Dongeng Untuk Allea: Para Pencuri Bulan
Posted by jalaindra pada Oktober 6, 2010
Tiga orang pencuri yang sudah tidak diragukan lagi keterkenalannya dalam jagad pencurian secara tidak sengaja bertemu di pinggir sebuah sungai yang cukup besar di negeri yang kabarnya selalu purnama di setiap malamnya. Aladdin telah melanglang buana, luntang lantung putus asa setelah kehilangan lampu ajaibnya sehingga ia tidak tahu sudah sampai di manakah perjalanannya ketika dia mendengar teriakan seseorang dalam bahasa yang tidak dipahaminya. Meski begitu, dia tahu, seseorang itu pasti sedang tenggelam dan butuh bantuan dari suara teriakannya yang terputus-putus dan suara kecipak air. Ia bergegas mencari sumber suara. Sementara itu, Ali Baba, yang melarikan diri dari negerinya karena Sultan penguasa negerinya rupanya telah menyewa pasukan pemburu bayaran professional dari lembah Alamut untuk memburunya hidup atau mati, sedang duduk termenung di atas sebuah batu besar sambil memainkan ujung ranting yang digenggamnya ke permukaan air ketika dari arah hulu sungai dia mendengar suara teriakan yang sama. Hampir bersamaan keduanya sampai di tepi sungai –Aladdin di satu tepid an Ali Baba di tepi lainnya –dan melihat di tengah sungai seseorang tengah menggapai-gapai permukaan air dengan putus-asa.
“Elp… Elp…” Pria itu berteriak kehabisan nafas.
Tanpa pikir panjang, Aladdin dan Ali Baba menceburkan diri ke dalam sungai hampir bersamaan dan berenang menuju pria itu. Hampir bersamaan pula, keduanya meraih tubuh pria itu dan menyeretnya ke salah satu tepi. Di tepi sungai, pria yang ternyata bercelana hijau ketat itu terbatuk dan memuntahkan air yang sempat ditelannya saat hampir tenggelam.
“Thank You, My Friends. You’ve save my life. I’m Robin Hood. Who are you?” kata pria bercelana hijau ketat itu setelah pulih dari batuknya.
Aladdin dan Ali Baba hanya berpandangan. Barangkali mereka tidak tahu apa yang dikatakan pria itu, atau barangkali keduanya tidak mempercayai orang yang telah ditolongnya, karena setahu mereka, dari buku-buku yang mereka baca, Robin Hood adalah pencuri legendaries dari hutan Sherwood di Inggris. Aladdin berpikir, mungkin saja perjalanan luntang lantungnya telah sampai di Inggris. Demikian juga Ali Baba, barangkali pelarian dan persembunyiannya dari kejaran pasukan Hassasin Alamut, tanpa disadarinya telah membawanya ke benua eropa. Memang, seingat dia, dia telah mendaki banyak gunung, melewati banyak lembah, mengikuti banyak sungai ke samudra, dan menyeberangi samudera itu sendiri.
Pikiran Ali Baba buyar seketika saat pria itu melihat sekelilingnya dan berkata, “Where am I?” bertanya entah kepada siapa, barangkali kepada dirinya sendiri, karena pertanyaan sebelumnya kepada dua orang penolongnya belum juga mendapat jawaban.
“I’m Ali Baba.”
Aladdin masih terbengong. Dia sama sekali tidak tahu apa yang didengarnya. Melihat hal ini, Ali Baba, mengamati dari wajah dan pakaian yang dikenakan Aladdin, membuatnya berpikir bahwa barangkali pria itu berasal dari peradaban yang sama dengannya, maka dia menjelaskan kepada Aladdin dengan bahasa arab. Aladdin senang karena setidaknya, salah satu dari dua orang asing yang ditemuinya mengerti bahasanya. Dia lalu menjawab dengan senang, “Ana Aladdin.” Demikianlah, Ali Baba yang sedikit banyak pernah belajar dari kamus saku yang pernah dicurinya dari seorang pengelana asal eropa, menjadi mediator komunikasi antara pria yang bernama Robin Hood dengan Aladdin.
