J A L A I N D R A

jejaring peristiwa – jejaring kata – jejaring imagi – jejaring diri

  • ADI TOHA

    mail : jalaindra@yahoo.com
    YM : the_eagle_flies_alone







    Page copy protected against web site content infringement by Copyscape



  • ARSIP

  • PENANGGALAN

    Juli 2009
    S S R K J S M
    « Jun    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  
  • RUMAH SINGGAH

  • KUNJUNGAN

    • 50,366 Tamu telah Mabok Di Blog Ini
  • PETA KUNJUNGAN

  • MisCellaNeous

    Click to view my Personality Profile page



    blog readability test

Matahari Untuk Kekasihku

Ditulis oleh jalaindra di/pada Juli 2, 2009

1087ed70-e277-45be-ac98-4526bdb756e7Allea, jika suatu saat kau terbangun di pagi hari dan mendapati di atas langit-langit kamarmu tergantung sebuah bola bundar berkilauan dengan cahayanya yang terang namun hangat, seperti terang dan hangat yang kau rasakan saat matahari mulai terbit, jangan heran. Aku telah menggantungkan matahari di langit-langit kamarmu diam-diam di saat kau terlelap.

Aku selalu ingat saat kau mengatakan kecemburuanmu kepada Alina dan Liana. Alina telah mendapatkan hadiah dari kekasihnya sepotong senja seukuran kartu pos dan Liana mendapatkan dari kekasihnya selimut jingga senja. Lalu kau bertanya kepadaku apa yang telah dan akan aku berikan kepadamu. Aku selalu mengingatnya, Allea. Sejak itu, aku selalu mencari sesuatu yang bisa aku persembahkan untukmu sebagai hadiah terindah. Tentu saja aku tidak mau ikut-ikutan Seno mengerat senja seukuran kartu pos, juga tidak mau ikut-ikutan Jalaindra mencuri selimut jingga. Aku ingin sesuatu yang lebih megah dari keduanya.

Allea, juga jangan heran kenapa aku bisa masuk ke dalam kamarmu untuk menggantungkan lampu matahari itu tanpa membangunkan tidurmu. Bukankah kau telah menitipkan kuncimu kepadaku? Kunci satu-satunya milikmu yang kautitipkan kepada seseorang yang kepadanya kau mencintai dengan sepenuh, kepadaku. Malam itu aku akan diam-diam membuka pintu kamarmu, mengendap-endap agar tidak mengganggu tidurmu. Di dalam tasku, bulatan bercahaya sebesar bola voli yang menjadi tujuan perjalananku beberapa bulan yang telah lalu. Maafkan aku, Allea. Aku meninggalkanmu tanpa berpamitan, sehingga aku yakin kau cemas mencariku dan kehilanganku.

Ya, bulatan sebesar bola voli itulah matahari untukmu. Kau tahu dari mana aku mendapatkannya, Allea? Ah, ceritanya cukup panjang. Kuharap kau mau mendengarnya, atau setidaknya, kau mau membaca kisah yang akan kutuliskan setelah ini. Mungkin tidak mudah untuk menggantungkan bulatan bercahaya itu di langit-langit kamarmu. Benda itu cukup ringan, mungkin, tak lebih berat dari berat lampu kamarmu. Tidak seperti menggantungkan balon-balon yang pernah kugantungkan saat menghias langit kamarmu sewaktu kau berulang tahun, pada bulatan bercahaya itu aku tidak menemukan pangkal yang bisa aku lilitkan benang atau tali. Permukaan matahari itu halus, lembut dan terasa hangat. Juga pastinya tidak seperti menempelkan gambar-gambar glow-in-the-dark berbentuk benda-benda langit di sekeliling tembok dan langit-langit kamarmu. Bulatan cahaya itu tidak bisa menempel ke tembok atau langit-langit sama sekali. Aku pernah mencoba menggantungkannya di langit-langit mushola tempatku singgah. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Cerpen | 1 Komentar »

