J A L A I N D R A

jejaring peristiwa – jejaring kata – jejaring imagi – jejaring diri

  • ADI TOHA

    mail : jalaindra@yahoo.com






    PageRank Checking Icon
  • Links For Rent

  • ARSIP

  • RUMAH SINGGAH

  • KUNJUNGAN

    • 56,254 Tamu telah Mabok Di Blog Ini
  • MisCellaNeous

    Click to view my Personality Profile page


    . . .
  • RSS Related Websites

Matahari Untuk Kekasihku

Ditulis oleh jalaindra di/pada Juli 2, 2009

1087ed70-e277-45be-ac98-4526bdb756e7Allea, jika suatu saat kau terbangun di pagi hari dan mendapati di atas langit-langit kamarmu tergantung sebuah bola bundar berkilauan dengan cahayanya yang terang namun hangat, seperti terang dan hangat yang kau rasakan saat matahari mulai terbit, jangan heran. Aku telah menggantungkan matahari di langit-langit kamarmu diam-diam di saat kau terlelap.

Aku selalu ingat saat kau mengatakan kecemburuanmu kepada Alina dan Liana. Alina telah mendapatkan hadiah dari kekasihnya sepotong senja seukuran kartu pos dan Liana mendapatkan dari kekasihnya selimut jingga senja. Lalu kau bertanya kepadaku apa yang telah dan akan aku berikan kepadamu. Aku selalu mengingatnya, Allea. Sejak itu, aku selalu mencari sesuatu yang bisa aku persembahkan untukmu sebagai hadiah terindah. Tentu saja aku tidak mau ikut-ikutan Seno mengerat senja seukuran kartu pos, juga tidak mau ikut-ikutan Jalaindra mencuri selimut jingga. Aku ingin sesuatu yang lebih megah dari keduanya.

Allea, juga jangan heran kenapa aku bisa masuk ke dalam kamarmu untuk menggantungkan lampu matahari itu tanpa membangunkan tidurmu. Bukankah kau telah menitipkan kuncimu kepadaku? Kunci satu-satunya milikmu yang kautitipkan kepada seseorang yang kepadanya kau mencintai dengan sepenuh, kepadaku. Malam itu aku akan diam-diam membuka pintu kamarmu, mengendap-endap agar tidak mengganggu tidurmu. Di dalam tasku, bulatan bercahaya sebesar bola voli yang menjadi tujuan perjalananku beberapa bulan yang telah lalu. Maafkan aku, Allea. Aku meninggalkanmu tanpa berpamitan, sehingga aku yakin kau cemas mencariku dan kehilanganku.

Ya, bulatan sebesar bola voli itulah matahari untukmu. Kau tahu dari mana aku mendapatkannya, Allea? Ah, ceritanya cukup panjang. Kuharap kau mau mendengarnya, atau setidaknya, kau mau membaca kisah yang akan kutuliskan setelah ini. Mungkin tidak mudah untuk menggantungkan bulatan bercahaya itu di langit-langit kamarmu. Benda itu cukup ringan, mungkin, tak lebih berat dari berat lampu kamarmu. Tidak seperti menggantungkan balon-balon yang pernah kugantungkan saat menghias langit kamarmu sewaktu kau berulang tahun, pada bulatan bercahaya itu aku tidak menemukan pangkal yang bisa aku lilitkan benang atau tali. Permukaan matahari itu halus, lembut dan terasa hangat. Juga pastinya tidak seperti menempelkan gambar-gambar glow-in-the-dark berbentuk benda-benda langit di sekeliling tembok dan langit-langit kamarmu. Bulatan cahaya itu tidak bisa menempel ke tembok atau langit-langit sama sekali. Aku pernah mencoba menggantungkannya di langit-langit mushola tempatku singgah.