“Adakah di antara kalian yang tahu di mana kita sekarang?” tanya Robin sambil memandangi sekelilingnya dengan penasaran. Hari masih belum terlalu siang. Hanya ada pepohonan dan semak-semak yang rimbun, juga kicauan burung dari pucuk-pucuk pohon, tentu saja suara kicaunya tidak dikenali oleh Robin karena dia hampir hafal semua kicau burung yang ada di hutan Sherwood. “Aku tidak tahu apa yang telah terjadi, tiba-tiba, aku terjatuh ke dalam sungai saat dikejar-kejar oleh Sherif. Kau tahu, aku tidak bisa berenang. Hal terakhir yang kulihat adalah suara Maid Marion yang memanggilku di kejauhan,” tambahnya. “Sungguh aneh, kenapa aku bisa berada di sini. Dan bertemu dengan kalian.”
Tidak ada yang bisa menjelaskan dengan pasti apa yang sebenarnya terjadi. Ali Baba dengan bijak berkata sambil menunjuk ke langit, “Barangkali Sang Pengarang sedang ingin bermain-main dengan kita.” Menyadari hanya itulah satu-satunya penjelasan yang bisa diterima, ketiganya berjalan bersama mengikuti jalan setapak yang sepertinya mengarah ke sebuah kota. Selama perjalanan, Aladdin dengan penuh rasa ingin tahu menanyakan banyak hal kepada Ali Baba dan Robin Hood –terutama kepada Robin, dia bertanya cantikan mana Maid Marion dengan Prince Jasmine.
Setelah cukup lama berjalan mengikuti jalan setapak di tengah hutan, mereka pun sampai di sebuah tanah terbuka. Di kejauhan tampak sebuah gerbang kota yang ramai. Aladin hampir saja berlari mendahului kedua teman barunya seandainya tidak dihentikan oleh Robin.
“Tunggu dulu. Kau pikir siapa diri kita. Kita adalah pencuri. Tidak mungkin kita memasuki kota secara terang-terangan seperti ini. Kita tidak tahu di kota seperti apakah yang ada di depan sana. Aku takut, penduduk kota itu akan mengenali kita dan menangkap kita –atau langsung membunuh kita.” Kata Robin dengan waspada.
“Ada ide?” Ali baba bertanya.
“Kita tunggu sampai malam. Setidaknya, kita bisa mengendap diam-diam dan menyelidiki kota seperti apakah yang kita tuju. Banyak hal yang tersembunyi dalam kegelapan, dan hanya orang-orang seperti kitalah yang akan bisa mengetahuiya.”
Meski Aladin merasa sangat lapar, dia terpaksa menyetujui gagasan Robin yang disampaikan lewat Ali Baba dalam bahasa yang begitu membujuk. Dia tidak bisa membantah, tanpa jin lampu, dia hanyalah pencuri biasa.
Malam hari sepertinya sangat lambat datangnya dan mereka hampir tidak menyadarinya karena kegelapan tampaknya tidak datang sepenuhnya bersama malam hari seperti yang mereka duga sebelumnya. Setelah mereka melihat ke atas langit, pantas saja, lingkaran bulan terlihat sempurna dengan cahaya keemasannya menerangi setiap lorong-lorong kota. Tak tahan menunggu lebih lama, mereka pun nekat memasuki kota diam-diam dan langsung mencari rumah makan.
Kehadiran tiga orang asing di rumah makan yang rupanya sedang menjadi tempat perayaan kelahiran anak seorang tukang sol sepatu terkenal di kota itu, tidak banyak menyita perhatian. Seandainya malam itu tidak sedang berlangsung perayaan, maka bisa dipastikan ketiga orang asing itu tidak akan bisa menikmati makanan dengan gratis, karena tukang sol sepatu itu mentraktir sepuasnya semua orang yang datang ke rumah makan itu. Dalam benaknya, Robin berpikir bahwa setelah perayaan berakhir, dia akan menemui tukang sol sepatu itu dan memesan sepatu baru untuk mengganti sepatu kulitnya yang rusak. Sedangkan Aladin teringat dengan Jasmine yang suatu ketika pernah meminta sepatu kaca seperti yang dikenakan oleh Cinderella. Sementara Ali Baba membayangkan anak tukang sol sepatu itu kelak pasti akan memiliki banyak koleksi sepatu karena pastinya setiap tahun orang tuanya akan membuatkan sepatu baru seiring semakin membesarnya ukuran kaki anak itu.
