J A L A I N D R A

jejaring peristiwa – jejaring kata – jejaring imagi – jejaring diri

  • ADI TOHA

    mail : jalaindra@yahoo.com






    PageRank Checking Icon
  • Links For Rent

  • ARSIP

  • RUMAH SINGGAH

  • KUNJUNGAN

    • 56,254 Tamu telah Mabok Di Blog Ini
  • MisCellaNeous

    Click to view my Personality Profile page


    . . .
  • RSS Related Websites

Pelacur dan Semut

Ditulis oleh jalaindra di/pada November 26, 2006

Cerpen ini pernah dimuat di Harian Batam Pos, Edisi 7 Mei 2006

Aku begitu terkejut saat bangun pagi, semua benda terlihat kecil, semakin kecil. Ranjang tempat tidurku tiba-tiba mengerut, aku segera melompat turun dan melihatnya semakin mengerut mengecil. Aku takut ranjang itu akan hancur karena berat badanku jika aku tidak segera melompat turun darinya. Bukan hanya ranjang itu, semua benda di ruangan hotel ini mengecil. Pintu, almari, jendela.

Ah iya! Cermin. Cermin. Dimana cermin. Aku ingin memastikan apakah memang benar semuanya mengecil ataukah aku yang membesar. Ah, itu dia. Tetapi, bagaimana aku bisa melihat diriku dan benda-benda lain dalam cermin itu jika cermin itu sendiri pun telah mengecil, tidak cukup untuk menampung bayangan sekujur tubuhku dan seisi kamar ini di dalamnya.

Aku hendak melangkah keluar dari kamar hotel berharap aku menemukan seseorang yang bisa menjawab apa yang tengah terjadi padaku. Tetapi, oh tidak, langit-langit kamar ini juga semakin mengecil dan mengerut seakan hendak bersatu dengan lantainya dan menggencet tubuhku di antaranya. Aku mencoba menunduk dan semakin menunduk karena langit-langit kamar itu semakin merendah. Sampai akhirnya aku harus berjalan melata seperti seekor ular, itu pun langit-langit masih terus merendah hendak mengencetku.

Ah, syukurlah, tanganku berhasil mencapai pintu bagian bawah sebelum langit-langit kamar benar-benar telah menyatu dengan lantai. Aku mencoba berdiri. Mendadak aku berpikir, apakah masih ada pintu jika tembok tempatnya berdiri telah tidak ada karena langit-langit telah menyatu dengan lantai? Lagipula, oh tidak! Pintu itu juga semakin mengecil, aku sangsi apakah ia sanggup membawa tubuhku keluar melewatinya? Ia terlihat seperti sebuah kotak sekecil kotak korek api. Untuk memasukkan genggaman tanganku saja ia tidak cukup, apalagi tubuhku. Andai saja aku bisa memotong tubuhku inci demi inci dan aku keluarkan inci demi inci melewati pintu itu.

Aku pasrah dan menunggu saja apa yang akan terjadi. Jika ini adalah pertanda kematian, aku telah siap. Semalam aku telah bercinta dengan seorang klien langgananku. Pagi tadi dia meninggalkan aku tanpa sempat aku tahu. Biasanya ia telah meletakkan lembar-lembar uang di laci meja kamar. Biarlah aku mati dengan menanggung banyak dosa. Lagipula, aku tidak percaya neraka. Sudah cukup neraka yang aku alami. Keluargaku yang berantakan, cacian dan makian orang-orang dekat dan saudaraku yang menyuruhku meninggalkan profesi hinaku. Siksaan itu belum termasuk lelah dan rasa muak harus melayani laki-laki bejat yang membayarku demi semalam kenikmatan birahi.
Aku terjebak di ruangan ini. Aku tidak bisa keluar kemana-mana., hanya bisa berbaring di lantai (atau di bawah langit-langit?). Tubuhku kaku, tidak bisa aku gerakkan ke kiri dan ke kanan, dinding-dinding telah menyempit menjebakku di antaranya. Mungkinkah ini peringatan Tuhan? Ah, masih adakah Tuhan. Dimana Dia saat aku dijual oleh orang tuaku hanya untuk membayar utang bapakku? Dimanakah Dia saat tangan-tangan lelaki yang kepadanya ayahku berhutang, menggerayangi tubuhku dan memaksaku nafsu setannya. Tubuh kecil dan ringkih 13 tahunku hanya mampu pasrah. Dimanakah Tuhan saat aku berpindah dari satu tangan lelaki ke lelaki lain, diperdagangkan untuk memenuhi nafsu purba kesombongan laki-laki.

Ribuan semut tiba-tiba saja mengerubuti kepalaku. Semut hitam, semut rangrang dan beraneka semut lainnya. Dengan liar mereka menggigit dan memakan setiap helai rambutku. Jika saja di depanku terdapat cermin, aku tidak akan bisa membedakan apakah kepalaku berambut semut ataukah kepalaku adalah sarang semut. Tapi, mengapa semut-semut itu tidak mengecil? Harusnya ia juga mengecil seperti yang lain. Tuhan memang adil, semut-semut itu sudah kecil, tidak perlu diperkecil lagi.

