Jendela Laut Allea
Ditulis oleh jalaindra di/pada November 5, 2009
Di atas tempat tidurnya yang lembut dan empuk Allea mengerjap-kerjapkan matanya memandang langit-langit kamar yang putih bersih tanpa cicak tanpa sarang laba-laba. Selimut lembut dan empuk membebat tubuhnya dari dada sampai ke ujung kaki, sementara rambut panjangnya terurai acak-acakan di atas bantal putih yang sarung bantalnya selalu diganti setiap seminggu sekali. Allea tidak tahu kenapa ia memandang langit-langit. Yang ia tahu, hanya itulah tempat pertama yang dilihatnya ketika terbangun dari tidurnya. Entah tidur siang, sore ataupun malam. Ia tidak tahu, apa yang ingin ia pandangi di langit-langit yang sepi itu.
Tempat kedua yang selalu ia pandangi adalah laut. Ya, laut yang terbingkai di jendela kamarnya. Lama ia terpekur di samping jendela kamarnya yang tepat mengarah ke laut. Kamar apartemennya yang berada sepuluh lantai dari permukaan tanah dengan jendela yang tepat menghadap ke laut, memudahkannya untuk memandangi luasan laut dengan lalu lalang kapal feri dari satu seberang ke seberang yang lain. Ia juga tidak tahu apa yang ingin dilihatnya di luasan laut itu. Yang ia tahu, ia suka memandangi laut dari jendela kamarnya. Gedung-gedung tinggi di daratan seberang samar tertutup di balik kabut tipis.
Setiap pagi ia berharap ada seseorang yang mengetuk-ketuk jendela kamarnya. Seseorang yang mungkin seperti Peter Pan melayang-layang di udara mengetuk jendela kamar Wendy dan mengajaknya ke Neverland. Allea sering membayangkan Neverland, bukan hanya karena ia selalu berharap bisa sejenak melepaskan semua rutinitas pekerjaan sehari-harinya, tapi juga ia ingin melupakan siapa dirinya sekarang dan menjadi hanya seorang gadis kecil yang ingin bermain, tertawa dan merasakan jatuh cinta.
Jatuh cinta. Mungkin sangat aneh kedengarannya. Untuk seorang gadis muda cukup usia dan karir seperti Allea belum pernah merasakan jatuh cinta. Sebenar-benar jatuh cinta. Atau setidaknya, yang diyakininya sebagai jatuh cinta. Selama ini memang tidak sedikit teman laki-lakinya, teman kantornya yang menaruh hati dan mengutarakan rasanya kepadanya bahkan berniat menjadikannya istri. Namun karena ia tidak merasakan jatuh cinta kepada orang-orang itu, ia pun selalu menolak mereka dan menjalani hidupnya sendiri.
Sendirian di kamarnya, hal yang selalu menghiburnya adalah buku-buku. Di sebuah ruangan lain berdiri satu rak dengan jajaran buku koleksinya. Mulai dari buku-buku pengantar manajemen sampai novel pengarang nobelis sastra. Ia tidak bisa memejamkan mata menjelang tidurnya sebelum membaca beberapa kalimat terlebih dulu dari buku-buku. Ia sangat menyukai dongeng. Ia berharap, kelak seseorang yang kepadanya ia akan jatuh cinta bersedia membacakan dongeng kepadanya setiap malam menjelang tidur. Di dalam dongeng ia seperti menemukan kebebasan. Dalam dongeng ia selalu menemukan banyak kemungkinan dan penyelesaian yang akhirnya membawa sang tokoh dalam akhir yang bahagia.
Kebahagiaan yang selama ini dirasakannya di dalam kamar itu, di kota itu, ia rasakan semu. Ia memiliki segalanya, ia bisa mendapatkan segala yang ia ingini, segala yang ia maui. Ia memiliki lebih dari cukup uang untuk membawanya ke tempat manapun yang ia ingini, kecuali Neverland tentu saja. Tapi dengan semua itu ia justru tidak merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Allea membayangkan apakah Adam dan Hawa di surga dahulu merasakan bahagia, ketika segala sesuatu yang ia inginkan bisa dipenuhi oleh Tuhan. Adam dan Hawa tinggal memintanya, dan Tuhan akan mengabulkan. Sepertinya halnya dirinya, ia tinggal meminta. Kecuali buah Khuldi, bagi adam. Dan Allea menginginkan buah Khuldi itu. Tapi entah, ia tidak menemukannya. Belum menemukannya. Setidaknya, seperti dalam dongeng, kemungkinan apapun bisa saja terjadi.
Peristiwanya terjadi di suatu pagi. Seperti pagi-pagi sebelumnya, di atas tempat tidurnya yang lembut dan empuk Allea mengerjap-kerjapkan matanya memandang langit-langit kamar yang putih bersih tanpa cicak tanpa sarang laba-laba. Lalu ia memandang laut yang terbingkai dari jendela kamarnya. Butir-butir embun yang hinggap di kaca jendela membuat laut tampak kabur. Ia bangkit dari tempat tidurnya, membuka jendela dan duduk terpekur merasakan hembus dingin udara pagi yang seketika menerpa wajahnya. Laut masih seperti biasanya. Desah ombak terdengar pelan dan berulang-ulang meningkahi desah nafasnya sendiri. Tapi ada sesuatu yang aneh. Suara desah ombak itu semakin keras terdengar hingga seolah lidah ombak menjilat-jilat di luar jendela kamar. Pun ia merasakan percik-percik airnya membasahi wajahnya. Semakin lama ia semakin merasakan bahwa laut telah memasuki kamarnya atau kamarnya telah memasuki laut. Tapi entah, ia tidak merasakan ketakutan.