Mereka duduk satu meja di salah satu sudut yang paling remang sambil mengamati setiap orang yang hadir di tempat itu. Ketiganya sangat frustasi, karena mereka tidak punya cukup informasi dalam perbendaharaan otak mereka untuk bisa menjelaskan tentang orang-orang itu. Setelah merasa cukup kenyang mereka pun keluar dari rumah makan dan berjalan-jalan di kota –setelah bertanya kepada salah seorang tamu rumah makan di mana mereka bisa mencari baju baru. Mereka tidak ingin kelihatan terlalu mencolok di tengah orang-orang kota yang sepertinya sangat maju. Sepanjang perjalanan, mereka tidak melihat rumah ataupun orang yang cukup bisa dikatakan miskin –bahkan tukang sol sepatu pun bisa mentraktir ratusan orang.
Di bawah cahaya bulan, mereka bisa melihat jalan-jalan dan lorong-lorong kota bersih dari pengemis dan sampah, bahkan seolah-olah tidak ada lorong gelap yang tersembunyi. Semuanya terlihat karena bulan tepat berada di tengah-tengah langit, seperti lentera raksasa yang digantung entah oleh siapa –lagi-lagi Ali Baba berpikir barangkali Sang Pengarang lah yang telah menggantungkannya seperti itu.
“Kita tidak bisa menginap. Kita tidak punya uang,” kata Aladin cemas.
“Bodoh. Tentu saja kita akan segera mendapatkan uang,” jawab Robin.
“Bagaimana caranya?”
“Kau pikir siapa diri kita? Tentu saja kita akan mencurinya. Dari orang kaya tentu saja.” Jawab Robin.
“Kukira, kau adalah pencuri baik hati yang mencuri dari orang kaya untuk diberikan kepada orang miskin,” sindir Ali Baba.
“Tentu saja. Tapi aku tidak melihat orang miskin di kota ini. Dan kita tidak tahu apakah ada orang kaya yang jahat di kota ini. Ah, barangkali kita hanya harus tinggal di kota ini lebih lama lagi untuk mengetahuinya.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Apa yang mereka lihat dan rasakan tidak seperti yang mereka bayangkan sebelumnya. Di pondok kecil yang dibangun di sisi hutan Robin menggerutu sendirian dan frustasi. Beberapa hari setelah pertemuan pertama dengan Aladin dan Ali Baba, kedua pencuri negeri seribu satu malam itu memutuskan untuk berpisah dan memilih hidupnya sendiri-sendiri. Aladin ingin bertobat menjadi orang baik –selama ini dia selalu berpikir bahwa dirinya tidak cukup baik dank arena selalu bergantung kepada jin lampunya, dia ingin melupakan jin lampu –dan melamar menjadi murid tukang sol sepatu. Ali Baba, dengan kepandaiannya membantu pekerjaan pengurus perpustakaan kota –yang membuatnya tahu banyak tentang kota itu dan penduduk-penduduknya serta tentang bulan di kota itu yang selalu purnama, dan dia berpikir tidak akan ada untungnya jika dia harus meneruskan kariernya di dunia pencurian. Sementara Robin tetap bersikukuh menjadi pencuri dan tetap tinggal di hutan –dia telah terbiasa tinggal di hutan Sherwood.
Malam itu Robin sedang menunggu kedatangan Aladin dan Ali Baba. Sehari sebelumnya, ketiganya telah mengatur sebuah pertemuan.
“Ini tidak bagus untuk kita. Kota ini tidak bagus untuk kita, terlalu aman, terlalu maju, terlalu sempurna. Kita harus membuat kekacauan. Apa jadinya seorang Robin Hood tanpa mencuri dari orang kaya untuk orang miskin?” kata Robin dengan marah, setelah ketiganya berkumpul.
