Puisi Berdarah
Ditulis oleh jalaindra di/pada Februari 13, 2007
akan kau temukan genangan darah
di mejaku. sebuah pena yang patah
selembar puisi yang terkulai lemah
tak berdaya. aku telah lelah
kata yang kurangkai
layu. kau selalu abai
bisu. satupun tak kau baca
sia-sia kuberkata-kata
: mungkin dengan tinta darah, puisi
yang kutulis dengan pena patah, bisa kau pahami
jtngr, 130207





ROCH AKSIADI berkata
Demikianlah, kehidupan yang selalu berubah. Apapun yang terjadi hanyalah proses kehidupan yang kerap kali terjadi pada siapa saja. Puisi ini penuh makna kesedihan, dan penderitaan. Itulah salah satu ekspresi yang memang dibutuhkan manusia agar bisa respek terhadap keadaan apapun disekililing kita. Semoga kita semua berbahagia…
kw berkata
jangan putus asa donggg….. masih banyak kok orang yang paham puisimu, tanpa perlu memakai pena yang patah dengan tinta darah.
dunia ini masih indah mannn
meskipun cinta yang ditoak itu sakittt… lupakan, seperti aku.
Aurelia Tiara berkata
hi there..thanks for visiting my seorangsenja =)
puisinya mantaph…main2 ke blog buku saya ya..
adi berkata
to ROCH :
terima kasih, mas. dengan berpuisi, setidaknya seperti mengeluarkan darah kotor yang menggumpal di otak. ringan rasanya setelah itu.
to KW :
yup. saya tidak putus asa,bro. setidaknya belum.. terima kasih telah menjadi salah satu.
to Tiara :
thanks.. aku dah mengetuk subrosa-mu. hitam.
Rea berkata
puisi yang lemah
kata yang layu
tapi kata Sapardi
“dalam baris-baris sajak ini
kau tak lelah-lelahnya kucari.”
jasmineva berkata
Kahlil Gibran mencatat, kesedihan hanya bisa dipahami oleh kesedihan..
Tak apa. Menjadi penyair adalah menjadi bilah atas bahagia dan sedih, tak menolak salah satunya. Dan resikonya: menjadi tak terpahami.
vina berkata
Aku sangat sedih melihatmu yang sekarang ini.kenapa mesti begini jadinya. ku tau cintamu tulus untukku tapi ku ga bisa menerimamu lgi
maaf ini curahan hatiku untuk dia.
Edwin berkata
Jika harapan harus terkulai
Dan waktu tak datang membela
Aral tersisa tak perlu disudahi
Biar sendu beku dalam ajal
Jika upaya berakhir percuma
Dan kenyataan hendaki itu
Tak perlu lagi nafas tertahan
Biar luka pergi bersama udara
toni berkata
hgbm nju,mn. j m
ahmad berkata
gw suka puisi berdarah anda. memang kadang tinta darah perlu juga karena pena banyak tidak didengarkan.
B4you jhatie pameling berkata
sabar aja karena semua yang kita jalani pasti mempunyai Hikmah,,, gw gak tau lo sedih kenapa tapi yang gw tau,, habis gelap gak mungkin gelap lagi khan…
Lawliet berkata
puisiny keren bro!!!penuh dng penjiwaan!!!bisa buatin 1puisi yg lbh miris lg g mas???
rudy berkata
bagi saya puisi tersebut bukanlah sikap yang menguarkan kesedihan dan semacamnya, melainkan keberanian untuk mendobrak dogma penantian-dalam tafsir yang melatarbelakanginya-.
vianny berkata
miris ya,,kadang khidupan mmbuat kita seakan mati…
bella berkata
memang benar kadang khidupan membuat kita seakan mati, tapi aku tak mau merasakanya prasaan itu slalu ku hiraukan seakan akan prasaan itu tidak ada!
azalea berkata
tak seharusnya…