Ki Ageng Joloindro
Ditulis oleh jalaindra di/pada Agustus 22, 2008
Sungguh saya terkejut saat mendengar penuturan Mbah Sarip, seorang tetua di kampung saya bahwa dahulu kala, di kampung saya pernah hidup seorang tokoh bernama Ki Ageng Joloindro. Kenapa saya terkejut, karena nama saya hampir sama dengan nama tokoh tersebut. Nama saya jalaindra. Joloindro mungkin adalah pengucapan jalaindra versi jawa. Beberapa tahun lalu, ketika saya mulai menggunakan nama jalaindra sebagai alias dalam menulis dan mengirimkan karya-karya sastra saya ke media massa baik itu cetak atau pun internet, saya belum mengetahui keberadaan sosok tokoh tersebut. Saya sempat bangga dengan nama itu, karena menurut saya unik dan tiada duanya. Setelah mengetahuinya, saya jadi malu sendiri.
Saya menemui Mbah Sarip beberapa minggu kemarin, dalam sebuah kesempatan saya pulang kampung. Di kampung saya, tradisi tahlilan setiap malam jum’at masih dilaksanakan. Kebetulan, malam jum’at itu, bapak saya tidak bisa menghadiri tahlilan karena ada urusan lain. Terpaksa saya yang menggantikan bapak saya untuk ikut tahlilan di musholla kampung saya. Selesai acara tahlilan, seperti biasa, beberapa orang tidak langsung pulang, mereka mengobrol dulu ngalor ngidul seputar kondisi terkini yang terjadi di kampung, di kota, bahkan di Indonesia. Kebetulan ternyata, seorang teman semasa kecil di kampung saya juga ikut tahlilan. Saya pun tidak langsung pulang ke rumah, tetapi ngobrol dengan teman saya itu, bertukar kabar dan cerita.
Mbah Sarip dikelilingi oleh beberapa orang. Semuanya seusia bapak saya. Beberapa di antaranya tetangga saya. Tempat duduk saya dan teman saya tidak jauh dari tempat berkumpulnya Mbah Sarip dan orang-orang itu, sehingga sambil ngobrol dengan teman saya, saya masih bisa mendengar obrolan mereka. Mulanya mereka bicara masalah politik di Indonesia menjelang pemilihan umum 2009. Warga kampung saya yang mayoritas NU dan pendukung PKB, merasa bingung dengan sikap Gus Dur yang mereka lihat di pemberitaan televisi. Mereka bingung mau milih kubu mana dalam pemilihan umum nanti. Di Jatinangor, lewat televisi dan berita-berita yang saya baca di koran dan internet, saya memang mengikuti terus perkembangan konflik Gus Dur dan Muhaimin, lebih karena ketertarikan dan kedekatan kultur NU saya dengan partai tersebut dan anggota-anggotanya, bukan karena pandangan politik. Saya sudah berniat untuk golput di pemilihan umum 2009 nanti, meski demikian, untuk sekedar membaca mengikuti perkembangan politik Indonesia masih tetap saya lakukan.
Dari obrolan politik, perlahan topik beralih ke obrolan seputar kondisi sungai Sengkarang, sungai yang cukup besar yang mengalir di kampung saya, tepatnya di belakang rumah saya. –saya tidak akan menceritakan obrolan saya dan teman saya dalam tulisan ini, karena sepertinya isi obrolan adalah sewajarnya obrolan dua orang teman yang sudah lama tidak saling ketemu, obrolan Mbah Sarip-lah yang ingin saya tuliskan di sini, karena saya pikir lebih menarik – Pagi hari setelah malamnya saya sampai di rumah, saya langsung menengok sungai Sengkarang, sungai yang telah mengajari saya berenang. Semasa kecil, saya selalu bermain-main di sungai ini. Sungai Sengkarang memang mulai mengering. Kedalaman airnya hanya sebatas lutut orang dewasa. Di musim normal, kedalaman sungai bisa mencapai satu merdekanya orang dewasa. –Merdeka, adalah panjang dari ujung kaki sampai ujung jari tangan yang diangkat lurus ke atas– sehingga untuk menyeberang mau tidak mau harus berenang atau memakai jukung.
