J A L A I N D R A

jejaring peristiwa – jejaring kata – jejaring imagi – jejaring diri

  • ADI TOHA

    mail : jalaindra@yahoo.com






    PageRank Checking Icon
  • Links For Rent

  • ARSIP

  • RUMAH SINGGAH

  • KUNJUNGAN

    • 56,254 Tamu telah Mabok Di Blog Ini
  • MisCellaNeous

    Click to view my Personality Profile page


    . . .
  • RSS Related Websites

Misteri Kain Kafan Sophia

Ditulis oleh jalaindra di/pada Maret 24, 2007

Shroud of Turin –kain kafan dari Turin, adalah sebuah relik yang beberapa orang meyakininya sebagai kain kafan pembungkus jasad Yesus setelah penyaliban. Pada kain kafan berukuran kurang lebih 4,4 x 1,1 meter tersebut secara samar tergambar sesosok tubuh seorang lelaki, lelaki inilah yang diyakini sebagai Yesus. Sebagian ahli berpendapat bahwa sosok lelaki yang tergambar di kain kafan tersebut adalah Jacques De Molay, Grand Master terakhir Ksatria Templar. Bahkan sebagian ahli lain berpendapat bahwa sosok yang tergambar pada kain kafan adalah Leonardo Da Vinci. Tentang siapakah sebenarnya yang tergambar pada kain kafan tersebut masih menjadi misteri. Banyak penelitian dan penyelidikan dilakukan untuk mengungkapnya. Kain Kafan tersebut kini tersimpan di Katedral St. John the Baptist di Turin, Itali.

Tapi, tahukah anda jika ada kain kafan lain yang pernah membungkus jasad Sophia, seorang gadis yang hidup pada zaman Konstantin Agung? Kain kafan tersebut bahkan pernah digunakan oleh Hitler untuk membungkam Paus Pius XII terhadap kekejaman yang terjadi selama pendudukan Nazi. Lantas, siapakah Sophia?

The Daughter Of God, novel karya Lewis Perdue berkisah seputar misteri Sophia Passion, kain kafan Sophia dan dokumen-dokumen yang melingkupinya, diramu dengan jalinan konspirasi yang melibatkan NSA, KGB dan Vatikan. Bahkan konon, Novel laris The Da Vinci Code, karya Dan Brown adalah karya jiplakan dari novel ini, yang memang terbit beberapa tahun sebelumnya.

Kisah berawal dari kunjungan Zoe Ridgeway, seorang ahli benda-benda seni ke kediaman Willi Max, seorang kolektor benda-benda seni yang diambang kematiannya karena penyakit tua. Di kediaman Willi Max di sebuah villa di Zurich, Zoe, yang seorang pialang seni, mendapati banyak sekali mahakarya seniman terkemuka: Vermeer, Da Vinci, Van Gogh, Picasso dan beraneka koleksi langka lainnya yang tak ternilai harganya. Kolektor tua tersebut berharap Zoe akan mengurusi semua benda seni peninggalannya dan mengembalikannya kepada pemiliknya yang sah atau menyumbangkannya ke museum-museum. Seluruh benda seni miliknya adalah hasil jarahan. Ia juga memberikan manuskrip-manuskrip kuno tentang Shopia, seorang gadis yang hidup pada masa Konstantin Agung. Shopia diyakini sebagai sosok messiah kedua, yang keberadaan dan sejarahnya sengaja ditutup-tutupi oleh Gereja.

Sejak itulah kehidupan Zoe dan suaminya, Seth Ridgeway mulai berubah. Mulai dari penculikan Zoe oleh sekelompok orang tak dikenal, kebakaran misterius yang menimpa kediaman Willi Max, yang menewaskan kolektor tua itu dengan seluruh koleksi benda seninya, dan berlanjut kepada pembunuhan demi pembunuhan. Dibimbing oleh nalurinya dan kecerdasannya sebagai seorang mantan polisi dan seorang profesor bidang perbandingan agama di UCLA, Seth mulai menelusuri satu demi satu petunjuk untuk menemukan kembali istrinya.

