J A L A I N D R A

jejaring peristiwa – jejaring kata – jejaring imagi – jejaring diri

  • ADI TOHA

    mail : jalaindra@yahoo.com






    PageRank Checking Icon
  • Links For Rent

  • ARSIP

  • RUMAH SINGGAH

  • KUNJUNGAN

    • 56,717 Tamu telah Mabok Di Blog Ini
  • MisCellaNeous

    Click to view my Personality Profile page


    . . .
  • RSS Related Websites

Puisi Berdarah

Ditulis oleh jalaindra di/pada Februari 13, 2007

akan kau temukan genangan darah
di mejaku. sebuah pena yang patah
selembar puisi yang terkulai lemah
tak berdaya. aku telah lelah

kata yang kurangkai
layu. kau selalu abai
bisu. satupun tak kau baca
sia-sia kuberkata-kata

: mungkin dengan tinta darah, puisi
yang kutulis dengan pena patah, bisa kau pahami

jtngr, 130207

16 Tanggapan ke “Puisi Berdarah”

  1. ROCH AKSIADI berkata

    Demikianlah, kehidupan yang selalu berubah. Apapun yang terjadi hanyalah proses kehidupan yang kerap kali terjadi pada siapa saja. Puisi ini penuh makna kesedihan, dan penderitaan. Itulah salah satu ekspresi yang memang dibutuhkan manusia agar bisa respek terhadap keadaan apapun disekililing kita. Semoga kita semua berbahagia…

  2. kw berkata

    jangan putus asa donggg….. masih banyak kok orang yang paham puisimu, tanpa perlu memakai pena yang patah dengan tinta darah.

    dunia ini masih indah mannn

    meskipun cinta yang ditoak itu sakittt… lupakan, seperti aku. :)

  3. Aurelia Tiara berkata

    hi there..thanks for visiting my seorangsenja =)
    puisinya mantaph…main2 ke blog buku saya ya..

  4. adi berkata

    to ROCH :

    terima kasih, mas. dengan berpuisi, setidaknya seperti mengeluarkan darah kotor yang menggumpal di otak. ringan rasanya setelah itu.

    to KW :

    yup. saya tidak putus asa,bro. setidaknya belum.. terima kasih telah menjadi salah satu.

    to Tiara :

    thanks.. aku dah mengetuk subrosa-mu. hitam.

  5. Rea berkata

    puisi yang lemah
    kata yang layu
    tapi kata Sapardi
    “dalam baris-baris sajak ini
    kau tak lelah-lelahnya kucari.”

  6. jasmineva berkata

    Kahlil Gibran mencatat, kesedihan hanya bisa dipahami oleh kesedihan..
    Tak apa. Menjadi penyair adalah menjadi bilah atas bahagia dan sedih, tak menolak salah satunya. Dan resikonya: menjadi tak terpahami.

  7. vina berkata

    Aku sangat sedih melihatmu yang sekarang ini.kenapa mesti begini jadinya. ku tau cintamu tulus untukku tapi ku ga bisa menerimamu lgi

    maaf ini curahan hatiku untuk dia.

  8. Edwin berkata

    Jika harapan harus terkulai
    Dan waktu tak datang membela
    Aral tersisa tak perlu disudahi
    Biar sendu beku dalam ajal

    Jika upaya berakhir percuma
    Dan kenyataan hendaki itu
    Tak perlu lagi nafas tertahan
    Biar luka pergi bersama udara

  9. toni berkata

    hgbm nju,mn. j m

  10. ahmad berkata

    gw suka puisi berdarah anda. memang kadang tinta darah perlu juga karena pena banyak tidak didengarkan.

  11. B4you jhatie pameling berkata

    sabar aja karena semua yang kita jalani pasti mempunyai Hikmah,,, gw gak tau lo sedih kenapa tapi yang gw tau,, habis gelap gak mungkin gelap lagi khan…

  12. Lawliet berkata

    puisiny keren bro!!!penuh dng penjiwaan!!!bisa buatin 1puisi yg lbh miris lg g mas???

  13. rudy berkata

    bagi saya puisi tersebut bukanlah sikap yang menguarkan kesedihan dan semacamnya, melainkan keberanian untuk mendobrak dogma penantian-dalam tafsir yang melatarbelakanginya-.

  14. vianny berkata

    miris ya,,kadang khidupan mmbuat kita seakan mati…

  15. bella berkata

    memang benar kadang khidupan membuat kita seakan mati, tapi aku tak mau merasakanya prasaan itu slalu ku hiraukan seakan akan prasaan itu tidak ada!

  16. azalea berkata

    tak seharusnya…

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>