Mereka mengobrol tentang kondisi sungai. Keadaan air sungai yang dangkal menyebabkan air tergenang dan menjadi keruh. Mereka pun berinisiatif untuk melakukan kerja bakti mengeruk dasar sungai di bagian hilir agar air bisa sedikit mengalir. Mbah Sarip bercerita, dahulu, sungai sengkarang tidak pernah sedangkal ini. Lalu terdengar celetukan seseorang di antara mereka yang membuat saya tersenyum. “Mungkin karena Global Warming”. Global warming? Dari mana orang itu mendengar istilah itu? Kebanyakan orang di kampung saya hanyalah buruh penjahit dan mereka acuh tak acuh dengan perkembangan dunia luar, apalagi perubahan iklim global, global warming. Mungkin orang itu melihat iklan global warming di televisi.
Lalu saya mendengar Mbah Sarip bercerita tentang sejarah Sungai Sengkarang, yang menurutnya muncul dari bekas jalur yang digunakan oleh ular mistis raksasa Baruklinting, penjelmaan dari tumbak sakti Kyai Baruklinting milik Ki Ageng Rogoselo, nenek moyang masyarakat Rogoselo, di daerah Doro, kabupaten Pekalongan. Pada suatu masa entah beberapa ratus tahun yang lalu, Ki Ageng Rogoselo sering menemui penguasa Pantai Utara, yakni Dewi Lanjar untuk berdiskusi tentang keadaan keadaan rakyat. Nah, untuk menempuh perjalanan dari daerah pegunungan selatan ke Pantai Utara inilah Ki Ageng Rogoselo menggunakan ular raksasa Baruklinting tersebut, dan melalui jalur yang sama setiap kali perjalanannya. Lama kelamaan jalur ular raksasa tersebut berubah menjadi Sungai Sengkarang.
Nama Baruklinting memang kedengarannya tidak asing. Sepengetahuan saya, Baruklinting juga disebut dalam legenda Rawa Pening, sebuah danau di daerah Ambarawa Jawa Tengah. Dalam legenda Rawa Pening, Baruklinting adalah seorang bocah yang menantang seluruh penduduk di desa tersebut untuk mencabut sebatang lidi yang ditancapkan ke tanah. Semua penduduk tidak mampu untuk mencabut lidi tersebut. Akhirnya sang bocah lah yang mencabutnya, namun setelah lidi dicabut, keluar semburan air yang terus menerus tidak mau terhenti dan akhirnya menenggelamkan daerah tersebut, dan menjadi Rawa Pening. Sang Bocah adalah penjelmaan dari seekor ular raksasa yang tengah bertapa melingkari sebuah gunung di dekat desa itu. Saking lamanya bertapa, tubuhnya melumut dan tampak seperti sebatang pohon tumbang. Ketika seorang petani tanpa sengaja menancapkan goloknya ke tempat yang dikiranya sebatang pohon, keluarlah semburan darah. Akhirnya seluruh penduduk desa beramai-ramai membantai ular raksasa itu dan memakan dagingnya. Ular raksasa tersebut bernama Baruklinting.
Legenda lain yang menyebut nama Baruklinting adalah cerita rakyat dari Dusun Mangir, di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Disebutkan, Baruklinting adalah keturunan dari Ki Ageng Mangir dan Rara Jalegong, yang berujud ular naga. Bagus Baruklinting, demikian namanya, memiliki kesaktian yang luar biasa di lidahnya. Oleh Ki Ageng Mangir, lidah Baruklinting dijadikan tombak pusaka yang menjadi senjata andalannya dalam melawan Rara Pembayun.
Entah Baruklinting yang diceritakan oleh Mbah Sarip adalah Baruklinting yang sama dengan Baruklinting dalam dua kisah lainnya, saya tidak tahu. Mungkin saja, orang jaman dulu menyebut ular raksasa dengan sebutan Baruklinting. Kesamaan nama ini mungkin menarik untuk ditelusuri lebih jauh.