Ketakutan yang selalu menghantuinya adalah kebahagiaan yang selama ini dirasakannya, atau setidaknya, kebahagiaan yang disangkakan orang kepadanya. Karena orang menganggap seluruh kebutuhan hidpnya telah tercukupi, maka ia seharusnya bahagia. Ia takut, ia harus selalu menyembunyikan kegelisahannya dari orang-orang, bahkan dari dirinya sendiri. Tapi pagi itu, ia merasakan kebahagiaan yang berbeda. Laut memenuhi seisi kamar. Ia berenang dan menyelam. Meskipun selama ini ia sering berenang dan menyelam di kolam renang di bawah apartemennya, ia tetap merasakan sesuatu yang berbeda. Bisa jadi karena ia berenang di dalam kamar, bisa jadi karena ia berenang di dalam laut. Ya, laut, bukan kolam.
Di kedalaman laut itu ia menyelam ke sana kemari. Apa yang ia lihat di dalam kamar seperti biasanya, kini telah menghilang. Tidak ada tempat tidur, selimut dan bantal, tidak ada meja-meja, laptop dan setumpuk data penjualan yang harus ia laporkan kepada atasan. Hanya ada laut. Hanya ada biru. Hanya ada gelembung-gelembung udara yang keluar dari mulut dan hidungnya. Anehnya, ia tidak merasakan sesak nafas, seolah telah tumbuh insang dengan tiba-tiba di balik telinganya. Sejujurnya, ia mengkhawatirkan buku-buku yang tersimpan di kamar sebelah. Pasti buku-buku itu telah basah. Allea berenang kesana kemari seolah kakinya telah menjelma sirip. Namun, matanya masih cukup sadar untuk melihat bahwa baju yang dikenakannya masih baju tidur yang selalu ia pakai, baju bergambar tokoh kartun Winnie The Pooh dengan tulisan Sweet Honey di bagian dadanya.
Dadanya diliputi perasaan lega, ringan dan damai yang selama ini belum pernah Allea rasakan. Matanya memandang ke bekas langit-langit kamarnya. Ada sesuatu yang membayang terang di sana, seperti ketika kau melihat matahari dari kedalaman laut. Ia menekankan kakinya untuk berenang ke atas dan tiba-tiba ia menyembul ke permukaan laut. Ya, laut. Betul-betul laut. Ia menebarkan pandangannya ke seluruh penjuru mata angin yang dilihatnya hanya air laut. Garis cakrawala membentang di kejauhan mempertemukan garis laut dan garis langit. Cericit camar sesekali terdengar. Allea mengambang di suatu tempat entah di mana di tengah entah laut apa. Meski kelihatannya menakutkan –bayangkan, tiba-tiba kau mengapung di tengah samudera, tak kau lihat siapapun, tak kau lihat setitikpun daratan di sejauh pandanganmu- tapi ia menikmatinya. Jika pun ada ketakutan dan kekhawatiran, Allea menikmati ketakutan dan kekhawatiran itu, karena bagaimanapun, ia belum pernah merasakannya. Ia ingin merasakannya lebih lama lagi, sebelum ia akhirnya terbangun dan harus menjalani rutinitas pekerjaannya. Allea tahu apa yang dialaminya hanya mimpi.
Mimpi itu berulang keesokan harinya. Setelah terapung di tengah laut entah di mana, di kejauhan Allea melihat sebuah pulau kecil dengan sebuah pohon kelapa di tengahnya, persis seperti sebuah foto wallpaper di laptopnya. Ia berenang menuju ke pulau itu. Di sana ia disambut oleh dua orang bocah laki-laki bertelanjang dada berkulit coklat terbakar matahari. Kedua bocah itu masing-masing menggandeng tangan Allea dan mengajaknya berlarian mengelilingi pulau.
“Siapakah kalian? Kenapa kalian ada di pulau ini?” tanya Allea. Kedua bocah itu menjawab hampir bersamaan. “Kami ada di sini, karena kami tahu kau akan ke pulau ini. Kami adalah anak-anak yang kelak akan kau lahirkan dari rahimmu.”
Allea terkejut, lalu tersenyum menatap wajah kedua bocah itu bergantian. Ia sadar suatu ketika ia akan menjadi ibu. Ia sadar suatu ketika rahimnya akan mengandung benih kehidupan. Namun, ia tidak tahu, siapakah yang akan menjadi ayah dari kedua bocah itu. Setidaknya, ia belum tahu. Perasaan bahagia meluap-luap di dada Allea. Ia selalu mendambakan kelak memiliki anak kembar. Setidaknya, dalam mimpi, hal itu pernah terwujud. Allea tergoda untuk menanyakan kepada kedua bocah itu tentang siapakah ayah mereka. Kedua bocah itu mendadak berhenti berlari. Serentak keduanya menunjuk ke satu arah. Di arah itu, matahari baru naik sepenggalah. Tak ada siapa-siapa, hanya ada matahari yang bersinar cerah.
***
Di atas tempat tidurnya yang lembut dan empuk Allea mengerjap-kerjapkan matanya memandang langit-langit kamar yang putih bersih tanpa cicak tanpa sarang laba-laba. Itulah tempat pertama yang selalu ia pandangi lama sesaat setelah ia membuka mata di pagi hari. Tempat kedua yang selalu ia pandangi adalah laut yang terbingkai di jendela kamarnya. Sesaat setelah memandangi laut dan menghirup udara segarnya, ia melangkah keluar kamar menuju teras belakang. Di kejauhan, semburat cahaya jingga keemasan melukis cakrawala timur. Bercak-bercak jingganya memantul di dinding gedung-gedung. Matahari perlahan muncul.
“Selamat pagi, matahari. Aku akan menunggumu membawakan matahariku,” bisiknya pelan.
Jatinangor, 5 November 2009





michelle berkata
I love the picture