Hah? Aku bicara tentang Tuhan lagi?

Tidak! Rambutku! Jangan! Pergilah! Tolong!

Tolong? aku harus minta tolong kepada siapa? Orang-orang pasti telah mengecil. Ukurannya akan menjadi sama dengan semut-semut yang memenuhi kepalaku. Jika orang-orang mendengar teriakanku dan mereka datang kemari, mereka pasti akan dimangsa oleh semut-semut ini. Aku tidak mau melihat orang-orang meregang nyawa karena masalah sepele : menyingkirkan semut-semut dari kepalaku.

Sepele? Kau pikir ini sepele? Semua benda menjadi mengecil dan mengerut, kau terjebak di sebuah kamar yang hendak menggencetmu dari sisi mana pun, dan semut-semut dengan perlahan akan menghabiskan seluruh rambutmu dan kulit kepalamu sampai ke daging-dagingnya, sampai otakmu. Kau pikir sepele hanya karena semut?

Semut-semut itu semakin memenuhi kepalaku. Sebagian berjalan berarak bagai sepasukan kavaleri ke kedua kakiku dan berkumpul di sana. Banyak. Tetapi tidak membuat kepalaku lebih ringan. Semut-semut di kakiku mulai menggigiti kedua kaki, pergelangan dan jemari. Terasa sakit, nyeri, bagai tertusuk ribuan jarum tanpa mengalirkan darah. Aku kesemutan. Tidak. Aku tidak kesemutan. Semut-semut itu benar-benar nyata, berkerubut di kedua kakiku.

Semut-semut itu mulai naik. Semakin naik. Aku merasakan langkah kaki-kaki kecilnya di sekitar pahaku, menuju selangkanganku. Oh tidak! Ia tengah memasuki selangkanganku dan mengigit-gigit kedalamannya. Pasti ia semut jantan, pandainya semut itu menemukan bagian yang nikmat dari tubuhku.

Tidak! Aku merasakan kaki-kaki lain memasuki selangkanganku. Banyak jumlahnya. Semut-semut itu pasti telah memberitahukan kepada semut-semut yang lain. Mereka berduyun-duyun, berlomba-lomba seperti sepasukan sperma hendak menembus sel telur. Mungkinkah semut-semut itu telah mengintip apa yang aku lakukan semalam? Mungkin saja mereka iri dengan dengan lelaki yang semalam menyetubuhiku.

Tidak! Jangan! Aku tidak ingin melahirkan anak semut.

Aku telah meminum obat anti hamil dan lelaki yang semalam menyetubuhi juga memakai kondom. Jadi tidak mungkin benihnya akan bercampur dengan telurku. Tetapi astaga! Aku tidak pernah minum anti-sperma semut. Pastinya sperma semut-semut itu telah berhamburan menyesaki selangkanganku.

Aku mulai berkhayal aku akan melahirkan anak semut. Khayalanku ini cukup membantuku untuk mengurangi rasa sakit karena tergencet lantai-langit-langit dan rasa sakit di kepalaku karena kulit kepalaku digerogoti oleh banyak semut-semut. Aku berkhayal anakku nantinya akan bertubuh seperti layaknya manusia tetapi kepala dan tangannya adalah tangan semut. Jika ia mempunyai moral yang baik, ia tentunya akan tumbuh menjadi seorang superhero yang akan menyelamatkan bumi dan orang-orang. Aku berharap ia memiliki kemampuan untuk mendengar suara sampai sekecil apapun, bahkan suara hati manusia. Dengan demikian, anakku nanti bisa tahu setiap niat jahat yang hendak dilakukan oleh orang-orang. Juga aku berharap dia mempunyai kemampuan untuk menggali tanah dan hidup di dalamnya. Jika ia mempunyai kemampuan itu, aku akan menyuruhnya untuk merampok rumah-rumah para koruptor dengan cara memasuki rumah mereka dengan diam-diam dari dalam tanah. Aku membayangkan ia akan menjadi ikon penyelamat alam dan lingkungan. Foto dan gambarnya akan terpajang di koran-koran dan majalah-majalah, juga di poster-poster anti perusakan lingkungan.

Namun jika ia bermoral jahat dan bengis, ia akan menjadi seorang pembunuh berdarah dingin. Ia akan membunuh dan mengigit korban-korbannya mulai dari kaki sampai kepala dan otak, menyisakan tulang belulang. Ia akan membunuh satu persatu manusia untuk menyelamatkan spesies semut yang lain. Semut selalu terinjak-injak oleh manusia. Semut selalu dianggap binatang tidak berguna. Semut selalu dianggap binatang pengganggu. Ia akan melakukan balas dendam terhadap ras manusia.

