Ditulis oleh jalaindra di/pada Juli 4, 2008
Society, you’re a crazy breed.
I hope you’re not lonely, without me.
Society, crazy indeed.
I hope you’re not lonely, without me.
Society, have mercy on me.
I hope you’re not angry, if I disagree.
(Eddie Vedder)
Ditulis dalam Catatan | 2 Komentar »
Ditulis oleh jalaindra di/pada Juni 21, 2008
Bukan kami tidak memiliki baju untuk menutupi tubuh kami. Kami hanya mencoba berbicara jujur pada diri kami. Tanpa kedok. Tanpa topeng. Tanpa pura-pura. Nikmatilah ketelanjangan kami. Nikmatilah kelamin-kelamin kami.
Kami tidak ingin kain, selendang, baju, atau jubah. Itu hanya akan menjadi pembungkus dari kebusukan kami. Beri saja kami daun Ara yang digunakan Ibu kami. Nikmatilah ketelanjangan kami. Nikmatilah kelamin-kelamin kami.
Kami berjalan ke kota-kota. Kami berjalan ke pasar-pasar. Kami berjalan ke kantor-kantor. Kami berjalan ke kampus-kampus. Kami berjalan ke masjid-masjid. Gereja. Pura. Candi. Lihatlah ketelanjangan kami. Sebelum kami diseret anjing-anjing berjubah yang mengikuti kami sejak mereka melihat ketelanjangan kami. Nikmatilah ketelanjangan kami. Nikmatilah kelamin-kelamin kami.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Puisi | 3 Komentar »
Ditulis oleh jalaindra di/pada Juni 21, 2008
seperti sperma yang kausemburkan saat masturbasi. di pojok kamar mandi itu kaumenggapai-gapai surga. sungai-sungai seputih susu mengalir menuju lubang pembuangan. bertemu lumpur. bertemu kotoran. bertemu segala bau dosa. kau takkan pernah bisa melahirkan anak-anak impianmu dari kedua telapak tanganmu yang membuka ke langit.
jtngr, 150608
Ditulis dalam Puisi | Tidak ada komentar »
Ditulis oleh jalaindra di/pada Juni 12, 2008
oleh: Adi Toha
Saya menerima buku ini dari Aveus Har, seorang pegiat sastra di Pekalongan yang juga penulis muda produktif Pekalongan, di acara “Sastra Balik Desa” di Desa Gebyok, Gunung Pati Semarang, 16 Mei 2008 silam. Di tempat itulah juga untuk pertama kalinya saya bertemu dengan awak Komunitas Rumah Imaji Pekalongan, sebuah komunitas yang bergiat dalam kerja-kerja sastra di Kabupaten Pekalongan. Saya senang mengetahui bahwa di Pekalongan ada Komunitas Rumah Imaji, dengan kerja-kerja yang telah mereka capai sampai saat ini, termasuk dengan menerbitkan –bekerjasama dengan Dewan Kesenian Daerah-sebuah bunga rampai sastra remaja dan pelajar Kabupaten Pekalongan.
Cikal, demikian buku tersebut berjudul, adalah sebuah kumpulan cerita pendek dan puisi yang ditulis oleh para pelajar dan remaja di wilayah kabupaten Pekalongan. Cerita pendek dan puisi yang masuk ke dalam buku ini telah diseleksi oleh Tim penyeleksi yang terdiri dari Komunitas Rumah Imaji dan DKD Kab. Pekalongan. Hasilnya, terdapat 12 cerpen dan 20 puisi dengan 32 pengarang yang berasal dari pelajar SMP, SMA, anggota Komunitas Rumah Imaji, dan FLP.
