J A L A I N D R A

jejaring peristiwa – jejaring kata – jejaring imagi – jejaring diri

  • ADI TOHA

    mail : jalaindra@yahoo.com






    PageRank Checking Icon
  • Links For Rent

  • ARSIP

  • RUMAH SINGGAH

  • KUNJUNGAN

    • 56,254 Tamu telah Mabok Di Blog Ini
  • MisCellaNeous

    Click to view my Personality Profile page


    . . .
  • RSS Related Websites

Maria, Kenangan Cinta Pertama

Ditulis oleh jalaindra di/pada April 16, 2009

Judul     : Maria
Pengarang     : Vladimir Nabokov
Penerbit     : Serambi
Tahun     : I, Maret 2009
Tebal     : 205 halaman

Mahluk apakah yang bernama kenangan itu? Sehingga setiap kehadirannya bisa meruntuhkan jarak antara masa kini dan masa lalu. Kenangan hadir begitu kuatnya sehingga waktu yang seharusnya bergulir semakin membawa ke masa depan, malah seperti mengantar kembali ke masa lalu? Apalagi jika kenangan itu berhubungan dengan pengalaman cinta pertama di masa muda yang penuh romantisme dan begitu menakjubkan, yang didasari oleh cinta yang tulus dan penuh kelembutan. Itulah yang terjadi dengan Lev Glebovich Ganin, seorang imigran Rusia yang tinggal di sebuah pondokan kumuh di Berlin.

Pada suatu ketika Ganin terjebak dalam lift pondokannya yang rusak bersama seorang penyewa pondokan lainnya. Ganin mulai berkenalan dengan teman pondokannya itu yang bernama Aleksey Ivanovich Alfyorof; dan ia diperkenalkan dengan sebuah nama: Maria, istri Alfyorof yang akan datang ke pondokan itu beberapa hari lagi. Siapakah Maria bagi Ganin? Dari adegan awal saja, pengarang telah memberikan semacam pertanda bahwa Ganin dan Alfyorof telah dihubungkan oleh sebuah nama: Maria.

Ingatan Ganin tentang sebuah nama: Maria, semakin menjadi manakala Alfyorof menunjukkan foto istrinya kepada Ganin. Tanpa berkata sepatah katapun, Ganin meninggalkan kamar Alfyorof dan membanting pintu kamarnya sendiri tepat di depan muka Alfyorof setelah ia melihat foto-foto Maria yang ditunjukkan kepadanya. Ganin yang semula sangat periang dan sering melakukan “kehebohan” bagi seisi pondokan, berubah menjadi seorang pemurung yang tidak menyenangkan.

“Kini bagai ada sesuatu yang hilang dari dirinya, bahkan jalannya agak terbungkuk dan mengeluh pada Potyagin bahwa ia menderita insomnia –‘seperti seorang perempuan gelisah’.” (hal. 25)

Maria adalah cinta pertama Ganin yang telah lama hilang. Ingatan Ganin melayang pada sembilan tahun sebelumnya, pada musim panas 1925 saat ia baru saja sembuh dari penyakit tifus. Di sebuah desa kecil di Petersburg. Maria yang “Alis matanya yang indah dan selalu bergerak-gerak, keaslian yang menyiratkan kehangatan, terutama di bagian pipinya; lubang hidungnya yang mengembang tiap kali ia bicara, tertawa-tawa kecil saat mengisap air dari batang rumput; gaya bicaranya cepat dan beraksen kental, dengan deru napasnya, dan lekukan lehernya yang menggetarkan.” (Hal 110), adalah masa lalu Ganin yang ia tinggalkan, bersama kepergiannya dari Rusia.

“Begitu terhanyutnya ia dalam kenangan masa lalu sampai-sampai ia tidak peduli pada waktu yang terus bergulir. Tubuhnya berada di pondokan Frau Dorn tetapi jiwanya berada di Rusia, hidup di dunia masa lalunya seolah semua itu nyata seperti dulu. Waktu yang terus menggelinding baginya malah seperti mengantarnya makin masuk ke dalam dunia masa lalunya, yang terkuak perlahan-lahan.” (Hal 107)

Sambil mengenang Maria, Ganin berharap Maria masih mencintainya. Kenangan dan harapannya ini membuat Ganin memutuskan untuk mengakhiri hubungan percintaannya dengan Lyudmila, kekasihnya semasa tinggal di Berlin. Ia bahkan berencana, sesaat setelah pertemuan kembali dengan kekasih masa lalunya itu, Ganin akan mengajak Maria kabur ke Perancis dan tinggal bersama, meninggalkan pondokan kumuhnya di Berlin, meninggalkan suami Maria.