Lebih baik ia tidak bermoral sama sekali. Jika dia tidak punya moral, ia hanya akan menjadi seonggok daging yang berujud aneh. Setidaknya ia akan menjadi tontonan banyak orang dan memberikanku ketenaran melebihi para selebritis. Bayangkan, aku akan menjadi liputan berita utama semua stasiun berita di dunia. Satu-satunya wanita yang melahirkan manusia semut. Orang-orang tidak perlu iba kepadaku dan memberikan sumbangan-sumbangan apapun. Dengan keterkenalanku itu, sudah cukup bisa mendatangkan banyak uang. Tentunya banyak produser-produser film dan sineas-sineas yang akan meminta anakku menjadi salah satu bintang dalam filmnya. Atau paling tidak, anakku pasti akan menjadi bintang iklan pembasmi serangga.

Oo betapa gilanya aku sampai membayangkan itu semua. Secara genetis aku semut-semut itu tidak akan bisa membuahi sel telurku. Aku tidak akan mungkin melahirkan manusia semut. Tapi mungkin saja bisa. Barangkali, gen semut-semut itu telah bermutasi karena telah semakin banyak mengkonsumsi remah-remah makanan hasil industri yang mengandung banyak sekali bahan kimia sintesis. Mungkin saja semut-semut itu terlalu banyak menjilati gula-gula sintesis hasil laboratorium sehingga gen-gen di dalam tubuh mereka bermutasi menyerupai gen manusia. Atau mungkin saja semut-semut itu telah terkena radiasi elektromagnetik dari benda-benda di sekitarnya : TV, radio, handphone, dan alat-alat elektronik lainnya. Radiasi elektromagnetik dari benda-benda itu mungkin saja tidak berpengaruh kepada manusia, tetapi bisa saja berpengaruh kepada semut yang ukurannya kecil. Ah.. tidak ada yang tidak mungkin di bawah langit.

Mendadak aku mendengar suara langkah kaki. Sangat keras sekali. seperti bunyi mesin penancap paku bumi. Atau seperti gong besar yang dipukul beberapa kali. Ah tidak. Ia seperti suara detak jantungku sendiri.

Suara itu semakin mendekat. Sangat dekat. Ia berada di balik pintu yang ku sentuh. Siapakah kau? Malaikat mautkah? Dari suara langkahnya aku dapat mengirakan ukuran tubuhnya sangat besar. Ia pasti malaikat maut yang datang untuk mencabut nyawaku. Sewaktu kecil aku pernah membaca sebuah cerita tentang malaikat, besar tubuh dan sayapnya memenuhi langit dari ujung timur sampai barat.

Cepatlah buka pintu itu. Aku sudah tidak tahan. Ambillah. Ambillah segera nyawaku. Aku ingin cepat merasakan kematian. Bawa segera aku meninggalkan tubuhku. Aku sudah tidak tahan dengan siksaan semut-semut di kepala dan kakiku. Biarlah tubuhku tertinggal di antara lantai dan langit-langit. Kau boleh saja membawa tubuhku agar langit-langit dan lantai bisa bersatu. Aku tahu tubuhku menjadi penghalang bersatunya mereka, tapi sebelumnya, bawalah dulu nyawaku, ruhku. Biarkan aku menjadi saksi bersatunya langit-langit dan lantai serta dinding-dinding. Aku tidak ingin memisahkan mereka. Sungguh menyakitkan rasanya terpisahkan.

Sekilas cahaya masuk melalui celah pintu. Menyilaukan. Mataku terpejam. Aku merasakan pelukan hangat. Tubuhku seperti dibawa terbang. Ah, akhirnya. Ia membawaku ruhku juga. Tinggi. Semakin tinggi menyentuh langit langit-langit (bukankah dari tadi tubuhku memang telah menyentuh langit-langit?). Aku tak ingin membuka mata. Biarlah aku mati dalam kedamaian dan kehangatan ini. Cahaya itu, cahaya itu begitu menyejukkan. Bersamanya ia membawa udara sejuk yang menyegarkan memenuhi paru-paruku. Cepatlah, cepatlah bawa aku. Reinkarnasikan ruhku menjadi kupu-kupu. Aku ingin selamanya terbang.

***

Seorang lelaki setengah baya memakai jas rapi tengah duduk di lobi hotel, Sepertinya ia tengah menunggu seseorang. Ia raih sebuah koran pagi yang sejak tadi menggodanya untuk dibaca lalu membuka halaman pertama. Tidak ada yang menarik, segera ia lewati dan membuka halaman kedua. Matanya agak terpaku sesaat membaca sebuah judul berita yang tercetak di kolom sebelah kanan. ”Seorang Wanita Penghibur Tewas Mengenaskan Di Sebuah Kamar Hotel : sekujur tubuhnya dikerubuti semut”. Sebuah suara memanggil namanya. Seorang wanita. Ia segera menutup koran itu dan menggamitnya di ketiak kirinya, berdiri dan melangkah pergi.

Jatinangor, 22 April 2006

2 Tanggapan ke “Pelacur dan Semut”

  1. nazazier alda berkata

    tetat semangat coyyyyyyyy.
    salam mimpi.

  2. arbi berkata

    waduhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>