Dari cerita mbah Sarip, ataupun cerita-cerita yang beredar di kampung saya tentang asal usul-usul Sungai Sengkarang, hanya sebatas pada sampai munculnya sebuah sungai. Sedangkan tentang asal usul bagaimana sungai itu mendapatkan nama Sengkarang, saya tidak pernah mendengarnya. Berkaitan dengan ini, saya pernah membuat sebuah cerita pendek berjudul “Hikayat Sekar Arang”. Dalam cerita saya, nama Sengkarang diambil dari nama seorang putri yang bernama Sekar Arang. Pada suatu ketika, Sekar Arang hendak menikah dengan seorang pemuda dari desa hilir. Beberapa hari sebelum pernikahan, Sekar Arang mandi di sungai jernih yang mengalir di bagian belakang kediamannya. Tanpa sengaja, cincin pemberian mendiang ibunya terlepas dari jarinya. Sekar Arang yang tidak ingin menikah tanpa memakai cincin itu, akhirnya mencarinya sampai ke dasar sungai, dan tenggelam. Sekar Arang kemudian menjelma menjadi ribuan ikan bermacam jenis. Orang-orang desa kemudian menamai sungai tersebut sungai Sekar Arang. Kisah ini diceritakan turun temurun sampai-sampai lidah orang-orang terpeleset dalam menyebut Sekar Arang menjadi Sengkarang.
Nah, Ki Ageng Rogoselo mempunyai pengikut setia yang bernama Ki Ageng Joloindro. Saya melonjak kaget ketika mendengar mbah Sarip menyebut nama itu, sampai-sampai saya mengacuhkan obrolan teman saya dan menyela cerita mbah Sarip untuk memintanya mengulang nama itu. Ya. Saya tidak salah dengar. Mbah Sarip menyebut nama Ki Ageng Joloindro. Sejak detik itu, saya dan teman saya ikut nimbrung obrolannya mbah Sarip. Saya menyimaknya dengan serius ingin tahu.
Ki Ageng Joloindro lah yang bertugas menggantikan Ki Ageng Rogoselo menjaga daerah pegunungan selatan di saat Ki Ageng Rogoselo melakukan kunjungan ke Pantai Utara Jawa. Sayangnya, mbah Sarip tidak bercerita banyak tentang Ki Ageng Joloindro waktu itu. Beberapa saat setelah saya bergabung, Lik Margono, salah seorang tetangga saya minta ijin untuk pulang terlebih dulu, diikuti oleh Lik Muji, dan satu persatu undur diri. Tanpa dikomando, grumungan pun bubar. Saya membantu Mbah Sarip untuk berdiri dan menuntunnya ke tempat ia menaruh sandalnya di halaman kanan musholla. Sambil menuntunnya, saya bertanya lebih lanjut tentang Ki Ageng Joloindro. Mbah Sarip hanya menjawab, bahwa Ki Ageng Joloindro sangat besar jasanya dalam babat alas untuk mendirikan kampung dimana saya dan mbah Sarip tinggal.
Saya mengantarkan mbah Sarip ke rumahnya yang tidak jauh dari musholla. Sebenarnya saya ingin mendengar lebih jauh cerita mbah Sarip tentang Ki Ageng Joloindro, namun karena waktu sudah semakin larut dan saya tidak ingin mengganggu mbah Sarip yang sudah sangat tua itu, saya pun pamit pulang. Sebelumnya, saya meminta kepada mbah Sarip kalau besok paginya, atau kapan-kapan, saya ingin mendengar lebih lengkap cerita tentang Ki Ageng Joloindro. Mbah Sarip mengiyakan.
Esoknya, hari jumat, sebelum sholat jumatan, Mbah Sarip, satu-satunya sumber yang saya harapkan bisa bercerita lebih lengkap tentang Ki Ageng Joloindro, sebuah nama yang sangat penting bagi saya karena kemiripan nama dengan nama saya, meninggal dalam usia 91 tahun.
Jatinangor, 22 Agustus 2008





tukyman berkata
pokok e salam kenal aja
jawaipost berkata
sALAM kenal juga…saya kebetulan lewat.
panah hujan berkata
kalo kakak meninggal di usia 91 tahun, berarti.. tarik panjang, 67 tahun lagi, kah, gerangan?
masih lama, dong, waktu saya untuk berguru