Sepasang Pejalan

Ditulis oleh jalaindra di/pada Juni 22, 2009

bukankah kita adalah sepasang pejalan
menggariskan peta-peta di tapak kaki kita
yang semakin aus digerus kerikil dan debu
sungai-sungai darah mengalir dari duri-duri
tertancap menanda setiap pemberhentian
dan pemberangkatan yang tak pernah usai
sepanjang tangis sepanjang doa dan dziikir

kita adalah sepasang pengelana di jalan ini
sepasang anak kecil mengejar kupu-kupu
meraih melompat di atas padang ilalang
lupa waktu lupa rumah lupa segala ingat
hingga sang Ibu memanggil hari telah senja

adakah senja memisah genggaman kita
menyerah pada kedalaman malam
kita pun tersesat meraba dalam pekat
nyalakan cinta menjadi pelita
masihkah kau menjaga api di hatimu
seperti aku menjaga mesiu di hatiku
kan kita ledakkan gelap sesak
menuju perayaan cahaya

bukankah kita adalah sepasang pelancong
dari satu negeri ke negeri satu kita singgahi
sejak semula kita telanjang
kenapa harus takut kehilangan?
pada akhirnya kita pun telanjang
kenapa harus menebalkan pakaian?

ya, kita adalah sepasang pengembara
saling meraba peta yang tertulis di kaki kita
mungkin peta kita tak sama
tapi sejak kita adalah sepasang penggembara
sejak jemari kita telah saling mengenggam mesra
sejak pandang kita telah satu titik yang sama
peta kita kan berujung di pemberhentian yang sama

jatinangor, 210609

Ditulis dalam Puisi | yang berkaitan: | 3 Komentar »

Pulang

Ditulis oleh jalaindra di/pada Juni 14, 2009

datanglah di waktu subuh
saat jerat penat dunia belum memenjara kita
kan kusambut engkau dengan lantun qunut
shalawat dan sujud di hamparan sajadah rumput
di pelataran rumah bambu kenangan kita
yang telah lama kau tinggalkan

datanglah di waktu subuh
dan sebelum Ibu membuka mata fajarnya
telah kita tinggalkan Jakarta
telah kita tinggalkan kota-kota
telah kita tinggalkan jalan raya
kan kita tinggali hening desa

tak perlu kita pikirkan nilai tukar mata uang
buat apa kita menekuri neraca minyak dan emas
tutup mata dan telingamu dari tontonan tivi
dari omongan orang-orang yang merasa dirinya penting
hingga setiap detik kehidupannya menjadi gosip dan berita

datanglah di waktu subuh
saat benih padi yang pernah kita semai di ladang kita
menumbuh dengan ujung daun kecilnya menunjuk ke langit
menyeru keagunganNya

sawah kita masih luas
anak-anak kita kan bermain di pematangnya
mengejar capung, menangkap belalang
membiarkan alam mengasuhbesarkan mereka

sungai-sungai yang dulu pernah kita renangi
masih sejuk sampai kini
ingatkah engkau saat ibu-ibu kita mencuci di setiap pagi?

datanglah di waktu subuh
dan saat Ibu telah membuka matanya
kehidupan tak lagi sama

jatinangor, 130609

Ditulis dalam Puisi | 3 Komentar »

11 Puisi di Ulang Tahunmu

Ditulis oleh jalaindra di/pada Mei 2, 2009

1. Langkah Waktu

detik detak yang memutar
seiring langkah waktu yang terus berkejaran
hari-hari yang telah terlewati
peristiwa dan mimpi-mimpi
menjadi pijak kita berdiri di detik ini
pandang jauh ke depan
ada mimpi dan harapan tuk kita taklukkan
dengan segenap doa, sepenuh cinta
akan hari-hari indah yang kan kita jelang
masa depan adalah misteri
dan kita akan membuka lapis demi lapisnya
dengan keyakinan diri

2. Kelahiran

di hari kelahiranmu ke dunia
kuyakin hujan turun saat itu
langit tengah menangis haru
ia kehilangan salah satu bidadari terbaiknya

di hari kehadiranmu di hatiku
hujan pun turun kala itu
langit tengah menyucikan hati kita
dari bening bulir-bulirnya
kita ‘kan berkaca ketulusan cinta

