Ditulis oleh jalaindra di/pada November 13, 2009
Masih ingat dengan Kisah Klan Otori? Rangkaian kisah menakjubkan karya Lian Hearn dimulai dari Across The Nightingale Floor, Grass For His Pillow, Brilliance of The Moon dan The Harsh Cry of Heron. Sebentar lagi, yang ditunggu-tunggu, edisi bahasa Indonesianya akan segera hadir, buku ke O : Heaven Net Is Wide. Menurut info di situs Penerbit Matahati, buku ini akan terbit awal Desember 2009, tapi sudah bisa dipesan di toko buku online mulai tanggal 24 November 2009. can’t hardly wait..
Dalam permulaan Across The Nightingale Floor diceritakan tentang pertemuan Otori Shigeru dengan Tomasu -yang kemudian beralih nama menjadi Otori Takeo. Lewat serangkaian intrik yang dijalankan oleh Iida Sadamu, Shigeru tewas. Otori Takeo melakukan perannya sebagai pemimpin klan untuk menggantikan Shigeru. Meskipun pemunculannya dalam buku pertama tersebut relatif sebentar, sosok Otori Shigeru sangat menyita perhatian para pembacanya. Nah, dalam Heaven Net Is Wide inilah sosok Shigeru akan benar-benar menjadi tokoh utama. Kita akan mengikuti perjalanan pemimpin Klan Otori tersebut sebelum bertemu dengan Takeo.
Bagi yang belum pernah baca Kisah Klan Otori, silahkan kamu bisa resensinya di sini: Across The Nightingale Floor, Grass for His Pillow, Brilliance of The Moon dan The Harsh cry of Heron. Apakah prequel ini akan sama menakjubkannya dengan trilogi dan sekuelnya? Semoga.
Ditulis dalam Ulasan Buku | 1 Komentar »
Ditulis oleh jalaindra di/pada November 5, 2009
Di atas tempat tidurnya yang lembut dan empuk Allea mengerjap-kerjapkan matanya memandang langit-langit kamar yang putih bersih tanpa cicak tanpa sarang laba-laba. Selimut lembut dan empuk membebat tubuhnya dari dada sampai ke ujung kaki, sementara rambut panjangnya terurai acak-acakan di atas bantal putih yang sarung bantalnya selalu diganti setiap seminggu sekali. Allea tidak tahu kenapa ia memandang langit-langit. Yang ia tahu, hanya itulah tempat pertama yang dilihatnya ketika terbangun dari tidurnya. Entah tidur siang, sore ataupun malam. Ia tidak tahu, apa yang ingin ia pandangi di langit-langit yang sepi itu.
Tempat kedua yang selalu ia pandangi adalah laut. Ya, laut yang terbingkai di jendela kamarnya. Lama ia terpekur di samping jendela kamarnya yang tepat mengarah ke laut. Kamar apartemennya yang berada sepuluh lantai dari permukaan tanah dengan jendela yang tepat menghadap ke laut, memudahkannya untuk memandangi luasan laut dengan lalu lalang kapal feri dari satu seberang ke seberang yang lain. Ia juga tidak tahu apa yang ingin dilihatnya di luasan laut itu. Yang ia tahu, ia suka memandangi laut dari jendela kamarnya. Gedung-gedung tinggi di daratan seberang samar tertutup di balik kabut tipis. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Cerpen | Bertanda: matahari dan kejora | 1 Komentar »
Ditulis oleh jalaindra di/pada Oktober 28, 2009
Judul : The Magician’s Elephant, Gajah Sang Penyihir
Pengarang : Kate DiCamillo
Ilustrasi Oleh Yoko Tanaka
Alih Bahasa : Dini Pandia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : September, 2009
Seberapa besar kepercayaanmu terhadap ramalan? Jika suatu saat kau diberi tahu oleh seorang peramal bahwa seekor unta akan membawamu menemukan harta karun di bawah piramida, padahal hampir tidak mungkin kau akan bertemu dengan seekor unta karena kau tinggal sangat jauh dari negeri padang pasir, dan hampir tidak mungkin kau akan melihat langsung piramida, apakah kau akan mempercayai sang peramal itu atau menganggap itu hanya sebuah bualan belaka?
