Percakapan Sederhana Suatu Ketika Tentang Hujan
Ditulis oleh jalaindra di/pada Oktober 9, 2009
Sore saat lelah mencapai puncakmu, kau membuka korden ruang kerjamu, termenung membayangkan saat itu kau tengah duduk di samping orang yang sangat kau cintai, bersama-sama memandang hujan, hujan yang tetes demi tetes airnya seperti cinta yang setiap saat menetesi hati dengan kerinduan. Seperti katamu, kau sangat hujan, hujan memiliki bahasa yang sangat indah, halus, diiringi dengan ritme yang teratur dan berulang.
Seperti rindu, seperti hujan, seperti cintaku kepadamu, ada bahasa yang tak bisa diwakilkan oleh kata, halus, indah, berulang dan tak lelah membasahi tanah, mengalirkan titik-titik airnya, menyatu bermuara di dasar hatimu. Hujan yang tercipta karena tetes demi tetes itu menyatu, seperti halnya cinta yang keping demi kepingnya menyatu menjadi sebentuk ruang bahagia.
Dan kau katakan, “cinta, rindu, cemas, aku menemukan arti semua itu di dirimu, kak.” Seperti halnya yang aku temukan di dirimu, kejora. Aku yakin akan ada saat di mana kita bersama, saling bergenggam tangan, memandang hujan, menyatukan cinta kita.
“Aku pernah merindukanmu, mencemaskanmu melebihi segala yang kau tahu, dan dari sana aku menemukan cinta yang begitu dalam tertanam di lubuk hatiku padamu. Aku pernah menangis karena merindukanmu, aku pernah menangis karena mencemaskanmu, tapi aku tersenyum saat aku tahu, kau ada di hatiku.”
Kau tahu, akupun pernah merasakan yang sama saat merindukanmu, saat mencemaskanmu. Kadang aku tak kuasa menahan air mata mengalirkan kerinduan dan kecemasanku memikirkanmu. Dan aku pun tersenyum saat aku sapa hatiku, dan kau ada di sana, tulus mencintaiku. Aku mencintaimu, setiap saat berharap ada di sampingmu.
Hujan belum juga berhenti, sengaja kau tak menutup korden jendela, hingga kau bisa mendengar dengan jelas suara hujan. Apakah kau juga mendengar bisikan rindu dan cintaku di sana, kejora?
Dan kita berharap hujan akan mengiringi pertemuan kita nanti, semoga hujan bermurah hati dan saat itu ia akan menyatukan kita.
Seperti hujan, seperti rindu, seperti cintaku kepadamu.
…
“Dan hujan benar-benar mengiringi pertemuan kita, meski kita hanya bisa memandanginya dari balik kaca jendela mobil yang terus melaju di sepanjang jalan itu, namun hembus dinginnya hangat menyusup ke dalam hati kita.. yang satu. Kita benar-benar saling bergenggam tangan, menatap hujan yang sama…”