Meski saya cukup senang dan bangga dengan penerbitan bunga rampai ini, namun, membaca cerpen-cerpen dan puisi-puisi dalam buku ini, saya tidak menemukan sesuatu yang baru yang cukup untuk membuat saya bisa kagum pada puisi dan cerpen-cerpen tersebut. Pilihan tema yang disajikan oleh para pengarang muda ini masih berkutat di seputar kehidupan remaja dan sekolah, seputar cinta dan persahabatan, pemandangan alam, dan perasaan hati, meski ada beberapa yang sedikit menyinggung permasalahan sosial. Pun bagaimana mengolah tema menjadi sebuah cerita atau puisi, masih biasa-biasa saja. Mungkin wajar, karena buku ini adalah bunga rampai sastra remaja dan pelajar, dan bisa jadi, sebagian besar karya para pengarang yang masuk ke dalam buku ini adalah karya pertama yang mereka tulis.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Ulasan Buku | Tidak ada komentar »
Ditulis oleh jalaindra di/pada Juni 5, 2008
Di matamu Ibu, aku melihat tangis
yang mendekam malu
yang tak ingin kautumpahkan
hanya untuk memanggil anakmu pulang
anakmu telah jauh berjalan
menyusuri laku liku kata
yang tak satupun
kaumengerti artinya
Di mataku Ibu, aku mengalirkan tangismu
yang tak kenal malu
yang selalu kutumpahkan
hanya untuk merindu pulang
anakmu telah terlanjur jauh berjalan
menyusuri laku liku kata
yang tak satupun
kaukenyang darinya
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Puisi | 1 Komentar »
Ditulis oleh jalaindra di/pada Mei 31, 2008
Sampai di depan stasiun, bayangan ketiga anak kecil yang berkerumun di bawah hujan itu masih teringat dengan jelas. Sambil melangkah masuk ke dalam stasiun, pikiran nakalku mencoba menghubung-hubungkan apa yang sejak perjalanan tadi aku lihat dan alami. Dengan langkah perlahan dan tidak begitu terburu aku menuju loket hendak membeli tiket kereta ke Jogja. Waktu itu sekitar jam 4 sore-an. Sepengalamanku, kereta ke Jogja (Lodaya Malam) berangkat jam 8 malam. Aku cukup kaget dan bingung saat petugas loket mengatakan bahwa tiket ke Jogja untuk Lodaya malam kelas bisnis telah habis, yang tersisa hanya tiket berdiri. Petugas lalu menawarkan tiket Lodaya Pagi. Dengan bodohnya aku malah bertanya: “kalau yang berdiri harganya sama saja, Pak?” Setelah menyadari kebodohan pertanyaanku itu, aku mengumpat dalam hati: Bodoh! Emangnye angkot, bise nawar. Bus Damri aje, berdiri kagak berdiri same aje!
Ada jeda waktu beberapa saat sebelum aku memutuskan untuk mengambil tiket berdiri. Kupikir, tidak ada salahnya mencoba naik kereta Bandung-Jogja tanpa tempat duduk. Toh, lorong-lorong kereta bisa jadi tempat duduk, tempat di sambungan gerbong bisa jadi tempat duduk. Jadilah aku beli tiket kereta. Sebelum petuga loket mengurus tiket, aku mendengar gumaman yang tidak jelas darinya, ia seperti mengatakan: “oh, ini masih ada satu yang kosong” atau apa, aku kurang jelas mendengarnya. Kupikir, kalau memang ada satu yang kosong, syukurlah.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Catatan | yang berkaitan: Perjalanan Setengah Mei | Tidak ada komentar »
Ditulis oleh jalaindra di/pada Mei 28, 2008
Langkahku di siang itu semakin aku percepat, berpacu dengan hujan yang mulai turun mengguyur Jatinangor. Aku harus sampai di Pangkalan Damri sebelum hujan menderas. Meski titik-titik airnya semakin besar dan telah membasahi sekujur badan, tak ada keinginan sedikit pun untuk berteduh barang sebentar di emperan pertokoan atau di tempat lain. Lebih baik cepat sampai di Pangkalan Damri dan menunggu bus di sana daripada berhenti di tengah jalan.
Siang itu, Rabu 30 April 2008 aku telah berencana untuk berangkat ke Jogja. Ada beberapa hal yang telah aku rencanakan. Pertama adalah bertemu dengan Kang Sigit Susanto. Mulanya kami akan bertemu di Pondok Maos Guyub, Boja, Kendal pada tanggal 4 Mei 2008, tapi berhubung pada tanggal 1 Mei-nya akan ada acara Temu Apsasian Jogja, kenapa tidak, aku langsung ketemuan di Jogja? Sekalian aku ingin bertemu muka dengan kawan-kawan Apsas Jogja yang belum sempat aku temui, sekaligus aku ingin mengunjungi beberapa kawan di Jogja yang sempat aku kenal pada sebuah kunjunganku ke Jogja bulan Januari sebelumnya.
