The New Life, Orhan Pamuk – Sihir Sebuah Buku
Ditulis oleh jalaindra di/pada Maret 21, 2009
Judul Buku : The New Life, Kehidupan Baru
Pengarang : Orhan Pamuk
Penerjemah : Erwin Salim & Ratih Ramelan
Penerbit : Serambi, November 2008
Tebal : 469 halaman
“Suatu hari, aku membaca sebuah buku, dan seluruh kehidupanku pun berubah”. Itulah kalimat pembuka novel karya penerima penghargaan nobel sastra tahun 2006, Ferit Orhan Pamuk, yang berjudul The New Life, kehidupan baru. Novel ini terbit pertama kali di Turki dengan judul Yeni Hayat, pada tahun 1995 dan menjadi buku yang paling cepat terjual habis dalam sejarah Turki.
The New Life, dinarasikan oleh Osman, seorang mahasiswa teknik di Istanbul, yang suatu ketika melihat sebuah buku dalam genggaman seorang gadis cantik teman kuliahnya. Secara kebetulan, dalam perjalanan pulang, ia melihat buku itu dan membelinya di sebuah kaki lima. Kebetulan itulah yang akhirnya merubah seluruh kehidupan Osman. Sebuah kebetulan pula, jika gadis cantik yang bernama Janan itu telah memiliki kekasih yang bernama Mehmet, yang juga telah membaca dan telah melakukan perjalanan untuk mencari dunia dalam buku itu. Sebuah dunia dan perjalanan, yang menurut Mehmet akan sangat berbahaya, karena ada sekelompok orang yang akan meneroror bahkan membunuhnya hanya karena ia telah membaca buku itu.
Mehmet menghilang pada suatu hari. Janan pun menghilang. Terdorong oleh cintanya kepada Janan, dan obsesinya untuk mencari dunia baru dalam buku itu, Osman pun melakukan perjalanan acak dengan bus dalam waktu yang acak pula. Ia singgah di terminal hanya untuk pindah ke bus lain yang tak ia ketahui akan membawanya kemana. Perjalanan-perjalanannya kebanyakan berakhir dengan kecelakaan bus. Osman mengatakan kepada dirinya sendiri: “Si pengembara muda begitu bertekad untuk menemukan dunia antah berantah itu, sampai dia membiarkan dirinya diangkut tanpa henti di jalan yang akan membawanya ke tepi perbatasan.”
Dalam kecelakaan bus kesekian kalinya yang dialami Osman, akhirnya ia bertemu dengan Janan. Mereka kembali melanjutkan perjalanannya mencari Mehmet, sebuah perjalanan yang terkesan suram, absurd dan magis. Sebuah perjalanan untuk mencari kecelakaan, menuju dunia dan kehidupan baru, mengikuti jejak Mehmet yang telah melepaskan sama sekali masa lalunya dan benar-benar telah mencapai kehidupan barunya dalam buku itu berkat sebuah kecelakaan lalu lintas.
Sebuah kecelakaan bus membawa mereka ke kota Gudul, dan bertemu dengan Dokter Fine, pemimpin sebuah jaringan rahasia yang berusaha melawan pengaruh buruk buku itu, melawan kebudayaan asing, melawan barang-barang baru yang datang dari barat, dan perang habis-habisan melawan barang cetakan yang diproduksi secara massal. Dari Dokter Fine lah Osman mengetahui lebih banyak tentang buku berjudul “The New Life” yang telah mempesonanya sedekimian hebat, dan tentang adanya konspirasi besar yang dihembuskan oleh pihak-pihak asing untuk mempengaruhi pemikiran anak-anak muda Turki. Juga fakta tentang Mehmet.
Secara ringkas dan sederhana, novel ini berkisah tentang pencarian diri, perjalanan demi perjalanan untuk menyatukan kepingan teka-teki sebuah buku yang misterius, pembunuhan demi pembunuhan dan tentang cinta segitiga. Namun, jika ditilik lebih dalam lagi, novel ini ingin menunjukkan dialog antara Timur dan Barat, antara yang moderen dan yang konvensional dalam geliat kebudayaan Turki yang tengah bangkit untuk mencapai kesejajarannya dengan negara-negara Eropa.