3.  Saat Kelahiran

dari rahim ibumu yang rahimNya kau hadir
dari sehembus ruhNya kau berdetak, tumbuh dan terlahir
ada tawa mengiringi tangis perkenalanmu dengan dunia
butir-butir bening air mata haru dan bahagia
mengalir dari sudut mata ibumu

dalam erangan tertahan doa-doa terselip
dalam desahan lega harapan-harapan terucapkan
semoga kaujalani hidup dengan penuh kebahagiaan
selamat ulang tahun kuucapkan

panjang umur di hari-hari yang kelak kaujelang
(bersamaku)

4. Janji Matahari

adakah yang lebih setia dari matahari
terbit kala pagi
ia sentuhkan jemari-jemari cahayanya
membelai setiap lekuk wajah dunia

pada embun di pucuk dedaun
ia jentikkan butirannya menguap
lalu diembunkannya lagi di waktu senja

adakah yang lebih setia dari matahari
ia hamparkan selimut jingganya
menanda usai sengat terik
lalu dibaringkannya keteduhan malam
dan bulan ia gantungkan menjadi lelampunya

adakah yang lebih setia dari matahari
menanda perputaran hari
tak pernah surut, tak pernah henti

5. Hikayat Sungai

pada awalnya semua adalah satu
pada mulanya semua adalah samudera
gunung-gunung bersemayam di kedalaman birunya

lalu diciptakanlah daratan
barisan gunung tegak di kejauhan
dengan puncak-puncaknya ia memandang lautan

air mata kerinduan gunung mengalir
maka terciptalah sungai-sungai
berkelok-kelok mencari celah ke muara

seperti rinduku
yang selalu mengalir ke samudera cintamu
karena pada mulanya kita adalah satu

6. Biru Kerudungmu

Biru kerudungmu
adalah biru laut sembunyikan elok panoramanya
ada kehidupan yang semarak
ada hamparan dunia beragam warna
inginku menyelami kedalamannya
mencumbu ikan-ikan di hatimu
menyentuh terumbu-terumbu karang di dasarnya
kan kupahat cintaku di sana

Biru kerudungmu
adalah biru langit sembunyikan bebintang
beribu cahaya dari sudut-sudut semesta jiwa
ada yang redup, ada yang benderang
inginku menyusuri setiap kerlipnya
dari ujung cahayanya yang sampai di kedalaman hatiku
kan kusulam kerudung cahaya

7. Mei Yang Engkau

pada bulan yang lima
seperti yang lima di setiap harian kita
kusematkan doa di hari pertambahan usia
tanggallah sudah satu persatu kalender dinding
hari-hari yang telah terlewati
menanda masa yang telah diakhiri

usahlah ada penyesalan
melangkah dengan penuh keyakinan
jalan di depan masih panjang membentang
menunggumu untuk mencumbu setiap kelok likunya
dan di ujungnya kau ‘kan temukan cita cinta
(aku)

hari ini adalah persembahan surga
pada bulan yang lima
seperti yang lima di setiap harian kita
tengoklah ke belakang jalan yang telah kaulalui
ada lubang, ada tanjakan, ada liku, ada duri
dan kaumampu melaluinya sampai detik ini

pada bulan yang lima
seperti yang lima di harian kita
pancangkan tiang-tiang doa
kembangkan layar-layar harap
berlayarlah di samudera hidup
takluklah badai duka yang mengintai
di setiap semilir angin
(bersamaku)

pada bulan yang lima
seperti yang lima di harian kita
kusematkan doa di hari pertambahan usiamu

8. 22 Pintu

telah kaumasuki pintu-pintu
kaususuri tiap labirinnya
ada duri, ada pecahan kaca
kadang gelap tanpa jendela
kadang cerah
namun kautetap melangkah

pintu ke 22 baru saja kaumasuki
ada ruang kosong yang masih misteri
nyalakan api dari dalam hatimu
terangilah setiap jalan di hadapan