“Lupakanlah keinginanmu. Ambillah jalan hidup baru. Kau bisa berguna di kota itu, setidaknya, kau bisa menggunakan keahlianmu memanah untuk membuat pertunjukan-pertunjukan. Orang-orang pasti akan senang.” Ali Baba memberi nasehat.
“Keahlian memanahku bukan untuk pertunjukan! Tapi untuk membantu orang miskin.”
“Tapi tidak ada orang miskin di kota itu, atau setidaknya, tidak ada orang yang bisa dikatakan pantas dibantu dengan cara itu. semua orang bisa melakukan pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri. Orang-orang yang kaya di kota itu pun tidak bisa dikatakan sombong dan jahat. Semuanya berjalan dengan indah. Saling memberi, saling menghormati dan menghargai,” kata Aladdin. “Oh ya, aku bawakan sepatu baru untukmu. Aku yang membuatnya sendiri. Barangkali kau suka.”
“Aku tidak ingin mengambil resiko menanggalkan nama Robin Hood yang sudah terkenal ini. Jika kota itu terlalu sempurna, maka kita bisa membuatnya tidak sempurna. Kita bisa ciptakan kekacauan. Kita rusak keseimbangan hidup mereka,” kata Robin dengan licik.
“Caranya?” tanya Ali Baba dan Aladin hampir bersamaan.
“Kita curi bulan mereka. Ya. Setelah lama memikirkannya, aku yakin, hanya itulah satu-satunya cara untuk membuat kota itu kacau, karena hanya bulan itulah satunya yang tidak dimiliki oleh kota lain.”
“Kau benar, Robin –maksudku, tentang bulan itu. mereka selalu bangga dengan bulan mereka. Dan berdasarkan apa yang telah kubaca di arsip-arsip perpustakaan kota, bulan itu muncul dari suatu tempat yang hanya Sang Pengarang lah yang tahu,” kata Ali Baba.
“Kita akan mencarinya. Kita akan membuat bulan mereka tidak seperti hari-hari sebelumnya. Aku akan memanah bulan itu dan mengikatnya agar dia tidak beredar. Berkali-kali aku sudah berusaha memanahnya dari tempat ini, tapi sepertinya terlalu tinggi, makanya panahku tidak pernah sampai. Jika aku bisa memanahnya di tempat saat dia muncul pertama kali, aku pasti akan bisa menembusnya.” Robin percaya diri. “Jika kalian tidak mau ikut aku, silahkan. Aku bisa mencarinya sendiri.”
Ali Baba dan Aladin saling berpandangan.
“Kau pikir siapa diri kita? Kita adalah pencuri. Ali Baba adalah pencuri, bukan pegawai perpustakaan. Aladin adalah pencuri, bukan tukang sol sepatu. Apa kata orang-orang jika mereka tahu sebenarnya tentang diri kita. Mereka pasti akan menertawai kita. Mari kita rebut kembali harga diri kita sebagai pencuri,” Robin dengan penuh semangat. “Aku tunggu besok di tempat ini. Jika sampai besok malam kalian belum muncul, aku akan berangkat seorang diri.“
Keesokan harinya, setelah berpikir seharian, tanpa diduga, Ali Baba dan Aladin muncul di depan pondok Robin Hood, keduanya telah bersiap untuk berangkat. Ali Baba membawa sebuah buku besar dan tua yang menarik perhatian Robin.
“Buku apa itu?” tanyanya ingin tahu.
“Ini adalah kumpulan peta yang pernah dibuat tentang negeri ini, barangkali berguna dalam perjalanan kita nanti.”
“Sangat berguna, temanku,” jawab Robin dengan senang hati.
