Melankolia: Sungai
Ditulis oleh jalaindra di/pada April 12, 2009
di sinilah waktu mengalir
menghanyutkan buih-buih sabun
bercampur kotoran dan air kencing
namun selalu ada ruang kosong yang bening
kita berendam bermain air
menepuk-tepuk permukaannya yang tenang mengalir
meraba-raba bebatuan kecil di dasarnya
dengan jemari kaki kita
di sinilah kita pernah tenggelam
di sinilah pula kita belajar berenang
menantang arus hidup
yang terus membawa kita ke muara
pernah kita membangun candi pasir di tepinya
pernah kita berlarian dan meloncat terjun dari tebingnya
menyelami kedalaman hidup
mencari bebatuan berkilau di dasarnya
sungai yang tak pernah mengeluh
tenang arusnya menggerus aral
diam, seperti waktu menghantarkan senja
dan kita harus pulang
kepada rumah, kepada ibu, kepadaNya
tempat segala berakhir dan bermula
sungai-sungai mengalir di dalam kita
sungai air mata, sungai darah
merahnya darah yang memerahi mata kita
kita terlalu lama menyelam
nafas kita tersengal
namun selalu kita ingin menyelam
dan menyelaminya lagi
kedalaman hidup
yang tak pernah kita temukan dasarnya
Pekalongan, 120409





rizalihadi berkata
Orang pekalongan ya om?? salam kenal. puisinya keren…
kejora berkata
…
Seperti sungai rindu yang mengalir spanjang pelupuk cinta kita
Kadang tenang hanyutkan cerita mengalir
Kadang mem-bah robohkan tanggul2 kesabaran yg kita bangun
Kadang terdiam bekukan aliran tanpa sapa
dan tak jarang sungai itu meluapkan berbagai rasa yg tak sempat kita beri nama
…selain kata kata yang padanya kita larutkan berton-ton rasa