Dialog Indah Menjelang Ajal
Ditulis oleh jalaindra di/pada Maret 18, 2009
Judul : Cecilia & Malaikat Ariel
Judul Asli : Through a Glass, Darkly
Pengarang : Jostein Gaarder
Penerjemah : Andytias Prabantoro
Penerbit : Mizan, Desember 2008
Tebal : 211 halaman
Kisah pengalaman seseorang dalam melewati saat-saat terakhir menjelang datangnya kematian selalu memberikan penyadaran akan betapa berharganya waktu hidup yang dimiliki di dunia. Terkadang, kita tak pernah menyadarinya, dan baru tersadar saat kita telah sampai di titik akhir kehidupan: sakaratul maut. Jostein Gaarder, lewat novel pendeknya Through a Glass, Darkly (yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Cecilia & Malaikat Ariel) hendak menceritakan kisah serupa. Dalam novel-novelnya, Jostein Gaarder kerap mengangkat tema dan gagasan besar tentang filosofi kehidupan, namun dituturkannya lewat kisah yang sederhana. Novel-novelnya yang telah terbit sebelumnya di Indonesia adalah: Dunia Sophie, Misteri Soliter, Vita Brevis, Gadis Jeruk, Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken, dan Maya.
Pada suatu malam natal, Cecilia Skotbu, seorang gadis belia hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidurnya, ia menderita penyakit parah yang dikhawatirkan tidak akan bisa disembuhkan. Ia tidak bisa melewatkan malam natal bersama keluarganya. Cecilia marah kepada Tuhan atas derita yang dialaminya. Ia menganggap bahwa Tuhan tidak adil. Lalu, tiba-tiba, pada tengah malam, keajaiban terjadi: seorang malaikat yang bernama Ariel datang menghiburnya. Terjadilah dialog antara keduanya. Seiring berjalannya waktu, terjalin keakraban antara Cecilia dan Ariel. Keduanya lalu bersepakat untuk saling berbagi cerita. Cecilia harus menceritakan tentang dunia dan bagaimana rasanya menjadi manusia, sebagai balasannya, Ariel akan memberitahukan tentang surga dan bagaimana rasanya menjadi malaikat.
Mulailah mereka saling bercerita. Ariel selalu ingin tahu bagaimana rasanya menjadi manusia, bagaimana mata manusia bisa melihat, telinga bisa mendengar, lidah bisa mengecap rasa, hidung bisa membaui, kulit bisa merasakan sentuhan, dan pikiran bisa mengingat dan bermimpi. Dalam pandangan Ariel, kesemua indra manusia itu adalah sebuah penciptaan yang agung dan penuh teka-tekai, terutama pikiran manusia. Ariel mengatakan, “Dalam pikiran mereka, manusia dapat melakukan semua hal yang bisa dilakukan malaikat dengan tubuh mereka. Saat kau bermimpi atau berimajinasi, kau dapat melakukan di dalam kepalamu semua hal yang bisa dilakukan malaikat di seluruh alam semesta.”
Seperti lazimnya kisah-kisah Jostein Gaarder, ada dimensi filosofis dan teologis yang dikemukakan lewat kisah yang sederhana. Membaca penuturan Ariel kepada Cecilia, kita akan disadarkan betapa berharganya waktu yang kita miliki di dunia, dan betapa tak ternilainya penciptaan manusia dengan semua indra yang dimilikinya. Sebuah penciptaan, yang malaikat tidak memilikinya. Dalam satu bagian, Ariel mengatakan: “Aku tidak tahu rasanya punya badan dari darah dan daging. Aku tidak tahu rasanya tumbuh. Aku tidak tahu rasanya makan, kedinginan, atau bermimpi indah.”
Seperti halnya kisah-kisah dengan plot serupa, hanya ada dua kemungkinan penyelesaian akhir: tokoh utama menjemput maut dengan perasaan yang berbeda dari sebelumnya, atau tokoh utama secara ajaib terbebas dari maut, dan menjalani kehidupan dengan cara pandang baru. Lantas, bagaimanakah nasib Cecilia? Jostein Gaarder meramu kisah perjumpaan manusia dengan malaikat dalam menjelang ajal ini menjadi lebih menarik sekaligus reflektif-inspiratif lewat dialog-dialog antara Cecilia dan Ariel, yang merupakan dua kutub berseberangan yang berusaha saling mengeja. Dialog-dialog inilah yang ditonjolkan, daripada sekedar plot kisah. Dialog-dialog yang terjadi antara Cecilia dan Ariel, menyingkap banyak rahasia, sebuah dialog yang mewakili manusia dan malaikat, bumi dan langit, dunia dan surga.