Akhirnya sampai juga aku di Pangkalan Damri Jatinangor. Hujan semakin deras. Tak berapa lama sebuah bus Damri jurusan Jatinangor-Dipati Ukur yang penuh sesak datang dari arah barat, berputar dan bersiap untuk berangkat lagi. Kukira bus itu akan berhenti beberapa waktu untuk menurunkan para penumpang, ternyata bus hanya berhenti sejenak dan para penumpang yang turun hanya sedikit, malahan orang-orang yang mau naik lebih banyak sehingga berebut dulu-duluan. Pastilah para penumpang yang tidak turun sudah mencengat bus dari jauh sebelum bus masuk ke pangkalan. Memang kadang diperlukan cukup usaha sikut-menyikut senggol-menyenggol untuk bisa duduk tenang di dalam Bus Damri Jatinangor-DU.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Catatan | yang berkaitan: Perjalanan Setengah Mei | Tidak ada komentar »
Ditulis oleh jalaindra di/pada Mei 27, 2008
:untuk Agni
dari satu titik yang kutoreh
kita mengubahnya menjadi kata-kata
dari kata-kata kulintasi jarak waktu
:perjalanan dari kota ke kota
kaumenyambutku dengan wajah dan senyummu yang asing
namun kutahu itu hanya sementara
sebelum wajah dan senyum itu kusimpan
dalam helaian ingatan yang sewaktu-waktu
kubaca dan kubaca lagi
kita bertukar masa lalu dalam riuh masa kini
kita saling meminjam pertanyaan
dan mereka-reka jawaban
kita saling membaca diam
dan bertegur gurauan
siapakah engkau yang telah menjadi magnet
bagi planet di kedua kakiku
siapakah aku yang telah menjadi komet
sejenak mengunjungi bumimu
pertemuan yang singkat telah kita rayakan
dalam gugur daun-daun
dalam semilir angin awal mei
yang berpusar di alun-alun kota
lalu meluncur jauh mengunjungi barisan stupa
di antara barisan stupa itu kita mendaki kefanaan
setiap undakan adalah panggilan untuk mengakhiri
memenggal cerita menjadi keping-keping ingatan
sebelum kita jatuh ke dalam kecewa
karena betapapun inginnya
waktulah yang selalu memahadaya!
Mei 2008
Ditulis dalam Puisi | Tidak ada komentar »
Ditulis oleh jalaindra di/pada Mei 27, 2008
mencintaimu:
aku akan menjelma udara
yang diam-diam membelai tidurmu
masuk ke dalam nafasmu
menjadi bagian dari tubuhmu
aku akan menjelma udara
hingga nafasmu adalah aku
dan aku adalah hidupmu
aku akan menyusup diam-diam
ke dalam setiap aliran darahmu
mengisi setiap rongga dan pori
dalam tubuhmu hingga aku adalah engkau
dan engkau adalah aku
kau dan aku adalah satu
hingga aku bisa melihatmu dalam diriku
engkau melihatku dalam dirimu
pada setiap nafas yang kauhembus
kau melihat nafaskulah yang berhembus
pada setiap nafasku yang kauhembus
aku melihat hidupmu yang adalah aku
nafasku nafasmu adalah nafas semesta
yang adalah nafasNya
diriku dirimu adalah satu yang adalah diriNya
pkl, 220508
Ditulis dalam Puisi | Tidak ada komentar »
Ditulis oleh jalaindra di/pada Mei 21, 2008
di borobudur aku mencium wangi purba
kuasa masa silam yang angkuh
dari garis waktu
orang-orang membangun mimpi-mimpi
dari retak sejarah
dari sisa jaya masa silam
yang pada akhirnya musnah
oleh mimpi-mimpi itu sendiri
apa yang kaucari di antara pahatan batu
kisah-kisah leluhurmu
apa yang kucari di antara deretan stupa
kenangan dan perjuangan melawan lupa
kita adalah relief
yang diam di batu-batu takdir
menunggu tangan-tangan gaib meraba
menerjemahkan kisah hidup kita
di borobudur aku mendaki undakan waktu
bersama wajahmu yang terpahat dalam
di borobudur hatiku
mei 2008
Ditulis dalam Puisi | Tidak ada komentar »