22 pintu di belakang tertutup sudah
kau tak bisa kembali dan menyerah
jauh di depan ada pintu ke 23, 24
mungkin di pintu itulah mimpimu menunggu

tak perlu takut akan kegelapan
tak perlu ragu akan liku jalur di depan
aku akan menjadi tongkat dan apimu
aku akan menjadi kuncimu
masuki pintu-pintu berikutnya
hinga pintu terakhir menujuNya

9. Lilin Masa Lalu

seperti lilin kecil yang kautiup di hari ulang tahunmu
seperti itulah masa lalu akan kaupadamkan
luka duka tanggalkanlah
bersama tanggalnya lembaran kalender masa

10. Kejora

kejora, namamu, seperti bintang
hadirmu menanda hari baru
setitik cahaya di tengah padang muram
menunjuk arah para pejalan

kejora namamu, seperti bintang
gadis kecil di tengah belantara kota
mendamba harum bunga padi
dan semerbak rumput ilalang

seperti kejora menanda hari baru
seperti hari ini di saat ulang tahunmu

11. Sebelas

Kita adalah angka sebelas
bilangan prima yang hanya habis dibagi
oleh dirinya sendiri
menjadi satu
: kita

kaulah pembagiku, akulah pembagimu
kau bagi ku adalah satu
aku bagi mu adalah satu
: kita

Selamat Ulang Tahun, kejoraku.
dariku, mataharimu.

Ditulis dalam Uncategorized | 6 Komentar »

Kisah Holly Golighty

Ditulis oleh jalaindra di/pada April 18, 2009

cover_breakfast_at_tiffanysJudul buku    : Breakfast at Tiffany’s
Pengarang    : Truman Capote
Penerjemah    : Berliani M. Nugrahani
Penerbit    : Serambi
Cetakan        : I, Februari 2009
Tebal        : 149 hlm

Novel pendek (novella) Breakfast at Tiffany’s terbit pertama kali pada tahun 1958, enam tahun sebelum penerbitan In Cold Blood, ‘novel non-fiksi’ yang semakin melambungkan nama Truman Capote sebagai penulis papan atas Amerika. Dua buah film yakni Capote (2005) dan Infamous (2006) dibuat berdasarkan kisah hidupnya. In Cold Blood merupakan novel yang ditulis dengan gaya jurnalisme sastrawi berdasarkan kisah nyata pembunuhan sadis yang dilakukan oleh dua orang pembunuh terhadap sebuah keluarga petani kaya di Holcomb, Texas.

Dalam Breakfast at Tiffany’s, Capote menceritakan tentang Holly Golighty, seorang wanita penghibur kelas atas New York. Dengan parasnya yang cantik dan bentuk tubuhnya yang menawan, ia bisa mengencani banyak pria kalangan atas, mulai dari pengusaha, petinggi Hollywood, politisi, petinggi militer, bahkan mafia. Gaya hidupnya glamor dan berpikiran bebas. Dia adalah ratu pesta. Pembawaannya yang supel, ceria, penuh pengertian, wawasan dan pergaulannya yang luas, mampu menarik perhatian siapapun yang mengenalnya, tidak terkecuali seorang pria yang menempati apartemen di atas apartemennya, yang bercita-cita menjadi seorang penulis, yang menjadi narator dalam novel ini. Holly memanggilnya dengan nama Fred, nama kakaknya.

Narator mengawali ceritanya dengan sebuah perbincangan dengan Joe Bell, pengelola sebuah bar di Lexington Avenue, tempat tokoh aku dan Holly biasa berkunjung. Perbincangan itu terjadi beberapa tahun setelah tokoh aku tidak berjumpa dengan Holly, bahkan sekedar mengetahui kabarnya pun tidak. Mereka saling menanyakan kabar Holly, namun tak ada satupun yang bisa memberikan kabar yang pasti, kecuali sebuah foto seorang kulit hitam sedang memamerkan patung kayu ukiran berbentuk kepala seorang gadis yang sangat mirip dengan Holly Golighty. Dan foto itu diambil di sebuah desa kecil di Afrika! Selanjutnya, narator mulai menceritakan awal perkenalannya dengan sang primadona tersebut. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ulasan Buku | 4 Komentar »

