Sepasang Pejalan
Ditulis oleh jalaindra di/pada Juni 22, 2009
bukankah kita adalah sepasang pejalan
menggariskan peta-peta di tapak kaki kita
yang semakin aus digerus kerikil dan debu
sungai-sungai darah mengalir dari duri-duri
tertancap menanda setiap pemberhentian
dan pemberangkatan yang tak pernah usai
sepanjang tangis sepanjang doa dan dziikir
kita adalah sepasang pengelana di jalan ini
sepasang anak kecil mengejar kupu-kupu
meraih melompat di atas padang ilalang
lupa waktu lupa rumah lupa segala ingat
hingga sang Ibu memanggil hari telah senja
adakah senja memisah genggaman kita
menyerah pada kedalaman malam
kita pun tersesat meraba dalam pekat
nyalakan cinta menjadi pelita
masihkah kau menjaga api di hatimu
seperti aku menjaga mesiu di hatiku
kan kita ledakkan gelap sesak
menuju perayaan cahaya
bukankah kita adalah sepasang pelancong
dari satu negeri ke negeri satu kita singgahi
sejak semula kita telanjang
kenapa harus takut kehilangan?
pada akhirnya kita pun telanjang
kenapa harus menebalkan pakaian?
ya, kita adalah sepasang pengembara
saling meraba peta yang tertulis di kaki kita
mungkin peta kita tak sama
tapi sejak kita adalah sepasang penggembara
sejak jemari kita telah saling mengenggam mesra
sejak pandang kita telah satu titik yang sama
peta kita kan berujung di pemberhentian yang sama
jatinangor, 210609





panah hujan berkata
Tanpa Lea, kayaknya jadi sepi gini, ya?
kejora berkata
Lea???
ouwh siapa lagi tuch??
*nunjuk hidung sendiri :p
lain kali aku kan datang bersama sepasukan awan, biar kusuguhkan tarian dari langit tukmu cucuku, siapkan (anak) panah sama busurnya, kita panah hujan rame-rame
puisinya kurang dalem kak, jadi g pengen baca dua kali ah
Wandi thok berkata
Wew, tangga dw kiye mas, sepanjang jalan Weleri – Pekalongan
ajipangistu berkata
heeeee siapa tuuh…..yg lg jalan2