Dalam setiap karyanya, Pamuk selalu membenturkan kebudayaan timur dan barat lewat labirin kisah dan identitas tokoh-tokohnya. Osman adalah potret anak muda yang gamang, bahkan cenderung frustasi, yang terpesona oleh sebuah dunia dan kehidupan baru yang ditemuinya dalam sebuah buku. Karena kecemburuannya terhadap Mehmet, ia rela melakukan pembunuhan demi pembunuhan. Sedangkan Dokter Fine adalah potret identitas lokal yang hendak mempertahankan kebudayaan lama yang konvensional, meskipun di satu sisi, ia menggunakan merek-merek arloji dari Barat untuk menyebut setiap agen yang ditugasinya untuk memata-matai anaknya yang juga terpengaruh oleh buku itu, hal itu semata-mata karena ketertarikannya akan waktu.
Selain mengikuti petualangan Osman dalam menelusuri setiap detil tentang buku itu, pembaca juga diajak mengikuti arus kesadaran Osman akan banyak hal yang dijumpainya selama perjalanan. Bahkan di beberapa bagian, Osman mengajak bicara secara langsung dengan pembacanya, seakan ia mengerti apa yang dipikirkan oleh pembacanya dalam mengikuti narasinya. Seperti misalnya: “Aku hampir dapat melihat pembacaku mengerutkan dahi dengan sedih, karena memahami bahwa aku sedang berusaha mencukupkan diri dengan apa yang tersisa dari malam-malam itu di dalam pikiranku, hatiku dan jiwaku. Pembaca yang sabar, pembaca yang bersimpati, pembaca yang peka, menangislah untukku jika dapat, tapi jangan kau lupa bahwa orang yang kau tangisi adalah seorang pembunuh.“(hal. 379)
Pamuk tidak mengungkapkan apa sebenarnya isi buku yang dimaksud, ia hanya menunjukkan kepingan-kepingannya lewat pemikiran dan pengalaman mereka yang telah membacanya serta beberapa kutipan dalam buku itu yang ternyata adalah kutipan dari buku-buku yang lain, di antaranya dari Ibnu Arabi, Rilke, Jules Verne dan Dante. Sampai baris terakhir pun, buku itu tetap menjadi misteri, dan pembaca dibiarkan mereka-reka sendiri. Bisa jadi buku itu adalah sebuah perlambang yang universal. Masing-masing pembaca bisa menafsir dan menentukan sendiri, sesuai dengan refleksi perjalanan hidupnya, buku apa yang dimaksud. Sebagaimana yang dituturkan oleh Osman: “Jadi seperti itulah, sudut pandangku diubah oleh buku itu, dan buku itu diubah oleh sudut pandangku.“(hal. 14)
The New Life, kehidupan baru, dunia baru adalah sesuatu yang ditawarkan oleh sebuah buku. Dalam ceramah nobelnya, Pamuk mengatakan: “Ketika aku duduk di belakang mejaku, selama beberapa hari, bulan, bahkan tahun, perlahan-lahan menuliskan kata-kata baru ke dalam halaman kosong, aku merasa seperti aku tengah menciptakan sebuah dunia baru.”
“Suatu hari, aku membaca sebuah buku, dan seluruh kehidupanku pun berubah”. Sebuah buku, memang penuh dengan sihir.
Adi Toha
Pendiri Rumah Baca Jala Pustaka, Pekalongan





panah hujan berkata
membaca untuk kedua kali, berniat membeli lagi, sayangnya saya sudah beli, gimana, dong?
hahaha..
promotor yang baik ^^
isma berkata
“Suatu hari, aku membaca sebuah buku, dan seluruh kehidupanku pun berubah”.
Ya, aku sendiri pernah mengalaminya.
jalaindra berkata
ya, begitulah sihir sebuah buku…
salam kenal…
kejora berkata
ehm…
sihir sebuah buku..???!!!