Malam itu juga ketiganya memulai perjalanan mereka. Perjalanan yang tidak akan bisa diketahui di mana ujungnya. Dalam hati, Aladin berharap, perjalanan ini akan membawanya kembali menemukan jin lampunya. Jika tidak menemukan jin lampu yang pernah dimilikinya, barangkali dia akan menemukan jin lampu yang lain –atau jin botol barangkali. Sementara itu, Ali Baba sedikit banyak terdorong oleh keinginannya untuk menemukan tempat persembunyian baru. Ia tahu ia tidak bisa tinggal terlalu lama. Ia yakin, cepat atau lambat, para pemburu Hassashin akan mencium jejaknya dan memburunya sampai ke kota itu.
Mereka memasuki setiap gua, membalik gunung, menebas bukit, menembus hutan-hutan untuk mencari tempat asal bulan. Selama berminggu-minggu mereka mendatangi tempat-tempat di dalam peta yang mereka perkirakan menjadi tempat persembunyian bulan. Mereka terus berjalan ke arah timur. Dalam diri mereka –terutama Robin –terbit keyakinan bahwa mereka kian dekat kepada apa yang mereka cari.
Mereka sampai di sebuah telaga yang tidak cukup lebar dan berair biru pada saat hari hampir senja. Bagi ketiganya, setelah perjalanan seharian, air telaga itu sangat menyegarkan. Aladin dan Ali Baba tidka bisa menahan keinginannya untuk mandi dan berenang-renang di kedalaman telaga itu sementara Robin membuang jauh-jauh keinginan itu karena ia tahu, ia tidak bisa berenang. Ketiganya memutuskan untuk beristirahat dan membuat tenda di tepi telaga itu sebelum melanjutkan perjalanan esok harinya.
Betapa terkejutnya Robin ketika setelah senja berakhir, telaga itu menjadi berwarna keemasan. Ia bergegas membangunkan kedua rekan perjalanannya yang setelah lelah berenang-renang, mereka tertidur di dalam tenda. Ketiganya hanya bisa melongo menyaksikan warna keemasan telaga itu perlahan-lahan mengumpul di bagian tengah permukaannya membentuk sebuah bola sangat terang. Bola itu perlahan naik ke angkasa.
“Bulan!” ketiganya serentak berseru. Tanpa pikir panjang, Robin segera menyiapkan anak panah yang pangkalnya sudah dikaitkan dengan tali. Dengan cepat panah Robin melesat mengarah ke bulan. Kena! Tapi panah itu hanya menembus bulan, seolah tidak pernah mengenai apa-apa. Robin putus asa. Bulan tidak seperti yang dia perkirakan.
“Sepertinya kita harus memikirkan cara lain,” kata Ali Baba.
“Setidaknya, kita sudah menemukan tempat persembunyian bulan,” Aladin menimpali.
Malam itu, mereka tidak bisa tidur, memikirkan cara lain untuk mencuri bulan, sementara bulan seolah mengejek mereka di ketinggian angkasa, bersinar terang seperti malam-malam sebelumnya.
“Aku punya ide.” Aladin memecah kebisuan. “Kita membuat jaring di tengah telaga. Barangkali kita bisa menangkapnya sebelum dia mengapung ke angkasa.”
Selanjutnya mereka merajut jaring kecil seukuran bulan menggunakan tali yang mereka punya. Keesokan harinya, saat bulan telah menghilang dan berganti matahari, jaring itu telah terpasang tepat di tengah-tengah telaga tempat bulan muncul. jaring itu terikat pada empat ujungnya dengan tali panjang yang terikat di pohon besar di empat penjuru telaga. Mereka harap-harap cemas menanti datangnya malam.
Ketika warna telaga beranjak keemasan, menanda bulan sebentar lagi akan muncul, ketiganya dicekam kecemasan yang semakin menjadi-jadi. Selain itu, Robin juga telah bersiap dengan busurnya. Barangkali jika dia memanahnya tepat setelah bulan itu muncul –seperti bayi, belum punya kekuatan penuh, pikirnya –akan berhasil.
Bulan muncul tepat di bawah jaring yang mereka pasang yang berhasil dilewatinya dengan mudah seolah-olah jaring itu tidak pernah ada. Demikian juga panah Robin Hood yang mendesing cepat menembusnya. Sekali lagi, bulan mengapung ke angkasa, mengejek ketiga pencuri yang hendak menangkapnya.