Allea, kau pernah mendengar tentang negeri seribu matahari? Ah, tentu saja kau tidak pernah mendengarnya selain dariku lewat surat ini. Aku pun tidak akan pernah mendengarnya jika aku tidak bertemu dengan orang tua itu di suatu waktu perjalananku. Baiklah, aku ceritakan terlebih dulu tentangnya. Orang tua itu secara kasat mata tidak begitu berbeda dengan sewajarnya orang tua kebanyakan, hanya mungkin pakaiannya saja dan apa yang di kemudian hari ia ceritakan padaku. Saat aku bertemu dengannya, ia mengenakan pakaian adat jawa kuno, seperti seorang abdi dalem kerajaan. Ia tengah membawa sebuah buntelan yang dipanggul dengan sebatang kayu. Sekilas memang aneh kelihatannya, ia seperti orang tua yang datang dari masa lalu dan tengah tersesat di masa kini. Ia muncul begitu saja di jalanku, entah dari mana.

“Nak, mau kemana?”  tanyanya tiba-tiba, nada suaranya ramah dan tenang.

“Saya sendiri tidak tahu mau kemana, Ki. Saya tengah mencari sesuatu untuk saya persembahkan kepada kekasih saya,” jawabku.

“Oooh. Aki mau ke Timur, Nak. Kalau kau mau, ikut Aki ke Timur, mungkin di sana kau akan menemukan apa yang kau cari.”

Aku tak kuasa untuk menolak ajakannya. Meski aku tak tahu apa yang aku cari, aku mengikutinya. Perkataan orang tua itu seolah menyiratkan kepercayaan bahwa aku akan menemukan apa yang aku cari di Timur, di arah tujuan orang tua itu.

“Kenapa Aki mau ke Timur?” aku memberanikan diri bertanya.

Aki itu tersenyum lalu mengucapkan satu kalimat yang baru di kemudian hari aku tahu maksudnya. “Timur adalah arah di mana matahari terbit”.

Berhari-hari kami berjalan, berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain, dari satu kota ke kota lain, hutan ke hutan, gunung ke gunung, sungai ke sungai, menuju ke Timur. Sepanjang waktu kami hanya berjalan tanpa bicara. Orang tua itu selalu membalas dengan senyuman setiap kali aku bertanya kepadanya. Senyuman yang anehnya membuatku puas dan tidak bertanya lagi. Entah kekuatan apa yang mengikatku untuk terus mengikuti orang tua itu. Kadang aku berpikir bahwa dengan mengikuti orang tua itu tanpa tujuan hanyalah buang-buang waktu saja, membuat aku semakin jauh dari tujuan perjalananku semula untuk mencari persembahan terbaik untukmu. Namun senyuman tenangnya selalu meyakinkanku.

Baru pada malam ke dua puluh dua orang tua itu berbicara. Waktu itu kami tengah bermalam di sebuah mushola desa. Malam itu bulan tengah purnama, seperti bola lampu tergantung di atap langit. Aku tergoda untuk mengambil bulan itu saja sebagai persembahan untukmu. Aku keluar dari mushola dan meraih bulan yang setelah berada dalam genggamanku, ternyata tak lebih besar dari bola voli. Kedua tanganku telah menyentuhnya, meraba-raba permukaannya yang terang. Aku yakin di luar sana, orang-orang terkejut kenapa tiba-tiba bulan menghilang. Aku tinggal mengambil bulan itu dan memasukkannya ke dalam tasku. Tapi orang tua menggelengkan kepalanya dan tersenyum ke arahku, menanda bahwa aku tidak boleh mengambilnya. Lalu kekembalikan bulan ke tempatnya semula. Ada sedikit rasa kecewa.

Lalu aku menghampiri orang tua itu yang tengah duduk di beranda mushola dan duduk di sebelahnya, mata kami memandang bulan. “Nak, kau pernah mendengar tentang negeri seribu matahari?” tiba-tiba ia bertanya tanpa menoleh ke arahku. “Belum, Ki,” jawabku. “Apakah negeri seperti itu benar-benar ada?” aku bertanya.