*mikir mode on*
buku menurut hematku adalah sekumpulan huruf secara kasat mata yang membangun kalimat demi kalimat menjadi alinea dan paragraf yang sambung menyambung membentuk sebuah citra dan/ cerita.
sebenarnya “tukang sihirnya” itu sang penari pena kali ya???
eniwei…
:):)
*penasaran juga sama sihirnya Orhan Pamuk…dahsyat mana ya kalo di bandingin sama sihirnya yg poenya blog
jalaindra berkata
lebih dahsyat sihir yang nulis komen di atas pada yang punya blog.
kejora berkata
*aneh*
entah apa yang tertinggal di sini…
aku selalu ingin kembali
entah tuk apa
entah mencari apa
jangan jangan…
entahlah
…sejatinya
jalaindra berkata
aku merindukanmu, selalu…
isma berkata
Ya, saya pun tersihir. Benar-benar disihir.Tidur malam saya pun gelisah kerana penasaran ingin baca buku itu.
Pamuk atau Jalaindra yang sihir saya?
kepiting berkata
Assalamu’alaikum…
wah..wahhh..wah..siapa yang kesihir dan menyihir nih…
kata-katanya atau penulisnya…
hehehe…
Asal jangan kesihir ama sesat yang sesaat yah..
ok..
wassalamu’alaikum..
isma berkata
Salam, Kepiting..
Saya tidak dapat sabar mau baca buku itu.
kepitingemas berkata
salam ,juga isma,,,
kejora berkata
begitulah kata-kata
…seperti yg di deskripsikan oleh Fatima Mernissi…
“kata-kata ibarat kulit bawang..semakin di kupas, semakin dalam. semakin kita temukan kemajemukan maknanya.
dan fakta bicara ..hanya sedikit orang yang mampu menelaah hingga intinya”
karena setiap kita memiliki kekhasan dalam memandang yang tentunya berpengaruh pula pada makna yang kita temukan.
“semakin di gali semakin dalam, dan tak sedikit orang yang terjerumus ke dalam lubang (baca: kata) yang tlah di galinya (baca: di ucapkannya)”
Biarlah kata-kata terjerat di antara huruf dan alinea,
di antara entah dan mungkin
di antara opini dan penafsiran
…takkan pasti
seperti pelangi…
indah karena putih membias
menjelma spektrum warna beraneka
*salam hangat buat Isma:)
kejora berkata
hayoo..yg posting kudu tanggung jawab noh!!
kasihan Isma sampe g bisa bobo
*hukumannya nina bobo-in Isma
kepitingemas berkata
yang nina boboin bantal aja deh,,hehehe,,,becanda-becanda.
Isma berkata
Salam Kejora,
Saya mau cepat ke Kuala Lumpur cari buku itu.. Sebenarnya saya ini penggemar karya Orhan Pamuk.
panah hujan berkata
memangnya, ebook-nya Pamuk yang New Life ngga ada ya, Kak?
hahaha. Lucu, nih, post yang ini.. meni banyak komentar sihir begini.. wkwkw..
get well soon, ticer
miss u so much, grandma..
mmuah mmuah..
kejora berkata
hahaha…
*cemberut padahal*
*panah hujan*
miss u much too…banget pokoke
salam sayang buat kakek sihir :-p
jalaindra berkata
cemberut kenapa, kejora?
kok panggilnya kakek sihir?? gak mau!!! gak mau!!!
kejora berkata
btw…
jangan panggil aku nenek sihir
*menangis sejadi-jadinya..
*teriak sekeras-kerasnya..
..dalam hati *
panah hujan berkata
hahahaha..
asikk grandma.. tozz tozz..
ada julukan baru, nih, buat si kakek..
KAKEK SIHIR!!
hahahahahaha..
sebagai wujud dedikasiku, akan kubuatkan cerpen nenek sihir dan kakek sihir
wakakakaka..
dhani wisnu berkata
selamat sore,gimana kabar anda hari ini,saya harap dalam keadaan yang baik dan sehat….ini adalah kunjungan pertama saya setelah lama berkelana di rimba maya…blog yang bagus dan inspiratif,saya suka bacanya….saya tunggu kunjungan balik ke blog puisi dan sajak yang indah…terima kasih.