Nusantara Hong Kong–
“Jaladara melukiskan mimpi-mimpi besar, dan Wigi azkiyanti membimbing kita untuk kembali beberapa kali menyimak sapuan kuasnya. Saya menemukan kolaborasi yang unik dalam buku ini.”
–Susie Utomo – Ketua Forum Lingkar Pena Hong Kong–
“Sebuah kolaborasi dari 2 penulis yang masing-masing mem-punyai style sendiri-sendiri, akan tetapi menjadi indah dalam sebuah kumcer dengan ending yang tak terduga.”
–Bintang Alzeyra, penulis Verliebt in Wien–
“Aku langsung jatuh cinta pada Bu Guru Marni! Ya, di Kumcer ini perjuangan seorang guru untuk mendidiknya kental sekali, pergulatan batin sang guru terasa mengigit! Ah, begitukah cinta?”
–Naqiyyah Syam, Penulis, Ketua FLP Cabang Lampung Timur–
“Banyak cerita yang dihadirkan dalam buku ini dan banyak hikmah yang bisa diambil dari cerita-cerita tersebut. Cerpen Kembali Padamu, Ibu memberikan pesan yang kuat kepada mereka yang telah melupakan seorang ibu, bahwa jasa ibu akan tetap dikenang sampai kapanpun. Cerpen ini bisa menyadarkan mereka yang sudah lama tidak memeluk ibu. Cerpen “Bu Guru Marni” dan “Aulia Maharani” bercerita tentang sosok TKW yang dengan penuh perjuangan akhirnya mencapai kesuksesan. Meskipun cerita TKW yang sukses sudah banyak tetapi dibanding dengan jumlah TKW yang ada persentasenya pasti masih sangat sedikit. Beberapa cerita yang lain sarat dengan pesan-pesan yang bersumber dari Al-quran. Semangat dan kegigihan keduanya boleh dijadikan contoh. Salut kepada kedua penulis. Semoga makin banyak BMI yang bisa berkarya me-ngikuti jejak kalian berdua; dan semoga bisa menghasilkan karya-karya yang lebih baik di kemudian hari”
–Imroatul Cholifah, BMI di Singapura–
“Saya ucapkan selamat dan salut Mbak Jaladara dan Mbak Wigi Azkiyanti atas terbitnya buku kumpulan 12 cerpen ini. Bukan hanya karena isinya. Tapi juga membayangkan bagaimana perjuangan dalam proses tertuangnya kata demi kata hingga tersusun sebagai cerita pendek. Tema yang beragam, diksi yang tidak biasa menambah aroma, bahwa buku ini layak untuk dibaca. Buku ini juga membuktikan bahwa cita-cita tidak hanya untuk dimiliki tapi diwujudkan.”
–Minie, BMI di Taiwan–
“Mereka yang berjuang agar mimpi jadi kenyataan berkelebat dalam buku ini. Dua pengarang bahu-membahu mengabadikannya.”
-Bonari Nabonenar, pengarang-
Nuraeni berkata
sukses selalu…
cayo!!!