Di pondokan yang bergaya Rusia dan dekat sekali dengan stasiun kereta api itu tinggal beberapa orang imigran Rusia. Selain Ganin dan Alfyorof, ada Potyagin, seorang penyair tua Rusia yang tengah menanti Passpor dan Visa untuk pergi ke Paris, Klara perempuan berdada montok yang diam-diam menaruh hati pada Ganin, dua orang penari balet: Kolin dan Gornotsvetov, dan tentu saja sang pemilik pondokan, Lydia Nikolaevna, janda seorang pebisnis Jerman, yang pelit dan merasa bangga bila berhasil menghemat sesuatu.

nabokov11

Vladimir Nabokov

Maria, adalah karya pertama Vladimir Nabokov, sastrawan kelahiran Rusia yang telah melahirkan karya termahsyur yang mengguncang dunia, Lolita, novel yang berkisah tentang pengakuan cinta seorang profesor paruh baya, Humbert Humbert, dengan seorang gadis kecil belasan tahun, Dolores Haze. Lolita lah yang melambungkan nama Vladimir Nabokov dalam jajaran penulis besar dunia. Ditulis dan diterbitkan pertama kali dalam bahasa Rusia dengan judul Mashen’ka novel ini menunjukkan banyak sisi dari pengalaman hidup Nabokov yang ia sisipkan dalam sosok Ganin. Masa remaja Ganin di St. Petersburg sama halnya dengan masa remaja Nabokov. Ganin yang tinggal di Berlin setelah meninggalkan Rusia sama halnya dengan Nabokov yang beremigrasi ke Berlin semasa revolusi Rusia. Pandangan Nabokov akan negeri kelahirannya itu tercermin dalam beberapa dialog tokoh-tokohnya.

“Begitulah seharusnya. Kita harus mencintai Rusia. Tanpa cinta dari para emigran seperti kita, cerita tentang Rusia akan tamat. Tak seorang pun yang tinggal di Rusia cinta pada Rusia.” (hal. 104). Itulah perkataan Potyagin. Meskipun ia berencana menghabiskan sisa hidupnya di Paris, ia tetap cinta Rusia. Berbeda dengan Alfyorof, yang mengatakan kepada Ganin perkataan: “berhentilah menjadi seorang Bolshevik. Boleh saja kau masih mengaguminya, tetapi sikapmu keliru, percayalah. Sudah saatnya kita mengakui bahwa Rusia sudah tamat, bahwa kaum “orang kudus”, kaum tani Rusia ternyata tidak lebih dari sampah masyarakat –tidak seperti yang diharapkan- dan negeri kita itu sudah tamat untuk selamanya.” (hal 54)

Meskipun karya pertama Nabokov ini terbilang pendek -hanya 205 halaman dalam terjemahan bahasa Indonesia- namun telah menunjukkan kemahiran Nabokov dalam mengolah kata untuk mengambarkan latar peristiwa dan menghidupkan karakter tokoh-tokohnya. Bagaimana ketika menuliskan situasi pondokan tempat tinggal Ganin, Nabokov selalu menyertakan dengung dan bising suara kereta api yang lewat di dekat pondokan, seakan kereta api tengah melintas menembus pondokan tersebut. Peralihan dari satu bab ke bab lain dalam bentuk flashback yang berulang-ulang, membawa pembaca untuk ikut mengenang Maria, lewat kenangan Ganin. Lewat serangkain kenangan itulah Nabokov menghidupkan sosok Maria.

Sebagai karya pertama dari seorang pengarang besar, Maria sangat layak dibaca, selain karena kemenarikan ceritanya itu sendiri, juga kita bisa belajar tentang bagaimana seorang pengarang besar dalam melahirkan karya pertamanya.  Dan fiksionalisasi dari pengalaman hidup, selalu menarik untuk dijadikan sebuah karya.

-Adi Toha-

2 Tanggapan ke “Maria, Kenangan Cinta Pertama”

  1. hanny berkata

    maria-nya nabokov mengingatkan saya pada olenka-nya budi darma :)

  2. kejora maya berkata

    Kenangan cinta pertama…???

    bagiku cinta pertama bukan kenangan, tapi cinta itu adalah engkau

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>