Lalu mulailah orang tua itu bercerita tentang negeri seribu matahari, Allea. Kau tahu, mulanya aku ragu apakah negeri itu benar-benar ada. Mulanya aku berpikir negeri itu hanyalah khayalan orang tua itu menjelang masa kematiannya. Tapi, setelah berminggu-minggu melakukan perjalanan bersama orang tua itu baru lah aku tahu bahwa semua negeri adalah negeri seribu matahari, termasuk negeri kita, Allea. Ya, tentu saja, karena matahari yang kita lihat di negeri kita juga adalah matahari milik negeri lain. Namun, ada hal lain yang baru aku tahu dari orang tua itu, bahwa matahari yang kita lihat hari ini, bukanlah matahari yang kita lihat kemarin hari. Masing-masing hari memiliki mataharinya sendiri, itulah mengapa orang tua itu menyebut, setiap negeri adalah negeri seribu matahari. Tidak banyak yang mengetahui ini, Allea. Itulah mengapa, mereka menganggap setiap hari adalah sama, karena mataharinya yang sama. Orang tua itu bercerita, bahwa di ujung dunia, matahari-matahari itu dilahirkan. Ia tengah menuntunku ke sana.

Aku masih belum begitu mengerti dengan semua yang dikatakan oleh orang tua itu. Hingga pada suatu hari, perjalanan kami sampai di ujung dunia. Ya, ujung dunia, Allea. Kau pasti tidak akan percaya bahwa kekasihmu ini telah berjalan sampai ke ujung dunia untuk mencari persembahan terbaik untukmu. Kau tahu, Allea, ternyata ujung dunia itu hanyalah sebuah pohon besar, suangat besar yang berdiri kokoh di tepi sebuah jurang yang tak berdasar. Kami sampai di tempat itu tepat saat matahari hari itu akan terbit. Dari kejauhan, aku melihat sekujur pohon besar itu, dedaunnya, reratingnya, cecabangnya mulanya berkilauan jingga keemasan. Lalu perlahan-lahan kilau itu mengumpul di pucuk pohon, membulat sebesar bola voli, dan muncullah matahari! Ya, matahari! Bisa disimpulkan bahwa pohon besar itu adalah penghasil matahari!

Lelaki tua itu tersenyum senang melihat keherananku. Lalu kami melangkah dengan cepat mendekati pohon besar itu dan beristirahat di bawah rindangnya. Semalam sebelumnya kami tidak beristirahat seperti biasanya. Matahari telah membumbung tinggi ke angkasa. Mataku mendongak melihat ke atas pohon, cabang-cabangnya, ranting-rantingnya. Dalam hatiku berkecamuk perasaan bahagia yang tidak terlukiskan. Akhirnya aku menemukan sesuatu yang bisa aku persembahkan untukmu, Allea.

Aku menoleh ke arah orang tua bermaksud menanyakan pendapatnya. Aku yakin ia tahu apa yang aku pikirkan. Tapi sungguh aneh. Orang tua itu tidak ada di tenpatnya semula. Kau tahu, Allea, tiba-tiba aku dilanda kesedihan dan kesendirian yang sangat. Ia telah menemani perjalananku sampai ke ujung dunia, hanya untuk meninggalkanku sesaat setelah aku sampai. Aku merasa ditinggalkan. Aku merasa dilupakan. Aku merasakan kesepian seketika.

Seharian itu aku duduk-duduk di bawah pohon matahari. Kadang aku berjalan memutari pangkal pohon beberapa kali dan duduk kembali termangu. Aku tak tahu harus berbuat apa. Kembali aku mendongak memandang ke atas pohon memperhatikan cabang-cabangnya. Aku teringat masa kecilku dulu di desa. Hampir semua pohon besar di desa pernah aku naiki. Sejenak aku ragu apakah aku bisa menaiki pohon sebesar itu. Lenganku tak cukup untuk memeluk lingkar batang pohon itu. Aku mencari cara agar aku bisa naik ke atas pohon. Beruntung ada satu pucuk dahan yang menjuntai agak ke bawah. Aku segera meraihnya dan dengan perlahan bergelantungan, menaikkan salah satu kaki ke dahan yang besar, dan melompat dari satu cabang ke cabang lain sampai aku menemukan cabang besar yang cukup nyaman untuk aku duduk. Di sana aku kembali melanjutkan lamunanmu.

