Allea, jika suatu saat kau terbangun di pagi hari dan mendapati di atas langit-langit kamarmu tergantung sebuah bola bundar berkilauan dengan cahayanya yang terang namun hangat, seperti terang dan hangat yang kau rasakan saat matahari mulai terbit, jangan heran. Aku telah menggantungkan matahari di langit-langit kamarmu diam-diam di saat kau terlelap.
Aku selalu ingat saat kau mengatakan kecemburuanmu kepada Alina dan Liana. Alina telah mendapatkan hadiah dari kekasihnya sepotong senja seukuran kartu pos dan Liana mendapatkan dari kekasihnya selimut jingga senja. Lalu kau bertanya kepadaku apa yang telah dan akan aku berikan kepadamu. Aku selalu mengingatnya, Allea. Sejak itu, aku selalu mencari sesuatu yang bisa aku persembahkan untukmu sebagai hadiah terindah. Tentu saja aku tidak mau ikut-ikutan Seno mengerat senja seukuran kartu pos, juga tidak mau ikut-ikutan Jalaindra mencuri selimut jingga. Aku ingin sesuatu yang lebih megah dari keduanya.
Allea, juga jangan heran kenapa aku bisa masuk ke dalam kamarmu untuk menggantungkan lampu matahari itu tanpa membangunkan tidurmu. Bukankah kau telah menitipkan kuncimu kepadaku? Kunci satu-satunya milikmu yang kautitipkan kepada seseorang yang kepadanya kau mencintai dengan sepenuh, kepadaku. Malam itu aku akan diam-diam membuka pintu kamarmu, mengendap-endap agar tidak mengganggu tidurmu. Di dalam tasku, bulatan bercahaya sebesar bola voli yang menjadi tujuan perjalananku beberapa bulan yang telah lalu. Maafkan aku, Allea. Aku meninggalkanmu tanpa berpamitan, sehingga aku yakin kau cemas mencariku dan kehilanganku.
Ya, bulatan sebesar bola voli itulah matahari untukmu. Kau tahu dari mana aku mendapatkannya, Allea? Ah, ceritanya cukup panjang. Kuharap kau mau mendengarnya, atau setidaknya, kau mau membaca kisah yang akan kutuliskan setelah ini. Mungkin tidak mudah untuk menggantungkan bulatan bercahaya itu di langit-langit kamarmu. Benda itu cukup ringan, mungkin, tak lebih berat dari berat lampu kamarmu. Tidak seperti menggantungkan balon-balon yang pernah kugantungkan saat menghias langit kamarmu sewaktu kau berulang tahun, pada bulatan bercahaya itu aku tidak menemukan pangkal yang bisa aku lilitkan benang atau tali. Permukaan matahari itu halus, lembut dan terasa hangat. Juga pastinya tidak seperti menempelkan gambar-gambar glow-in-the-dark berbentuk benda-benda langit di sekeliling tembok dan langit-langit kamarmu. Bulatan cahaya itu tidak bisa menempel ke tembok atau langit-langit sama sekali. Aku pernah mencoba menggantungkannya di langit-langit mushola tempatku singgah. Baca entri selengkapnya »













Judul buku : Breakfast at Tiffany’s
Judul : Maria
Judul Buku : The New Life, Kehidupan Baru
Judul : Cecilia & Malaikat Ariel