Peter Augustus Duchene, adalah seorang anak yatim piatu sepuluh tahun yang tinggal bersama seorang mantan tentara yang sangat tua dan sakit-sakitan di kota Baltese. Vilna Lutz, nama mantan tentara itu, adalah sahabat ayahnya, ia berharap Peter menjadi seorang tentara seperti ayahnya. Maka setiap hari Peter diajari segala hal tentang ketentaraan mulai dari baris berbaris hingga strategi pasukan. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Ulasan Buku | Leave a Comment »
Ditulis oleh jalaindra di/pada Oktober 23, 2009
1. Cinta dan Kehilangan
Pada suatu masa kau pernah mencintai seseorang dan seseorang itu mencintaimu. Cintanya kepadamu membuatmu berjanji tidak akan pernah mencintai seseorang yang lain sepanjang hidupmu. Pada suatu masa seseorang yang kau cintai itu pergi ke negeri yang jauh. Berhari, berminggu bertahun tanpa kabar. Lalu kau menulis surat-surat untuknya namun kau tak yakin surat-surat itu akan sampai. Pada suatu masa kau bertekad akan menyusul seseorang itu, dengan cara apapun kau akan menemuinya. Pada suatu masa setelah bertahun-tahun menjalani perjalanan panjang dan berat, sampai harus bertaruh nyawa dengan maut, kau berhasil menemuinya. Cintanya kepadamu masih seperti dulu, tapi ia tidak bisa ikut bersamamu karena ia telah menikah dengan orang lain dan memiliki anak. Pada suatu masa kau menepati janji yang pernah kau ucapkan untuk tidak akan mencintai orang lain sepanjang hidupmu. Pada suatu masa akhirnya pergi dan menghilang, bertahan hidup sendiri dengan kenangan-kenangan manis dan cintamu kepadanya. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Ulasan Buku | 3 Komentar »
Ditulis oleh jalaindra di/pada Oktober 22, 2009
seperti laut yang selalu merindukan cumbuan camar di setiap gelombangnya
sedihkah ia ketika camar melayang meninggi mengangkasa
sementara ia tahu, akan ada satu masa saat camar menghidu bebuihnya
seperti laut yang selalu merindukan puncak gunung yang pernah berada di kedalaman pelukannya
sedihkah ia ketika puncak itu kini menjulang tinggi di kejauhan tak tersentuh
sementara ia tahu, tangis dari sungai-sungainya selalu berujung di muaranya
seperti laut tabah melepas segala kepergian
seperti laut setia menanti segala kepulangan
seperti rindu dan cintaku tukmu
221009
Ditulis dalam Puisi | 2 Komentar »
Ditulis oleh jalaindra di/pada Oktober 18, 2009
Berawal dari obrolan ringan di sebuah sore berteman segelas kopi di Ngeumong Cafe Library, tentang laron, saya jadi teringat sebuah puisi pendek yang pernah saya tulis tentang Laron atau Siraru dalam basa sundanya.
Siraru
iring-iringan di mulut lubang
melepas kepergian prajurit ke medan perang
empat sayap rapuh menjadi senjata
terbang memburu cahaya
Ya, laron. Kebanyakan mungkin hanya melihat laron ketika mereka beterbangan di malam hari musim hujan mengerumuni cahaya. Pernahkah kalian melihat bagaimana laron-laron keluar dari lubang-lubang di dalam tanah? Terutama ketika pagi selepas hujan semalam sebelumnya? Ya, dari lubang-lubang basah di dalam tanah, laron-laron itu keluar, diiringi atau dikawal oleh berpuluh-puluh rayap kepala putih dan rayap kepala merah. Satu persatu laron-laron itu muncul, mengembangkan sayap dan terbang.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Catatan | Leave a Comment »
Ditulis oleh jalaindra di/pada Oktober 10, 2009
ada yang mengintai di setiap luka kita
mata belati diasah di balik dinding angkuh
bersiap mencacah setiap celah harapan
tak hendak menyisakan apapun
selain genang dan bercak darah
dua hati terkapar di lantai mimpi
ada yang tertawa di setiap tangis kita
temali perangkap telah siap di sepanjang jalan
bersiap menjerat setiap langkah lengah
tak ingin melihat kita sampai
berharap kita terjebak di satu perangkap
dan menjadi mangsa serigala-serigala lapar
atau membusuk dimusnah belatung
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Puisi | 1 Komentar »
Ditulis oleh jalaindra di/pada Oktober 9, 2009
Sore saat lelah mencapai puncakmu, kau membuka korden ruang kerjamu, termenung membayangkan saat itu kau tengah duduk di samping orang yang sangat kau cintai, bersama-sama memandang hujan, hujan yang tetes demi tetes airnya seperti cinta yang setiap saat menetesi hati dengan kerinduan. Seperti katamu, kau sangat hujan, hujan memiliki bahasa yang sangat indah, halus, diiringi dengan ritme yang teratur dan berulang.
Seperti rindu, seperti hujan, seperti cintaku kepadamu, ada bahasa yang tak bisa diwakilkan oleh kata, halus, indah, berulang dan tak lelah membasahi tanah, mengalirkan titik-titik airnya, menyatu bermuara di dasar hatimu. Hujan yang tercipta karena tetes demi tetes itu menyatu, seperti halnya cinta yang keping demi kepingnya menyatu menjadi sebentuk ruang bahagia. Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Catatan | Leave a Comment »
Ditulis oleh jalaindra di/pada Oktober 9, 2009
Hujan
separuh nafas mendadak hilang
tercekat rindu dirajam waktu
masihkah hujan menjadi penghantar rindu kta
masihkah tetes-tetes airnya adalah bisikan cinta
masihkah basahnya adalah basah kecupan-kecupan kita
masihkah hangatnya adalah hangat pelukan-pelukan kita
Hujan
separuh hati terisak
merintih perih terpatri jarak
masihkah hembus dinginnya adalah pintu
pintuku menujumu. jendelamu menujuku
masihkah butir-butirnya adalah air mata rindu kita
masihkah titik-titiknya adalah janji sungai pada muara
Hujan
masihkah hujan kita yang dulu?
Ditulis dalam Puisi | Leave a Comment »
Ditulis oleh jalaindra di/pada Oktober 9, 2009
Ditulis dalam Uncategorized | Leave a Comment »