Penelusurannya Seth berawal dari paket kiriman Willi Max yang ternyata adalah lukisan karya Frederick Stahl berjudul The Home Of The Lady Our Redeemer. Stahl adalah pelukis Nazi kesayangan Adolf Hitler. Lukisan tersebut diyakini sebagai petunjuk keberadaan benda-benda seni yang dijarah dari seluruh penjuru Eropa semasa pendudukan Nazi untuk dipamerkan di Fuhrermuseum, sebuah proyek ambisius Hitler. Termasuk di antara benda-benda seni yang disembunyikan Hitler tersebut adalah Sophia Passion, yang akan mengungkap misteri keberadaan kain kafan Sophia, beserta bukti-bukti sejarah keberadaan messiah wanita tersebut. Sophia Passion itulah yang selama masa pendudukan Nazi digunakan oleh Hitler untuk menutup mulut Paus Pius XII, karena jika kebenaran tentang Sophia diketahui oleh khalayak publik, akan meruntuhkan pondasi keimanan dan kepercayaan Gereja yang telah dibangun selama ribuan tahun.

Semakin Seth menelusuri jejak hilangnya istrinya, semakin Seth mengetahui tentang Sophia, termasuk keterlibatan KGB, sebuah kelompok kecil namun kuat di Vatikan dan pihak-pihak lain yang ingin mendapatkan Sophia Passion untuk kepentingan meraih kekuasaan tertinggi, apapun caranya. Sejak awal, masing-masing pihak telah mengetahui di mana keberadaan Sophia Passion, namun lukisan Stahl yang berada di tangan Seth merupakan satu-satunya kunci utama untuk mengetahui dengan pasti keberadaan benda keramat tersebut. Lukisan Stahl menjadi rebutan pihak-pihak yang menginginkan Shopia Passion.

Tidak bisa dipungkiri, terdapat banyak kemiripan antara The Daughter of God (DOG) karya Lewis Perdue, dengan The Da Vinci Code (DVC) karya Dan Brown. Plot, nada, konspirasi, suspense, kronologis cerita, karakter tokoh dan kejadian, serta pihak-pihak yang terkait hampir bisa dikatakan serupa. Dalam DVC, jalinan kisah bermula dari kematian misterius Jacques Sauniere, seorang kurator seni museum Louvre, yang mewariskan teka-teki yang menyangkut benda seni (lukisan Leonardo Da Vinci: The Last Supper dan Madonna of The Rock) yang mengarah kepada sebuah rahasia besar tentang bukti sejarah dan keberadaan seseorang atau sesuatu yang dicitrakan sebagai perempuan suci (Maria Magdalena). Dalam DOG, jalinan kisah bermula dari kematian misterius kolektor seni Willi Max, yang menyisakan teka-teki yang menyangkut benda seni (lukisan Frederick Stahl: The Home Of The Lady Our Redeemer) yang mengarah kepada rahasia besar yang selama ini ditutup-tutupi oleh Gereja menyangkut bukti sejarah dan keberadaan sesuatu atau seseorang yang dicitrakan sebagai messiah wanita (Sophia). Kedua rahasia tersebut sama-sama mengancam Gereja (Vatikan) sebagai pemegang otoritas.

Itu hanyalah salah satu contoh. Selebihnya, membaca DOG, akan banyak ditemui paralel lain antara keduanya: Robert Langdon dengan Seth Ridgeway, Uskup Manuel Aringarosa-Silas dengan Kardinal Neils Braun-Si Amerika, Sophie Neveu dengan Zoe Ridgeway, dan paralel karakter lainnya. Jika di DVC, Langdon dan Neveu mendatangi Depository Bank of Zurich untuk mengambil sesuatu yang menjadi petunjuk teka-teki selanjutnya, maka Seth dan Zoe Ridgeway dalam DOG mendatangi Thule Gesellschaft Bank di Zurich dengan prosedur dan pelayanan yang serupa! Apakah kesamaan-kesamaan antara DVC dan DOG hanyalah sebuah ‘kebetulan’ yang tidak disengaja? Pembaca bisa mereka-reka sendiri. Kabarnya, terdapat 50 persamaan antara DVC dan DOG.