Merasa putus asa dan lelah dengan segala yang telah dilakukan, ketiga berbaring menatap bulan dan tertidur. Aladin lah yang bangun pertama kali ketika hari sudah beranjak pagi. Dia mulai menyalakan perapian untuk membakar daging sisa buruan. Ia tidak ingin membangunkan kedua rekan perjalanannya itu. Biarlah nanti setelah dagingnya matang, dia akan membangunkan mereka, pikirnya. Sedang enak-enak menyayat daging bakar dengan giginya, tiba-tiba dia mengaduh, bukan karena masih panasnya daging yang dibakarnya, tapi rupanya, salah satu giginya tanggal. Dia meludahkan gigi itu, bercampur dengan ludah yang telah bercampur dengan remah-remah arang daging bakaran. Melihat gigi putih kehitaman di tanah, mendadak Aladin meloncat kegirangan.
“Aku punya ide. Bangunlah!” serunya sambil membangunkan dua rekannya. “Lihatlah gigiku yang tanggal itu, warnanya agak kehitaman kan? Karena ludahku telah bercampur dengan arang. Kita akan lakukan hal yang sama dengan bulan. Kita akan membuat telaga ini menjadi hitam! Dan bulan pun akan menjadi hitam.” Aladin menjelaskan dengan semangat.
“Bagaimana caranya?” Robin bertanya, mata kantuknya membuatnya semakin terlihat tolol.
“Tentu saja dengan arang. Kita akan membuat arang sebanyak-banyaknya, kita tumbuk menjadi serbuk dan kita taburkan ke dalam telaga,” jawab Aladin.
Hari-hari berikutnya, tidak ada yang mereka lakukan selain menebang pohon, membakarnya dan setelah pohon itu menjadi arang, mereka menumbuknya menjadi serbuk. Setelah berhari-hari bekerja, puluhan gunungan serbuk hitam terlihat di sekeliling telaga, siap untuk ditaburkan. Mereka mulai memasukkan serbuk-serbuk hitam itu pada pagi hari. Warna telaga perlahan menghitam oleh saking banyaknya serbuk hitam yang larut di dalamnya. Pekerjaan itu selesai tepat pada saat matahari mulai redup di langit barat. Menunggu dengan gemetar apa yang akan terjadi setelahnya.
Memang, warna telaga mendadak keemasan, tapi bukan terang keemasan seperti yang mereka lihat sebelumnya. Memang, bulatan bulan muncul dari tengah-tengah telaga, mengapung perlahan ke angkasa, tapi warnanya tidak seperti warna terang keemasan yang mereka lihat sebelumnya. Warna bulan hitam pucat, meski bulatannya masih cukup terlihat. Malam itu, jauh lebih gelap dari malam-malam yang pernah mereka rasakan sebelumnya. Ketiga orang pencuri itu bersorak berrangkulan tangan. Mereka berhasil membuat bulan berwarna gelap. Bulatan gelap bulan perlahan mengambang ke angkasa, entah untuk waktu berapa lama sebelum inti terang bulan perlahan semakin terang.
Malam itu, penduduk kota di mana bulan selalu purnama akan mencatat dalam sejarah kota mereka bahwa tiba-tiba pada suatu malam, bulan bersinar redup, bahkan hampir tidak bisa dinikmati sinarnya. Malam itu, mereka akan mencatat bahwa mereka mengalami malam yang paling gelap dalam sejarah hidup mereka. Tapi malam itu, mereka juga akan mencatat, untuk pertama kalinya, mereka melihat ribuan gemintang yang berkerlip dengan sangat indah di kegelapan langit malam. Gemintang yang akan mereka rindukan karena malam-malam berikutnya, bulan kembali bersinar terang seperti biasanya. Terang yang lama kelamaan membuat mereka jenuh, karena mereka tahu, di balik terang itu, tersembunyi keindahan lain.
Nuraeni berkata
tak ada benda yang indah selain benda ciptaan -NYA…:D