Maria, Kenangan Cinta Pertama

Ditulis oleh jalaindra di/pada April 16, 2009

Judul     : Maria
Pengarang     : Vladimir Nabokov
Penerbit     : Serambi
Tahun     : I, Maret 2009
Tebal     : 205 halaman

Mahluk apakah yang bernama kenangan itu? Sehingga setiap kehadirannya bisa meruntuhkan jarak antara masa kini dan masa lalu. Kenangan hadir begitu kuatnya sehingga waktu yang seharusnya bergulir semakin membawa ke masa depan, malah seperti mengantar kembali ke masa lalu? Apalagi jika kenangan itu berhubungan dengan pengalaman cinta pertama di masa muda yang penuh romantisme dan begitu menakjubkan, yang didasari oleh cinta yang tulus dan penuh kelembutan. Itulah yang terjadi dengan Lev Glebovich Ganin, seorang imigran Rusia yang tinggal di sebuah pondokan kumuh di Berlin.

Pada suatu ketika Ganin terjebak dalam lift pondokannya yang rusak bersama seorang penyewa pondokan lainnya. Ganin mulai berkenalan dengan teman pondokannya itu yang bernama Aleksey Ivanovich Alfyorof; dan ia diperkenalkan dengan sebuah nama: Maria, istri Alfyorof yang akan datang ke pondokan itu beberapa hari lagi. Siapakah Maria bagi Ganin? Dari adegan awal saja, pengarang telah memberikan semacam pertanda bahwa Ganin dan Alfyorof telah dihubungkan oleh sebuah nama: Maria.

Ingatan Ganin tentang sebuah nama: Maria, semakin menjadi manakala Alfyorof menunjukkan foto istrinya kepada Ganin. Tanpa berkata sepatah katapun, Ganin meninggalkan kamar Alfyorof dan membanting pintu kamarnya sendiri tepat di depan muka Alfyorof setelah ia melihat foto-foto Maria yang ditunjukkan kepadanya. Ganin yang semula sangat periang dan sering melakukan “kehebohan” bagi seisi pondokan, berubah menjadi seorang pemurung yang tidak menyenangkan. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ulasan Buku | 2 Komentar »

Melankolia: Sungai

Ditulis oleh jalaindra di/pada April 12, 2009

di sinilah waktu mengalir
menghanyutkan buih-buih sabun
bercampur kotoran dan air kencing
namun selalu ada ruang kosong yang bening
kita berendam bermain air
menepuk-tepuk permukaannya yang tenang mengalir
meraba-raba bebatuan kecil di dasarnya
dengan jemari kaki kita

di sinilah kita pernah tenggelam
di sinilah pula kita belajar berenang
menantang arus hidup
yang terus membawa kita ke muara

pernah kita membangun candi pasir di tepinya
pernah kita berlarian dan meloncat terjun dari tebingnya
menyelami kedalaman hidup
mencari bebatuan berkilau di dasarnya

sungai yang tak pernah mengeluh
tenang arusnya menggerus aral
diam, seperti waktu menghantarkan senja
dan kita harus pulang
kepada rumah, kepada ibu, kepadaNya
tempat segala berakhir dan bermula

sungai-sungai mengalir di dalam kita
sungai air mata, sungai darah
merahnya darah yang memerahi mata kita
kita terlalu lama menyelam
nafas kita tersengal
namun selalu kita ingin menyelam
dan menyelaminya lagi
kedalaman hidup
yang tak pernah kita temukan dasarnya

Pekalongan, 120409

Ditulis dalam Puisi | 2 Komentar »

The New Life, Orhan Pamuk – Sihir Sebuah Buku

Ditulis oleh jalaindra di/pada Maret 21, 2009

coverJudul Buku : The New Life, Kehidupan Baru
Pengarang : Orhan Pamuk
Penerjemah : Erwin Salim & Ratih Ramelan
Penerbit : Serambi, November 2008
Tebal : 469 halaman

“Suatu hari, aku membaca sebuah buku, dan seluruh kehidupanku pun berubah”. Itulah kalimat pembuka novel karya penerima penghargaan nobel sastra tahun 2006, Ferit Orhan Pamuk, yang berjudul The New Life, kehidupan baru. Novel ini terbit pertama kali di Turki dengan judul Yeni Hayat, pada tahun 1995 dan menjadi buku yang paling cepat terjual habis dalam sejarah Turki.