Kau tahu, Allea. Di atas pohon itu aku merasakan kesepian yang teramat sangat. Jauh dari darimu, jauh dari siapapun. Tidak ada yang menemaniku, selain bayanganmu. Tidak ada yang menghiburku, selain rasa bahagia karena aku telah menemukan sesuatu untuk kupersembahkan kepadamu. Namun kebahagiaan itu segera berganti dengan kebingunganku, dengan cara bagaimana aku bisa mengambil matahari esok hari? Sepanjang malam aku terus memikirkannya.

Saat malam telah semakin malam, aku segera bersiap-siap, naik ke cabang pohon yang paling tinggi, hingga kepalaku menyembul keluar dari pucuk pohon. Aku berdiam di sana sambil mencoba menjaga keseimbangan. Saat dedaunan dan sekujur pohon mulai berwarna jingga keemasan, aku tahu bahwa saatnya sebentar lagi akan tiba. Cahaya menyilaukan bermunculan di sekelilingku. Bahkan mungkin, jika aku bisa membelah tubuhku menjadi dua dan melihat satu tubuhku yang tengah berdiri diam di pucuk pohon itu, aku akan melihat tubuhku itu ikut mengeluarkan cahaya. Sayup aku mendengar suara alam yang meriah, seakan tengah merayakan kelahiran baru. Cahaya semakin berkilauan di sekelilingku.

Tiba-tiba hening. Seakan waktu berhenti. Detak jantungku berhenti. Perlahan aku melihat kilau dedauan di bagian bawah pohon mulai memudar, berlanjut ke bagian di atasnya dan seterusnya sampai kilaunya hanya di bagian pucuk pohon, di tempatku berada. Dan dari sana lah, perlahan kilau itu mengumpul menjadi bulatan cahaya sebesar bola voli tepat di atas kepalaku. Aku segera menangkapnya sebelum matahari hari itu membumbung tinggi. Aku kehilangan keseimbangan karena kedua tanganku menangkap bulatan cahaya itu. Dan aku terjatuh.

Allea, kau tidak perlu khawatir. Aku tidak terluka sama sekali. Aku baik-baik saja, bahkan sangat baik-baik saja. Bulatan cahaya itulah yang menyelamatkanku. Dengan kedua tangan memegangnya, tubuhku melayang ringan hingga aku tiba di atas tanah. Setelah sejenak aku mengagumi apa yang ada dalam tanganku, aku segera memasukkannya ke dalam tasku. Cahayanya meredup. Di atas langit, tiba-tiba mendung.

Allea, jika beberapa minggu kemarin kau mendapati suatu pagi yang mendung tanpa matahari, berarti saat itulah, di ujung dunia, aku telah menangkap matahari pagi itu dan memasukkannya ke dalam tasku sebagai persembahan untukmu. ]

Setelah matahari berada dalam tasku, aku bergegas menempuh perjalanan pulang menyusuri jalan semula. Aku mohon maaf, Allea, jika surat ini tiba lebih dulu sebelum matahari dariku kau terima. Aku tidak sabar untuk mengabarkan berita gembira ini kepadamu. Aku tahu mulanya kamu akan marah, karena aku pergi meninggalkanmu beberapa bulan tanpa berpamitan. Percayalah, aku akan segera kembali untuk menggantungkan matahariku di atas langit-langit kamarmu, sehingga setiap saat akan ada kehangatan yang menyelimutimu. Entah dengan cara apa aku menggantungkannya di atas langit-langit kamarmu. Jika tidak ada cara lain, mungkin aku saja yang akan setiap saat memegang matahari itu untukmu. Aku akan selalu berada bersamamu bersama matahariku yang kuberikan hanya untukmu. Aku akan selalu menemanimu karena aku tahu, aku lah Mataharimu.

Jatinangor, 020709

4 Tanggapan ke “Matahari Untuk Kekasihku”

  1. kejora berkata

    :D je t’aime

    “I-ya ov-lay ou yay”

  2. panah hujan berkata

    jet aim her?

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>