Terlepas dari persamaan-persamaan tersebut, masing-masing tentunya memiliki sisi kelebihan dan kekurangan. Secara pribadi, saya berpendapat, alur dalam DOG lebih masuk akal dari DVC. Setidaknya, Seth (DOG) membutuhkan waktu lebih dari 6 bulan untuk menelusuri satu demi satu petunjuk dan peristiwa sampai akhirnya menemukan apa yang dicarinya, sedangkan Langdon (DVC), hanya membutuhkan satu malam (!) untuk mengurai semua teka-teki rumit yang dihadapinya. Namun, DVC menghadirkan lebih banyak manuskrip kuno dan benda-benda seni yang bisa dilacak keberadaannya semisal: Dossiers Secret, Hiram Key, Dead Sea Scroll, Shroud Of Turin dan lukisan-lukisan Leonardo Da Vinci. DOG hanya menghadirkan Sophia Passion dan lukisan Frederick Stahl.

Meski DOG ditulis berdasarkan beberapa fakta dan pengalaman penulisnya, namun Lewis Perdue dengan rendah hati menulis “Namun pada akhirnya, secara keseluruhan buku ini tetap hanya sebuah karya fiksi. Paling tidak, saya pikir demikian. Tapi jika kita dapat menemukan kebenaran dalam fiksi, kebenaran yang saya tulis kiranya menjadi seruan spiritual untuk pertanyaan dan mencari hubungan yang lebih baik dengan Tuhan.”(hal. 626), tidak seperti Dan Brown yang dengan angkuhnya menulis di halaman pembuka DVC “Semua deskripsi karya seni, arsitektur, dokumen, dan ritus dalam novel ini adalah akurat.”

Pada akhirnya, beragama adalah masalah keimanan, keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan, bukan semata-mata masalah institusional atau organisasional. Tidak bisa dipungkiri, bahwa agama-agama besar di dunia, besar oleh kekuatan politik dan kekuatan ‘pedang’. Intrik kekuasaan dan penindasan terhadap kelompok agama dan kepercayaan minoritas tidak bisa dilepaskan dari sejarah agama-agama di dunia. Dialog panjang antara Zoe dan Seth dengan pendeta Hans Morgen mungkin bisa menjadi sebuah penyadaran, bahwa iman kepada Tuhanlah yang menjaga dan mempertahankan eksistensi kita sebagai manusia. Selamat membaca.***(@di Toha)

6 Tanggapan ke “Misteri Kain Kafan Sophia”

  1. Kris berkata

    Terimakasih buat review singkatnya, kapan-kapan saya mo baca buku tersebut.

  2. Andrew berkata

    Saya sudah membaca bukunya,,
    alur cerita dan karakteristik tokohnya sangat apik digambarkan oleh lewis perdue,, tapi menurut saya perdue terlalu banyak menggunakan basa basi dan terlalu bertele – tele
    diluar dari spiritualitas beragama yang menjadi inti dari bukui ini, saya memberi two thumbs buat buku ini.
    kalo ada informasi mengenai buku thriller atau semacamnya yang menarik tolong diinformasikan ke : andrewmb0205@yahoo.co.id
    terimakasih
    God Bless You

  3. rynie berkata

    gilaa
    ne buku keyen banget

    g kalah ma the davinci code

  4. Vi berkata

    hehe.. numpang ngasi komen.. kayaknya menarik sekali buku inih. Wah, jangan2 Dan Brown bener2 nyontek karya orang lagi.. ga banget deh.. Huhu.. anyway.. nice review! Ksi review2 laen lagi dunk yg banyak.. hehe

  5. ri berkata

    yoa, bukunya keren…..

    tapi perdue emang rada bertele-tele siii….

    wa, q kira sebelumnya yg jiplak tu perdue je, tnyata malah dan brown ya? hehehe……

  6. jhoane berkata

    aku ru baca setengah aj udah terkesima dengan novel ini, awalnya mwng ak liat agak berat jg nie novel n agak bertele-tele..at least perdue udah bwat w tercengang..mang keren bgd deh..two thumbs up for Lewis Perdue

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>