Setiap kali selesai melakukan dialog dengan Ariel, Cecilia menulis dalam Diari Cina-nya, seakan hendak menyimpulkan apa yang telah dibicarakannya dengan Ariel. Beberapa kalimat yang ditulisnya adalah: “Setiap detik, bayi-bayi baru muncul dari lengan jas Tuhan. Sim salabim! Setiap detik pula, ada orang-orang yang menghilang. Mantra K E L U A R terucap, maka kau pun harus keluar… Bukan kita yang datang ke dunia. Dunialah yang datang kepada kita. Terlahir sama artinya dengan dianugerahi seluruh dunia ini.”
Sosok malaikat deskripsi Jostein dalam kisah ini tidak sama dengan sosok malaikat pada umumnya yang dicitrakan sebagai seorang yang tinggi besar dan bersayap. Malaikat Ariel bersosok kecil, bahkan lebih kecil dari tubuh Cecilia, kepala polos tak berambut, bertubuh halus tak berbulu, dan bahkan tak bersayap. Mengenai ini, Ariel menjawab: “Burung memerlukan sayap untuk terbang karena mereka terbuat dari darah dan daging. Kami terbuat dari ruh, jadi kami tidak memerlukan sayap untuk bergerak di alam semesta ini.”
Tentang keistimewaan pikiran anak-anak, Ariel mengatakan: “Mereka (orang dewasa) menganggap dunia sebagai hal yang biasa-biasa saja. Buat para malaikat di surga, dunia ini bukan sesuatu yang biasa-biasa saja, biarpun kami hidup sepanjang keabadian. Kami masih terheran-heran menyaksikan apa yang telah Tuhan ciptakan. Lagi pula, Ia sendiri juga terheran-heran. Karena itulah, Ia lebih menyukai anak kecil yang serba ingin tahu ketimbang memikirkan orang-orang dewasa yang sok tahu.”
Membaca kisah Cecilia, akan kita temukan banyak hal yang bisa kita renungkan. Tanya jawab Cecilia-Ariel yang sederhana namun menggelitik kesadaran dan pemikiran kita, harus dipahami sebagai sebuah keingintahuan akan rahasia alam semesta, termasuk rahasia kehidupan itu sendiri. Merenungkannya, kita akan disadarkan akan kebesaran dan kesempurnaan penciptaan manusia, alam semesta, dan semua entitas yang termasuk di dalamnya. Dan bisa jadi, kehidupan saat ini, di dunia ini, adalah surga itu sendiri.(*)
Adi Toha





panah hujan berkata
Kakak,
kalimat seperti ini: “Lagi pula, Ia sendiri juga terheran-heran. Karena itulah, Ia lebih menyukai anak kecil yang serba ingin tahu ketimbang memikirkan orang-orang dewasa yang sok tahu.” membuatku tak pernah ingin menjadi dewasa..
bisakah kita menjadi dewasa tanpa menghilangkan rasa ingin tahu kita dan lalu kita tidak disebut dewasa?
Eniwei, aku setuju. Jostein Gaarder memang selalu menulis kisah-kisah sederhana yang membuatku berpikir
kuharap novel yang kali ini akan sebagus (atau bahkan lebih bagus) dari Dunia Sophie atau Maya.
Btw, kalo beli di Palasari, harganya bisa kena berapa ya, Kak?
jalaindra berkata
.. mengutip iklan, “tua itu pasti, dewasa itu pilihan” hehehe..
sedewasa apapun, “jangan bunuh anak kecil dalam dirimu”
spoiler aja.. novel yg ini tidak sebagus Maya ataupun Gadis Jeruk atau Putri Sirkus. plotnya datar, ceritanya linear.. tidak ada yang mengejutkan..
kalo beli di palasari jadinya 20.000, itu diskon 30% dari harga bandrolnya 28500.. hehehe…
panah hujan berkata
Wah, benar-benar promotor yang melayani konsumennya
Sip. Ntar atau nantian kayaknya mau ke Palasari, deh
Hehehe.
Sering-sering atuh, Kak, tulis-tulis review
Tapi bukunya yang bagus-bagus, ya.