The New Life, dinarasikan oleh Osman, seorang mahasiswa teknik di Istanbul, yang suatu ketika melihat sebuah buku dalam genggaman seorang gadis cantik teman kuliahnya. Secara kebetulan, dalam perjalanan pulang, ia melihat buku itu dan membelinya di sebuah kaki lima. Kebetulan itulah yang akhirnya merubah seluruh kehidupan Osman. Sebuah kebetulan pula, jika gadis cantik yang bernama Janan itu telah memiliki kekasih yang bernama Mehmet, yang juga telah membaca dan telah melakukan perjalanan untuk mencari dunia dalam buku itu. Sebuah dunia dan perjalanan, yang menurut Mehmet akan sangat berbahaya, karena ada sekelompok orang yang akan meneroror bahkan membunuhnya hanya karena ia telah membaca buku itu. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ulasan Buku | 21 Komentar »

Cemas

Ditulis oleh jalaindra di/pada Maret 19, 2009

menunggu sapamu di setiap fajar
bergeletar rindu di sekujur tubuh
mengigil gemeretak detak jejarum waktu
tak kunjung tiba kabar darimu

takkan surut lautan tunggu
menepikan bebuih pada bebutir pesisir
meski tak henti kuhitung cemas
meraba esokku kehilanganmu

menunggu hadirmu di kala senja
terik mengatup pada pejam malam
rindu terjaga di belalak ingatan
getar cemas memakubeku
sementara rindu mengerasbatu
kupahat kita di setiap permukaannya

jatinangor, 190309

Ditulis dalam Puisi | 4 Komentar »

Dialog Indah Menjelang Ajal

Ditulis oleh jalaindra di/pada Maret 18, 2009

cecilia-dan-malaikat-arielJudul        : Cecilia & Malaikat Ariel
Judul Asli    : Through a Glass, Darkly
Pengarang     : Jostein Gaarder
Penerjemah     : Andytias Prabantoro
Penerbit     : Mizan, Desember 2008
Tebal        : 211 halaman

Kisah pengalaman seseorang dalam melewati saat-saat terakhir menjelang datangnya kematian selalu memberikan penyadaran akan betapa berharganya waktu hidup yang dimiliki di dunia. Terkadang, kita tak pernah menyadarinya, dan baru tersadar saat kita telah sampai di titik akhir kehidupan: sakaratul maut. Jostein Gaarder, lewat novel pendeknya Through a Glass, Darkly (yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Cecilia & Malaikat Ariel) hendak menceritakan kisah serupa. Dalam novel-novelnya, Jostein Gaarder kerap mengangkat tema dan gagasan besar tentang filosofi kehidupan, namun dituturkannya lewat kisah yang sederhana. Novel-novelnya yang telah terbit sebelumnya di Indonesia adalah: Dunia Sophie, Misteri Soliter, Vita Brevis, Gadis Jeruk, Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken, dan Maya.

Pada suatu malam natal, Cecilia Skotbu, seorang gadis belia hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidurnya, ia menderita penyakit parah yang dikhawatirkan tidak akan bisa disembuhkan. Ia tidak bisa melewatkan malam natal bersama keluarganya. Cecilia marah kepada Tuhan atas derita yang dialaminya. Ia menganggap bahwa Tuhan tidak adil. Lalu, tiba-tiba, pada tengah malam, keajaiban terjadi: seorang malaikat yang bernama Ariel datang menghiburnya. Terjadilah dialog antara keduanya. Seiring berjalannya waktu, terjalin keakraban antara Cecilia dan Ariel. Keduanya lalu bersepakat untuk saling berbagi cerita. Cecilia harus menceritakan tentang dunia dan bagaimana rasanya menjadi manusia, sebagai balasannya, Ariel akan memberitahukan tentang surga dan bagaimana rasanya menjadi malaikat. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Ulasan Buku | 3 Komentar »