J A L A I N D R A

jejaring peristiwa – jejaring kata – jejaring imagi – jejaring diri

  • ADI TOHA

    mail : jalaindra@yahoo.com






    PageRank Checking Icon
  • Links For Rent

  • ARSIP

  • RUMAH SINGGAH

  • KUNJUNGAN

    • 56,717 Tamu telah Mabok Di Blog Ini
  • MisCellaNeous

    Click to view my Personality Profile page


    . . .
  • RSS Related Websites

[Refleksi] Laron

Ditulis oleh jalaindra di/pada Oktober 18, 2009

Berawal dari obrolan ringan di sebuah sore berteman segelas kopi di Ngeumong Cafe Library, tentang laron, saya jadi teringat sebuah puisi pendek yang pernah saya tulis tentang Laron atau Siraru dalam basa sundanya.

Siraru

iring-iringan di mulut lubang
melepas kepergian prajurit ke medan perang
empat sayap rapuh menjadi senjata
terbang memburu cahaya

Ya, laron. Kebanyakan mungkin hanya melihat laron ketika mereka beterbangan di malam hari musim hujan mengerumuni cahaya. Pernahkah kalian melihat bagaimana laron-laron keluar dari lubang-lubang di dalam tanah? Terutama ketika pagi selepas hujan semalam sebelumnya? Ya, dari lubang-lubang basah di dalam tanah, laron-laron itu keluar, diiringi atau dikawal oleh berpuluh-puluh rayap kepala putih dan rayap kepala merah. Satu persatu laron-laron itu muncul, mengembangkan sayap dan terbang.

Saya jadi teringat masa-masa kecil di desa. Pagi buta awal musim hujan ketika membuka pintu rumah dan melihat laron-laron beterbangan, adalah sebuah perayaan tersendiri. Udara pagi yang basah dan segar, dipadu dengan burung-burung  dan kelelawar yang terbang rendah menyambar laron-laron, adalah sebuah pemandangan yang menyenangkan. Seketika saya mengambil plastik dan bergegas ke kuburan kecil di belakang rumah, dari sanalah, dari beberapa lubang di bawah rimbun pohon bambu, laron-laron itu keluar. Jadi saya tidak perlu bersusah payah untuk menangkap laron-laron yang beterbangan, cukup duduk jongkok menunggui lubang-lubang itu, dan langsung menangkap laron-laron yang baru beberapa detik menikmati cahaya itu sebelum mereka terbang. Tentu saja, kadang ujung jari diserang oleh prajurit pengiring keluarnya laron-laron itu, mereka berujud rayap kepala dengan kepala merah besar yang mengigit dengan capit besar di kepalanya. Dalam bahasa kampung, mahluk itu dernama Gonteng. Gigitan gonteng cukup menyakitkan.

Cukup jahat memang. Laron-laron itu telah bersusah payah hidup dalam kegelapan tanah, dan ketika melihat cahaya, bahkan belum sempat mencoba menggerakkan sayap rapuh mereka, nasib mereka langsung berakhir terperangkap di dalam plastik dan selanjutnya menjadi pakan ayam atau umpan memancing. Tetapi, mereka yang lolos dari tangkapan dan berhasil terbang pun nasibnya tidak akan lama. Mereka akan menjadi makanan burung-burung Sriti dan kelelawar kesiangan. Saya jadi berpikir, iring-iringan rayap yang menyertai keluarnya laron-laron dari lubang-lubang di permukaan tanah, apakah itu iring-iringan merayakan kelahiran ataukah perayaan kematian? Apakah laron-laron itu tahu, sesaat setelah mereka keluar dari kedalaman tanah, mereka harus berjuang mempertahankan hidup, dari tangan-tangan manusia seperti saya, dari paruh-paruh ayam, dari paruh burung-burung, dan dari mulut-mulut cicak dan kadal? Apakah mereka tahu, setelah mereka melihat cahaya, dalam sekejap, mungkin paling lama satu hari, mereka akan kembali menemui kegelapan total: kematian?

Iring-iringan di mulut lubang itu adalah perayaan kelahiran sekaligus kematian bagi laron-laron. Barangkali mereka telah tahu, sesaat setelah mereka menikmati cahaya, waktu hidup mereka tidak akan lama. Seperti iring-iringan prajurit ke medan perang yang tak ada harapan untuk menang. Tetapi mereka tetap berani maju ke medan perang. Setahu saya, saya tidak pernah melihat seekor laron yang ketika telah keluar dari lubang, mengepakkan sayap sejenak, lalu mereka msuk lagi ke dalam lubang. Sekali keluar dari lubang, mereka telah siap menghadapi kematian.

Ya, laron. Masa hidupnya hanya singkat. Dari dalam kegelapan tanah mereka bertapa, dan menjemput maut seketika, sesaat setelah mereka menikmati apa yang menjadi tujuan hidupnya: cahaya. Mungkin, satu-satunya harapan mereka adalah bisa menikmati cahaya lebih lama, dan bermain-main dengan keempat sayap rapuh mereka, sebelum akhirnya satu-persatu sayapnya rapuh dan luruh.

Seperti itukah kita? Seperti laron. Hidup untuk menjemput maut seketika? Mungkin saat ini kita sedang bermain-main dengan sayap-sayap rapuh kita, bermain-main dengan cahaya, dan berharap kita bisa bermain lebih lama? Kita yang dilahirkan dengan iring-iringan tangis dan harapan orang-orang terdekat kita, kita yang telah lama bertapa di kegelapan rahim ibunda, seperti laron yang bertapa di kegelapan tanah. Dan ketika terlahir, kita begitu rapuh. Mungkin laron justru lebih hebat dari kita, begitu keluar dari dalam tanah, mereka sempat mengembangkan sayap mereka, tapi kita? hanya bisa menangis. Ya, kita lebih rapuh daripada laron.

Ya, laron. Laron-laron itu tengah bermain dengan cahaya, bermain dengan sayap-sayap rapuhnya, menunggu maut menjemput. Jika beruntung, mereka bisa bertahan hingga malam, menikmati cahaya lampu di teras-teras rumah, di pinggir-pinggir jalan, di dalam kamar. Itupun mereka harus berjuang melawan cicak-cicak dan tokek-tokek di dinding ketika mereka istirahat dan hinggap. Dan mereka harus melawan kelelawar ketika mereka terbang. Ya, mungkin kita lah laron yang tengah bermain-main dengan sayap rapuh kita, mencumbui cahaya, cahaya kehidupan kita.

Seperti laron, seperti kita…

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>